Terowongan Lampegan Cibeber

Terowongan Lampegan Cibeber

Terletak di Cibeber, perbatasan Cianjur-Sukabumi. Pernah runtuh, telah direnovasi, panjang 687 m (8)

Terowongan Lampegan adalah terowongan kereta api tertua di Indonesia. Terowongan Terowongan ini memiliki panjang 686 meter dan dibangun untuk mendukung jalur kereta api rute Bogor – Sukabumi – Bandung. Terowongan ini berada di Cibeber, Kabupaten Cianjur, Propinsi Jawa Barat.
Terowongan Lampegan dibangun oleh perusahaan kereta api SS (Staats Spoorwegen) dan dibangun pada pada periode 1879 – 1882. Nama terowongan berasal dari bahasa percakapan orang Belanda ketika kereta api memasuki terowongan, yaitu ‘Lamp a gan’ yang berarti nyalakan lampu. Tidak jauh dari terowongan Lampegan, terdapat stasiun Lampegan.
Pada tahun 2001, terowongan Lampegan mengalami longsor akibat gempa bumi sehingga menutup jalur kereta api rute Sukabumi – Bandung. Pada tahun 2006, terowongan Lampegan sempat diperbaiki, namun belum sempat kereta api menembus terowongan yang baru diperbaiki, longsor kembali terjadi.
Tahun 2009, Pemerintah Republik Indonesia mulai memperbaiki Terowongan Lampegan yang selama ini rusak sehingga menutup jalur kereta api rute Bandung – Sukabumi. Dengan pembukaan kembali jalur kereta api rute Bandung – Sukabumi ini diharapkan dapat mengurangi kepadatan kendaraan di jalan raya.
Jalur kereta api rute Bandung – Sukabumi memiliki potensi wisata yang besar karena pada jalur kereta api ini terdapat pemandangan kebun teh yang indah dan kawasan wisata situs megalitik Gunung Padang. Situs megalitik Gunung Padang terletak di Desa Karyamukti, Kecamatan Campakamulya, Kabupaten Cianjur, Propinsi Jawa Barat. Menurut para ahli arkeologi, situs ini merupakan situs megalitik terbesar di Asia Tenggara. Jika jalur ini dapat dipulihkan kembali maka akan menggeliatkan ekonomi masyarakat setempat dan menghidupkan pariwisata di daerah sekitar.

referensi: Kereta Api Indonesia, indonesianheritagerailway.com

Kantor POS Cianjur Tempo Doeloe

Kantor POS Cianjur Tempo Doeloe

Kantor Pos Cianjur terletak di Jalan Siti Jenab, merupakan kantor pos paling bersejarah di Cianjur. Semasa pemerintahan Priangan, Kantor Pos Cianjur yang awalnya bernama Post en Telegraafkantoor te Tjiiandjoer (Kantor Pos dan Telegraf Cianjur) ini menjadi kantor utama pelayanan pos dan telegram di daerah Priangan.

referensi: heritage.dicianjur

Sutera Cianjur Banyak Diminati

Sutera Cianjur Banyak Diminati

Kain sutera khas Cianjur saat ini terus dikembangkan. Pemasaran kain sutera Cianjur sudah merambah ke berbagai daerah sampai tingkat nasional. Bahkan sudah tembus mancanegara. Mengenai hal tersebut dibenarkan Kasi Bina Usaha Kehutanan, Dishutbun Cianjur, Nurdiayati. Menurutnya, saat ini kain sutera khas Cianjur sudah diminati oleh masyarakat, baik di daerah, luar daerah dan sudah menembus mancanegara. “Ini merupakan kebanggaan masyarakat Cianjur,” katanya saat ditemui di kantornya, kemarin.

Menurutnya, salah satu kain sutera yang diproduksi adalah KUB Aurarista Silk. Pemasaran KUB ini sudah merambah ke mana-mana. Hal ini membuktikan batik khas Cianjur banyak diminati. Bahkan penilaian Kepala Seksi Informasi Balai Persutraan Alam Makassar, Fauzi, kain sutra Cianjur terbaik se-Indonesia.

“Pak Fauzi orang ahli mengenai kain sutera, dan beliau sering membanding-bandingkan dengan bahan batik buatan kabupaten lain, hasilnya ternyata dari Cianjur merupakan produsen terbaik ,” tambahnya.

Dia memaparkan, seiring banyak pesanan kepada KUB Aurarista Silk. Bahan baku yang dibutuhkan Aurarista setiap bulannya belum terpenuhi.

Kebutuhan per bulan sekitar lima ribu kilogram kokon sutra, sedangkan yang tidak terpenuhinya dua ton, karena kekurangan maka menutupinya harus mendatangkan kokon dari daerah garut dan wilayah lain. Dia memaparkan, dari Dishutbun sendiri selalu melakukan pembinaan dan dukungan kepada para petani murbei, kelompok produsen bahan baku serta memproduksi kain sutera. Sehingga untuk kedepan, bagaimana caranya kebutuhan itu terpenuhi.

“Kami berusaha dan siap menggairahkan mereka, sehingga dapat memenuhi semua yang diperlukan dalam pr sudah berjalan berada di Kecamatan Pacet, Sukanagara, Cugenang, dan Takokak.“Kita pertahankan sutera Cianjur terbaik Indonesia ini,” tutupnya. (tan)

referensi: radarcianjur
Kesenian Ngarak Posong Sanggar HIBAR Cianjur

Kesenian Ngarak Posong Sanggar HIBAR Cianjur

Ngarak Posong di Kabupaten Cianjur merupakan kesenian yang terus dilesarikan dan dikembangkan. Kesenian Ngarak Posong belum lama ini ditampilkan pada Hari Ulang Tahun Karang Taruna ke 52 tahun tingkat Kecamatan Cibeber di lapangan olah raga Cibeber. Seperti apa kesenian ini.

Laporan : DENI ABDUL KHOLIK, Cianjur

Kesenian Ngarak Posong dilestarikan dan dikembangkan warga Kampung Balengbang Desa Sukaraharja Kecamatan Cibeber Kabupaten Cianjur. Sebelum dikemangkan kesenian Ngarak Posong, awalnya di kampung tersebut merupakan tempat budidaya belut. Sebagian warga sekitar bermata pencaharian dari budidaya belut.

Hasil budidaya belut diolah menjadi makanan, dari mulai belut goreng manis, asin, dan krispi belut. Untuk pemasarannya sudah merambah ke berbagai daerah d Jawa Barat dan Nasional. Bahkan sudah mengekspor ke Singapura. Selanjutnya, warga yang merasakan kesejahteraan dari budi daya belut, lalu berpikir untuk melestarikan Ngarak Posong. Posong sendiri merupakan alat untuk menangkap belut yang terbuat dari kayu.

“Waktu itu, kami berpikir mencari penghasilan untuk keluarga dari budidaya belut, sementara belut sendiri khas orang sunda. Karena itu, warga disini membuat kesenian Ngarak Posong,” kata penggagas sekaligus Ketua Sanggar Hibar (Hiburan Barudak), Ngarak Posong, Kampung Balengbang Desa Sukaraharja Kecamatan Cibeber, Cianjur, E Supardi, kemarin.

Menurutnya, setelah selesai dideklarasikan dua tahun lalu, lalu dirinya merekrut warga sekitar untuk dilatih menampilkan seni Ngarak Posong. Pormasi Ngarak Posong sendiri terdiri dari laki-laki dan perempuan. Dalam tradisi ini menampilkan posong ukuran besar dan belut ukuran besar juga. Penampilan ngarak posong ini diiringi musik kesenian, khas orang sunda. “Ini yang dilestarikan kami. Artinya posong dan kesenian musik, seperti kecapi, gong, suling, merupakan kesenian orang sunda yang kami terus lestarikan,” tuturnya.

Dia menjelaskan, Ngarak Posong memiliki filosopi yang bermakna, dan menjadikan manusia khususnya warga muslim berpikir untuk menjadi orang benar. “Filosopi Ngarak Posong ini mengarah kepada peningkatan keimanan kepada Yang Maha Kuasa,” tuturnya. (**)

referensi: radarcianjur
Perda Pandan Wangi Digodog

Perda Pandan Wangi Digodog

DPRD dan Pemerintah Kabupaten Cianjur saat ini sedang menggodog rancangan peraturan daerah kabupaten cianjur tentang pelestarian varietas padi unggul lokal Pandan Wangi dan Pandan Putri. Rancangan peraturan daerah untuk menjadi Perda tersebut dilaksanakan, karena Cianjur merupakan komoditi Pandan Wangi dan sudah terkenal men-dunia. Anggota Komisi II DPRD Cianjur, Ibrahim Naswari Gandana mengatakan, rancangan peraturan daerah kabupaten cianjur tentang pelestarian varietas padi unggul lokal pandan wangi dan pandan putri dilaksanakan, karena Cianjur memiliki lahan pertanian terbaik dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia. “Sementara di Indonesia tanah yang baik adalah tanah renzina dan tanah tersebut hanya ada di Kabupaten Cianjur,” katanya, kemarin.

Menurutnya, tanah renzina merupakan tanah yang terbentuk dari bahan induk kapur yang mengandung banyak bahan organik. Tanah renzina di Cianjur ada di lima kecamatan yaitu di Kecamatan Warungkondang, Cibeber, Cilaku, Cugenang dan Cianjur Kota. “Tanah ini cocok untuk tanaman padi Pandan Wangi dan Pandan Putri dan mempengaruhi terhadap kualitas beras menjadi lebih baik,” ujarnya.

Dia menjelaskan, varietas padi unggul lokal Pandan Wangi dan Pandan Putri adalah komoditas tanaman pangan unggulan, merupakan aset masyarakat Cianjur yang sangat berharga. Lantaran rasa nasinya yang sangat istimewa, enak, pulen, gurih dan beraroma wangi pandan. “Keistimewaan ini berpeluang memperoleh pangsa pasar yang baik. Bahkan sebagai komoditas ekspor yang berdampak kepada peningkatan ekonomi masyarakat petani dan masyarakat pada umumnya,” ujarnya.

Dia memaparkan, keberadaan Pandan Wangi dan Pandan Putri telah diakui pemerintah pusat. Hal ini dibuktikan dengan surat keputusan (SK), Menteri Pertanian (Mentan), nomor 163/kpts/LB.240/3/2004 tentang pelepasan varietes padi unggul lokal Pandan Wangi Cianjur. “Karena itu, untuk memperkuat SK Mentan tersebut, DPRD dan Pemkab sedang mengodog Perda pelestarian varietas padi unggul lokal Pandan Wangi dan Pandan Putri,” paparnya.

Ibrahim yang juga Ketua DPC Gerindra Cianjur menandaskan, tujuan pelestarian Pandan Wangi dan Pandan Putri Cianjur untuk dipertahankan sebagai sebagai komoditas tanaman pangan unggulan bagi Pemkab Cianjur dan masyarakat. Selanjutnya, menempatkan beras Pandan Wangi dan Pandan Putri mempunyai nilai ekonomis yang lebih tinggi, secara signifikan dibandingkan dengan beras varietas padi lainnya. Meningkatkan pendapatan petani pelaku budi daya Pandan Wangi dan Pandan Putri. “Selain itu, memberikan perlindungan terhadap para petani padi melalui pemberian hak paten dan jaminan kepastian hukum terhadap kemurnian beras sebagai usaha petani,” imbuhnya. (den)

referensi: radarcianjur
Dinginnya Air Kebun Raya Cibodas

Dinginnya Air Kebun Raya Cibodas

Salah satu sarana hiburan yang cukup menarik di Taman Kebun Raya Cibodas (KRC), Cianjur, adalah “jalan air” yang terletak di dekat air terjun Cibogo. Kendati setiap pengunjung harus menyingsingkan sebagian celananya ke atas. Namun obyek ini sangat menarik untuk dicoba. Tidak hanya anak kecil yang tertarik bermain basah-basahan di atas “jalan air” tersebut, kaum dewasapun banyak yang mencoba menginjakkan kakinya hanya untuk merasakan dinginnya air yang bersumber dari Gunung Gede-Pangrango.

KRC memang sangat cocok untuk menghilangkan kepenatan akibat banyak bekerja atau hiruk pikuk kota yang identik dengan keramaian dan debunya yang kurang sehat. Makanya, tak heran banyak warga kota besar seperti Jakarta, Bogor, Atau Bandung, sengaja mengunjungi KRC hanya untuk menghilangkan kejenuhan sambil liburan.

Di lokasi yang kini mengoleksi sekitar 200 tanaman jenis obat-obatan, 432 jenis tanaman anggrek, 100 jenis, dan masih banyak jenis lainnya ini, setiap pengunjung akan merasakan bagaimana sejuknya cuaca yang menghembus dingin, ditambah lagi dengan panorama alam yang dipenuhi oleh berbagai pepohonan.

Meski badan terasa dingin karena hembusan angin, namun kondisi itu seakan memberikan suasana baru pada diri kita, ditambah lagi suara air yang mengalir dan kicauan burung.

Menurut staf jasa dan informasi KRC Dwi Novia Puspitasari. Selain berfungsi sebagai kawasan konservasi, penelitian, dan pendidikan mengenai tumbuh-tumbuhan yang berasal dari berbagai negara. Kebun Raya Cibodas (KRC) juga berfungsi sebagai area untuk bermain (Wisata).

KRC yang berlokasi tepat dibawah kaki gunung Gede Pangrango Cipanas Kabupaten Cianjur, mempunyai luas areal sekitar 85 hektar dengan jumlah koleksi tanam-tanaman sekitar 6700 jenis tanaman.

Novi menjelaskan, selain berbagai jenis tumbuh-tumbuhan, KRC juga menyediakan berbagai wahana bermain, seperti jalan air, air terjun Ciismun, air terjun Cibogo, air mancur, taman sakura, taman amorphophallus, taman rhododendron, galeri tanaman hias, rumah kaca, dan kolam besar. “Untuk sarana pendidikan juga ada, seperti tempat penelitian atau laboratorium,“ katanya.

Dijelaskannya, KRC merupakan tempat untuk mendokumentasikan berbagai tanaman, baik dalam bentuk hidup (Tanaman) maupun mati (Herbarium), dan berfungsi untuk konservasi, penelitian, pendidikan, dan wisata. “Sekitar 70 persen wisatawan mengunjungi KRC rata-rata untuk berlibur ketimbang untuk melakukan penelitian atau pendidikan. Meski demikian, hal tersebut tidak mengurangi jumlah para peneliti atau yang pendidikan, “ujarnya.

Dwi menuturkan, dari sekian banyak wisatawan yang berkunjung ke KRC, biasanya mereka lebih suka mengunjungi area air terjun atau jalan air. Bahkan, tidak sedikit diantara mereka yang hanya duduk-duduk sambil menikmati pemandangan sekitar dan merasakan segarnya hembusan angin karena cuacanya yang dingin.(des)

referensi: radarcianjur
Pantai Jayanti Unggulan Wisata Cianjur

Pantai Jayanti Unggulan Wisata Cianjur

Pantai Jayanti merupakan pantai yang indah dan menarik. Pantai ini berdampingan dengan Cagar Alam Bojonglarang dan pelabuhan nelayan. Pantai ini masih alami dengan ombak yang indah dan angin bertiup perlahan-lahan menambah nyamannya berekreasi tempat ini. Berlokasi di Kecamatan Cidaun, yang jaraknya 139 Km dari Kota Cianjur. Keberadaan Pantai Jayanti memang belum sepopuler Pangandaran, Ciamis, atau Palabuhanratu, Sukabumi. Tapi panorama alamnya, tak kalah dengan dua obyek wisata tersebut. Itulah Pantai Jayanti di Desa Cidamar, Kecamatan Cidaun, Cianjur selatan, sekitar 143 km arah selatan dari pusat Kota Cianjur.

Pantai Jayanti yang baru ditata tahun 80-an dan dikenal sebagai obyek wisata sepuluh tahun kemudian, memang belum mampu menandingi kepopuleran Pangandaran dan Pelabuhanratu yang sudah berkembang puluhan tahun lebih dulu.

Badrudin (46), warga Cilaku, Cianjur mengatakan, kalau terus ditata, Jayanti akan semakin ramai dikunjungi wisatawan. “Saya dan keluarga senang berlibur ke sini, karena selain pemandangannya cukup indah dan bisa menikmati gurihnya ikan bakar, juga udaranya masih sangat bersih,”katanya, kemarin.Jayanti memang masih terbebas dari polusi apa pun, apalagi polusi udara atau pencemaran air. Pemukiman penduduk saja belum terlalu banyak. Kecuali barangkali adanya bau anyir ikan, dan ini sebetulnya aroma khas sebuah objek wisata yang sekaligus merupakan sebuah pelabuhan nelayan. Di sana terdapat bangunan Tempat Pelelangan Ikan (TPI), serta di depannya terdapat kios-kios pengecer ikan dan kios jajanan lain serta warung nasi yang dapat menyediakan ikan bakar sesuai pesanan. Kondisi pantainya sendiri terbangun atas pasir laut di sebelah kanan dan batu-batu karang di sebelah kiri. Ombak samudera bergulung-gulung, lalu berdebur menerpa batu-batu karang. Beberapa puluh meter dari pantai terdapat pelataran parkir cukup luas. Hanya beberapa puluh meter pula terdapat beberapa penginapan milik swasta. Tarifnya relatif murah, rata-rata Rp 75 ribu per malam.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur terus menata Jayanti melalui dua dinas terkait, Dinas Pariwisata dan Dinas Peternakan Perikanan (Disperik).

Dinas Pariwisata misalnya, melakukan penataan agar Jayanti bisa menjadi obyek wisata pantai yang semakin nyaman, antara lain menanam popon-pohon pelindung sekaligus peneduh, membangun kios untuk para pedagang setempat serta merelokasi warung-rumah (warung yang sekaligus dijadikan tempak tinggal) ke tempat yang lebih pantas tapi masih dalam areal Jayanti. Sedangkan penataan yang dilakukan Disperik antara lain membangun TPI dan dermaga sepanjang lebih-kurang 200 meter. Pembangunan dermaga ini merupakan proyek awal dari rencana pengembangan Jayanti sebagai pelabuhan setingkat Palabuanratu, sehingga nantinya Jayanti menjadi obyek wisata pantai yang refresentatif.

Pantai Jayanti bisa ditempuh dari Kota Cianjur dan Bandung melalui dua ruas jalan, yakni ruas jalan Kota Cianjur-Sindangbarang-Cidaun dan Bandung-Ciwidey-Naringgul-Cidaun. Tapi untuk menuju Jayanti melalui ruas jalan Bandung-Naringgul-Cidaun yang berkelok-kelok dan naik-turun, lebih baik menggunakan kendaraan pribadi karena angkutan umum dari bandung hanya sampai di Balegede. Kecuali pengunjung mencarter angkutan umum bisa sampai ke Pantai Jayanti. Karena itu wisatawan yang datang ke Jayanti umumnya menempuh perjalanan dari Kota Cianjur. Di Kota Tauco ini, tepatnya di Terminal Pasirhayam, cukup tersedia angkutan umum berupa bus dan Elf yang langsung menuju Cidaun dengan waktu tempuh sekitar 4 jam. Dari sini, sejauh 8 km, naik ojek sampai Jayanti. (den)

referensi: radarcianjur
Curug Cikondang, Niagaranya Cianjur

Curug Cikondang, Niagaranya Cianjur

Curug Cikondang yang juga dikenal warga setempat Curug Terekel, merupakan salah satu air terjun cukup indah untuk dikunjungi. Curug Cikondang sendiri terletak di Desa Sukadana, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Curug yang memiliki ketinggian sekitar 50 meter ini terletak diantara hamparan Kebun Teh PTP VIII Panyairan Campaka.

Untuk menuju kawasan curug ini, bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Lokasinya berada sekitar 50 kilometer dari pusat kota Kabupaten Cianjur.

Lokasi curug berada 895 meter diatas permukaan laut. Luas area keseluruhan curug mencapai 900 meter persegi yang terbagi menjadi lima teras yang semakin keatasnya semakin menyempit.

Curug Cikondang berdampingan dengan sebuah kawasan asri perkebunan teh. Namun, ada sebagian pengunjung cukup kesulitan menuju curug ini, kerena kurangnya plang penunjuk arah. “Terlebih karena rute nya yang menyulitkan dan minim petunjuk,” kata Kusnadi (28) salah seorang pengunjung ketika Radar Cianjur bertandang ke lokasi curug ini.

Curug Cikondang berdasarkan pantauan, ternyata bukan bentukan air mata asli, tapi lebih karena tumpahan sungai yang jatuh melalui tebing besar. Ukurannya terbilang sangat besar.

Deru air jatuhnya pun sangat indah. Sayangnya keindahan dimensi air terjun tidak dibarengi pengelolaan yang baik. Mungkin pemerintah setempat kurang peduli, karena curug ini sepertinya tidak layak jual.

Meski untuk masuk ke area curug ini setiap pengunjung harus bayar tiket sebesar Rp3000. Hal itu pula dikelola oleh warga lokal, sebagai usaha sampingan.(nag/den/tan/des)

referensi: radarcianjur
Ruwaciba Cianjur Bedah Sejarah

Ruwaciba Cianjur Bedah Sejarah

Sampai saat ini masih banyak orang yang tidak tahu apa itu Ruwaciba. Ruwaciba adalah paguyuban Rukun Wargi Asal Banten Cianjur. Nama ini ternyata memiliki nilai historis yang sangat berarti karena berawal dari perjuangan nenek moyang keturunan banten terdahulu.

Seperti dijelaskan salah satu pengurus Paguyuban Paku Banten Tubagus Jamal Bastari. Menurut Jamal, malahan ada nama Paguyuban Paku Banten. Nama ini merupakan yang tertua dalam kesultanan banten. Sedangkan pasukan khusus kesultanan adalah tingkat paguron.

“Di situ ada empat paguron yang khusus pasukan Banten, salah satunya paku banten yang tersebar di beberapa provinsi, baik Jawa Barat, Palembang, Lampung dan Bengkulu. Nah, yang dikukuhkan dan dikembangkan di Bandung merupakan Pedaleman (dalem),” papar Jamal pada saat silaturakhmi Ruwaciba dihadiri Wakil Bupati Cianjur Suranto, di Gedung KONI Cianjur, kemarin.

Dikatakanya, sedangkan paguron yang ada di Cianjur yang juga guru besar yaitu H Dadang Fajar di Ponpes Al Ulmah Cianjur, merupakan keturunan Cikondaan Pandeglang Banten. “Silaturakhmi ini harus dilakukan, sehingga orang-orang teureuh alias keturunan Banten akan bertemu bertatap muka,” jelas Jamal.

Sementara Sekjen Ruwaciba H Ending Bahrudin menambahkan, pertemuan ini sangat baik sekali. Apalagi rukun wargi Banten sejak tahun 1970, dan tahun 1990 berubah menjadi Rukun Wargi Cianjur asal Banten. “Pertemuan kali ini ingin ada keterikatan batin diantara sesama, persatuan wargi asal Banten, ta’alun dan menjaga nama baik,” imbuhnya.

Tapi hadir di Cianjur, sambung Ending harus membangun Cianjur. Pihak paguyuban wargi asal Banten benar-benar harus menyesuaikan diri dengan tempat. “Di mana tanah dipijak, di situ langit dijunjung,” ujarnya.

Tapi juga, paguyuban ini tidak mengumbara, sebab telah ada pengukuh yaitu RH Husen Abdullah Rifa’i, dimana dia pendiri Masjid Agung Cianjur pada abad ke 17. Dan dia juga menikah dengan keturunan Raden Wiratanu Datar (dalem Cikundul). “Beliau almarhum adalah sebagai pengawal Cianjur pertama,” jelasnya.(tan)

sumber: radarcianjur
Awi Orchestra Harumkan Cianjur

Awi Orchestra Harumkan Cianjur

Awi orchestra angklung SMA Muhamadiyah Cipanas harus menjadi kebanggaan bagi masyarakat Cianjur. Namun tak sekedar bangga tapi harus mendorong, bahkan membantu karena grup anglung ini punya pengalaman dan prestasi luar biasa.

Kualitas main angklung dan punya 40 lagu asal lagu pop, dangdut, barat dan sunda ini, cukup mendulang, pasalnya telah dipercaya oleh beberapa lembaga tinggi Pemerintah RI, seperti kementrian-kementrian RI untuk tampil dalam mengisi acara di jakarta. Bahkan baru-baru ini tampil di Hotel Borobudur Jakarta, dan tampil disejumlah tempat.

Malahan telah memecahkan rekor muri memainkan lagu terlama, bersaing dengan ITB, STSI Bandung dan grup angklung lainnya. Saat main tergantung situasinya, bahkan dapat menurunkan lapis satu dua dan tiga memainkan angklung, paling banyak 35 orang. Pengajar dan pelatih orchestra, Deni Heryadi mengaku telah banyak tempat yang dikunjungi.

“Grup orchestra ini punya SMA Muhammadiah dengan pimpinan KH Tohir Azhari, alamat Jalan Sukasari No 47 Cipanas,” jelas Deni, Senin (10/9).

Menurut Deni, pernah tampil juga saat rakerda pramuka Sejabar di Hotel Cianjur, sebelumnya tampil pada saat menyambut presiden pramuka se dunia Mr Jhon di luar kota. “Lucunya, bahwa alat-alat ini kami punya bukan bantuan dari pemerintah, tapi berkat bantuan teman-teman alumni, yang kebanyakan lulusan STSI Bandung,” ungkap Deni.

Kenapa semangat memainkan angklung dan terus menghibur, bahkan saat ini harus mengajar seribu tempat untuk dilatih angklung, jawab Deni, pihak sekolah ingin mendedikasikan pengabdian terhadap seni budaya. “Jadi kami ambil bagian untuk tanggungjawab,” pungkasnya.(tan)

sumber: radarcianjur
Page 3 of 1612345...10...Last »