Ayam Bakar Cafe Karunia Alam Salakopi Cianjur

Ayam Bakar Cafe Karunia Alam Salakopi Cianjur

Sebenarnya banyak hidden place untuk kuliner-kuliner di Wilayah Cianjur, secara umum menu kuliner Cianjur itu adalah Nasi Timbel komplit, ataupun menunya seperti Ayam Bakar Komplit, nah kata-kata komplitnya biasanya terdiri dari kelengkapan lalapan dan sayur asem, jadi dalam satu porsi Nasi Komplit terdiri dari :

  1. Nasi Timbel / Nasi 1 porsi
  2. Satu mangkuk Sayur Asem
  3. Lalapan ( Kemangi/surawung), Selada, Timun
  4. Tahu dan Tempe Goreng
  5. Sambel

Papan Nama

Ayam Bakar Cafe Karunia Alam merupakan salahsatu tempat kuliner yang ada, dan lokasinya pun sangat strategis yaitu sebelah timurnya parkiran Hypermart Cianjur atau diujung jalan Ir.H.Djuanda dekat perempatan tugu Hypermart, Jujur kesan pertama masuk ke lokasi adalah “sepi” dan tidak bergairah serta kurangnya “sentuhan” dalam mengelola sebuah cafe, ini sangat disayangkan.

1 porsi komplit – 14.000

Close Up

Cuma karena perut sudah keroncongan, pesanan tetep dibuat yaitu 1 porsi Komplit Ayam bakar + ekstra nasi + Jus Sirsak, tidak menunggu lama menu segera terhidang ( karena kondisi sepi ). hmmm.. aroma awal sajian membuat perut keroncongan semakin bergejolak dan sebelum ludes disantap tentunya harus didokumentasikan dulu untuk melengkapi postingan ini :mrgreen:

Ektra Nasi :D

Santapan pertama adalah Ayam Bakar.. Nikmattt… bakaran yang pas dan sempurna dengan bumbu yang meresap sempurna, ditambah sambal yg sedang dipedasnya menambah nikmat, selanjutnya menikmati Sayur asemnya.. dengan isian jagung, kacang panjang, melinjo, rasanya bener-bener menggugah selera, dan tahukah? tidak berapa ludes sudah seporsi ayam bakar plus ekstra nasinya.

View

Untuk sajian menunya saya kasih rate 9 dengan skala 10 dan untuk lokasi ini yang perlu dibenahi dan dipercantik, karena sayang dengan sajian menu yang menggugah selera, lokasi parkiran yang luas dan akses bagus tidak dibarengi dengan tampilan yang bagus untuk tempatnya, dan bila ada lesehan sepertinya semakin menarik dan ada daya pikat. Satu lagi adalah.. sediakan Wifi Area Hotspot.

referensi: cianjurview
Arena Fantasi Kota Bunga Cipanas

Arena Fantasi Kota Bunga Cipanas

Wisata Arena Fantasi Kota Bunga terdapat di Villa Kota Bunga, Puncak Desa Sukanagalih, Kecamatan Pacet, Cianjur, berupa arena bermain anak & keluarga.

Arena Fantasi adalah wahana bermain untuk anak-anak, berbagai permainan terdapat didalamnya seperti : Bumper car, Rio Grande / kereta mini, jet fighter, antique car, bumper boat, venture river, tic-tac wheel dll.

Buka hari Sabtu, Minggu dan hari-hari libur dari Pukul 08.00 s/d Pukul 18.00

Harga tiket masuk = Rp. 25.000,- tanpa permainan (usia >2 th bayar penuh)
Harga tiket terusan = Rp. 40.000,- (tiket masuk dan 11 permainan sepuasnya)

1) Bumper car – 2) Rio Grande / kereta mini – 3) Jet fighter – 4) Antique car – 5) Major orbit – 6) Lunar around (khusus anak-anak) – 7) Venture river / perahu dayung – 8) Tic-tac wheel – 9) Magic ring kuda – 10) Willy the whale – 11) Mandi bola (khusus anak-anak)

Permainan yang tidak termasuk tiket terusan,
1) Bumper boat = Rp. 15.000,- per orang – 2) Battery boat = Rp. 10.000 per coin – 3) Games = Rp. 3.000,- per coin – 4) Midway = Rp. 1.000,- per orang – 5) Sniper = Rp. 10.000,- per 30 butir peluru – 6) Fishy-fishy = Rp. 10.000,- per token.

referensi: kotabungavilla.com
Pameran Pembangunan HJC Ke 335

Pameran Pembangunan HJC Ke 335

Tampilkan Potensi untuk Pembangunan Cianjur

PAMERAN pembangunan Hari Jadi Cianjur (HJC), rutin dilaksanakan setiap tahun. Pameran HJC ke 335 tahun ini diikuti sekitar 87 stand. Adapun ditampilkan ciri khas yang dimiliki peserta stand. Seperti apa pameran ini? Berikut hasil pantauanya.

Laporan : DENI ABDUL KHOLIK, Cianjur

LAPANGAN Prawatasari Joglo Cianjur, tidak biasanya ramai dikunjungi. Selama kurang lebih dua minggu terhitung dari Jumat, 6 hingga 16 Juli 2012 akan diramaikan berbagai event pameran.

Pameran setiap tahun dilaksanakan menjelang Hari Jadi Cianjur yant tahun ini untuk ke 335. Sejak dibuka Menteri Perdagangan Menteri Pedagangan RI, Gita Wiryawandari dan Bupati Cianjur Tjetjep Muchtar Soleh acara pameran berjalan menarik.

Terlihat stand baik dari pemerintahan, lembaga pendidikan, BUMD, BUMN dan swasta menempati stand-stand yang disiapkan panitia. Mereka menampilkan ciri khas yang dimiliki peserta stand.

Ciri khas sendiri, dari mulai potensi, kasil karya di desa, kerajinan UKM, dan investor yang melakukan investasi di Cianjur serta lainnya. Sedangkan pameran ini mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat.

Salah satu stand yang terbilang menarik yaitu stand PNPM-MP Kabupaten Cianjur dari 29 Unit Pelaksana Kegiatan (UPK), bergabung dengan ruang Belajar Masyarakat (RBM) dan Satker dari kantor BPMD-KPD turut berpartisipasi.
Stand ini diisi lebih dari 300 prodak KUKM berupa makanan yang didanai PNPM-MP, atau diolah oleh binaan kelompok, termasuk kerajinan tas, golok, dan lainnya.

Menurut Faskab Ujang Aliyudin, kehadiran stand PNPM-MP Kabupaten Cianjur tiada lain ingin menyemarakan serta menunjukan bahwa PNPM-MP betul-betul telah, sedang dan akan terus membanguan Cianjur, baik bidang fisik maupun peningkatan perekonomian masyarakat Cianjur.

“Kita hadir untuk berpartisipasi, lebih dari itu kita pelaku PNPM MP Cianjur agar lebih diketahui masyarakat luas, bahkan mereka yang tidak tahu apa PNPM MP dapat melihat atau bertanya langsung ke stand kami ini,” kata Ujang diamini beberapa ketua UPK, kemarin.

Dalam mengisi stand tersebut, lanjut Ujang merupakan perpaduan antara BPMD sebagai satker, RBM juga asosiasi UPK bersatu menjadi sebuah kekuatan untuk menjadi mitra Pemkab Cianjur, terlebih tiga komponen ini dapat merealisasikan masing-masing tugasnya, demi pembangunan Cianjur.

“Bahwa PNPM tidak hanya diketahui pelaku saja, tetapi harus diketahui dan dipahami khalayak banyak, dan kita berusaha kegiatan pameran ini benar-benar mendorong untuk Cianjur bisa berintegrasi tahun 2013,” ujarnya, seraya mengucapkan terimakasih kepada Bupati Cianjur yang telah respon bahkan menyatakan mendukung dengan tertulis kepada PNPM-MPyang ditindaklanjuti Satker, sehingga PNPM-MP tetap eksis dan berada di tengah-tengah dinas-dinas yang ada di Kabupaten Cianjur.(**)

referensi: radarcianjur
Kota Bunga Cipanas

Kota Bunga Cipanas

Kota Bunga adalah suatu kawasan Villa Estate yang dibangun di lahan seluas sekitar 125 Ha. Pembangunannya dimulai sejak seputar Th. 1993 – an oleh Developer PT. Sarana Papan Eka Sejati yang bernaung dibawah Sinar Mas Group. Hingga saat ini jumlah Villa yang dibangun telah mencapai sekitar 2500 rumah.

 

Secara geograpis Kota Bunga berada di wilayah pegunungan Jawa Barat pada ketinggian lebih dari 700 meter diatas permukaan laut dengan suhu antara 25 – 30 derajat celcius, tergantung musimnya. Lokasinya ada di suatu lembah yang dikelilingi oleh gunung Pangrango, gunung Gede, gunung Baeud serta gunung-gunung kecil lainnya.

Alamat lokasi persisnya berada di Jl. Hanjawar, Desa Sukanagalih, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur – Jawa Barat.

Suplai air bersih berasal dari sumur-sumur Artesis (Deep Well) yang dibuat oleh Developer dimana pengelolaan selanjutnya ditangani oleh PDAM setempat. Sedangkan suply energi listrik berasal dari PLN dengan standard daya antara 1200 watt sampai dengan 2200 watt tergantung besar kecilnya rumah. Jika diperlukan bisa minta penambahan daya kepada PLN.

Disekitarnya terdapat tempat-tempat rekreasi lain yang jarak tempuhnya hanya beberapa menit saja dari Villa Estate Kota Bunga, seperti antara lain Kebun dan pabrik teh Gunung Mas Puncak, Kebun Raya Cibodas, Istana Cipanas, Taman bunga Nusantara serta beberapa kebun Strawbery dimana kita bisa memetik sendiri buahnya, dibeli dan dibawa pulang.

Diluar kompleks banyak terdapat penjual beraneka ragam tanaman-tanaman hias. Tidak sedikit para hobyist maupun para Landscaper dari Jakarta berbelanja tanaman disini untuk memenuhi kebutuhan proyek pertamanannya. Selain itu, penjual sayuran dan buah-buahan lokal juga banyak terdapat di sepanjang sisi jalan dekat kompleks. Bagi yang suka masak, hanya lima menit dari kompleks terdapat pasar traditional GSP. Selain beras, ikan, daging, ayam, sayuran dan buah, segala macam kebutuhan dapur bisa dibeli disini.

Bagi mereka yang senang wisata kuliner didalam kompleks maupun disekitar Kota Bunga terdapat banyak restaurant untuk masakan Sunda, Padang, Oriental Food, satai dan gulai kambing, bubur serta warung-warung nasi kecil lainnya. Sedangkan bagi mereka yang senang belanja pakaian, tidak jauh dari Kota Bunga terdapat beberapa Factory Outlet yang sangat besar selain didalam kompleks juga ada.

Dimusim-musim liburan panjang, lokasi ini banyak sekali dikunjungi pendatang, baik pemilik villa, penyewa maupun orang yang datang pulang hari. Management Kota Bunga mengadakan pertunjukan hiburan bagi para tamunya, seperti organ tunggal beserta dengan penyanyinya. Pada akhir tahun (setiap tanggal 31 Desember), dalam menyambut Tahun Baru, pada sore hari management merayakannya dengan mengadakan pertunjukan parade drum band, barongsay dll. Kemudian malam harinya di Little Venice, dilanjutkan dengan pesta mengadakan pertunjukan berupa band dan penyanyi-penyanyi terkenal dari Ibu Kota, pelawak, akrobat dan diakhiri dengan pesta kembang api tepat pada pkl. 00.00.

referensi: kotabungavilla.com, image: photobucket.com
Melihat Malam Ritual Ngabungbang di Gunung Padang

Melihat Malam Ritual Ngabungbang di Gunung Padang

Dilakukan Sendiri-sendiri untuk Kepentingan Sendiri

Ngabungbang merupakan ritual yang dilakukan untuk meminta keselamatan, baik pribadi, keluarga juga lingkungan sekitar. Ritual ini identik dengan kegiatan penyucian diri menggunakan air dari tujuh mata air dan dilakukan tepat bulan purnama penuh. Namun, FMPSM serta HW Project mengubah tradisi tersebut tanpa mengurangi maknanya. Berikut penusurannya.

Laporan : ZULFAH ROBBANIA, Cianjur

ASAP dupa serta nyala obor menjadi pembuka ritual ngabungbang. Dua hal tersebut juga mengiringi langkah para apresiator mulai dari masyarakat hingga seniman dan budayawan. Mereka mendaki tiap tangga Situs Gunung Padang, Cianjur, menuju teras satu yang menjadi panggung doa bersama malam itu.

Bulan purnama belum muncul sempurna, karena tertutup awan tipis. Nampaknya hal tersebut tak menjadi penghalang untuk dilaksanakannya ritual yang bertujuan untuk meminta keselamatan.
Dibuka lewat puisi, kemudian tari, musik hingga monolog, ritual ngabungbang tak kehilangan makna. Rangkaian tampilan karya para seniman serta budayawan ini mampu membawa penonton larut dalam doa, sebagaimana inti dari ritual ini.

“Terlepas dari berbagai kontroversi Gunung Padang, melalui kegiatan malam ini kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk seimbang. Bulan purnama adalah titik di mana bumi dalam kondisi tidak stabil, lewat doa, kita berupaya untuk menstabilkannya. Namun, ada sedikit perubahan dalam ritual biasanya, kita mengganti tujuh mata air untuk menyucikan diri dengan tujuh seniman dan budayawan lewat karya yang ditampilkan, tanpa mengurangi makna,” terang Hilda Winar, Koordinator HW Project.

Dengan penuh harap Hilda mengungkapkan, melalui kegiatan ini kestabilan ataupun keseimbangan yang didapatkan akan turut serta membawa perubahan dalam diri menjadi lebih baik.

Melihat sekilas cerita penduduk setempat, ritual ngabungbang meski dilakukan tiap tahun, namun diakui tidak pernah dilakukan secara bersama-sama. Ritual tersebut hanya dilakukan sendiri-sendiri, untuk kepentingan sendiri juga.

“Ini bisa dikatakan pertama kali. Soalnya, baik masyarakat di sini maupun di luar Gunung Padang, tidak pernah melakukan acara ngabungbang secara beramai-ramai. Mudah-mudahan bisa terus dilakukan ke depannya. Karena inti dari acara ini adalah doa bersama, sehingga sedikit banyak akan meruntuhkan anggapan bahwa Gunung Padang adalah tempat pemujaan,” pungkasnya.(**)

referensi: radarcianjur
Istilah “ Pancaniti “

Istilah “ Pancaniti “

R.A.A. Kusumahningrat ngagali Seni Tradisi ieu, estu samata-mata mung kanggo milari hakekat hirup sareng kahirupan anjeunna nyalira. Samata-mata mung kanggo da’wah sareng tableg, ka dirina ku anjeun.

Ka generasi saparantos anjeunna, R.A.A. Kusumahningrat ngawariskeun istilah “Pancaniti“

Panca : Lima

Niti : Nincak (tahapan)

Ti kawit Allah SWT nyiptakeun roh manusa, manusa ngalaman di lima alam diantawisna ;

1. Alam Roh

2. Alam Garba

3. Alam Dunya

4. Alam Barzah

5. Alam Akherat.

Wahai manusa, mangkahade aranjeun sing ati-ati jeung sing barisa lamun aranjeun geus aya diva alam nu katilu.

Janten Pancaniti teh, nyaeta lima undakan (tahapan) pikeun ngajugjug kasampurnaan hirup. Nu dimaksad ku Kangjeng Dalem R.A.A. Kusumahningrat oge nyaeta ;

” Rukun Islam “

Dina mangsa Kadaleman R.A.A. Kusumahningrat bentangan kawat kacapi nu kawit jumlahna aya 9, ku anjeunna ditambih janten 18 kawat tug dugi ka ayeuna. Maksadna kirang langkung ; Ummat Islam ngalaksanakan Sholat lima waktu unggal dinten 17 raka’at, seja masrahkeun diri sareng tumamprak ka Allah SWT.

Kangjeng Dalem R.A.A. Kusumahningrat wafat Taun 1868. Sagala rupi nu tos digali sareng dirintis ku anjeunna, teras dirumat, dikokolakeun sareng disebar luaskeun deui ku ingkang putrana nyaeta R.A.A. Prawiradiredja II (1868-1910). Dibantos ku para seniman, bujangga kabupaten diantawisna, Rd. Ece Madjid, Rd. Djaya Lahiman sareng Uyut Ahim.

Para nayaga gamelan degung miwah pamirig kacapi suling sareng para seniman sanesna oge para Abdi Dalem, ku R.A.A. Prawiradiredja II sadayana ditempatkeun dipalih wetan Pandgpo Kabupaten Cianjur. Nyaeta dihiji tempat nu mung dipisahkeun ku gang nu lebarna kirang langkung dua meter. Kapungkur gang eta teh naming Gang Mitralaya, ayeuna man Janten Gang Melati.

Dina waktos Kadaleman Prawiradiredja II, Mamaos ngawitan sumebar sareng seueur rahayat nu resepeun. Boh warga Cianjur atanapi rahayat ti luar kota Cianjur sapertos, Bandung, Sumedang, Garut, Tasikmalaya. Bogor, Sukabumi sareng kota-kota sanesna.

Tembang Sunda ciptaan R.A.A. Prawiradiredja II nu kasohor pisan, diantawisna bae :

  • Degung Udjung lautan
  • Degung Mangu-mangu

R.A.A. Prawiradiredja II (Aom Misbach), wafat Taun 1910. Salajengna Dalem Cianjur digentoskeun ku mantuna nyaeta ; R.A.A. Wiranatakusumah (Aom Muharam/Dalem Haji) – 1910-1921 – Dina waktos harita pisan, Seni Mamaos kalintang majengna.

Taun 1921 Aom Muharam ngagentoskeun Ramana janten Bupati Bandung. Seniman, Sastrawan, Budayawan Pendopo Kabupaten Cianjur nu namina Rd. Ece Madjid diboyong ku anjeunna ka Bandung. Salajengna teras ditikahkeun ka Ny. Rd. Siti Munigar.

Tiasa kauninga rumpaka ” Laut Kidul ” ku anjeunna dipasihkeun ka muridna, nu namina ; Kalipah Apo.

Salajengna deui ku alpukahna R.A.A. Wiranatakusumah, istilah Seni Mamaos ku anjeunna dirobih janten ;

” Mamaos Cianjuran “

* * *

Lagu Degung titinggal Eyang Wasitadiredja diantawisna : ” Bangbrang Sinanga “

Lagu Degung Ciptaan R.A.A. Kusumahningrat, dibantos ku para seniman sanesna, diantawisna ;

1. Degung Putri Layar

2. Degung Paningron

3. Egung Kurawul

4. Degung Wabango

5. Degung Palwa

6. Degung Gendre

7. Degung Hambang

8. Degung Langensari

9. Degung Manintin

10. Degung Lalayaran

11. Degung Suyung

12. Degung Purwaganti

13. Kawitan Degung

Salajengna judul lagu Mamaos sareng Degung, yasana R.A.A. Kusumahningrat diantawisna ;

1. Papatet (Papatokan)

2. Layar Putri (Papantunan)

3. Balagenjat (Papantunan)

4. Manyeuseup (Papantunan)

5. Candra Wulan (Papantunan)

6. Mangu-mangu (Papantunan)

7. Gilang Gading (Papantunan)

8. Mupu kembang (Papantunan)

9. Rajamantri (Papantunan)

10. Kaleon (Papantunan)

11. Tatalegongan (Papantunan)

12. Randegan (Papantunan)

13. Randegan gancang (Papantunan)

14. Pangapungan (Papantunan)

15. Palanturan (Papantunan)

16. Nataan gunung (Papantunan)

17. Kinanti layar (Papantunan)

18. Dangdanggula Pancaniti (Rancag)

19. Asmarandana Pancaniti (Rancag)

20. Kakawen (Kakawen)

21. Putri Ninun (Papantunan)

* * *

 Istilah Tentang Sunda Cianjuran, ti kawit dugi ayeuna :

  1. R.A.A. Kusumahningrat : Mamaos
  2. R.A.A. Prawiradiredja II : Mamaos
  3. R.A.A. Wiranatakusumah : Mamaos Cianjuran
  4. M.A. Salmun (Taun ‘60) : Tembang Sunda
  5. Damas Puseur : Tembang Sunda Cianjuran
referensi: cianjurkab
Basa Sunda: Hariring Panggeuing

Basa Sunda: Hariring Panggeuing

Sakumaha inohong Mamaos Cianjuran sateuacanna, Aki Dadan oge seueur nyiptakeun rumpaka Mamaos Cianjuran ku anjeun. Utamina nu sering pisan mah dina ngolah rumpaka Rajah Pangjajap, lian ti rumpaka-rumpaka sanesna.

Danget ieu Aki Dadan remen kenging uleman, kanggo ngahaleuangkeun Rajah Pangjajap ciptaanana dina sagala rupi kagiatan. Rajah Pangjajap ngarupikeun du’a panganteur, dina wangun Mamaos Cianjuran. Biasana dihaleuangkeun rengse lantuman ayat suci Al-Qur’an, nu rumpakana disaluyukeun sareng thema acara.

Saleresna seueur pisan Rajah Pangjajap anggitan Aki Dadan teh, namung henteu sadayana tiasa dikempelkeun tur dilebetkeun kana ieu buku. Kumargi aya diantawisna nu tos dihaleuangkeun, namung henteu teras dirawatan deui ku anjeunna.

Numawi dina buku ieu, mung sababaraha hiji nu tiasa kapidangkeun. Diantawisna bae ;

Hariring Panggeuing

1. Instrumental Kacapi Suling

………………………

………………………

2. Narasi :

Dulur-dulur Nu Mangkuk di Tatar Pasundan

Baraya Saantero Jagat

Jagat di Buana Panca tengah

Peupeujeuh ……………….. peupeujeuh

Mangka waspada mangka iatna

Ulah kajongjonan teuing

 

Aranjeun geus lali ka purwadaksi

Aranjeun boga pancen …………

Aranjeun boga pancen mirosea

Nagara katut pangeusina

 

Tembang Ki Dadan :

Geura balik geura balik

Geura mulang geura mulang

Mulang kana kasundaan

Geura teang geura teang

Geura sampeur geura sampeur

Titinggal ti Pajajaran

Warisan ti Siliwangi

 

3. Instrumental Kacapi Suling …….,

Narasi :

Beberkeun jangjang aranjeun !

Sabab anjeun bakal ngambah sagara umpalan

Prung ! ………. prung sampiung geura manggung ngaheuyeuk nagri ngolah Nagara

Tapi omat …… Tapi omat sing sareundeuk saigel sabobot sapihanean

Tembongkeun silih Asih ….tembongkeun silih Asah …tembongkeun silih Asuh tembongkeun Silih Wangi. Sunda sadu santa budi

Bral !…….. bral geura penta du’a Indung Bapa aranjeun

Geura penta Rachmat Pangeran, kurihit pangasih Gusti

Bekelna Iman jeung takwa ! jadikeun tameng pikeun nyorang sagara kahirupan

Bareng (ragem) :

Run turun Jati rahayu

Bray siang banjaran bagja

* * *

Rajah Pangjajap

 

1. Puji syukur ka Maha Agung

Ya Robi Gofururohim

Taqobballahu mina wa minkum

minal aidin wal faidin

lubarkeun urang silih lubarkeun

 

2. Amit ampun nya paralun

ka Gusti Nu Maha Agung

ka Nabi anu linuhung

Muhammad anu jinunjung

rachmat syafaat kasuhun

limpahkeun kanu sami hadir

 

3. Kaluhur neda papayung

papayung Nu Maha Agung

kahandap neda pangraksa

pangraksa Maha Kawasa

kaler kulon kidul wetan

Indonesia mugi diaping dijaring

 

4. Saum disasih Romadhon

panggeuing ti Mahasuci

panggupay Maha Kawasa

sangkan takwa tur toweksa

ngahontal martabat utama

punjul mumbul darajatna

mibanda elmuning pare

 

5. Rumaos abdi rumaos

can kahontal saum nu husu

ngan saukur – ngan saukur

ngan saukur nahan lapar

ngan saukur nahan dahaga

panca indra toloheor

luput meruhkeun hawa nafsu

hapunten Gusti hapunten

 

6. Pihatur jungjunan alam

sakur muslimin muslimat

to’at uswatun hasanah

tembongkeun katuladanan

Insya Allah — Insya Allah

Indonesla walagri

 

Amin Ya Robbal Alamin

mugi Gusti nangtayungan

* * *

Sunda Mekar

Cacandran para luluhur

Ciri bumi dayeuh pancatengah ciri dayeuh pancatengah

Lemah duhuma..lebak Iengkobna lemah padataranana

(gelenyu) ……………………………………………………………………………………… Naga mukti wibawa perlambangna congkrang kujang papasangan

(Gelenyu)…………………………………………………………………………………………….

Yasana para bujangga, teu sulaya dinyatana

Pasundan tanahna subur

Gemah ripah ma’mur loh jinawi gemah ripah loh jinawi

Gunung-gunungna cur cor caina ngaplak pasawahanana

(Gelenyu) ……………………………………………………………………………………

Cukul sugri pangebonan karaharjaan mencar mawur kajauhna

(Gelenyu) ……………………………………………………………………………………

Nagri nanjung panjang punjung

Murah sandang murah pangan

Sunda surup kana tangtung

sunda sieup ngumbang ka wandana

Sieup ngambang ka wandana

Ajeg adegna budi basana teu ngerakeun wawanen-NA

(Gelenyu) ……………………………………………………………………………………. Someah narima semah matak betah

ka nu ngadon bubuara

(Gelenyu) ……………………………………………………………………………………..

Tara ebreh pangartina teu nembongkeun kabisana

Tetekon basa karuhun

Sunda sadu sandi santa budi………….

sunda sandi santa budi

Leuleus jeujeurna liat talina teguh pamadeganana

(Gelenyu)

Sagolek pangkek dayana tara mundur

mun tacan kacanir bangban

(Gelenyu)

Teu renjagan teu gembangan ayem pasipatanana

* * *

Ampun ka anu Maha Agung,

Nu kagungan Kun fayakun

Jleg ngadeg sakur kersaNA

Bral gumelar kawasaNA

Di langit pating karetip

Dl bumi pating kulisik

Kumelip di alam lahir

Bari muji sihing Gusti

Ayatna Alhamdulillah

 

Ra’jah du’a, du’a rajah

Du’a medal maring Allah

Dina ati anu suci

Dina rasa nu rumasa

Dina iman dina Islam

Kitabna Qur’anul Karim

 

Nu Agung Allahu Akbar,

Ieu anu dirajahan

Isuk caang sore padang

Balungbang jalan tincakeun

 

Nyandak tina hukum sara

Lailaha illallah

Muhammadurosullullah

Ampuuun… ampuuun…

* * *

Sunda Mekar

( Cipt : Aki Endu Sulaeman Apandi )

 

Cacandran para luluhur

Ciri bumi dayeuh pancatengah ciri dayeuh pancatengah

Lemah duhurna..lebak Iengkobna lemah padataranana

( Gelenyu )

Nagara mukti wibawa perlambangna congkrang kujang papasangan

( Gelenyu )

Pasundan tanah na subur yasana para Bujangga teu sulaya dinyatana

 

Gemah ripah ma’mur Ioh jinawi, gemahripah loh jinawi

Gunung — gunungna curcor caina ngaplak pasawahanana

( Gelenyu )

Cukul sugri pangebonan karaharjan mencar mawur kajauhna

Nagri nanjung panjang punjung

Murah sandang murah pangan

 

Sunda surup kana tangtung sunda sieup ngumbang ka wadana

Sieup ngumbang ka wandana

Ajeg adegna budi basana teu ngerakeun wawanenna

( Gelenyu )

Tara ebreh pangartina teu nembongkeun kabisana

Tetekon basa karuhun

Sunda sadu sandi santa budi…sunda sandl santa budi

Leuleus jeujeurna liat talina teguh pamadeganana

( Gelenyu )

Sagolek pangkek dayana tara mundur mun tacan

kacanir bangban

( Gelenyu )

Teu renjangan teu gembangan ayem pasipatanana

* * *

Duh Pasundan lemah cai kuring

Tanah endah tanding indra loka

nu jadi kaabot hate

tempat para luluhur

nya ka anjeun kuring babakti

satia tur bumela

sanggup tandon umur

imbang – imbang jiwa raga

batan Sunda kudu musnah kudu leungit

kajeun kuring nu ilang.

Karya Cipta : Ibu Anah Ruhanah (Almarhumah)

Tokoh Mamaos Cianjuran di Cianjur

Kanggo pangeling-ngeling kana jasa-jasa

Rd. Otto Iskandardinata

* * *

Sunda Mekar “

(Cip : Endu Sulaeman Apandi)

1. Cacandran para luluhur

Ciri bumi dayeuh Pancatengah

Ciri dayeuh Pancatengah

Lemah duhurna lebak lengkobna

Lemah padataranana

Nagara mukti wibawa

Perlambangna congkrang kujang papasangan

Yasana para budjangga

Teu saluyu dinyatana

 

2. Pasundan tanahna subur

Gemah ripah ma’mur loh jinawi

Gemah ripah Ioh jinawi

Gunung-gunungna cur-cor caina

Makplak pasawahanana

Cukul sugri pakebonan

Karaharjaan mancer mawur ka jauhna

Nagri nanjung panjang punjung

Nagri sandang murah pangan

 

3. Sunda surup kana tangtung

Sunda sieup ngumbang ka wandana

Sieup ngumbang ka wandana

Ajeg-adegna budi basana

Teu narakeun wawanena

Someah narima semah

Matak betah kanu ngadon bubuara

Tara ebreh pangartina

Teu nembongkeun ka bisana

 

4. Tetekon basa karuhun

Sunda sadu sandi santa budi

Sunda sandl santa budl

Leuleus jeujeurna liat talina

Teguh pamadeganana

Sagolek pangkek dayana

Tara mundur mun tacan kacanir bangban

Teu renjagan teu gembangan

Ayem pasipatanana

 

5. Seuweu-siwi Siliwangi

Teureuh terah pencar Pajajaran

Terah pencar Pajajaran

Mangka waspada Sunda Sawawa

Sing priyatna ngariksana

Ngaraksa hemoh caina

Tetep aman Pasundan jaya santosa

Mekar Kabudayaanana

Sunda Jatnika waluya

* * *

Katerangan :

Cacandran ngandung hartos pesan-pesan (peupeujeuh ti luluhur Cianjur keur generasi sapandeurieunana).

referensi: cianjurkab
Video: Dalem Pancaniti

Video: Dalem Pancaniti

Dalem Pancaniti

R.A.A. Kusumahningrat merupakan Bupati Ci­anjur yang pertama kali memperoleh gelar R.A.A. (Raden Aria Adipati), dari Pemerintah Kolonial Belanda. Hal itu dapat diperoleh karena ke­berhasilannya dalam meningkatkan berbagai sektor pembangunan, untuk ke-sejahteraan masyarakat Cianjur pada waktu itu.

Rd. Aria Wiratanu Datar VIII atau yang sangat terkenal dengan julukan Dalem Pancaniti ini, merupakan Bupati Cianjur ke-tujuh keturunan. langsung Dalem Cikundul yang sangat dicintai dan mencintai rakatnya.

Dalem Pancaniti juga merupakan seorang tokoh pencipta Mamaos Cianjuran yang sangat piawai dan mengagumkan. Ketika mencipta Mamaos la lebih senag menyendiri dalam sebuah kamar khusus di pendopo Kabupaten Cianjur. Syair-syair lagu mamaos Cianjuran ciptaannya, sebagian besar berisi pji-pujian terhadap kebesaran Allah SWT yang ditulisnya dengan sangat puitis dan indah. Selain juga menciptakan lagu mamaos dengan syair yang menggambarkan keindahan Iingkungan alam, sebagai ungkapan rasa cintanya terhadap Sang Maha Pencipta.

Basa Sunda: Wirasa, Wirahma, Wiraga

Basa Sunda: Wirasa, Wirahma, Wiraga

Rumpaka-rumpaka samodel tads sanes mung ukur tiasa nembangkeunana, tapi mangga paluruh eusina. Apan cenah, nembang teh kudu dibarengan ku : Wirasa, Wirahma jeung Wiraga. Cindekna lamun eta tembang teu dibarung ku : Wirasa, Wirahma jeung Wiraga, moal karasa ni’matna turta moal anteb karasana. Bakal nyerep kana hate, malah teu saeutik dina nembang sok aya nu dibarengan ku ngembeng cisoca. Komo jeung lamun dibarung ku karumaosan, cek basa kiwari mah dihayati. Geura ieu titenan, rumpaka ;

Papatat 1

Pajajaran kari ngaran

Pangrango geus narikolot

Mandalawangi ngaleungit

Nya dayeuh geus jadi leuweung

Nagara geus lawas pindah

Saburakna Pajajaran

Gunung gumuruh geus sawung

Geus Nem jeung nagarana

Papatat 1

Ting haraung ting haregung

Meong leuweung ngahaleuang

Meong sancang meong kumbang

Meong loreng rerendengan

Panilsan banas pati

Panonoban genderewo

Panyicingan jin siluman

Siluman marakayangan

Tatalegongan

Bangkong dikongkorong kujang

Ka cai kundang cameti,…….da kole

Kole di buah hangasa

Utah ngomong samemeh leumpang,…..da hirup

Katungkul ku pati

Paeh teu nyaho dimangsa

Hirup katungkul ku pati

Paeh teu nyaho dimangsa

Panambih laras Madenda, yasana Bapa Bakang Abubakar.

Muntang ngeumbing

– Kalayan widi lisan ti Bapa Bakang Abubakar

Abdi neda ka Pangeran

mustang ngeumbing mung ka Gusti

da ari ka manusa mah

matak bosen nganti-nganti

nu puguh api lain

mung ukur dodoja wungkul

sakitu sagala brukbrak

nyembahkeun katineung ati

taya pisan saeutik ge ngaji rasa

Ieu rumpaka estu pedareun urang sadaya, sangkan dina engke nembangkeunana bari dibareng ku Wirasa, Wirahma jeung Wiraga.

Mangga urang guar, manawi bae aya mangpaatna. Urang awitan ti kecap-kecap dina Daweung, boh anu alit oge anu ageung.

1. Daweung diajar iudeung

Ieu ngandung hartos, diajar nembrakeun bebeneran. Ceuk babasan tea mah teu hariwang teu haringhang, ari bener mah prung geura padungdung.

2. Daweung menak Pajajaran

Mangrupi katineung atawa rasa tineung ka Nagara Pajajaran, anu mangrupi hiji nagara beurat beunghar. Bari adil palamarta turta kakoncara ka janapria anu kiwari ngan kari ngaran.

3. Raden ngarees heula sakeudeung

Dina kaayaan rineh umajak ka balarea reureuh sakedapan, bari ngagalindengkeun hlji lagu papantunan. Malar ieu galindeng bisa mepes hate, jadi panglesu kalbu.

4. Sumangga urang kawitan

Sagala rupa pagawean kudu dimimitian ku niat, tangtu diniatan kalawan tujuan hade.

5. Sok emut jaman kapungkur

Jaman Pajajaran Murba

Hartosna ampir sami sareng anu no 2 tadi langkung nandeskeun, yen Nagara Pajajaran kantos dirajaan ku Prabu Siliwangi. Anu kenging jujuluk Sribaduga Maharaja, hartosna raja diraja.

6. Bukakeun panto bangongong

Jalan gede sasapuan

Nyanggakeun balungbang timur

Caang bulan opat welas

 

Bangongong the baham

Jadi urang muka baham teu asal engab

Tapi kudu jiga jalan meunang nyapukeun

Bersih teu disarengan niat anu awon

Ditema ku balungbang timur

Caang bulan opat welas

Mabra manah teu geuneuk teu meleukmeuk

Mabra jiga caang bulan opat welas

Ngandung hartos yen urang sadaya kudu kitu

Ari cumarios teh ngagunakeun basa nu payus

Anu genah kakupingna bari teu lali kana rengkuh jeung lentong

7. Nyukcruk parung meulah bentar

Birit leuwi peupeuntasan

Ieu mangrupi wawadi ti para Budayawan, sagala padamelan kedah diilarian teh kasalametan. Tebihan pibahlaeun, sakumaha pada uninga dugi ka di ibaratkeun kana meuntas.

Parung bagian wahangan anu deet, tapi tarik. Nyakitu deui babantar, nya jero nya tarik. Nya meuntas teh kuduna ge dina birit leuwi, nya deet nya lindeuk (henteu tarik)

Padahal dina hartos anu jembar, tangtos sanes mung ukur eta. Tiasa oge, dihartoskeun hijrah. Meuntas tina kaawonan, kana kahadean. Dina meuntasna, tangtos bae seueur gogodana.

Nyakitu deui dina mamaosna, rumpaka teh ngandung hartos teu kitu bae. Jiga anu diserat di luhur tadi, lagu papatat. Aya Papatat 1, aya Papatat 2 sareng sajabina.

Numutkeun pinisepuh di Cianjur, papatat teh sadayana aya 7 (tujuh) rupi. Nyakitu lagu-lagu sanesna, sepuh-sepuh Cianjur nyebatna teh rangkepan lagu. Anu tangtos ieu rangkepan-rangkepan mamaos oge estu leubeut ku hartos, euyeub ku siloka, seueur guareun turta pesekeun.

Mangga urang sami-sami buka, naon anu dikilungkeun dina ieu lagu. Sakumaha anu digambarkeun dina lagu Papatat 1 sareng Papatat 2. Raja anu sakitu rongkahna kalawan jujuluk “ Sri Baduga Maharaja ” ahirna runtuh, ngahiang taya tapakna, ilang tanpa karana. Karajaan ngajadi leuweung, anu pangeusina leuweung ganggong simagonggong. Diibaratkeun ngajadi meong kumbang, meong sancang jeung meong loreng rerendengan.

Eta sadaya tangtuna oge geus takdir ti ajalina kadar ti nu Maha Kawasa, teu bisa dipungpang deui. Geuning karajaan-karajaan sejenna oge, ngalaman nasib anu sarua jeung Pajajaran. Teu kudu helok teu kudu aneh, da kitu hirup kumbuhna, jalanna aya nu ngatur.

Atuh lagu anu ka 3 tatalegongan ieu, nuduhkeun kahayang teu jeung wiwaha, teu puguh-pugub hayang di kongkorong “kujang”. Kujang mangrupa pakarang Raja Pajajaran, asa ku humayua bangkong hayang make kujang. Dienyana oge moal kabawa, malah kalah katuruban. Hal ieu disisilibkeun ka manusa nu boga kahayang tapi moal katepi, teu munasabah.

Ka cai kundang cameti : naha aya naon di cai teh, jiga aya pibahayaeun. Da pantesna oge lamun leueur paling-paling kundang lteuk, lain cameti.

Atuh kole, da asana tara buahan cau kole mah. Rajeun buahan hangasa, nya haseum, nya kesed. Nya kitu, eta leuwih ngeceskeun maksud anu teu munasabah tadi. Hasilna oge moal jauh ti kitu.

Ulah ngomong, samemeh leumpang. Da hirup hartina kudu loba gawe tibatan omong, sabab omong ngan ukur miceunan waktu.

Ari hirup katungkul ku pati : Sakabeh anu hirup pasti bakal paeh, sanajan eta teh oray apan sok megar. Tapi da ahirna mah bakal paeh.

Hirup katungkul ku pati

Paeh teu nyaho di mangsa

Saha jalma anu terang kana pimaoteun, asa moal aya. Kumargi kitu urang kudu age-age sing seueurkeun ibadah, kangaranan ibadah loba ambahanana.

Ibadah ka Allah salaku umat Islam wajib hukumna, atuh ibadah ka papada manusa ulah tinggaleun. Nya kitu deui ibadah-ibadah sejenna.

Tuh geuning eta lagu teh, lamun di guar mah aya pulungeunana. Nya kitu deui lagu-lagu panambih atawa sarungsum, teu eleh loba pulungeunana.

Geura urang titenan.

Conto dina lagu kenging bapa Bakang Abubakar anu judulna :

” Muntang Ngeumbing “

Dina pada ka dua

2. Abdi neda ka Pangeran

Muntang ngeumbing mung ka Gusti

Kateranganana :

Pikeun umat Islam haram hukumna neneda salian ti ka Allah, sadaya pamenta mung ka Allah Anu Maha Kawasa. Da ari ka manusa mah, kalah bosen nganti-nganti

Kateranganana :

Da atuh enya menta tulung ka jalma mah, daek bae ditulungan lamun embung apan sok diapi lainkeun. Malah matak bosen ngadago-dago putusanana, anu antukna tepi ka henteuna. Nu puguh api lain, ngan ukur dodoja wungkul.

Anu ahirna kulantaran teu dicumponan apan tangtuna jadi ambek, malah teu saeutik jadi papaseaan. Sanajan kabutuh jeung kahayang geus ditembrakkeun, tetep bae teu nulungan. Anu ahirna nya kitu, teu aya pisan rasrasan, teu boga rasa yen batur teh keur aya kabutuh.

Tah kitu ari menta tulung lain ka Allah SWT teh balukarna, matak diwajibkeun ka sakur umat Isiam yen menta tulung teh ka Allah SWT.

Allah Maha wijaksana, Maha adil ka umatna turta tara jalir. Ieu sadaya aya dina Al-Qur’an, beuki tetela bae yen Mamaos teh ngaguar eusining AI-Qur’an. Matak pantes pada mikacinta, da eta geuning teu pisan papalingpang jeung ajaran Agama Isiam.

Sajaba ti kitu teh deuih, pan eta ari Mamaos mah dibarung ku rasa anu jero. Rasa anu endah lir nembangkeun lagu ” Goyong “, anu make guguritan Laut Kidul. Da kitu R. Ece Madjid mah lamun ngadamel rumpaka teh, sok teras ditembangkeun ku anjeunna. Kacipta sagalana, padahal ngadamel eta lagu (Guguritan) teh, di basisir kidul di kawasan Cidamar. Tapi kacipta tungtung kaler, Batawi, Gunung Gede jeung sabangsana, da eta anu digawe teh lain panon lahir tapi panon batin. Sajaba dibarung ku rasa teh, eta deuih wirahma laguna estu leuleuy halon. Da nyakitu reujeung ngembeng cisoca, naha make kitu ?

Margi nya nembe harita R. Ece Madjid tepang deui sareng kangjeng Dalem anu jenenganna R.A. Prawiradiredja II, sabada abur-aburan ngalalana.

Kieu rumpakana :

Laut Kidul

Laut kidul kabeh katingali

ngembat Paul kawas dina gambar

ari ret katebeh kaler

Batawi ngareunggeuneuk

lautna mah teu katingali

ukur lebah-lebahna

semu-semu biru

ari ret ka kaler wetan

Gunung Gede jiga nu ngajakan balik

abdi kalunta lunta

Bapa R.E. Muhtarman dina hiji dinten kantos ngadongeng, perkawis guguritan Laut Kidul. Dina hiji waktos saurna, R. Etje Madjid (R. Ece Madjid), kantos lobos ti kadaleman Cianjur ngalalana kajauhna. Singetna carios, anu ahirna nya nganjrek di Wadana Cidamar anu jenengan R. Niti Kusumah.

Dina waktos anu sami, Dalem R.A. Prawiradiredja II aya maksad bubujeng ka pakidulan. Angkatna ka pakidulan kairing ku para menak, teu kakantun Obing Ibrahim. Sakumaha pada uningan yen R. Obing Ibrahim teh, salah sawios tokoh maenpo anu kawentar teu mung wungkul di Cianjur.

R. Obing Ibrahim anu lumrah disebat Gan Obing, salah sawios murid kadeuheusna R.H. Ibrahim Cikalongkulon. Anu mawi dugi ka jenenganana diwariskeun ka Gan Obing, nganggo jenengan mantenna. Margi anu sanesna mah henteu dialajar langsung ka R.H. Ibrahim namung ka putrana, R. Brata ( Gan Brata ).

Nalika Dalem R.A.A. Prawiradiredja II angkat bade bubujeng ka pakidulan Cianjur tea, katingalna asa alum teu aya kaberagan. Nya Gan Obing sasauran kieu :

“ Pangapunten Kangjeng Dalem manawi teu kaabotan, sim abdi bade gaduh pisanggem “

Kitu pokna, bari teu weleh rengkuh turta ngagunakeun lentong Cianjur.

Kangjeng Dalem milahir

” Aya naon Obing, pok wakcakeun ka kula “, kitu basa Dalem, ka Gan Oblng Ibrahim. Bari nya kitu mantenna oge, nganggo basa Cianjur. Sok sanaos ka pawongan, basa Cianjur mah teu ka kantun jeung lentongna.

Gan Obing cumarios, kieu pokna :

” Awon kapiunjuk Pangaulaan, ti wit Pangersa angkat katingalna asa kirang berag “, saurna.

Nya eta atuh, pilahir kangjeng Dalem Prawiradiredja II, bari neraskeun cariosanana :

” Kula teh sono ka Ki lanceuk R. Ece Madjid, asa geus lawas teu patepang “

Teu talangke teu di engkekeun Gan Obing ngawaler, Gan manawi teu lepat kuping R. Ece Madjid teh aya di Cidamar. Katingal raray kangjeng Dalem robih sapada harita, asa hegar margi mendak kabingah bari pok ngalahir.

” Syukur atuh ! “, bari teras namprakeun dua panangan, tawis syukuran ka Allah SWT nu Maha Kawasa.

Bubujengna Kangjeng Dalem R.A Prawiradiredja II ka pakidulan Cianjur estu henteu mung kitu bae, tapi bari ngaroris padukuhan sarta pakampungan. Boh bilih aya masyarakatna anu keur nandang cocoba atanapi aya sabagian masyarakat anu katalangsara, estu toweksa ka rahayatna. Anumawi nyangking kalungguhanana lami ti taun 1862 dugi ka taun 1910, kaanggo boh ku masyarakat oge ku Pamarentahan Kolonial jaman harita.

Kacarioskeun rombongan Dalem R.A.A Prawiradiredja II, cunduk ka Kawadanaan Cidamar (kiwari Cidaun). Barang tepang sareng R.Ece Madjid dugi ka silih gabrug, nawiskeun kasono anu lami teu patepang.

Dina hiji sonten anu disarengan ku kaayaan nuju cangra, langit lenglang taya aling-aling. Kangjeng Dalem Prawiradiredja II kairing ku para ponggawana teu kantun R. Ece Madjid sareng Gan Obing, angkat nyacat ka hiji mumunggang anu plungplong titingalan ka mana-mana, matak waas matak kelar karaosna.

Dina mangsa rineh, Kangjeng Dalem Prawiradiredja II sasauran ka R. Ece Madjid kieu unggelna.

” Cing kula pangdamelkeun lagu, da salira mah bujangga ! “.

Teu hararese teu talangke sapada ngimpleng sakedapan, gutrut R. Ece Madjid nyerat. Sabada rengse, ngong ditembangkeun, iaguna Goyong dina pupuh Dangdanggula anu judulna Laut Kidul.

Anu aya dina waktos eta sadayana jempling ngadangukeun R. Ece Madjid nuju mamaos, naha kitu ? Margi eta rurnpakana sae tur endah, ditembangkeun dina kaayaan rineh ku hiji Budayawan anu sagala tiasa matak pogot matak sono. R.A Prawiradiredja II nganuhunkeun kana karya tur karsana R. Ece Madjid, bari pok ngalahir deui.

“ Ku merenah eta rumpaka, tur genah pisan ditembangkeunana, kataji kuia ku eta guguritan “.

Eta guguritan sohor dugi ka kiwari, saur para sepuh di Cianjur, eta guguritan teh aya 27 pada. Sedengkeun anu kapendak ku Kang Nani Supriatna, saurna mah nembe 23 pada.

Salajengna eta guguritan diwulangkeun ku R. Ece Madjid ka menak-menak Bandung. Diantawisna kalipah Apo, R. Ihot, R Emung Purawinata oge Pa Uce anu linggihna di Sasak gantung.

Eta guguritan ngagambarkeun lalampahanana R. Ece Madjid waktos nuju amprung-amprungan. Cindekna Mamaos Cianjuran mah teu sagawayah, aya hartosna.

referensi: cianjurkab
Tokoh: Dalem Muhidin

Tokoh: Dalem Muhidin

Pada masa kepemimpinan Dalem Muhidin atau Rd Aria Wiratanu datar V sebagai Bupati Cianjur ke-empat, alat musik tradisional sunda kecapi mulai dikenal. Kawat senar atau dawainya, saat itu baru berjumlah 5 (lima’ buah. Itulah aIat musik sunda bernama kecapi, ketika pertama kali diketahui. Sandarannya pun masih menggunakan meja seadanya.

Beberapa puluh tahun kemudian alat musik kecapi ini jumlah kawatnya bertambah menjadi 9 (sembilan) buah. Hingga kawat kecapi yang dapat kita saksikan saat ini dengan jumlah seluruhnya sebanyak 18 buah.

Sebagaimana para pendahulunya, Dalem Muhidin juga sangat aktif mengembangkan pondok pesantren diseluruh wilayah Cianjur.

referensi: cianjurkab
Page 5 of 16« First...34567...10...Last »