Perda Pandan Wangi Digodog

Perda Pandan Wangi Digodog

DPRD dan Pemerintah Kabupaten Cianjur saat ini sedang menggodog rancangan peraturan daerah kabupaten cianjur tentang pelestarian varietas padi unggul lokal Pandan Wangi dan Pandan Putri. Rancangan peraturan daerah untuk menjadi Perda tersebut dilaksanakan, karena Cianjur merupakan komoditi Pandan Wangi dan sudah terkenal men-dunia. Anggota Komisi II DPRD Cianjur, Ibrahim Naswari Gandana mengatakan, rancangan peraturan daerah kabupaten cianjur tentang pelestarian varietas padi unggul lokal pandan wangi dan pandan putri dilaksanakan, karena Cianjur memiliki lahan pertanian terbaik dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia. “Sementara di Indonesia tanah yang baik adalah tanah renzina dan tanah tersebut hanya ada di Kabupaten Cianjur,” katanya, kemarin.

Menurutnya, tanah renzina merupakan tanah yang terbentuk dari bahan induk kapur yang mengandung banyak bahan organik. Tanah renzina di Cianjur ada di lima kecamatan yaitu di Kecamatan Warungkondang, Cibeber, Cilaku, Cugenang dan Cianjur Kota. “Tanah ini cocok untuk tanaman padi Pandan Wangi dan Pandan Putri dan mempengaruhi terhadap kualitas beras menjadi lebih baik,” ujarnya.

Dia menjelaskan, varietas padi unggul lokal Pandan Wangi dan Pandan Putri adalah komoditas tanaman pangan unggulan, merupakan aset masyarakat Cianjur yang sangat berharga. Lantaran rasa nasinya yang sangat istimewa, enak, pulen, gurih dan beraroma wangi pandan. “Keistimewaan ini berpeluang memperoleh pangsa pasar yang baik. Bahkan sebagai komoditas ekspor yang berdampak kepada peningkatan ekonomi masyarakat petani dan masyarakat pada umumnya,” ujarnya.

Dia memaparkan, keberadaan Pandan Wangi dan Pandan Putri telah diakui pemerintah pusat. Hal ini dibuktikan dengan surat keputusan (SK), Menteri Pertanian (Mentan), nomor 163/kpts/LB.240/3/2004 tentang pelepasan varietes padi unggul lokal Pandan Wangi Cianjur. “Karena itu, untuk memperkuat SK Mentan tersebut, DPRD dan Pemkab sedang mengodog Perda pelestarian varietas padi unggul lokal Pandan Wangi dan Pandan Putri,” paparnya.

Ibrahim yang juga Ketua DPC Gerindra Cianjur menandaskan, tujuan pelestarian Pandan Wangi dan Pandan Putri Cianjur untuk dipertahankan sebagai sebagai komoditas tanaman pangan unggulan bagi Pemkab Cianjur dan masyarakat. Selanjutnya, menempatkan beras Pandan Wangi dan Pandan Putri mempunyai nilai ekonomis yang lebih tinggi, secara signifikan dibandingkan dengan beras varietas padi lainnya. Meningkatkan pendapatan petani pelaku budi daya Pandan Wangi dan Pandan Putri. “Selain itu, memberikan perlindungan terhadap para petani padi melalui pemberian hak paten dan jaminan kepastian hukum terhadap kemurnian beras sebagai usaha petani,” imbuhnya. (den)

referensi: radarcianjur
Curug Cikondang, Niagaranya Cianjur

Curug Cikondang, Niagaranya Cianjur

Curug Cikondang yang juga dikenal warga setempat Curug Terekel, merupakan salah satu air terjun cukup indah untuk dikunjungi. Curug Cikondang sendiri terletak di Desa Sukadana, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Curug yang memiliki ketinggian sekitar 50 meter ini terletak diantara hamparan Kebun Teh PTP VIII Panyairan Campaka.

Untuk menuju kawasan curug ini, bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Lokasinya berada sekitar 50 kilometer dari pusat kota Kabupaten Cianjur.

Lokasi curug berada 895 meter diatas permukaan laut. Luas area keseluruhan curug mencapai 900 meter persegi yang terbagi menjadi lima teras yang semakin keatasnya semakin menyempit.

Curug Cikondang berdampingan dengan sebuah kawasan asri perkebunan teh. Namun, ada sebagian pengunjung cukup kesulitan menuju curug ini, kerena kurangnya plang penunjuk arah. “Terlebih karena rute nya yang menyulitkan dan minim petunjuk,” kata Kusnadi (28) salah seorang pengunjung ketika Radar Cianjur bertandang ke lokasi curug ini.

Curug Cikondang berdasarkan pantauan, ternyata bukan bentukan air mata asli, tapi lebih karena tumpahan sungai yang jatuh melalui tebing besar. Ukurannya terbilang sangat besar.

Deru air jatuhnya pun sangat indah. Sayangnya keindahan dimensi air terjun tidak dibarengi pengelolaan yang baik. Mungkin pemerintah setempat kurang peduli, karena curug ini sepertinya tidak layak jual.

Meski untuk masuk ke area curug ini setiap pengunjung harus bayar tiket sebesar Rp3000. Hal itu pula dikelola oleh warga lokal, sebagai usaha sampingan.(nag/den/tan/des)

referensi: radarcianjur
Awi Orchestra Harumkan Cianjur

Awi Orchestra Harumkan Cianjur

Awi orchestra angklung SMA Muhamadiyah Cipanas harus menjadi kebanggaan bagi masyarakat Cianjur. Namun tak sekedar bangga tapi harus mendorong, bahkan membantu karena grup anglung ini punya pengalaman dan prestasi luar biasa.

Kualitas main angklung dan punya 40 lagu asal lagu pop, dangdut, barat dan sunda ini, cukup mendulang, pasalnya telah dipercaya oleh beberapa lembaga tinggi Pemerintah RI, seperti kementrian-kementrian RI untuk tampil dalam mengisi acara di jakarta. Bahkan baru-baru ini tampil di Hotel Borobudur Jakarta, dan tampil disejumlah tempat.

Malahan telah memecahkan rekor muri memainkan lagu terlama, bersaing dengan ITB, STSI Bandung dan grup angklung lainnya. Saat main tergantung situasinya, bahkan dapat menurunkan lapis satu dua dan tiga memainkan angklung, paling banyak 35 orang. Pengajar dan pelatih orchestra, Deni Heryadi mengaku telah banyak tempat yang dikunjungi.

“Grup orchestra ini punya SMA Muhammadiah dengan pimpinan KH Tohir Azhari, alamat Jalan Sukasari No 47 Cipanas,” jelas Deni, Senin (10/9).

Menurut Deni, pernah tampil juga saat rakerda pramuka Sejabar di Hotel Cianjur, sebelumnya tampil pada saat menyambut presiden pramuka se dunia Mr Jhon di luar kota. “Lucunya, bahwa alat-alat ini kami punya bukan bantuan dari pemerintah, tapi berkat bantuan teman-teman alumni, yang kebanyakan lulusan STSI Bandung,” ungkap Deni.

Kenapa semangat memainkan angklung dan terus menghibur, bahkan saat ini harus mengajar seribu tempat untuk dilatih angklung, jawab Deni, pihak sekolah ingin mendedikasikan pengabdian terhadap seni budaya. “Jadi kami ambil bagian untuk tanggungjawab,” pungkasnya.(tan)

sumber: radarcianjur
Gedung Wisma Karya Cianjur

Gedung Wisma Karya Cianjur

Gedung Wisma Karya terletak di Jalan Moh Ali dan secara administratif masuk dalam wilayah Kampung Cikidang, desa Solok Pandan, Cianjur Kota. Lokasi ini sangat mudah dicapai, karena letaknya yang dipinggir jalan besar dan di tengah Kota Cianjur. Secara astronomis terletak pada koordinat 6°49’21” LS dan 107°8’32” BT.

Gedung Wisma karya dibangun pada tahun 1950-an oleh warga keturunan Cina sebagai gedung berbagai kegiatan. Sekitar tahun 1966, gedung ini dipakai oleh KAMI/KAPPI Cianjur sebagai pusat kegiatan. Sekarang fungsinya menjadi gedung olah raga tenis meja. Bangunan ini semula menjadi satu bagian dengan sekolah Cina yang berada di bagian belakangnya. Sekarang pada bagian belakng gedung ini terdapat beberapa bangunan sekolah dasar negeri.

Gedung Wisma Karya berupa bangunan permanen yang berukuran besar. Bangunan yang terletak di sisi selatan jalan raya ini menghadap ke utara. Pada sisi utara bangunan dilengkapi dengan pagar, sisi barat menempel dengan bangunan sebelahnya, sisi timur berupa pintu ke bagian belakang gedung, sedang bagian selatan berupa kompleks sekolah dasar negeri.

Tidak banyak ornamen dan kekhususan arsitektural dari gedung ini. Pada bagian depan gedung terdapat ornamen lingkaran dan garis-garis horizontal dan vertikal. Sementara itu, pada sisi samping timur dan selatan gedung polos tanpa ornamen sedikitpun. Pada bagian belakang gedung terdapat bagian bangunan lama yang menunjukkan sedikit sentuhan arsitektur Cina, yaitu atap bangunan yang terletak di ujung barat laut dari halaman belakang.

Alamat: Jalan Moh Ali, Kampung Cikidang, Desa Solok Pandan, Kota Cianjur
Koordinat : 6 49′ 12″ S, 107 8′ 19″ E

referensi: disparbud.jabarprov.go.id
Pendopo Kabupaten Cianjur

Pendopo Kabupaten Cianjur

Pendopo Kabupaten Cianjur merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Cianjur terletak di Jalan Siti Jenab. Secara administratif masuk dalam wilayah Kampung Kebon Kembang, Kelurahan Pamoyanan, Cianjur Kota. Secara astronomis terletak pada koordinat 6°49’18” LS dan 107°8’42” BT Pendopo dikelilingi oleh empat ruas jalan dan di dalam area yang sama terdapat beberapa bangunan pemerintahan.

Pendopo terletak di lingkungan perkotaan dan merupakan pusatnya Kota Cianjur. Di bagian depannya terdapat alun-alun, Masjid Agung Cianjur, dan salah situs yang cukup penting dalam riwayat pemilihan lokasi sebagai kota, yaitu mata air yang dikenal dengan “pangguyangan badak putih”.

Pendopo merupakan salah satu bangunan terpenting dalam sejarah suatu kota pusat pemerintahan, seperti Kabupaten Cianjur. Sekarang pendopo sudah menjadi kompleks bangunan karena banyaknya bangunan lainnya. Kompleks tersebut mengandung beberapa tinggalan budaya masa lampau selain bangunan pendopo itu sendiri. Bangunan pendopo dibangun pada sekitar tahun 1780 setelah bangunan yang lama hancur akibat gempa pada tahun 1779.

Bangunan  pendopo menghadap ke utara ke arah jalan raya. Secara umum bangunan ini berupa bangunan permanen dengan campuran gaya bangunan lokal dan Eropa Pada bagian depan bangunan tedapat teras dan tiang-tiang bergaya Eropa, pintu dan jendela berukuran besar. Atap terbuat dari genting dan bersusun. Pada bagian belakang terdapat kolam dan dua “buyung” serta batu tegak. Buyung merupakan bangunan berongga dari batu setinggi sekitar 70 cm dan berbentuk kuncup bunga. Selain  itu, pada bagian depan kompleks pendopo dijumpai lonceng logam berukuran cukup besar berangka tahun 1774 yang digantungkan pada tiang dari beton.

Alamat: Jalan Siti Jenab, Kampung Kebon Kembang, Kelurahan Pamoyanan, Kota Cianjur

referensi: disparbud.jabarprov.go.id