Gunung Gede Pangrango

Gunung Gede Pangrango

Gunung Gede merupakan tempat paling favorit untuk pendakian dan berkemah. Hampir setiap pekan, ada saja pencinta alam yang mencoba mendaki puncak Gunung Gede setinggi 2.958 meter itu. Puncak-puncaknya dapat terlihat dengan jelas dari Cibodas Kecamatan Pacet.

Disampingnya berdiri sangat kokoh Gunung Pangrango yang bila dilihat dari kejauhan nampak seperti segitiga runcing sedangkan Gunung Gede berbentuk kubah. Kedua gunung yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGP) ini memiliki keindahan alam asli. Di Puncak Gunung Gede terdapat kawah aktif (terakhir meletus pada 1957) sertapadangrumput yang ditumbuhi bunga abadi (Edelweis/Anapahlis javanica) yang merupakan daya tarik bagi pendaki. Puncak lainnya yang kerap dikunjungi pendaki gunung adalah Mandalawangi (3.002 m), Sukaratu (2.836 m), dan Gunung Gemuruh (2.928 m).

Disampingnya berdiri sangat kokoh Gunung Pangrango yang bila dilihat dari kejauhan nampak seperti segitiga runcing sedangkan Gunung Gede berbentuk kubah. Kedua gunung yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGP) ini memiliki keindahan alam asli. Di Puncak Gunung Gede terdapat kawah aktif (terakhir meletus pada 1957) sertapadang rumput yang ditumbuhi bunga abadi (Edelweis/Anapahlis javanica) yang merupakan daya tarik bagi pendaki. Puncak lainnya yang kerap dikunjungi pendaki gunung adalah Mandalawangi (3.002 m), Sukaratu (2.836 m), dan Gunung Gemuruh (2.928 m).

Puncak Gunung Gede

Pendakian terhadap Gunung Gede dapat dimulai dari Pos Jaga yang terletak di dalam Kebun Raya Cibodas. Melalui hutan tropis yang sangat indah, selama pendakian menuju Pondok Kandang Badak (4 jam) yang sebelumnya melewati pertigaan ke arah Air Terjun Cibeureum (1 jam) akan dijumpai 2-3 pondok, mata air dan air panas. Bila kelelahan, bisa istirahat di Pondok Kandang Badak.

Sementara itu satwa liar yang bisa dijumpai di sepanjang pendakian adalah owa hylobates moloch), surili (Presbitis comata), lutung (Trachypithecus auratus), kera (Macaca fascicularis), macan tutul (Panthera pardus), mencek (Muntiacus muntjak), dan elang jawa (Spizaelus bartelsii).

referensi: gedepangrango.org, (image from internet)
Gunung Padang, Situs Megalitikum Terbesar di Asia Tenggara

Gunung Padang, Situs Megalitikum Terbesar di Asia Tenggara

Di pedalaman Kabupaten Cianjur, bebatuan megalit tersebar di area seluas 3 hektar. Adalah Situs Gunungpadang, komplek punden berundak terbesar di Asia Tenggara. Situs purbakala ini bisa Anda kunjungi di akhir pekan.

Disebut begitu karena situs ini terletak di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Dusun Panggulan. Tepatnya di Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. 45 Menit perjalanan dari Kota Cianjur. Terletak di ketinggian 885 mdpl, areal ini memiliki komplek bangunan seluas 900 meter persegi.

Pada tahun 1979, penduduk setempat melapor pada pihak Kecamatan Cempaka tentang keberadaan tumpukan bebatuan. Bentuknya persegi besar dengan berbagai ukuran, tersusun dalam beberapa undakan. Minimnya informasi pada masa itu membuat situs ini tempat keramat bagi warga lokal. Penduduk setempat menganggap situs ini sebagai istana tempat tinggal Prabu Siliwangi.

Untuk mencapai situs ini, Anda harus menaiki lebih dari 400 anak tangga curam yang terbuat dari batu andesit. Namun, kemegahan situs purbakala akan mengobati rasa lelah tepat ketika Anda tiba di undakan pertama.

Bebatuan besar disusun secara poligonal, yang digunakan sebagai tangga untuk mencapai puncak bukit. Memasuki puncaknya, Anda akan disambut oleh batu-batu besar yang membentuk sebuah pintu gerbang.

Dari titik ini, Anda bisa melihat hamparan bebatuan besar dengan berbagai bentuk dan sisi. Terkadang segi lima atau segi enam dengan permukaan batu yang halus. Bebatuan di situs ini berjenis andesit basaltis, hasil proses vulkanis dari Gunung Padang tempatnya bertengger.

Para arkeolog menyebutkan Situs Gunungpadang sudah ada sejak 2000 tahun S.M. Itu berarti ribuan tahun sebelum Kerajaan Kutai berdiri di Pulau Kalimantan! Menurut legenda, Situs Gunungpadang merupakan tempat pertemuan berkala para ketua adat dari masyarakat Sunda Kuna. Ditambah lagi, bebatuan tersebut mengarah secara simetris ke Gunung Gede, yang dianggap sakral karena merupakan kawasan Kerajaan Pajajaran.

Bahkan kepercayaan ini masih lestari hingga sekarang. Jika beruntung, Anda bisa menyaksikan para turunan masyarakat Sunda Kuna melakukan pemujaan di situs ini.

referensi: detikTravel
Curug Citambur

Curug Citambur

Mengalir dari ketinggian 100 meter, Curug Citambur menjadi salah satu kesejukan di Cianjur Selatan. Menikmati deburan air Citambur bisa jadi ide liburan Anda kali ini.

Berlibur dan bersantai menikmati lanskap yang masih alami menjadi target setiap wisatawan. Untuk mencari suasana seperti ini, sudah pasti Jawa Barat menjadi incaran pelancong. Provinsi ini juga dikenal dengan destinasi air terjunnya, ada Curug Cilember, Curug Cikaso, Curug Malela, dan masih banyak lagi.

Salah satu yang pantas untuk Anda kunjungi saat berakhir pekan, yaitu Curug Citambur. Berjuta keindahan dan kesejukan alam Cianjur Selatan tertuang di lokasi ini. Curug Citambur berada di Desa Karang Jaya, Pagelaran, Cianjur Selatan.

Mengutip dari situs resmi Dinas Pariwisata dan Budaya Jawa Barat, Senin (4/6/2012), tak dapat dipungkiri wana wisata Curug Citambur memang sangat bagus. Selain ketinggiannya dan air yang bersih, besarnya volume air yang menghantam permukaan sungai menjadi pemandangan yang menakjubkan.

Saking derasnya wisatawan tidak bisa terlalu mendekati Curug Citambur. Coba saja berdiri sekitar 50 meter dari curug ini, pasti Anda tidak akan kuat lama. Tentu saja, karena hempasan airnya seperti hujan baru beberapa menit berdiri, pasti Anda langsung basah kuyup.

Meskipun, air yang mengalir sangat dingin dan deras, wisatawan tetap bisa mandi atau sekadar bermain air di curug ini. Tapi, kalau tidak mau basah wisatawan bisa sekadar duduk sambil bersantai di tepi air terjun.

Panorama indah tidak hanya saat Anda berada di lokasi ini. Akan tetapi, pemandangan selama perjalanan juga menjadi bahan cuci mata saat menuju Curug Citambur.

Perjalanan akhir pekan Anda dijamin tidak akan membosankan karena pemandangannya sangat berbeda. Diawali dari perkebunan Rancabali hingga desa Cipelah, kiri dan kanan jalan dikelilingi oleh perkebunan teh. Setelah melewati Desa Cipelah, pemandangan pedesaan mulai berubah menjadi suasana desa pedalaman.

Uniknya, di sisi sebelah kanan desa tersebut terdapat bukit yang cukup tinggi dengan air terjun yang terlihat dari jalan. Pertama melihat air terjun tersebut pasti Anda mengira itu Curug Citambur. Ternyata salah!

Di perjalanan menuju Citambur ternyata, juga terdapat satu lagi air terjun yang tidak diketahui namanya. Nah, kalau Curug Citambur sendiri memiliki pintu masuk di depan kantor Desa Karang Jaya.

Jadi, hati-hati jangan sampai tertukar. Sebelum sampai di Citambur, wisatawan terlebih dahulu disambut oleh Situ Rawa Suro.

referensi: detikTravel
Taman Bunga Nusantara

Taman Bunga Nusantara

Taman Bunga Nusantara (TBN) banyak memiliki beragam koleksi bunga yang indah dan segar, mulai dari tanaman untuk iklim tropis maupun untuk iklim dingin, bahkan tidak hanya bunga yang berasal dari Indonesia, bunga yang berasal dari seluruh dunia pun ada. Selain menyegarkan mata, kita juga akan mendapatkan banyak wawasan baru mengenai bunga.

TBN terletak di Desa Kawung-luwuk Kecamatan Sukaresmi Cipanas-Cianjur, dengan luas lahan 35 hektar, Taman Bunga Nusantara menyajikan keindahan dan pesona bunga serta alam yang tertata apik. Berdiri sejak 10 tahun silam tepatnya pada tanggal 10 September 1995, taman display pertama di Indonesia ini dilengkapi dengan berbagai koleksi tanaman bunga yang terkenal dan unik di seluruh dunia.

Untuk menuju ke TBN, waktu yang bisa ditempuh dari Jakarta lebih kurang 2 sampai 3 jam. Melalui jalan raya puncak, sampai melewati puncak pass, dan belok kiri ke arah Perumahan Kota Bunga. Dari persimpangan ini jaraknya hanya 9 km.

Saat memasuki pintu utama kita langsung disuguhi keindahan tanaman bunga yang dibentuk menyerupai burung merak. Pada ekornya disusun berbagai jenis tanaman bunga beraneka warna, burung merak ini memiliki daya tarik tersendiri untuk dilihat. Tidak jauh dari burung merak terdapat jam raksasa yang disusun pula dari berbagai jenis tanaman bunga. Jangan dikira jam raksasa ini hanya pajangan belaka ternyata jam ini bergerak dan berdentang setiap jam.

Selain sebagai sarana rekreasi TBN juga dipakai sebagai kebun percobaan dengan berbagai jenis bunga dan tanaman tertentu yang berasal dari daerah subtropis dan negara-negara beriklim dingin di Eropa, Amerika, dan Australia. Ada berbagai macam taman khusus yang ditampilkan di TBN, mulai dari taman air, taman mawar, taman Perancis, taman rahasia (labirynth), taman bali, taman mediterania, taman palem, dan taman gaya Jepang.

Ditunjang pula dengan fasilitas seperti rumah kaca, danau angsa, rafflesia mini theater, gazebo, alam imajinasi, lokasi piknik, amphitheater (panggung terapung) kereta datto, mobil wira-wiri, menara pandang, poliklinik, nany’s galleria dan penunjang lain bagi anda yang ingin mengadakan acara di halaman rumput yang luas. Apabila Anda datang ke Taman Bunga Nusantara, Anda akan memiliki sejuta kenangan akan keindahan keanekaragaman tanaman bunga yang tidak bisa dijumpai di tempat lain. (IP)

HARGA TIKET MASUK :
Rp 20.000 per orang

TAMAN BUNGA NUSANTARA
Jl. Mariawati Km. 7 Desa Kawung Luwuk, Cipanas, Cianjur
Tel. 0263-581617, 581618 Fax. 0263-581616

Fasilitas: Taman air, taman mawar, taman Perancis, taman rahasia (labirynth), taman bali, taman mediterania, taman palem, dan taman gaya jepang, rumah kaca, danau angsa, rafflesia mini theater, gazebo, alam imajinasi, lokasi piknik, amphitheater (panggung terapung) kereta datto,
mobil wira-wiri, menara pandang, poliklinik, nany’s galleria.

referensi: puncakview

Sajarah Cianjur

Sajarah Cianjur

(dicutat tina wiki) Sajarah Cianjur mangrupakeun carita sajarah nu bisa dijujut dumasar kana sababaraha sumber, sabagean diantarana mangrupakeun carita nu mangrupakeun hasil tina panalungtikan sajarah, sabagean deui mangrupakeun carita rahayat nu sumebar di wewengkon Cianjur jeung wewengkon lianna di Tatar Sunda, ngeunaan asal muasal jeung kamekaran Cianjur baheula, nepikeun ka kiwari.

Jujutan sajarah

Taun 1529
Talaga direbut ku Cirebon ti nagara Pajajaran, dina raraga nyebarkeun agama Islam. Ti harita rahayat Talaga loba nu ngagem agama Islam, tapi raja-rajana mah ngagem kénéh agama karuhunna, nya éta agama Hindu. Anapon raja-rajana téh nya éta:

  • Prabu Siliwangi
  • Mundingsari
  • Mundingsari Leutik
  • Pucuk Umum
  • Sunan Parunggangsa
  • Sunan Wanapri
  • Sunan Ciburang

Sunan Ciburang kagungan putra Aria Wangsa Goparana. Aria Wangsa Goparana téh nunagawitan lebet islam diantara kulawargana. Ku sabab teu disatujuan ku nu jadi kolot, kapaksa Aria Wangsa Goparana ninggalkeun karaton Talaga tuluy angkat ka Sagarahérang. Di dieu Aria Wangsa Goparana ngadegkeun nagari (sansk = Desa, Bld = negorij).

Ku sabab Talaga direbut ku Cirebon ti taun 1529, rahayat Talaga disebut ogé rahayat Cirebon. Ku kituna, daérah Sagarahérang rahayatna disebut rahayat Cirebon. Aria Wangsa Goparana tilar dunya dina tungtung abad ka ka-17, dimakamkeun di kampung Nangkabeurit, kacamatan Sagarahérang, kabupatén Purwakarta. Turunanana nya éta:

  • Djayasasana
  • Wiradwangsa
  • Candramanggala
  • Santaan Kumbang
  • Yudanagara
  • Nawig Candradirana
  • Santaan Yudanagara, jeung
  • Nyi Murti.

Aria Wangsa Goparana satuluyna nurunkeun katurunan nu mibanda gelar Wira Tanu jeung Wira Tanu Datar sarta rundayanana. Anakna nu ka-hiji, Djayasasana, sanggeusna sawawa ninggalkeun Sagarahérang ka Cijagang. Taya katerangan nu leuwih écés perkara pindahna Djayasasana. Tapi aya sababaraha data nu bisa dipaké pikeun ngira-ngira waktu pindahna Djayasasana, diantarana:

“Suatu cerita rakyat, yang diolah oleh Walbeehm, mengatakan bahwa atas perintah seorang raja dari Mataram batas sebelah barat harus dijaga terhadap banten (demikian juga Van Rees), yang menempatkannya pada masa Tegalwangi. Cerita lain dari Holle, mengatakan bahwa ketika sensus oleh Puspawangsa ternyata ada 1100 cacah dibawah pimpinan Wira Tanu, 200 diantaranya diperintahkan oleh Mataram pergi ke Cianjur untuk menjaga batas, dibawah pimpinan dari Cirebon.”

Katerangan di luhur dipairan ku de Haan kalayan alesan yén Cianjur harita mah can aya, aya dina sajarah sotéh taun 1678, nya éta dina surat bupati sumedang ka VOC (D.20 Januari 1678)[3]. Pamanggih de Haan kurang leuwih jiga kieu:

“Pemberian tahu yang pertama kali tentang Cianjur adalah D.20 Januari 1678 dalam surat bupati Sumedang: Mereka dari Cirebon telah menduduki pegunungan Cimapag dan pegunungan Cianjur…….”

Satuluyna de Haan nétélakeun:

“(………..adalah tidak mungkin bahwa disini yang dimaksud adalah didirikannya Cianjur, dimana tidak perlu dipikirkan sebagai kolonialisasi dari Ibu Kotanya, Cirebon.)”

Atra di dieu yén pamanggih de Haan museur kana dipakéna ngaran Cianjur. Ceuk pamanggih de Haan mah dipakéna ngaran Cianjur téh gurunggusuh teuing harita mah. Cianjur can aya dina sajarah. Tapi sok sanajan ngaran Cianjur can dipaké, lain hartina yén dina kanyataan Cianjur téh acan ngadeg. Bisa waé cianjur téh geus aya, ngan nu kacatet data sajarah beunang Walanda mah dina D.20 Januari 1678.

Nu perlu diperhatikeun ogé, yén de Haan teu méré pairan ngeunaan sensus nu dilaksanakeun ku Puspawangsa. Kunaon ieu sénsus téh dianggap penting? Ku sabab ku ayana sénsus Puspawangsa ka masarakat nu dipingpin ku Djayasasana, ngabuktikeun yén rahayat Djayasasana geus aya jeung matuh di; sebut waé daérah “X”, nalika dilaksanakeun sénsus. Jeung ieu sénsus téh diayakeun kurang leuwih taun 1655 di daérah “X”. Sakumaha de Haan nétélakeun:

“Ini mengingatkan perhitungan Puspawangsa tadi telah berlangsung setelah ada periode tenteram yang cukup di bawah Sunan Tegal Wangi:…………….terjadi pada masa Wiradadaha I.”

Dina katerangan di luhur, dé Haan ogé ngahaminan ayana kolonisasi rahayat Djayasasana, samalah numutkeun de Haan, meureun kolonisasi nu dimaksud téh lain ti Cirebon. Sunan Tegal Wangi nyepeng kakawasaan ti 1645-1677 jeung Wiradadaha I taun 1614 – 1674. Atuh saupama kitu mah sénsus Puspawangsa téh mémang lumangsung di daérah “X” dina taun + 1655.

Bisa dicindekkeun yén Djayasasana geus matuh di daérah “X” ti saméméh taun dilaksanakeunna sénsus taun 1655. hasil sénsus Puspawangsa nuduhkeun aya 1100 urang atawa + 300 umpi, mangrupa hiji kumpulan masarakat anu dina basa walanda disebutna volkgemeenschap kalayan Djayasasana minangka pingpinanana. Saréngséna diitung ku Puspawangsa, 200 rahayat Djayasasana diparéntah ku Mataram ngajagaan wates kulon. Senapatina Djayasasana. Ti harita Djayasasana disebut Wira Tanu, nu mibanda harti senapati. Rahayat (cacah)-na disebut ogé cacah Wira Tanu.

“Daérah “X” aya di antara Cisadané jeung Citarum, nu ku Jan Pieterszoon Coen mah asup yurisdiksi Batavia, sok sanajan anggapanna ngan sapihak. Ku kituna, daérah “X” jadi bagian pikeun nahan serangan ka Batavia. Daérah “X” téh asup kénéh kana wengkuan kakawasaan Mataram, ngan kusabab tempatna pangjauhna ti Puseur Dayeuh Mataram, kakawasaan Mataram téh ngan karasa hawar-hawar. Katurug-turug nalika daérah “X” dina taun 1652 dipasrahkeun hak pakaina ka VOC, antukna kakawasaan Mataram beuki nyirorot baé. Préténsi Mataram ka daérah “X” nyirorot pisan nepika level 0 nalika taun 1677, ku sabab dumasar kana kontrak Mataram jeung VOC tanggal 25 Februari 1677.

Terus kumaha atuh jeung rahayat Wira Tanu anu tadi kasabit-sabit salila kurang leuwih 30 taun nya éta antara taun 1655 – 1584? Ku lantaran kakawasaan Mataram nyirorot, Pasualan-pasualan sosial saperti bencana alam, wabah kasakit, jeung utamana perang téh teu karandapan nepika rahayat Wira Tanu bisa mekar. Jumlah rahayatna nambahan + jadi 2000 urang. Wira Tanu disebut ogé Dalem (wld = regent) dumasar kana jumlah masarakat nu dipingpinna. Éta hal ditétélakeun dina D. 24 Januari 1680, jadi saméméhna ogé Wira Tanu téh geus mingpin “regentschap” (satuan wilayah satingkat pedaleman atawa kabupatén).

Eusi D. 24 Januari 1680 nya éta saperti kieu:

“………medebrengende een brieffje of javaanse lontor door gemelte javanen te lande van den regent Aria Wira Tanoe uyt de negorye Tsitanjor,……..” anu pihartieunana kira-kira saperti kieu:

(……….mawa surat lontar Jawa ku urang Jawa ti regent Aria Wira Tanu ti negorij Cianjur).

Aya sababaraha catetan penting tina katerangan di luhur:

  1. Nu dimaksud negorij téh nya éta tempat mukim, ku kituna regenschap téh salasahiji negorij. Jadi regentschap téh mangrupa negorij, sedeng negorij téh can tangtu regentschap. Begorij bisa mangrupa babakan atawa kampung. Ku kituna saupama aya negorij di jero negorij urang sebut waé sub-negorij atawa “onder negorij.”
  2. Tina poin nu ka-hiji bisa dicindekkeun yén “negorye Tsitsanjor” mibanda harti “regentschap” Cianjur. Teu mungkin sub negorij Cianjur kusabab:
  3. Wira Tanu nganjrekna di Cikundul (sub-negorij), lain di Cianjur.
  4. Sub negorij mah Cianjur mah dipingpinna ku “Kingwey” (Ki ngabehi) Santaparana anu gugur dina perang ngalawan Banten (D.24 Januari 1980)

Perlu ditandeskeun, yén mangsa harita kakawasaan wira Tanu diangkat sacara sosial ku masarakatna, jadi moal aya bungkeuleukan surat kaputusana, upamana ti piha VOC atawa Mataram. Kakawasaan Wira Tanu harita ngawengku +14 Negorij nu biasa disebut umbul atawa cutak. Ku kituna, turunan Wira Tanu nu ka hiji (Wira Tanu II) satuluyna jadi ahli waris dalem anu ka-dua, tapi anu mimiti dina mangsa kakawasaan VOC sacara de facto jeung de jure Walanda taun 1691 – 1707.

Rundayan Aria Wira Tanu
Dalem Aria Wira Tanu tilar dunya antara taun 1681 – 1706, boga turunan 10 urang, nya éta:

  • Dalem Anom (Aria Natamanggala) gelar dalem di dieu teu ngandung harti “Regent”, ukur ngaran hungkul;
  • Dalem Aria Martayuda (Dalem Sarampad);
  • Dalem Aria Tirta (di Karawang);
  • Dalem Aria Wiramanggala (Dalem Cikondang);
  • Dalem Aria Wiramanggala, “Regent” ka-hiji nu dikukuhkeun ku Walanda (VOC), disebut ogé dalem Tarikolot;
  • Dalem Aria Suradiwangsa (Dalem Panembong);
  • Nyai Mas Kaluntar (Makamna di Dukuh Caringin)
  • Nyai Mas Karangan (Makamna di Bayabang)
  • Nyai Mas Djenggot (Makamna teu kapaluruh)
  • Nyai Mas Bogem (Makamna teu kapaluruh)

Nurutkeun carita rahayat Cianjur mah, aya kénéh turunan Wira Tanu (I) ti garwa nu lain manusa tapi “Jin Islam”, nya éta:

  • Radén Suriakancana, nu ngahiang di Gunung Gedé[4]
  • Nyai Mas Indang Kancana alias Indang Sukaesih alias Nyai Mas Kara nu ngahiang di Gunung Ceremai
  • Radén Andaka Wirusajagad (anu numutkeun naskah Dalem Pancaniti lain putera, tapi puteri nu ngaranna Nyai Indang Radja Mantri), nu ngahiang di Gunung Karawang.
  • Puterana nu ka-lima, Aria Wiramanggala (Aria Wira Tanu II) nganjrek di Tarikolot Cikalong (R. 4 April 1686) jeung di Cibalagung (R. 6 Mei 1686), anu sok disebut Pasir Wira Tanu. Pangaresep Wira Tanu II téh nya éta tatanén.

Aria Wira Tanu II mindahkeun Puseur Dayeuh Cianjur ti Cikalong ka Pamoyanan

Taun 1691
Aria Wira Tanu II ninggalkeun Cikalong. Pindahna téh ka daérah saparat susukan Cianjur, néangan jeung muka lahan pikeun rahayatna. Ieu tempat téh dingaranan kampung Pamoyanan, anu kaasup kana sub-negorij Cianjur. Ku Wira Tanu II kampung Pamoyanan téh dijieun Puseur Dayeuh Cianjur. Kunaon bet dipindahkeun? Aya sababaraha kamungkinan,

Ayana patemon jeung Adolf Winckler anu dina éta patemon Aria Wira Tanu II ngusulkeun sangkan 2 urang lurah jeung 43 cacah dipulangkeun deui ka Wira Tanu II nu dicokot ku Angga Laksana, Umbul Cilaku. Angga Laksana ngawidian. Ku sabab kitu, Aria Wira Tanu hayang ngandeg mandiri, kusabab di Cikalong ayawali pamaréntahanti Cirebon (Aria Sacakusumah), Aria Wira Tanu II ngarasa kurang bébas; Kadatangan Bartel van der Valck, juru ukur VOC anu geus ngukur-ngukur wates wilayah padaleman, atawa; Ayana wangsit saperti diterangkeun tina naskah Kusumaningrat (Dalem Pancaniti) anu kacindekkan eusina kurang leuwih saperti kieu:

Nalika Wira Tanu (II) tatanén di bukit (anu nepika ayeuna dingaranan Pasir Wira Tanu), kadatangan Jin Puteri anu geus rémpo unjukan ka Wira Tanu (II) “Béjakeun ka lanceuk Andika, Dalem Natamanggala (Dalem Anom) , lamun hayang karaharjaan jeung kadigjayaan, sakuduna manéhna ngadegkeun karajaan di belah kidul-kulon ti Cibalagung, deukeut walungan Cianjur, éta mangrupa tempat nu hadé pikeun ngadegkeun karajaan. Di dinya aya pangupakan Badak Putih jeung hadé pisan, saupama éta pangupakan téh diperenahkeun di tengah-tengah Padaleman (Imah)”. Saréngséna kitu, tuluy jin téh ngaleungit. Teu lila torojol lanceukna datang, laju dicaritakeun ku Aria Wira Tanu II ka Dalem Anom naon anu cikénéh karandapan. Satuluyna Dalem Anom nyarita “ Kuring taya niat pikeun indit ti dieu: di dieu kuring ngarasa bagja. “ satuluyna Wira Tanu II ménta widi ka lanceukna pikeun néangan tempat di deukeut susukan Cianjur, geusan ngadegkeun karajaan. Lanceukna nyatujuan. Antukna Wira Tanu II pindah ka Pamoyanan anu satuluyna jadi Puseur dayeuh “Regenschap” Cianjur.

Nu jadi patalékan téh naha bener kadatangan jin saperti anu dicaritakeun di luhur, atawa nu dimaksud jin téh Bartel van der Valck?

Dalem Aria Wira Tanu Datar III mindahkeun puseur dayeuh ti Pamoyanan ka Kampung Cianjur

Taun 1707
Dalem Aria Wira Tanu II tilar dunya (R. 12 April 1707), digantikeun ku putra sulungna Astramanggala anu diangkat jadi “Regent” ku VOC kalayan gelar Wira Tanu III atawa Dalem Dicondre. Sanggeusna diangkat, Wira Tanu III pindah ti kampung Pamoyanan ka kampung Cianjur, anu kaayaanana mangsa haritra leuwih maju tinimbang Pamoyanan. Sok sanajan jarak dua kampung éta diwilang deukeut, tapi kahalang kénéh ku leuweung jeung walungan. Ku kituna, nu ngadegkeun kota Cianjur téh lain Wira Tanu II, tapi Wira Tanu III. Konsekuensi séjénna yén kota Cianjur téh dijieun Puseur dayeuh taun 1707. perlu diperhatikeun ogé yén Wira Tanu III lain ngadegkeun cianjur minangka Padaleman atawa Sub-negorij, kusabab dina katerangan saméméhna sub-négorij téh geus ngadeg ti saméméh taun 1680 kénéh, tapi Aria Wira Tanu III ngan saukur mindahkeun puseur dayeuh ti Pamoyanan ka kampung Cianjur. Ieu hal téh lumangsung nalika VOC geus ngajajah Cianjur sacara ‘de facto’ jeung ‘de jure’. Nu matak Aria Wira Tanu III mah diangkat ku VOC, sedengkeun Aria Wira Tanu II mah ukur dikukuhkeun hungkul.

Wira Tanu III punjul dina ngalegaan kultur kopi jeung ngalegaan kabupatén jeung kawijakan. Aya sababaraha catetan nalika jaman kakawasaan Aria wira Tanu III.

Wira Tanu III sering ngajukeun préténsi ka Walanda ngeunaan wates wilayah nu sabenerna kaasup wilayah kabupatian anu séjén.

Rahayat Cianjur ngawangun gapura gedé sarupa béntang pikeun kahormatan Wira Tanu III. Belanda ngarasa kasieunan ku éta hal.

Wira Tanu III kungsi ngajukeun gelar “Pangéran Aria Depatty Amancoerat Indator” (Pangeran Aria Dipati Amangkurat Di Datar), nu ngandung harti yén Wira Tanu III nyaruakeun dirina jeung Amangkurat I. Ngan gelar anu dimaksud teu dicumponan ku VOC. Anu dikabulkeun téh ngan “Datar”-na hungkul, nepi ka gelarna jadi Aria Wira Tanu Datar. Kusabab ditarimana éta gelar téh sanggeusna Wira Tanu III tilar dunya, anu maké éta gelar téh ti Wira Tanu Datar IV nepika Wira Tanu Datar VI.

Wira Tanu III ménta ka VOC supaya Citarum dijadikeun wates Cianjur. Ieu hal téh ngandung harti, yén satengahna Bandung jeung Karawang, sarta saparapat ti Parakanmuncang bakal asup ka wewengkon Cianjur.

Wira Tanu III keukeuh sangkan wates Cianjur jeung Kampung Baru, Karawang, Bandung jeung Parakanmuncang ditangtukeun. Ieu hal téh bakal ngabalukarkeun daérah tatangga bakal ngurangan. Dina taun 1724 sabagian wilayah Kampung Baru jeung Sagara Kidul asup ka Cianjur; Jampang mah geus ti heula asup ka Cianjur (1715)

Wira Tanu III tilar dunya dina taun 1726 alatan dicondre, kusabab kitu Wira Tanu III sok disebut Dalem Dicondre.[5]

Kakawasaan Wira Tanu di Cianjur nya éta nepika Wira Tanu Datar VI atawa Dalem Enoh anu jadi Wira Tanu Datar pamungkas anu jadi bupati di Cianjur.

Tina sababaraha katerangan di luhur, tétéla réa patalina carita rahayat jeung pamanggih ahli sajarah téh. Sok sanajan teu bisa dipastikeun, tapi carita rahayat diperlukeun pikeun babandingan dina nyieun kacindekkan sajarah.

Sajarah Cianjur identik jeung Babad Cikundul, ieu hal dilantarankeun nganjrek jeung dimakamkeunana Aria Wira Tanu I nya éta di Cikundul. Kusabab kitu sering Anu satuluyna ngalahirkeun carita-carita rahayat téh urang Cikundul anu sacara geografis deukeut wewengkonna. Saperti carita populer ngeunaan putera ka-hiji Aria Wira Tanu I tina puteri jin nya éta Éyang Suriakancana anu nepika ayeuna dipupusti urang Cianjur, nepika unggal 17 Agustus sok aya pawai Kuda Kosong anu ceuk béja mah cenah nu numpakanna téh nya éta rohna éyang Suriakancana anu ngageugeuh Gunung gedé jeung Gunung mananggél.

Wawacan, mangrupa salasahiji tradisi tinulis ménak Sunda, kaasup di Cianjur. Salasahijina nyaéta [[[Kusumaningrat]] (Dalem Pancaniti) anu nulis wawacan ngeunaan Babad Cikundul.

Nara sumberna Ujang Ahmad, umur 70 taun.

Sistim arsip nu dipaké harita ku Walanda nu disebut “Dagregister” atawa sok disingget “D” nu hartina catetan poéan. Ieu catetan téh dikokolakeun ku VOC dina bénténgna di Batavia. Ieu sistim arsip téh mibanda kahéngkéran, kusabab sistem nulisna harita lain dilakonan ku cara kelompok, tapi campur, anu balukarna hiji Dagregister bisa ngawengku sababaraha kajadian anu waktuna béda.

Sumber ti nu ku urang Cianjur biasa disebut Éyang Suriakancana anu ngageugeuh Gunung Gedé jeung Mananggél. Sok diayakeun acara ritual pikeun ngahormat Éyang Suryakancana unggal 17 Agustus nu disebut ‘Kuda kosong’

Aya sababaraha versi saéstuna mah dicondrena Wira Tanu III téh, samalah aya nu matalikeun jeung kultur kopi jeung aya ogé anu matalikeun jeung pasualan wanoja ti Cikembar nu geus boga beubeureuh.

Rujukan

  • Koswara, Dedi Spk. 1987. Naskah Sunda Kuno di Kabupaten Cianjur. Proyek Penelitian IKIP Bandung. Bandung: IKIP Bandung.
  • Suryaningrat, Bayu. 1982. Mengenal Kabupaten Daerah Tingkat II Cianjur. Cianjur: Pemda Cianjur.
  • Moriyama, Mikihiro. 2005. Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19’ . Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
  • Ekadjati, Edi S.Tinjauan Geneologi dan Pancakaki Urang Sunda. makalah
    Garna, Judistira K. Orang Sunda dari masa ke masa. Makalah.

referensi: wisatacianjur

Perkedel Bakar Bubuk Kari

Perkedel Bakar Bubuk Kari

Perkedel asal Cianjur ini berbeda dengan perkedel yang biasanya kita jumpai. Perkedel kentang dengan beraneka campuran bahan ini memiliki kekhasan dari rasa karinya selain cara pematangannya yang dipanggang.

Bahan-bahan/bumbu-bumbu :

Bahan:

  • 200 gram ayam giling
  • 1 butir telur bebek, dipisahkan kuning telurnya, disisihkan
  • 300 gram kentang, digoreng, dihaluskan
  • 1 batang daun bawang
  • 1 sendok teh garam
  • 1/4 sendok teh merica bubuk
  • 1/4 sendok teh pala bubuk
  • 1/2 sendok teh kari bubuk
  • minyak untuk menggoreng

Bumbu Halus:

  • 3 buah cabai merah besar
  • 4 butir bawang merah
  • 1 siung bawang putih

Cara membuat:

  1. Campur ayam giling, putih telur, kentang, daun bawang. Aduk rata. Tambahkan garam, merica bubuk, pala bubuk, dan kari bubuk. Aduk rata.
  2. Masukkan  dalam loyang kotak  20x8x7 cm  dengan ketebalan 2 cm yang dioles minyak. Ratakan.
  3. Oven 30 menit dengan suhu 180 derajat Celcius sampai setengah matang. Angkat.
  4. Oles dengan kuning telur bebek.
  5. Oven lagi 30 menit dengan suhu 170 derajat Celcius sampai matang. Angkat dan potong-potong.
Untuk 6 Porsi

referensi: sajiansedap

Sate Maranggi

Sate Maranggi

Bagi sebagian masyarakat Cianjur, sate maranggi merupakan makanan favorit yang nikmat disantap setiap saat. Di Cianjur, terdapat sejumlah pedagang maranggi yang sudah mendapatkan tempat di lidah masyarakat.

Maranggi memang tak hanya lezat disantap dengan nasi putih atau nasi uduk, tapi bisa juga disantap dengan ketan bakar, dan dilengkapi dengan sambal oncom atau sambal kacang.

Sate maranggi adalah sate sapi yang dibumbui dengan kecap manis dan disajikan dengan sambal oncom dan uli bakar sebagai pelengkapnya. Yuk, mencoba hidangan khas asal Cianjur ini.

Ingin mencoba membuat sendiri ? tentunya bukan hal yang sulit, berikut informasinya:

Bahan-bahan/bumbu-bumbu :

  • 400 gram daging has dalam, dipotong 2x2x1 cm
  • 100 gram lemak sapi, dipotong 2x2x1 cm
  • 1 sendok teh minyak goreng
  • 2 sendok makan kecap manis
  • 24 buah tusuk sate

Bumbu Halus:

  • 1 sendok makan ketumbar
  • 1 sendok teh garam
  • 40 gram gula merah, disisir halus

Sambal Oncom:

Bahan:

  • 100 gram oncom, dihaluskan
  • 500 ml air

Bumbu Halus:

  • 2 butir bawang merah
  • 2 buah cabai rawit merah
  • 1 buah cabai merah keriting
  • 2 1/4 sendok teh gula pasir
  • 3/4 sendok teh garam
  • 2 cm kencur
  • 1 cm jahe

Pelengkap:

  • uli bakar

Cara Pengolahan :

  1. Rendam daging dan lemak sapi dalam campuran bumbu halus, minyak goreng, dan kecap manis. Remas-remas sampai rata. Diamkan 1 jam dalam lemari es.
  2. Tusuk-tusuk daging dan lemak secara bergantian ditusuk sate. Bakar sampai matang sambil dioles sisa bumbu rendaman.
  3. Sambal oncom: rebus air dan bumbu halus sampai mendidih. Tambahkan oncom. Masak sampai matang.
  4. Sajikan sate dengan sambal oncom dan pelengkapnya.

referensi: cianjurcybercity, sajiansedap

Kabupaten Cianjur Juara Umum FLS2N

Kabupaten Cianjur Juara Umum FLS2N

Kontingen asal Kabupaten Cianjur juara umum pada kegiatan festival dan lomba seni siswa nasional (FLS2N) SMA tingkat provinsi Jawa Barat, yang digelar di Villa Green Hill Ciherang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur.

Perlombaan yang dilaksanakan selama 3 hari tersebut, diikuti 405 peserta dari berbagai SMA dan SMK dari 26 kota/kabupaten se-Jawa Barat. Dengan memperlombakan 8 mata lomba yakni, baca alquran,puisi, menulis puisi, tari kreasi, baca puisi, menyanyi solo putri/a, drama, dan kreasi.

Ketua Panitia Penyelenggara Oma Spd, menjelaskan, kegiatan FLS2N ini merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tahun dan diikuti oleh 26 Kabupaten/Kota yang ada di Jawa Barat.

“Kegiatan FLS2N ini memperlombakan beberapa mata lomba, dengan tujuan untuk menjaring  peserta yang akan diikutsertakan dalam ajang serupa pada tingkat nasional,” jelasnya.

Dikatakannya, melalui kegiatan ini diharapkan  kemampuan siswa dalam kegiatan seni dan budaya dapat lebih berkembang dan yang lebih penting mampu memberikan hasil yang maksimal dalam FLS2N tingkat nasional.

“Mudah-mudahan pada saatnya nanti, siswa dapat lebih mengembangkan kemampuannya serta dapat meraih juara umum di tingkat nasional,” harapnya.
Sementara itu, untuk juara kedua diraih peserta perwakilan dari Kabupaten Garut disusul juara ketiga diraih peserta perwakila asal Kabupaten Ciamis.(des)

referensi: radarcianjur

Video: Kacapi Jipang Karaton

Video: Kacapi Jipang Karaton

Kacapi Jipang Karaton Children Excercise Session West Java-Indonesia

Here is another short activity video in Perceka Art Centre studio, Cianjur, West Java – Indonesia. It is about the children who learn to play Sundanese instrumental song on Kacapi (zither-like instrument). I played Suling, the flute in this video.

referensi: perceka

Koleksi Batik Cianjur

Koleksi Batik Cianjur

Cianjur memiliki banyak koleksi batik yang tentunya menjadi kebanggaan dari warga cianjur khususnya, penasaran ? mari kita lihat beberapa koleksi batik dibawah ini:

Batik Maenpo

Batik Kacapi

Batik Galuh

Batik Padi

Batik Galus

Batik Panenan

referensi:  batik.dicianjur.com

Page 10 of 16« First...89101112...Last »