Tradisi Mapag Cawene

Tradisi Mapag Cawene Dihidupkan

Tradisi Mapag Cawene khas Kerajaan Jampang Manggung Cianjur kembali digelar di Pondok Pesantren Bina Akhlak di Kampung Sukawargi Desa Babakan Karet Kecamatan Cianjur Kabupaten Cianjur, Minggu (17/6).Tradisi berumur ratusan tahun yang sempat tertunda selama 75 tahun kembali digelar, K.H. Djalaluddin Isa Putra (50) sesepuh pontren Bina Akhlak yang juga keturunan raja Jampang Manggung pada syukuran pernikahan putra laki-laki tertuanya yang sebelumnya sudah melangsungkan pernikahan dengan seorang gadis hari Jumat (15/6) di Cilaku Cianjur.

“Tradisi Mapag Cawene artinya menyambut anak gadis yang sudah dinikahi oleh keturunan Jampang Manggung di rumah keluarganya, dalam bahasa Jawa biasa disebut Ngunduh Mantu. Terakhir kali upacara ini digelar pada pernikahan ayah saya tujuh puluh lima tahun lalu, dan sekarang akan saya hidupkan kembali supaya anak-anak saya dan warga Cianjur teu pareumeun obor, “ kata K.H. Djalaluddin Isa Putra yang akrab dipanggil Eyang Junan saat dijumpai disela-sela acara.

Menurutnya, tradisi Mapag Cawene digelar bagi keturunan raja Jampang Manggung saat anaknya meminang seorang gadis yang dibawa ke rumah orang tuanya.”Sejatinya sebelum acara digelar pengantin pria diharuskan mandi dengan air yang bersumber dari tujuh mata air, sedangkan pengantin wanita diharuskan mandi terlebih dahulu dengan air yang berasal dari dua muara sungai,” tuturnya.

Namun karena keterbatasan, jelasnya, tradisi mandi tersebut ditiadakan karena sulitnya memperoleh sumber-sumber air. Meski begitu, sebagian besar masih tetap digelar seperti pemberian pusaka raja Jampang Manggung berupa senjata Tosa yang sudah berumur ratusan tahun,pemberian bibit kelapa (kitri) dan kitab suci Al Quran.

Dia memaparkan, tradisi Mapag Cawene dimulai dengan penjemputan pengantin wanita dipintu gerbang masuk ke rumah mempelai pria, sebelum masuk diadakan upacara “ Seserahan” dari seorang juru tembang wanita atas nama keluarga mempelai wanita kepada keluarga mempelai pria yang diwakili oleh seorang juru tembang pria dengan diiringi dentingan kecapi. Saat dipertemukan mempelai pria menuangkan air dalam gayung batok kelapa kedalam kendi yang dipegang mempelai wanita, “ Ini memiliki symbol agar keduanya saling mengisi dan menjaga kehidupan yang disimbolkan air, rukun dan damai laksana tenangnya air, “ papar ayah 15 anak dan kakek 5 cucu ini.

Dia menambahkan, setibanya dipanggung, kedua mempelai diberi wejangan oleh orang tua pengantin pria. Acara ini dinamakan Wasiat Sang Hyang, nama yang masih dipertahankan sesuai tradisi Jampang Manggung sebelum tersentuh budaya Islam. “Saya sendiri kemudian menyerahkan sebilah Tosa senjata pusaka berbentuk pisau belati milik Prabu Kujang Pilawa raja Jampang Manggung ke I berumur empat abad kepada mempelai pria. Kemudian dilanjutkan dengan penyerahkan kitab suci Al Qur an dan kitri,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, pemberian pusaka raja Jampang Manggung memiliki arti agar anaknya meneruskan tradisi kerajaan Jampang Manggung, tapi tidak migusti (mempertuhankan) pusaka karena hukumnya musyrik, namun niatnya harus untuk mupusti (melestarikan), sedangkan pemberian kitab suci Al Quran agar kedua mempelai tetap berpedoman kepada agama Islam dalam mengarungi rumah tangga. “Pemberian Al Quran ini setelah raja terakhir Jampang Manggung yakni masuk Islam pada abad 15 masehi yakni Prabu Rangga Wulung yang kemudian berganti nama menjadi Syeh Abdul Jalil, “ tambahnya.

Pihaknya bertekad akan menghidupkan kembali tradisi Jampang Manggung termasuk menjaga keutuhan puluhan pusaka berbagai macam senjata tajam seperti Tosa, gobang,keris rampasan dari raja Daha (Kediri) yang pernah menyerang Jampang Manggung , badik dari India pemberian Raja Asoka yang mengungsi ke wilayah Jampang Manggung, dan lainnya.“Mudah-mudahan tradisi lainnya dapat dihidupkan kembali agar dikenal lebih banyak masyarakat dan dapat dilestarikan,” harapnya. Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian Cianjur (DKC), D. Andri Kartanagara, berharap agar pelestarian tradisi tua warisan Jampang Manggung didukung berbagai pihak , “ Saat ini Tradisi Jampang Mangung tidak saja menjadi milik keluarga Eyang Junan namun sudah milik warga Jawa Barat pada umumnya, dan sudah sepatutnya mendapat dukungan berbagai pihak agar bisa dikenal luas dan dilestarikan,“ pungkasnya. (den)

[box] referensi: radarcianjur[/box]

Berita @RadarCianjur

Related posts:

Ngaos, Tradisi Mengaji Dalam Masyarakat Cianjur
Maenpo, Seni Beladiri Khas Cianjur
Kain Sutera Unggulan Cianjur
Budaya “Pawai Kuda Kosong”
Jangari, Keramba Terapung Ikan Mas

Advertisement

 

ADVERTISEMENT