Gunung Padang di Cianjur Ditetapkan sebagai Situs Nasional

Gunung Padang di Cianjur Ditetapkan sebagai Situs Nasional

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia menetapkan situs Gunung Padang sebagai kawasan situs nasional. Hal itu dikatakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cianjur, Tedi Artiawan.

“Setelah pertemuan kemarin di hotel di Cipanas, selain menetapkan kawasan situs nasional, Dirjen Cagar Budaya Kemendikbud juga menetapkan luasan situs Gunung Padang sekitar 29 hektare,” ujar Tedi kepada Tribun di Cianjur, Rabu (25/6/2014).

Dengan luasan itu, lanjut Tedi. pengelolaannya situs yang berada di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur itu akan diambil alih pemerintah pusat. Pemerintah pun akan membuat badan pengelola situs seperti yang ada di Candi Borobudur.

“Badan pengelola ini nanti akan melibatkan masyarakat sekitar. Karena tujuan dirjen, di samping ada peran serta pemerintah, masyarakat diberdayakan untuk kesejahteraan. Karena yang bersentuhan paling dekat adalah masyarakat sekitar,” ujarnya.

Tedi menyebut, balai pengelolaan itu akan dibentuk setelah penataan terhadap kawasan situs Gunung Padang selesai dilakukan.

Penataan itu di antaranya melakukan eskavasi dan restorasi. Itu mengapa saat ini yang masih menjadi perhatian adalah ekowisata berbasis budaya sebelum dijadikan daerah tujuan wisata.

“Adanya penetapan ini pada prinsipnya tidak menghambat penelitian. Siapa saja asal memenuhi prinsip dan izin yang diberlakukan bisa melakukan penelitian. Misalnya dari polisi dan pemerintah tergantung skala penelitiannya. Kalau tingkatnya besar tentu ke pusat, kalau skala kecil cukup pemda dan polres,” kata Tedi.

Hal senada dikatakan, Ketua Arkeologi Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM), Ali Akbar. Menurutnya, hasil riset Gunung Padang tidak hanya bermanfaat bagi peneliti atau lembaga penelitian saja melainkan juga bermanfaat bagi masyarakat luas.

“Hal ini sejalan dengan semangat arkeologi publik, yakni peninggalan arkeologi harus bermanfaat untuk publik,” kata Ali kepada Tribun melalui pesan BlackBerry, Selasa (24/6/2014).(cis)

sumber: http://regional.kompas.com/

Curug Cicalobak, Green Canyonya Cianjur Selatan

Curug Cicalobak, Green Canyonya Cianjur Selatan

INDAHNYA alam di wilayah Kabupaten Cianjur tak hanya ada di kawasan Cianjur utara. Cianjur selatan yang dikenal dengan objek wisata laut, ternyata memiliki objek wisata alam menarik lainnya.

Ya ada dua wisata alam yaitu Curug Cicalobak di Desa Sirnasari dan Curug Air Panas di Desa Sukasirna Kecamatan Leles, Cianjur selatan. Dua objek wisata potensial ini bisa disebut mirip ‘Green Canyon’ nya Cianjur Selatan.

Meski kondisi jalan setapak dan rusak menjadi kendala bisa masuknya wisatawasan ke kawasan ini. Padahal, dua objek wisata sangat berpotensi karena keindahan dan keunikannya.

Bahkan, untuk kawasan Curug Air Panas, sangat menarik, selain mengeluarkan belerang dari dasar dataran tinggi, juga air terjun air panasnya yang sangat indah. “Kami berusaha mengembangkan wisata Curug Air Panas, karena sangat mempesona bagi siapapun yang berkunjung ke kawasan ini,” kata Kepala Seksi Kesra Kecamatan Leles Cianjur Rachmat Iskandar kepada Radar Cianjur.

Rachmat mengungkapkan, kondisi infrastruktur jalan setapak dan rusak menjadi salah satu kendala sulit dicapai para wisatawan ke kawasan dua tempat wisata di kecamatannya. Untuk itu pihaknya berusaha lagi mensosialisasikan keberadaan lokasi wisata tersebut.
Selain Curug Air Panas, lokasi yang tak kalah menarik adalah kawasan taman wisata ‘Pesona Curug Cicalobak’ atau Green Canyon di Desa Sirnasari Leles. Lokasi ini bisa ditempuh dua jam perjalanan darat menggunakan kendaraan bermotor.

Kondisi jalan juga jadi salah satu penyebab objek wisata ini kurang berkembang. Padahal panorama alam yang mirip grand kanyon bisa dinikmati bagi siapa saja yang berkunjung ke kawasan wisata ini. “Di lokasi taman wisata ini ada goa-goa di dasar sungai,” terangnya.(*/nag)

sumber: radarcianjur

Situs Benteng Tanah Ciranjang Cianjur

Situs Benteng Tanah Ciranjang Cianjur

Situs Benteng Tanah  secara administratif terletak di Kampung Pasanggrahan, Desa Ciranjang Hilir, Kecamatan Ciranjang. Situs terletak di daerah  pedesaan yang bisa dijangkau dengan kendaraan roda dua. Kendaraan roda empat hanya bisa sampai di pinggir jalan besar yang menghubungkan Kota Bandung – Cianjur. Lokasinya berjarak sekitar 1 km dari jalan besar dan untuk mencapainya harus melewati pemukiman dan persawahan. Secara astronomis terletak pada koordinat 6°48’24” LS dan 107°14’59” BT.

Benteng tanah merupakan tinggalan manusia masa lampau yang menunjukkan daerah tersebut hunian manusia masa lampau. Lokasi dibangunnya benteng diapit dua aliran sungai, yaitu Sungai Cisokan dan Sungai Ciranjang. Pada bagian utara situs terdapat pertemuan aliran sungai Cisokan dan Ciranjang. Benteng tanah yang ada di situs ini mencapai ketinggian 7 m. Bangunan benteng tanah ini terbentang antara tepian Sungai Cisokan dan Ciranjang sepanjang sekitar 500 m.

Sekarang areal sekitar benteng dimanfaatkan sebagai area pertanian dan pemukiman. Pada bagian utara benteng, telah tedapat pemukiman yang berakibat pada salah satu bagian benteng dibongkar untuk keluar masuk warga.

Pada bagian ujung utara situs terdapat makam Embah Sarangsang Bentang. Makam ditandai adanya dua batu alam tegak dan hamparan bata. Makam ini terletak di bagian pertemuan Sungai Cisokan dan Ciranjang.

Lokasi yang sering dikunjungi para peziarah ini mempunyai potensi untuk dikembangkan tidak hanya sekedar sebagai objek wisata ziarah. Lokasi yang tinggi bisa untuk melihat pemandangan sekelilingnya berupa aliran kedua sungai di bawahnya dan alam perbukitan di sekitarnya.

Lokasi: Kampung Pasanggrahan, Desa Ciranjang Hilir, Kecamatan Ciranjang
Koordinat : 6°48’24” S, 107°14’59” E

referensi: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat

Dinginnya Air Kebun Raya Cibodas

Dinginnya Air Kebun Raya Cibodas

Salah satu sarana hiburan yang cukup menarik di Taman Kebun Raya Cibodas (KRC), Cianjur, adalah “jalan air” yang terletak di dekat air terjun Cibogo. Kendati setiap pengunjung harus menyingsingkan sebagian celananya ke atas. Namun obyek ini sangat menarik untuk dicoba. Tidak hanya anak kecil yang tertarik bermain basah-basahan di atas “jalan air” tersebut, kaum dewasapun banyak yang mencoba menginjakkan kakinya hanya untuk merasakan dinginnya air yang bersumber dari Gunung Gede-Pangrango.

KRC memang sangat cocok untuk menghilangkan kepenatan akibat banyak bekerja atau hiruk pikuk kota yang identik dengan keramaian dan debunya yang kurang sehat. Makanya, tak heran banyak warga kota besar seperti Jakarta, Bogor, Atau Bandung, sengaja mengunjungi KRC hanya untuk menghilangkan kejenuhan sambil liburan.

Di lokasi yang kini mengoleksi sekitar 200 tanaman jenis obat-obatan, 432 jenis tanaman anggrek, 100 jenis, dan masih banyak jenis lainnya ini, setiap pengunjung akan merasakan bagaimana sejuknya cuaca yang menghembus dingin, ditambah lagi dengan panorama alam yang dipenuhi oleh berbagai pepohonan.

Meski badan terasa dingin karena hembusan angin, namun kondisi itu seakan memberikan suasana baru pada diri kita, ditambah lagi suara air yang mengalir dan kicauan burung.

Menurut staf jasa dan informasi KRC Dwi Novia Puspitasari. Selain berfungsi sebagai kawasan konservasi, penelitian, dan pendidikan mengenai tumbuh-tumbuhan yang berasal dari berbagai negara. Kebun Raya Cibodas (KRC) juga berfungsi sebagai area untuk bermain (Wisata).

KRC yang berlokasi tepat dibawah kaki gunung Gede Pangrango Cipanas Kabupaten Cianjur, mempunyai luas areal sekitar 85 hektar dengan jumlah koleksi tanam-tanaman sekitar 6700 jenis tanaman.

Novi menjelaskan, selain berbagai jenis tumbuh-tumbuhan, KRC juga menyediakan berbagai wahana bermain, seperti jalan air, air terjun Ciismun, air terjun Cibogo, air mancur, taman sakura, taman amorphophallus, taman rhododendron, galeri tanaman hias, rumah kaca, dan kolam besar. “Untuk sarana pendidikan juga ada, seperti tempat penelitian atau laboratorium,“ katanya.

Dijelaskannya, KRC merupakan tempat untuk mendokumentasikan berbagai tanaman, baik dalam bentuk hidup (Tanaman) maupun mati (Herbarium), dan berfungsi untuk konservasi, penelitian, pendidikan, dan wisata. “Sekitar 70 persen wisatawan mengunjungi KRC rata-rata untuk berlibur ketimbang untuk melakukan penelitian atau pendidikan. Meski demikian, hal tersebut tidak mengurangi jumlah para peneliti atau yang pendidikan, “ujarnya.

Dwi menuturkan, dari sekian banyak wisatawan yang berkunjung ke KRC, biasanya mereka lebih suka mengunjungi area air terjun atau jalan air. Bahkan, tidak sedikit diantara mereka yang hanya duduk-duduk sambil menikmati pemandangan sekitar dan merasakan segarnya hembusan angin karena cuacanya yang dingin.(des)

referensi: radarcianjur
Pantai Jayanti Unggulan Wisata Cianjur

Pantai Jayanti Unggulan Wisata Cianjur

Pantai Jayanti merupakan pantai yang indah dan menarik. Pantai ini berdampingan dengan Cagar Alam Bojonglarang dan pelabuhan nelayan. Pantai ini masih alami dengan ombak yang indah dan angin bertiup perlahan-lahan menambah nyamannya berekreasi tempat ini. Berlokasi di Kecamatan Cidaun, yang jaraknya 139 Km dari Kota Cianjur. Keberadaan Pantai Jayanti memang belum sepopuler Pangandaran, Ciamis, atau Palabuhanratu, Sukabumi. Tapi panorama alamnya, tak kalah dengan dua obyek wisata tersebut. Itulah Pantai Jayanti di Desa Cidamar, Kecamatan Cidaun, Cianjur selatan, sekitar 143 km arah selatan dari pusat Kota Cianjur.

Pantai Jayanti yang baru ditata tahun 80-an dan dikenal sebagai obyek wisata sepuluh tahun kemudian, memang belum mampu menandingi kepopuleran Pangandaran dan Pelabuhanratu yang sudah berkembang puluhan tahun lebih dulu.

Badrudin (46), warga Cilaku, Cianjur mengatakan, kalau terus ditata, Jayanti akan semakin ramai dikunjungi wisatawan. “Saya dan keluarga senang berlibur ke sini, karena selain pemandangannya cukup indah dan bisa menikmati gurihnya ikan bakar, juga udaranya masih sangat bersih,”katanya, kemarin.Jayanti memang masih terbebas dari polusi apa pun, apalagi polusi udara atau pencemaran air. Pemukiman penduduk saja belum terlalu banyak. Kecuali barangkali adanya bau anyir ikan, dan ini sebetulnya aroma khas sebuah objek wisata yang sekaligus merupakan sebuah pelabuhan nelayan. Di sana terdapat bangunan Tempat Pelelangan Ikan (TPI), serta di depannya terdapat kios-kios pengecer ikan dan kios jajanan lain serta warung nasi yang dapat menyediakan ikan bakar sesuai pesanan. Kondisi pantainya sendiri terbangun atas pasir laut di sebelah kanan dan batu-batu karang di sebelah kiri. Ombak samudera bergulung-gulung, lalu berdebur menerpa batu-batu karang. Beberapa puluh meter dari pantai terdapat pelataran parkir cukup luas. Hanya beberapa puluh meter pula terdapat beberapa penginapan milik swasta. Tarifnya relatif murah, rata-rata Rp 75 ribu per malam.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur terus menata Jayanti melalui dua dinas terkait, Dinas Pariwisata dan Dinas Peternakan Perikanan (Disperik).

Dinas Pariwisata misalnya, melakukan penataan agar Jayanti bisa menjadi obyek wisata pantai yang semakin nyaman, antara lain menanam popon-pohon pelindung sekaligus peneduh, membangun kios untuk para pedagang setempat serta merelokasi warung-rumah (warung yang sekaligus dijadikan tempak tinggal) ke tempat yang lebih pantas tapi masih dalam areal Jayanti. Sedangkan penataan yang dilakukan Disperik antara lain membangun TPI dan dermaga sepanjang lebih-kurang 200 meter. Pembangunan dermaga ini merupakan proyek awal dari rencana pengembangan Jayanti sebagai pelabuhan setingkat Palabuanratu, sehingga nantinya Jayanti menjadi obyek wisata pantai yang refresentatif.

Pantai Jayanti bisa ditempuh dari Kota Cianjur dan Bandung melalui dua ruas jalan, yakni ruas jalan Kota Cianjur-Sindangbarang-Cidaun dan Bandung-Ciwidey-Naringgul-Cidaun. Tapi untuk menuju Jayanti melalui ruas jalan Bandung-Naringgul-Cidaun yang berkelok-kelok dan naik-turun, lebih baik menggunakan kendaraan pribadi karena angkutan umum dari bandung hanya sampai di Balegede. Kecuali pengunjung mencarter angkutan umum bisa sampai ke Pantai Jayanti. Karena itu wisatawan yang datang ke Jayanti umumnya menempuh perjalanan dari Kota Cianjur. Di Kota Tauco ini, tepatnya di Terminal Pasirhayam, cukup tersedia angkutan umum berupa bus dan Elf yang langsung menuju Cidaun dengan waktu tempuh sekitar 4 jam. Dari sini, sejauh 8 km, naik ojek sampai Jayanti. (den)

referensi: radarcianjur
Curug Cikondang, Niagaranya Cianjur

Curug Cikondang, Niagaranya Cianjur

Curug Cikondang yang juga dikenal warga setempat Curug Terekel, merupakan salah satu air terjun cukup indah untuk dikunjungi. Curug Cikondang sendiri terletak di Desa Sukadana, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Curug yang memiliki ketinggian sekitar 50 meter ini terletak diantara hamparan Kebun Teh PTP VIII Panyairan Campaka.

Untuk menuju kawasan curug ini, bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Lokasinya berada sekitar 50 kilometer dari pusat kota Kabupaten Cianjur.

Lokasi curug berada 895 meter diatas permukaan laut. Luas area keseluruhan curug mencapai 900 meter persegi yang terbagi menjadi lima teras yang semakin keatasnya semakin menyempit.

Curug Cikondang berdampingan dengan sebuah kawasan asri perkebunan teh. Namun, ada sebagian pengunjung cukup kesulitan menuju curug ini, kerena kurangnya plang penunjuk arah. “Terlebih karena rute nya yang menyulitkan dan minim petunjuk,” kata Kusnadi (28) salah seorang pengunjung ketika Radar Cianjur bertandang ke lokasi curug ini.

Curug Cikondang berdasarkan pantauan, ternyata bukan bentukan air mata asli, tapi lebih karena tumpahan sungai yang jatuh melalui tebing besar. Ukurannya terbilang sangat besar.

Deru air jatuhnya pun sangat indah. Sayangnya keindahan dimensi air terjun tidak dibarengi pengelolaan yang baik. Mungkin pemerintah setempat kurang peduli, karena curug ini sepertinya tidak layak jual.

Meski untuk masuk ke area curug ini setiap pengunjung harus bayar tiket sebesar Rp3000. Hal itu pula dikelola oleh warga lokal, sebagai usaha sampingan.(nag/den/tan/des)

referensi: radarcianjur
Page 1 of 41234