Tutut Hot, Dua Saudara

Tutut Hot, Dua Saudara

Tutut memang menjadi kuliner yang banyak diminati semua kalangan. Tutut Hot, Dua Saudara bisa dijumpai di daerah Jl. Siliwangi tepatnya di depan SD Ibu Dewi 7. Dengan cukup 5rb saja sudah dapat sekarung Tutut yang rasanya enak, gurih. Suka rasa pedas ? jangan takut tersedia juga extra hot dan tentunya akan lebih enak jika disantap dalam keadaan panas.

Mie Ayam Stekmal

Mie Ayam Stekmal

Mie Ayam Stekmal ini sudah terkenal di Cianjur, dengan 8 ribu saja sudah dapat semangkok mie ayam lengkap dengan setoples kerupuknya. Konon nama Stekmal ini diambil karena awal mulanya Mie Ayam ini berada di Stekmal Cianjur.

Bisa dijumpai di kantin Cianjur Super Mall/Hypermart Cianjur

Tias Wisata Cianjur

Tias Wisata Cianjur

Tias Wisata Cianjur berlokasi di Warung Jengkol, Rancagoong. Fasilitas liburan keluarga lumayan lengkap mulai dari kolam renang anak dan dewasa, karaoke dan tempat istirahat yang nyaman.

Dengan membayar sekitar 20rb/orang anda sudah dapat menikmati wisata keluarga di Tias Wisata Cianjur.

Sate Maranggi Nasi Uduk

Sate Maranggi Nasi Uduk

Sate Maranggi + Nasi Uduk merupakan variasi lain dari kuliner sate maranggi, setelah sebelumnya ada nasi kuning, ada juga nasi uduk yang jadi teman sate maranggi. Dilengkapi dengan sambal oncom, irisan telur dadar, bawan goreng dan irisan acar ketimun yang membuat menu sarapan pagi menjadi lebih mantap.

Bisa dijumpai di Jl. Siti Jenab (samping BJB).

Satu porsi terdiri dari Sate 5 tusuk+nasi uduk cuma 10rb. Murah kan ? enak lagi ..

Kereta Api di Cianjur Tahun 1981

Kereta Api di Cianjur Tahun 1981

Kereta Api sedang dalam perbaikan di Cianjur tahun 1981

Pada zaman penjajahan yang dilakukan Belanda dan Jepang terhadap Indonesia, stasiun kereta api Cianjur pernah menjadi stasiun induk bagi Priangan (Jawa Barat), saat Cianjur menjadi ibukota Priangan.

referensi: http://heritage.dicianjur.com

Kampung Cina di Cianjur

Kampung Cina di Cianjur

Keberadaan warga keturunan etnis Cina di Cianjur merupakan salah satu ragam heterogenitas penduduk kota Cianjur. Dari perjalanan panjang sejarah kota Cianjur, warga Cianjur keturunan Cina memiliki jasa yang cukup besar dalam perekonomian Cianjur.

Berbagai peninggalan bersejarah dari masa kolonial Belanda yang dibangun oleh warga keturunan Cina banyak tersebar di Cianjur, terutama di wilayah ibukota Cianjur.

Perempatan Jalan Shanghai sekitar tahun 1880-an (foto:Trompen Museum)

Hingga kini, masih dapat dikenal sebutan Jalan Shanghai, untuk salah satu lokasi perempatan di pusat kota Cianjur. Gedung Wisma Karya yang kini digunakan sebagai gedung olah raga tenis meja oleh KONI Cianjur juga merupakan salah satu bangunan peninggalan warga Cina yang memiliki berbagai fungsi. Tempat peribadatan berupa Vihara (klenteng), di Jl. Mangun Sarkoro pun menjadi saksi bisu eksistensi warga Cianjur keturunan Cina dari masa ke masa.

Kehadiran orang-orang Cina di Cianjur dimulai sekitar awal abad ke-19. Hal ini ditandai oleh didirikannya Kampung Cina di Cianjur berdasarkan besluit tanggal 9 Juni 1810. Pada saat itu Kabupaten Cianjur dipimpin oleh Raden Noh atau Raden Wiranagara, yang lebih dikenal dengan gelar Raden Adipati Wira Tanu Datar VI. Dengan didirikannya Kampung Cina pada waktu itu, diharapkan dapat mengoptimalkan penggunaan tanah-tanah kosong yang ada serta menanaminya dengan tanaman seperti tembakau, indigo atau kapas.

Arsitektur bangunan peninggalan warga keturunan Cina

Pendirian Kampung Cina di Cianjur, waktunya juga bersamaan dengan pendirian kampung Cina di kabupaten-kabupaten lain yang ada di wilayah Priangan, seperti Bandung, Parakanmucang, Sumedang, Sukapura, Limbangan, dan Galuh. Salah satu pertimbangan penting yang dijadikan dasar pendirian kampung Cina adalah keberhasilan orang-orang Cina dalam meningkatkan kesejahteraan dan perdagangan di daerah Kedu dan daerah vorstenlanden lainnya.

Lokasi Kampung Cina di Cianjur terutama terdapat di wilayah ibukota Cianjur. Hal ini ditandai dengan populasi warga Cianjur keturunan Cina yang berpusat di Cianjur kota. Ciri lainnya yang menjadi tanda lokasi Kampung Cina, adalah bangunan ruko (rumah toko) dengan arsitektur khas yang banyak ditemukan di wilayah Cianjur kota.

Peninggalan Bersejarah

Obyek-obyek bersejarah peninggalan warga Cina di Cianjur baik berupa arsitektur, makanan, maupun tradisi Cina masih dapat ditemukan dengan mudah. Lokasinya berada di beberapa tempat strategis dan jalan-jalan utama. Di pusat kota Cianjur, atau lebih dikenal dengan Jalan Raya, hingga kini dapat ditemukan bangunan-bangunan ruko dengan gaya khas Cina pada masa kolonial Belanda.

Arsitektur “pelana kuda” menjadi ciri khas bangunan Cina di Cianjur

Arsitektur khas yang banyak ditemukan yaitu puncak atap yang berbentuk pelana dengan ornamentasi khas Cina. Bangunan dengan arsitektur semacam ini terutama masih dapat di lihat di Jl. HOS Cokroaminoto, Jl. Siti jenab, Jl. Suroso, Jl. Barisan Banteng, Jl. Taifur Yusuf, Jl. Sinar dan beberapa ruas jalan lainnya di Cianjur Kota. Arsitektur serupa ditemukan pula di sekitar pasar Warungkondang.

Salah satu ruko bertingkat dua di Jl. Mangun Sarkoro

Di sepanjang Jl. Mangun Sarkoro  (Jalan Raya Cianjur) banyak ruko (rumah toko) yang dimiliki oleh warga Cianjur keturunan Cina. Ruko-ruko di jalan ini ada yang arsitekturnya tetap dipertahankan, namun tidak sedikit pula yang telah mengalami perombakan total. Selain ruko, terdapat juga dua vihara yang menjadi pusat peribadatan warga Cina hingga sekarang. Salah satu vihara yang telah menjadi cagar budaya adalah Vihara Bhumi Pharsija, yang dibangun tahun 1880.

Di Jl. Moh. Ali yang bersimpangan dengan Jl. Mangun Sarkoro terdapat titik yang paling terkenal dan lekat dengan sejarah pendudukan warga Cina di Cianjur. Pada masa lalu, jalan ini disebut Jalan Shanghai, namun kini telah berganti nama. Sebutan Jalan Shanghai hingga kini masih tetap dikenal oleh warga Cianjur untuk lokasi ini.

Di lokasi ini juga terdapat beberapa bangunan peninggalan warga Cina pada masa lalu. Salah satunya yaitu Gedung Wisma Karya. Gedung ini dibangun sekitar tahun 1950-an oleh warga keturunan Cina sebagai gedung berbagai kegiatan. Sekitar tahun 1966, gedung ini dipakai oleh KAMI/KAPI Cianjur sebagai pusat kegiatan. Sekarang fungsinya menjadi gedung olah raga tenis meja. Bangunan ini semula menjadi satu bagian dengan sekolah Cina yang berada di bagian belakangnya. Sekarang pada bagian belakang gedung ini terdapat beberapa bangunan sekolah dasar negeri.

Gedung Wisma Karya Cianjur (tampak belakang)

Di daerah Pasir Hayam, tepatnya di Desa Sirnagalih kecamatan Cilaku, terdapat kompleks besar pemakaman kuno warga Cina Cianjur. Setidaknya terdapat tiga bukit utama yang dijadikan sebagai area pemakaman. Makam-makam Cina yang terdapat di kompleks ini kebanyakan berukuran besar dengan arsitektur megah khas Cina. Pada beberapa nisan berterakan tulisan Cina, dapat dilihat usia makam tertua yang dibuat sekitar tahun 1920-an. Saat ini, areal kompleks pemakaman Cina kuno ini dikelola oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Cianjur, dan masih digunakan hingga sekarang.

Salah satu sudut kompleks pemakaman kuno Cina

Kuliner Khas Cina

Sebagai pendongkrak perekonomian dari masa kolonial Belanda, warga keturunan Cina di Cianjur memiliki berbagai kegiatan usaha. Beberapa di antaranya tetap bertahan dari masa kolonial. Dalam bidang kuliner, terdapat tiga jenis penganan yang cukup dominan dan khas di sekitar kota Cianjur.

Warga Cianjur sudah tentu kenal dengan makanan tauco. Makanan ini berawal dari resep warga Cina yang datang ke Cianjur pada masa kolonial. Hingga sekarang, jenis makanan ini tetap bertahan dan mampu berkembang, bahkan telah diakui sebagai makanan khas kabupaten Cianjur. Produk tauco Cianjur resep warga Cina yang eksis hingga sekarang di antaranya yaitu Tauco Cap Meong. Salah satu varian olahan tauco yang menjadi khas Cianjur lainnya adalah Geco (tauge-tauco), hingga kini masih dapat di temukan di beberapa sudut jalan di Cianjur.

Restoran Cina yang mempertahankan arsitektur klasik

Selanjutnya terdapat manisan buah-buahan, yang merupakan salah satu olahan makanan dengan tujuan untuk membuat buah mampu bertahan lama. Resepnya diperoleh sejak jaman dahulu. Manisan buah juga telah dinobatkan sebagai makanan khas Cianjur. Kemudian, warga Cianjur sangat mengenal olahan roti. Salah satu yang terkenal yaitu pabrik roti Tan Keng Cu. Mengenai olahan ini, cukup unik bila ditelusuri sejarahnya. Pada awalnya roti diproduksi untuk memenuhi permintaan penduduk Eropa di Cianjur. Hingga kini, produksi roti Tan Keng Cu tetap bertahan dan telah mengalami perkembangan.

Selain tiga olahan khas yang cukup dominan, di Cianjur juga banyak ditemukan kuliner khas Cina seperti capcay, kwetiaw, siomay, bakso, bakpau, bacang, dll. Untuk mendapatkannya, cukup mendatangi toko-toko kue dan restoran Cina yang ada di sekitar Cianjur kota. ***iNs

referensi: http://heritage.dicianjur.com

Sate Maranggi Nasi Kuning

Sate Maranggi Nasi Kuning

Sate Maranggi Nasi Kuning

Sate maranggi adalah sate sapi yang dibumbui dengan kecap manis dan disajikan dengan sambal oncom, dan acar sebagai pelengkapnya. Namun yang satu ini patut dicoba yakni Sate Maranggi dengan Nasi Kuning dan Segelas Teh Panas.

Stasiun Kereta Api Cianjur

Stasiun Kereta Api Cianjur

Stasiun Cianjur (CJ) merupakan stasiun kereta api yang terletak di Jl. Yulius Usman, Sayang, Cianjur, Cianjur yang berada di pusat Kabupaten Cianjur. Stasiun yang terletak pada ketinggian +438,756 m dpl ini berada di Daerah Operasi 2 Bandung.

Stasiun Cianjur berada di km 95+775 dan menjadi stasiun dengan kepadatan penumpang terbanyak di Jalur Cianjur -Padalarang.

Peron Gaya Masa Kolonial Belanda

Stasiun Cianjur dibangun oleh Pemerintah Belanda. Karena itu, bangunan stasiun mengadopsi bangunan yang bernuansa kental khas Eropa. Selain itu, bangunan Stasiun Cianjur termasuk bangunan tua yang dilindungi. Dulu, stasiun ini memiliki 6 jalur, termasuk jalur menuju gudang di seberang stasiun. Namun, karena jalur Jakarta-Bandung sudah berpindah ke jalur Cikampek-Padalarang, maka jalur di stasiun ini dikurangi menjadi tiga karena lalu lintas yang lengang.

“Argo Peueyum” kelas bisnis sedang menunggu penumpang

Tak banyak orang yang mengetahui, stasiun kereta api Cianjur sempat menjadi bagian sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang tidak bisa dihilangkan begitu saja. Pada zaman penjajahan yang dilakukan Belanda dan Jepang terhadap Indonesia, stasiun kereta api Cianjur pernah menjadi stasiun induk bagi Priangan (Jawa Barat), saat Cianjur menjadi ibukota Priangan. Namun sayang, bangunan peninggalan dengan arsitektur art deco itu, seolah tidak terurus dengan baik. Selepas aktivitas yang mayoritas terjadi pagi dan siang hari, selebihnya, bangunan yang berdiri sekitar tahun 1879 itu, lebih banyak dihuni sejumlah gelandangan dan pengemis (gepeng).

Kereta Api sedang dalam perbaikan di Cianjur tahun 1981
Gudang tua di lajur seberang

referensi: http://heritage.dicianjur.com

Pawai Obor Semarakan 1 Muharam

Pawai Obor Semarakan 1 Muharam

Menyambut 1 Muharram atau Tahun Baru 1434 Hijriah, sejumlah warga Cianjur mengadakan pawai obor. Ribuan orang turun ke jalan untuk memperingati datangnya tahun baru Islam ini.

Seperti yang dilakukan warga Desa Maleber Kecamatan Karangtengah. Mereka terlihat begitu antusias mengikuti acara pawai obor yang digagas oleh Karangtaruna, PP PAC Karangtengah. Mereka rela berjalan sepanjang 20 kilometer untuk menyambut datangnya tahun baru dalam penanggalan Islam.

Ketua PP PAC Karangtengah Ace M Muslihat mengatakan, jika kegiatan pawai obor dilakukan rutin setiap tahun sekali. Selain menggelar pawai obor, pihaknya juga menggelar tabligh akbar.

“Biasanya, penyambutan tahun baru Islam selalu tidak antusias, berbeda dengan tahun baru masehi. Makanya, lewat kegiatan ini, kita coba kobarkan semangat dan mengajak umat muslim untuk menyambutnya dengan suka cita,” ujarnya.

Dikatakannya, kegiatan pawai obor tersebut diikuti oleh para pemuda serta para santri. “Kita berharap, nantinya bisa menumbuhkan semangat mereka dan lebih meningkatkan keimanan di tahun baru ini,” paparnya.

Selain di Karangtengah, pawai obor juga digelar oleh warga serta siswa-siswa MA Al Maa’uun, Kecamatan Mande. Humas MA Al Maa’uun Asep Saepurochman mengatakan, kegiatan tersebut digelar dalam rangka menyambut tahun baru Islam. Adapun rute awai obor yang dilakukan di Mande, dimulai dengan melitasi Kampung Babakan, Gandasoli, Pagutan hingga Jangari dan kembali ke sekolah.

“Kita ingin mengajak para siswa, atau generasi muda untuk lebih menyambut dan mengenal tahun barunya. Pawai obor ini, merupakan cara lain untuk mengajarkan mereka untuk lebih mengenal agamanya,” pungkasnya.(zul/rp1)

referensi: radarcianjur

Situs Benteng Tanah Ciranjang Cianjur

Situs Benteng Tanah Ciranjang Cianjur

Situs Benteng Tanah  secara administratif terletak di Kampung Pasanggrahan, Desa Ciranjang Hilir, Kecamatan Ciranjang. Situs terletak di daerah  pedesaan yang bisa dijangkau dengan kendaraan roda dua. Kendaraan roda empat hanya bisa sampai di pinggir jalan besar yang menghubungkan Kota Bandung – Cianjur. Lokasinya berjarak sekitar 1 km dari jalan besar dan untuk mencapainya harus melewati pemukiman dan persawahan. Secara astronomis terletak pada koordinat 6°48’24” LS dan 107°14’59” BT.

Benteng tanah merupakan tinggalan manusia masa lampau yang menunjukkan daerah tersebut hunian manusia masa lampau. Lokasi dibangunnya benteng diapit dua aliran sungai, yaitu Sungai Cisokan dan Sungai Ciranjang. Pada bagian utara situs terdapat pertemuan aliran sungai Cisokan dan Ciranjang. Benteng tanah yang ada di situs ini mencapai ketinggian 7 m. Bangunan benteng tanah ini terbentang antara tepian Sungai Cisokan dan Ciranjang sepanjang sekitar 500 m.

Sekarang areal sekitar benteng dimanfaatkan sebagai area pertanian dan pemukiman. Pada bagian utara benteng, telah tedapat pemukiman yang berakibat pada salah satu bagian benteng dibongkar untuk keluar masuk warga.

Pada bagian ujung utara situs terdapat makam Embah Sarangsang Bentang. Makam ditandai adanya dua batu alam tegak dan hamparan bata. Makam ini terletak di bagian pertemuan Sungai Cisokan dan Ciranjang.

Lokasi yang sering dikunjungi para peziarah ini mempunyai potensi untuk dikembangkan tidak hanya sekedar sebagai objek wisata ziarah. Lokasi yang tinggi bisa untuk melihat pemandangan sekelilingnya berupa aliran kedua sungai di bawahnya dan alam perbukitan di sekitarnya.

Lokasi: Kampung Pasanggrahan, Desa Ciranjang Hilir, Kecamatan Ciranjang
Koordinat : 6°48’24” S, 107°14’59” E

referensi: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat

Page 2 of 1612345...10...Last »