Basa Sunda: Bahasa Sunda

Basa Sunda: Bahasa Sunda

Bahasa Sunda (Basa Sunda) adalah sebuah bahasa dari cabang Melayu-Polinesia dalam rumpun bahasa Austronesia. Bahasa ini dituturkan oleh sekitar 33 juta orang (sekitar 1 juta orang di luar negeri) dan merupakan bahasa dengan penutur terbanyak kedua di Indonesia. Bahasa Sunda dituturkan di hampir seluruh provinsi Jawa Barat, melebar hingga sebagian Jawa Tengah mulai dari Kali Pemali (Cipamali) di wilayah Brebes dan Majenang, Cilacap, di kawasan provinsi Banten dan Jakarta, serta di seluruh provinsi di Indonesia dan luar negeri yang menjadi daerah urbanisasi Suku Sunda.

Dari segi linguistik, bersama bahasa Baduy, bahasa Sunda membentuk suatu rumpun bahasa Sunda yang dimasukkan ke dalam rumpun bahasa Melayu-Sumbawa.

Variasi dalam bahasa Sunda

Dialek (basa wewengkon) bahasa Sunda beragam, mulai dari dialek Sunda-Banten, hingga dialek Sunda-Jawa Tengahan yang mulai tercampur bahasa Jawa. Para pakar bahasa biasanya membedakan enam dialek yang berbeda. Dialek-dialek ini adalah:
  • Dialek Barat
  • Dialek Utara
  • Dialek Selatan
  • Dialek Tengah Timur
  • Dialek Timur Laut
  • Dialek Tenggara

Dialek Barat dipertuturkan di daerah Banten selatan. Dialek Utara mencakup daerah Sunda utara termasuk kota Bogor dan beberapa bagian Pantura. Lalu dialek Selatan adalah dialek Priangan yang mencakup kota Bandung dan sekitarnya. Sementara itu dialek Tengah Timur adalah dialek di sekitar Majalengka. Dialek Timur Laut adalah dialek di sekitar Kuningan, dialek ini juga dipertuturkan di beberapa bagian Brebes, Jawa Tengah. Dan akhirnya dialek Tenggara adalah dialek sekitar Ciamis.

Bahasa Sunda Kuna adalah bentuk bahasa Sunda yang ditemukan pada beberapa catatan tertulis, baik di batu (prasasti) maupun lembaran daun kering (lontar). Tidak diketahui apakah bahasa ini adalah dialek tersendiri atau merupakan bentuk yang menjadi pendahulu bahasa Sunda modern. Sedikitnya literatur berbahasa Sunda menyulitkan kajian linguistik varian bahasa ini.

Sejarah dan penyebaran

Bahasa Sunda terutama dipertuturkan di sebelah barat pulau Jawa, di daerah yang dijuluki Tatar Sunda. Namun demikian, bahasa Sunda juga dipertuturkan di bagian barat Jawa Tengah, khususnya di Kabupaten Brebes dan Cilacap. Banyak nama-nama tempat di Cilacap yang masih merupakan nama Sunda dan bukan nama Jawa seperti Kecamatan Dayeuhluhur, Cimanggu, dan sebagainya. Ironisnya, nama Cilacap banyak yang menentang bahwa ini merupakan nama Sunda. Mereka berpendapat bahwa nama ini merupakan nama Jawa yang “disundakan”, sebab pada abad ke-19 nama ini seringkali ditulis sebagai “Clacap”.

Selain itu menurut beberapa pakar bahasa Sunda sampai sekitar abad ke-6 wilayah penuturannya sampai di sekitar Dataran Tinggi Dieng di Jawa Tengah, berdasarkan nama “Dieng” yang dianggap sebagai nama Sunda (asal kata dihyang yang merupakan kata bahasa Sunda Kuna). Seiring mobilisasi warga suku Sunda, penutur bahasa ini kian menyebar. Misalnya, di Lampung, di Jambi, Riau dan Kalimantan Selatan banyak sekali, warga Sunda menetap di daerah baru tersebut.

Fonologi

Saat ini Bahasa Sunda ditulis dengan Abjad Latin dan sangat fonetis. Ada lima suara vokal murni (a, é, i, o, u), dua vokal netral, (e (pepet) dan eu (ɤ), dan tidak ada diftong. Fonem konsonannya ditulis dengan huruf p, b, t, d, k, g, c, j, h, ng, ny, m, n, s, w, l, r, dan y.

Konsonan lain yang aslinya muncul dari bahasa Indonesia diubah menjadi konsonan utama: f -> p, v -> p, sy -> s, sh -> s, z -> j, and kh -> h.

Berikut adalah fonem dari bahasa Sunda dalam bentuk tabel. Pertama vokal disajikan. (Silahkan isi sesuai keinginan)

Vokal
Depan Madya Belakang
Tertutup
Tengah e ə o
Hampir Terbuka (ɛ) ɤ (ɔ)
Terbuka a

Dan di bawah ini adalah tabel konsonan.

Konsonan
Bibir Gigi Langit2
keras
Langit2
lunak
Celah
suara
Sengau m n ɲ ŋ
Letap p b t d c ɟ k g ʔ
Desis s h
Getar/Sisi l r
Hampiran w j

Sistem penulisan

Huruf Besar Huruf Kecil Nama Huruf Besar Huruf Kecil Nama
A a M m
B b N n
C c Ng ng
D d Ny ny
E e O o
É é P p
Eu eu Q q
G g R r
H h S s
I i T t
J j U u
K k W w
L l Y y

Aksara Sunda

Ha Na Ca Ra Ka
Da Ta Sa Wa La
Pa Dha Ja Ya Nya
Ma Ga Ba Tha Nga

Undak-usuk

Karena pengaruh budaya Jawa pada masa kekuasaan kerajaan Mataram-Islam, bahasa Sunda – terutama di wilayah Parahyangan – mengenal undak-usuk atau tingkatan berbahasa, mulai dari bahasa halus, bahasa loma/lancaran, hingga bahasa kasar. Namun, di wilayah-wilayah pedesaan/pegunungan dan mayoritas daerah Banten, bahasa Sunda loma (bagi orang-orang daerah Bandung terdengar kasar) tetap dominan. Di bawah ini disajikan beberapa contoh.

Tempat

Bahasa Indonesia Bahasa Sunda
(normal)
Bahasa Sunda
(sopan/lemes)
di atas .. di luhur .. palih luhur ..
di belakang .. di tukang .. palih pengker ..
di bawah .. di handap .. palih handap ..
di dalam .. di jero .. palih lebet ..
di luar .. di luar .. palih luar ..
di samping .. di sisi .. palih gigir ..
di antara ..
dan ..
di antara ..
jeung ..
antawis ..
sareng ..

Waktu

Bahasa Indonesia Bahasa Sunda
(normal)
Bahasa Sunda
(sopan/lemes)
sebelum saacan, saencan, saméméh sateuacan
sesudah sanggeus saparantos
ketika basa nalika
Besok Isukan Enjing

Lain Lain

Bahasa Indonesia Bahasa Sunda
(normal)
Bahasa Sunda
(sopan/lemes)
lapar Tina Tina
Ada Aya Nyondong
Tidak Embung Alim
Saya Urang Abdi/sim kuring/pribados

Perbedaan dengan Bahasa Sunda di Banten

Bahasa Sunda yang berada di Banten, serta yang berada di daerah Priangan (Garut, Tasikmalaya, Bandung, dll.) memiliki beberapa perbedaan. Mulai dari dialek pengucapannya, sampai beberapa perbedaan pada kata-katanya. Bahasa Sunda di Banten juga umumnya tidak mengenal tingkatan, Bahasa Sunda tersebut masih terlihat memiliki hubungan erat dengan bahasa Sunda Kuna. Namun oleh mayoritas orang-orang yang berbahasa Sunda yang memiliki tingkatan (Priangan), Bahasa Sunda Banten (Rangkasbitung, Pandeglang) digolongkan sebagai bahasa Sunda kasar. Namun secara prakteknya, Bahasa Sunda Banten digolongkan sebagai Bahasa Sunda dialek Barat. Pengucapan bahasa Sunda di Banten umumnya berada di daerah Selatan Banten (Lebak, Pandeglang). Berikut beberapa contoh perbedaannya:

Bahasa Indonesia Bahasa Sunda
(Banten)
Bahasa Sunda
(Priangan)
sangat jasa pisan
dia nyana anjeunna
susah gati hese
seperti doang siga
tidak pernah tilok tara
saya aing abdi
mereka maraneh aranjeuna
melihat noong ningali/nenjo
makan hakan tuang/dahar
kenapa pan naha
singkong dangdeur sampeu
tidak mau embung/endung alim
belakang Tukang Pengker
repot haliwu rebut
Baju Jamang Acuk
Teman Orok Batur

Contoh perbedaan dalam kalimatnya seperti:

Ketika sedang berpendapat:

  • Sunda Banten (Rangkasbitung): “Jeuuuh aing mah embung jasa jadi doang jelma nu kedul!”
  • Sunda Priangan: “Ah abdi mah alim janten jalmi nu pangedulan teh!”
  • Bahasa Indonesia: “Wah saya sangat tidak mau menjadi orang yang malas!”

Ketika mengajak kerabat untuk makan (misalkan nama kerabat adalah Eka) :

  • Sunda Banten (Rangkasbitung): “Teh Eka, maneh arek hakan teu?”
  • Sunda Priangan: “Teh Eka, badé tuang heula?”
  • Bahasa Indonesia: “(Kak) Eka, mau makan tidak?”

Ketika sedang berbelanja:

  • Sunda Banten (Rangkasbitung): “Lamun ieu dangdeur na sabarahaan mang? Tong mahal jasa.”
  • Sunda Priangan: “Dupi ieu sampeu sabarahaan mang? Teu kénging awis teuing nya”
  • Bahasa Indonesia: “Kalau (ini) harga singkongnya berapa bang? Jangan kemahalan.”

Ketika sedang menunjuk:

  • Sunda Banten (Rangkasbitung): “Eta diditu maranehna orok aing”
  • Sunda Priangan: ” Eta palih ditu réréncangan abdi. “
  • Bahasa Indonesia: “Mereka semua (di sana) adalah teman saya”

Meski berbeda pengucapan dan kalimat, namun bukan berarti beda bahasa, hanya berbeda dialek. Berbeda halnya dengan bahasa Sunda Priangan yang telah terpengaruh dari kerajaan Mataram. Hal itu yang menyebabkan bahasa Sunda Priangan, memiliki beberapa tingakatan. Sementara bahasa Sunda Banten, tidak memiliki tingkatan. Penutur aktif bahasa Sunda Banten saat ini, contohnya adalah orang-orang Sunda yang tinggal di daerah Banten bagian selatan (Pandeglang, Lebak). Sementara masyarakat tradisional pengguna dialek ini adalah suku Baduy di Kabupaten Lebak.

Sementara wilayah Utara Banten, seperti Serang, umumnya menggunakan bahasa campuran (multi-bilingual) antara bahasa Sunda dan Jawa.

Bilangan dalam bahasa Sunda

Bilangan Lemes
1 hiji
2 dua
3 tilu
4 opat
5 lima
6 genep
7 tujuh
8 dalapan
9 salapan
10 sa-puluh
11 sa-belas
12 dua belas
13 tilu belas
.. ..
20 dua puluh
21 dua puluh hiji
22 dua puluh dua
.. ..
100 sa-ratus
101 sa-ratus hiji
.. ..
200 dua ratus
201 dua ratus hiji
.. ..
1.000 sa-rebu
.. ..
1.000.000 sa-juta
.. ..
1.000.000.000 sa-miliar
.. ..
1.000.000.000.000 sa-triliun
.. ..
1.000.000.000.000.000 sa-biliun

 referensi: wikipedia

Manisan Cianjur dan Upaya Menghargai Nenek Moyang

Manisan Cianjur dan Upaya Menghargai Nenek Moyang

Di telinga orang luar Cianjur, nama salah satu kabupaten di Jawa Barat ini tidaklah begitu asing. Mendengar nama Cianjur, orang akan mengaitkannya dengan banyak hal. Ada beras pandanwangi, ayam pelung, tauco, tembang Sunda Cianjuran, kesenian kuda kosong, dan tak lupa adalah manisan buah dan sayurnya.

Tembang lama berjudul Semalam di Cianjur yang dipopulerkan oleh almarhum Alvian juga mau menggambarkan betapa Cianjur bisa menjadi tempat yang sangat berkesan bagi siapa pun.

Eneng Saadah (39), warga Kampung Cimadu, Desa/Kecamatan Gekbrong, Kabupaten Cianjur, mengatakan, Cianjur adalah tempat lahir yang patut dikenang. Manisan sayur asli Cianjurlah yang membuat tempat kelahiran itu patut dikenang. Bagi Eneng Saadah, pembuatan manisan sayur merupakan warisan nenek moyangnya.

Seingatnya, nenek Saadah sudah membuat manisan itu sejak Saadah kecil. Sang nenek juga mengatakan, beberapa generasi di atasnya juga sudah mulai membuat manisan sayur.

Manisan sayur memang belum punya nama seterkenal manisan buah. Namun, manisan sayur ini ternyata masih mendapat tempat ketika bisnis manisan dari Cianjur memasuki masa suram. Sayuran yang bisa dipakai untuk manisan antara lain wortel, pepaya, labu, buncis, mentimun, dan buah singkong.

Saadah yang menjadi penerus pembuatan manisan itu memang tak melulu berbicara soal bisnis saat memproduksi manisan yang dijual antara Rp 23.000 hingga Rp 27.000 per kilogram. Produksi manisan memang harus mendatangkan pemasukan, tetapi itu bukan yang terutama bagi Saadah. “Yang jelas, saya ingin menghargai nenek moyang terhadap apa yang pernah mereka buat. Kami merasa masih terikat secara batin dengan nenek moyang kami setiap kali membuat manisan sayur ini,” katanya.

Tergerus zaman

Sebagai salah satu wujud penghargaan itu, Saadah masih tetap menggunakan tempat masak dari tembaga yang sudah digunakan oleh generasi pendahulunya sejak tahun 1900. Ia memang tak setiap hari menggunakan tempat masak dari tembaga itu karena kondisinya mulai rusak dan belum sempat dibetulkan.

Alat masak dari tembaga itu sudah beberapa kali diperbaiki, dan biayanya pun sudah lebih dari cukup untuk membeli barang yang sama. Namun, nilai uang perbaikan itu dirasa tak seberapa dibandingkan dengan ikatan batin yang kini tetap terasa.

Cianjur memang terkenal karena banyak hal. Seiring berjalannya waktu, eksistensi Cianjur perlu dipertanyakan. Beras pandanwangi banyak ditemui yang tidak asli Cianjur. Tauco dan manisan mengalami nasib sama. Kesenian kuda kosong tak lagi dipertontonkan.

Meredupnya eksistensi Cianjur itu tak harus disikapi dengan menyalahkan siapa pun. Namun, justru harus disikapi dengan sadar bahwa arus zaman terus menggerus entitas budaya kita, bukan hanya di Cianjur. (agustinus handoko)

referensi : kompas.com

Budaya “Pawai Kuda Kosong”

Budaya “Pawai Kuda Kosong”

Pawai “kuda kosong” yang sejak dulu digelar pada setiap upacara kenegaraan Cianjur, punya maksud untuk mengenang sejarah perjuangan para Bupati Cianjur tempo dulu. Saat Cianjur dijabat Bupati R.A. Wira Tanu seorang Dalem Pamoyanan R.A.A. Wiratanudatar II, bupati diwajibkan menyerahkan upeti hasil palawija kepada Sunan Mataram di Jawa Tengah.

Dalem Pamoyanan R.A.A. Wiratanudatar II yang dianggap sakti mandragunalah yang rutin ditugaskan untuk menyerahkan upeti tadi. Jenis upeti adalah sebutir beras, lada, dan sebutir cabai. Sambil menyerahkan tiga butir hasil palawija itu, Kangjeng Dalem Pamoyanan selalu menyatakan bahwa rakyat Cianjur miskin hasil pertaniannya. Biar miskin, rakyat Cianjur punya keberanian besar dalam perjuangan bangsa, sama seperti pedasnya rasa cabai dan lada.

Karena pandai diplomasi, Kangjeng Sunan Mataram memberikan hadiah seekor kuda kepada Dalem Pamoyanan. Seekor kuda jantan diberikan untuk sarana angkutan pulang dari Mataram ke Cianjur. Penghargaan besar Sunan Mataram terhadap Kangjeng Dalem Pamoyanan membuat kebanggan tersendiri bagi rahayat Cianjur waktu itu.

Jiwa pemberani rakyat Cianjur seperti yang pernah disampaikan Kangjeng Dalem Pamoyanan kepada Sunan Mataram membuahkan kenyataan. Sekira 50 tahun setelah peristiwa seba itu, ribuan rakyat Cianjur ramai-ramai mengadakan perlawanan perang gerilya terhadap penjajah Belanda. Dengan kepemimpinan Dalem Cianjur Rd. Alith Prawatasari, barisan perjuang di setiap desa gencar melawan musuh, sampai-sampai Pasukan Belanda sempat ngacir ke Batavia (sekarang Jakarta).

“Untuk mengenang perjuangan Kangjeng Dalem Pamoyanan yang pandai diplomasi itu, setiap diadakan upacara kenegaraan di Cianjur selalu digelar upacara ‘kuda kosong’. Maksud seni warisan leluhur itu untuk mengenang perjuangan pendahulu kepada masyarakat Cianjur sekarang,” kata Alith Baginda, S.H. Ketua II Dewan Kesenian Cianjur (DKC) yang juga menjabat Kasi Kebudayaan di Dinas Pendidikan Kab. Cianjur.

Ditinjau dari pelestarian budaya, Alith kurang setuju bila kesenian “kuda kosong” yang menimbulkan perjuangan itu dihilangkan begitu saja di bumi Cianjur. Bila disorot ada adegan-adegan yang memang dianggap menyimpang dari
akidah keislaman, adegan itulah yang harus ditiadakan. Namun, banyak adegan yang bagus dari sisi seni budaya, harus tetap dilestarikan.

Alith dan rekan-rekan seniman Cianjur sering mengadakan pendekatan dengan semua pihak agar aneka seni tradisional Cianjur yang dulu pernah berjaya agar dihidupkan kembali. Termasuk seni “kuda kosong” yang sempat dilarang
digelar itu. Harapannya agar semua seni budaya warisan leluhur yang telah hilang itu tetap berkembang di Cianjur.

Tak sedikit seni budaya Cianjur hilang dan terancam mati. Seperti seni bangkong reang di Kec. Pagelaran, seni tanjidor di Kec. Cilakong, goong renteng di Kec. Agrabinta, seni rudat di Kec. Kadupandak, dan seni reak di Kec. Cibeber. Bahkan, seni tembang cianjuran sebagai warisan budaya ciptaan Kangjeng Raden Aria Adipati Kusumaningrat atau Dalem Pancaniti Bupati Cianjur (1834-1861) benar-benar hampir terancam kepunahan.

“Saya setuju sekali bila adegan-adegan mistik seperti menyediakan sesajen di pendopo dan persembahan kuda untuk ditunggangi Eyang Suryakencana yang kawin dengan jin ditidakan. Yang penting seni budaya ‘kuda kosong’-nya tetap
berjalan,” pinta Alith.

referensi: cianjurcybercity

Seni Tradisional Cadut, Calung Dangdut

Seni Tradisional Cadut, Calung Dangdut

SENI calung dan dangdut (cadut) yang satu ini berdiri tahun 1998. Saat ini masih diketuai ketua karang taruna Kampung Cageundang, Desa Sukamaju, mang Adun. Seni ini merupakan kesenian yang harus dilestarikan dan banyak dukungan seiring beragam seni, budaya, adat dan suku di negeri ini. Seperti apa keberadaannya?

BELUM lama ini wartawan ini mendatangi grup sanggar seni calung dangdut (cadut) di Kampung Cagenang RT 01/ 04 Desa Sukamaju, tepatnya jalan raya Sukabumi perapatan Nagrak-Cageundang, Cianjur. Ternyata seni ini menyimpan sejarah. Bagi pembaca Radar Cianjur yang pernah menyaksikan tampil grup ini dan punya kenangan tersendiri, setidaknya akan terkenang masa lalu itu.

Namun sayangnya seni opera humor ini sudah terlupakan oleh masyarakat, terutama oleh kaum muda di jaman sekarang ini. Karena anak muda sekarang sudah tertarik oleh budaya-budaya luar sehingga kurang peduli bahkan nyaris lenyap.

Saat itu, di sanggar seni yang namanya “galatik” tampak sedang berlatih seni opera humor. Saat perbincangannya, ketua karang taruna Kampung Cageundang, mang Adun menuturkan, di tanah air tercinta ini cukup sangat kaya akan suku budaya, baik suku Jawa, Batak, Madura, Betawi dan masih banyak lagi yang lainnya.

“Salah satunya adalah suku Sunda. Seni inilah yang harus dilestarikan dan dibudayakan. Kami sangat gembira jika ada perhatian dari terkait terutama Pemkab Cianjur, karena grup kami juga punya sejarah,” ungkapnya.

Mereka tampak serius berlatih, meski tidak menggunakan stelan seragam khusus. Karena sifatnya latihan. Namun seni ini jelas merupakan warisan nenek moyang. Adun menuturkan kembali, apabila tampil tak perlu banyak personil, cukup lima orang saja tapi ada juga yang tujuh orang termasuk badutnya.

“Boleh coba nanti ketika kami manggung, dengan iringan seni musik calung sunda tentu sangat menarik,” ujarnya, seraya menyebut jika tampil dijamin akan mengocok perut, karena banyak bobodoran, belum lagi badut sulap komedi dan opera humor yang dikemas secara unik, penuh tawa sangat menghibur,” tuturnya.

Dalam latihan tampak memperagakan konsep drama pada anak didiknya. Apa yang dilakukan ini tiada lain untuk mempersiapkan diri apabila nanti ada panggilan manggung. Baik ketika pesta ultah, pernikahan, kegiatan masyarakat sunda atau siapa saja.

“Harapan kami kedepan semoga dengan keberadaannya grup ini sebagai seniman opera humor masih yang diterima masyarakat, khususnya masyarakat Sunda Cianjur, terlebih pemerintahan setempat,” tutup Adun.(**)

sumber: radarcianjur

KH. R. Muhammad Isa Al-Kholidi

KH. R. Muhammad Isa Al-Kholidi

KH.R. Muhammad Isa Al-Kholidi lahir di Singapura  tanggal 5 Muharam 1272/1855 M. Masyarakat lebih mengenal dengan sebutan guru Haji Isa, sesuai dengan nama jelas di sekitar mesjid agung (kaum) Cianjur yang kini telah berubah nama menjadi Jalan Siti Bodedar dan ia membangun Madrasah Gedong Asem yang terkenal ke mana-mana.

Guru Haji Isa atau yang biasa disebut  nama Isa menurut RH.Abbas Sahabuddin AM salah seorang keturunannya, adalah pemimpin  thoriqoh naqsyabadiyyah Kholidiyyah di gedong Asem Cianjur, meneruskan kiprah para pendahulunya.  Kiyai ini menuntut  ilmu dan berguru pada Sayyid Hasan, seorang keturunan Arab dari Johor Malaysia di Singapura.

Kemudian,  ia memperdalam thoriqoh naqsyabadiyyah kepada RH.Ibrahim, mertuanya dan saudara  ayahnya dalam usia 17 tahun, juga masih di Singapura, ketika usia menginjak 22 tahun, R.H. Muhammad Isa al Kholidi pergi ke Mekkah, untuk menuntut  ilmu dan menamatkan pelajaran thoriqoh naqsyabadiyyah Sayyidi Syeh Sulaeman Zuhdi seorang keturunan Turki dijabal Qubesy dan mendapat ijazah atau gelar Al Kholidi.

Sekembalinya ke Cianjur Guru Haji Isa atau yang kerap pula disebut juragan Isa, melanjutkan para pendahulunya memimpin pengajian dan penyebaran agama Islam. Disamping menjadi pimpinan thoriqoh naqsyabadiyyah saat itu, mewakili KH.R ma’mun Al Kholidi (mama Guru Waas) Menurut  Ketua DKC Cianjur, Deni Rusyandi ,  K.H.R. Muhammad Isa Al kholidi juga membangun Madrasah di atas kolam besar (Bale Kembang) di Gedong  Asem sebagai tempat mendidik  anak-anak  perempuan, sekaligus tempat peribadatan dan berbagai kegiatan keagamaan  islam lainya. Seperti antara lain penyelenggaraan tadarus membaca al-qur’an berikut tajwidnya. Serta pengajian kitab kuning berikut terjemahnya (arti dan maksudnya).seluruh kegiatan tersebut dilaksanakan seusai solat subuh.

“Beragam kegiatan mengajar dan mendidik para santri khususnya dalam hal membaca Al Quran beserta tajwid lagamnya tersebut, akhirnya membuat nama Madrasah Gedong Asem Cianjur menjadi sangat terkenal bahkan hingga keluar daerah,” imbuhnya.(**)

referensi: radarsukabumi

Haji Prawatasari

Haji Prawatasari

Di masa VOC berkuasa, di tatar Sunda banyak bermunculan perlawanan rakyat terhadap ketidakadilan. Salah satunya, dipelopori oleh seorang menak Cianjur bernama Haji Prawatasari.

Gelap masih membekap kawasan Stadion Prawatasari Joglo, Cianjur. Matahari pagi belum berani menampakan diri, saat puluhan anak muda berpakaian olahraga berduyun menuju stadion di pusat kota itu. Suara mereka terdengar sedikit ribut, mirip rombongan burung sawah yang sedang mencari makan.

Saya mendekati beberapa anak muda yang tengah bercengkarama di sudut stadion. Dari wajahnya, saya taksir usia mereka masih 17-an. “Olahraga,Kang?” kata salah satu dari mereka yang saya kenal sebagai tetangga saya. Kami lantas terlibat dalam obrolan ngalor-ngidul, mulai bicara tentang sekolah, pergaulan anak muda sekarang hingga sejarah Cianjur.

“Kalian tahu siapa yang mempunyai nama stadion ini?” tanya saya.

“Haji Prawatasari? Wah kirang terang,Kang…” kata salah seorang dari mereka. Yang lainnya hanya bisa tersenyum dengan wajah malu-malu.

Saya sebenarnya maklum kalau mereka tidak tahu. Alih-alih anak-anak muda tersebut, seorang Tjetjep Muchtar Soleh yang Bupati Cianjur saja pada mulanya tidak tahu menahu pada nama itu. ¨Hampir setiap minggu, saya berolahraga di Lapang Prawatasari, tapi saya sendiri tidak tahu siapa itu Prawatasari¨ katanya kepada para wartawan beberapa waktu yang lalu.

Lantas siapa sebenarnya Haji Prawatasari? Hingga tulisan ini dibuat, sosok menak yang lahir dan besar di daerah Jampang (sekarang sebagian masuk Kabupaten Cianjur yakni Jampang Wetan dan sebagian lagi yakni Jampang Kulon masuk ke wilayah Kabupaten Sukabumi) masih diliputi kabut misteri.

“Katanya, dia itu masih turunan dinasti raja-raja Pajajaran,”ujar Aki Rangga (78) salah seorang sesepuh yang sempat saya temui di sebuah kampung kecil di kawasan Jampang Kulon beberapa tahun yang lalu. Ada juga orang yang mempercayai, Haji Prawatasari adalah keturunan Prabu Sancang Kuning. Itu adalah nama seorang raja terkenal dari Singacala, Panjalu (sekarang masuk Kabupaten Ciamis).

Sebagian besar sejarawan Sunda sendiri meyakini ia lahir dan dibesarkan di tanah Jampang. Kalaupun tidak dilahirkan di Jampang, setidaknya ia dibesarkan dan tumbuh menjadi seorang ulama di daerah yang terkenal sebagai pusat pelatihan militer (akademi militer) para jagabaya (prajurit Kerajaan Pajajaran) tersebut.

Waktu masih bocah Prawatasari dikenal dengan julukan Raden Alit. Bisa jadi istilah alit (dalam bahasa Sunda berarti kecil) mengacu kepada 2 arti: ia merupakan anak paling kecil (bungsu) dalam struktur keluarganya atau karena sifatnya yang selalu bergaul dengan para “kawula alit” (rakyat kecil). Sebuah kondisi yang memberinya pengaruh besar untuk menjadi seorang pemberontak terhadap segala bentuk kezaliman.

*

PADA masa pemerintahan Dalem Aria Wiratanu II (1686-1707) secara resmi Cianjur mengakui kekuasaan VOC (Vereenigde Oost indische Compagnie atau Maskapai Dagang Hindia Timur). Pengakuan tersebut otomatis membuat posisi tawar Cianjur secara politik jatuh di mata VOC. Sebagai organisasi kapitalis pertama dan terbesar pada zamannya, VOC sebisa mungkin mengeksploitasi daerah taklukan mereka secara maksimal. Salah satunya dengan cara memberlakukan kerja paksa (rodi) pembangunan sarana infrastruktur seperti jalan dan gedung dagang, memonopoli perdagangan kopi sekaligus memberlakukan tanam paksa untuk tumbuhan jenis tersebut kepada rakyat.

Demi menghadapi situasi itu, para menak lokal di bawah Aria Witatanu II tidak bisa berbuat apa-apa. Alih-alih menjadi pembela kepentingan rakyat, para penguasa feodal itu malah menikmati posisi mereka sebagai kaki tangan VOC. Tapi tidak serta merta semua menak lokal membebek kepada kepentingan para kapitalis bule tersebut. Selalu ada kekecualian dalam hidup. Salah satu kekecualian itu adalah Raden Alit alias Haji Prawatasari.

Haji Prawatasari menentang keras kebijakan Aria Wiratanu II yang menurutnya sama sekali tidak pro rakyat. Tidak cukup hanya menentang dengan kata-kata, ia juga memimpin pembangkangan massal rakyat untuk menolak penanaman kopi.Rupanya situasi yang penuh dengan ketidakadilan menjadikan seorang menak seperti Haji Prawata menjalankan aksi ‘bunuh diri kelas’ (istilah Marx untuk para borjuis yang menggabungkan dirinya dalam perlawanan kaum proletar). Persis seperti yang dilakukan oleh Robin Hood di Nottingham,Inggris beberapa abad sebelumnya.

Maret 1703, Haji Prawatasari memobilisasi rakyat Cianjur dan sekitarnya untuk memicu pemberontakan. Menurut Gunawan Yusuf, sekitar 3000 massa berhasil direkrut oleh Haji Prawatasari untuk menjadi gerilyawan. Mereka lantas menyerang tangsi-tangsi tentara kompeni di pusat kota Cianjur untuk kemudian menjalankan aksi hit and run. “Dalam berbagai aksi penyerangannya, Haji Prawatasari selalu mengacu kepada 12 taktik tempur prajurit Pajajaran yang terkenal itu,” tulis sejarawan Sunda tersebut dalam Mencari Pahlawan Lokal.

Setahun kemudian, sekitar 3 bataliyon pasukan Haji Prawatasari bergerak menyerang titik-titik kepentingan militer VOC di Bogor, Tangerang dan beberapa kawasan Priangan Timur seperti Galuh, Imbanagara, Kawasen dan daerah muara Sungai Citanduy.Sesekali mereka juga menjalankan aksi hit and run mereka di sekitar Batavia.

Kenyataan itu membuat VOC sama sekali tidak nyaman. Mereka lantas membentuk sebuah ekspedisi militer dengan kekuatan 2 bataliyon (terdiri dari serdadu lokal dan sebagian kecil bule) pimpinan Pieter Scorpoi untuk menyerang Jampang.Baru sampai Cianjur, konvoi para serdadu tersebut dicegat sekaligus “dihabisi” oleh para gerilyawan Haji Prawatasari. “ Dari 1354 serdadu, yang disisakan oleh pasukan Haji Prawata hanya 582 orang,”ungkap Gunawan Yusuf.

Maret 1704, para gerilyawan Haji Prawatasari mengepung Sumedang dan nyaris mengahancurkannya. Hingga Agustus 1705, tercatat 3 kali pasukan’ Robin Hood dari Tjiandjoer’ itu berhasil mengalahkan pasukan VOC.(Bersambung)

referensi: cianjurcybercity

Page 12 of 16« First...1011121314...Last »