Tokoh: Dalem Dicondre

Tokoh: Dalem Dicondre

Rd. Aria Wiratanu III atau Dalem Dicondre merupakan salah seorang Bupati Cianjur yang sangat berhasil dalam mengembangkan hasil bumi dan memperluas wilayah. Karena keberhasilannya itu pihak Belanda. merasa khawatir pengaruhya dimata rakyat pribuml berkurang, lalu berupaya menjatuhkan kedudukannya. Antara lain melalui politik Devide et Impera (Politik Adu Domba). Seperti halnya menghasut rakyat bangsa pribumi, seolah-olah ia merupakan pemimpin yang suka perempuan dan lain sebagainya.

Politik Adu Domba yang dilancarkan pihak penjajah itu terbukti cukup ampuh. Hingga seorang laki-laki berhasil menyusup ke Padaleman Cianjur, dan menyamar sebagai salah seorang pedagang sayur mayur yang ingin menemui Rd. Aria Wiratanu III. Namun setelah berhadapan langsung dengannya, laki-Iaki itu langsung mengeluarkan sebilah senjata sejenis konde/condre dan menikamkannya ke ulu hati Rd. Aria Wiratanu III. Bupati Cianjur ke-dua itu akhirnya tewas seketika. Sementara laki-laki yang menusuknya langsung kabur keluar pendopo kadaleman. Namun berhasil ditangkap para punggawa dan rakyat yang ada disekitar alun-alun. Saat itu juga tubuhnya langsung dicingcang beramai-ramai, hingga tewas mengenaskan.

Tidak lama kemudian tersiar khabar / isu yang bersumber dari pihak penjajah bahwa Bupati Cianjur telah tewas ditusuk seorang laki-laki. Dan Rd. Aria Wiratanu III diisukan telah merebut kekasih laki-Iaki itu yang bernama Apun Gencay (Tanpa ada kejelasan, siapa sebenarnya perempuan bernama Apun Gencay itu).

Hanya yang jelas nama baik Rd. Aria Wiratanu III menjadi sangat tercemar, hingga masyarakat kemudian menyebutnya Dalem Dicondre. (Bupati yang ditusuk oleh Condre sejenis konde). Padahal ia merupakan salah seorang Bupati yang sangat berhasil meningkatkan kesejahteraan warganya. Daerah Cianjur pun menjadi daerah penghasil tanaman kopi terbesar di Jawa Barat. Disamping tanamanan lainnya seperti coklat, karet dan lain sebagainya. Bahkan wilayah kekuasaannya terus berkembang hingga kedaerah Sukabumi, Bogor dan lain sebagainya. Dan yang pada akhirnya semakin membuat ketakutan pihak penjajah asing.

referensi: cianjurkab
Tokoh: Rd. Aria Cikondang

Tokoh: Rd. Aria Cikondang

Sebagian masyarakat Cianjur mungkin hanya mengetahui Rd. Aria Cikondang, sebagai nama sebuah jalan. Bahkan sebagian masyarakat lainnya, ada yang lebih suka menyebutnya dengan singkatan Arciko saja,

Sebagaimana telah dikemukakan terdahulu, Rd. Aria Cikondang atau Rd. Aria Dimanggala merupakan salah seorang putra Dalem Cikundul. Sesuai perintah ayahnya, Rd. Aria Cikondang pergi meninggalkan Kadaleman Cibalagung mengikuti Rd. Aria Wira Manggala yang kemudian dikenal dengan sebutan Dalem Tarikolot atau Dalem Pamoyanan beserta saudara-saudaranya yang lain. Mereka lalu bahu membahu membantu Dalem Tarikolot, membangun Nagri Pamoyanan yang lalu berkembang menjadi Nagri Cianjur.

Menurut hikayatnya, Rd. Aria Cikondang memiliki postur tubuh atletis, warna kulit sawo matang namun bersih dengan paras muka ganteng dan berambut panjang sebahu. Bertemperamen keras dan tegas serta memilki beragam ilmu ‘kadugalan’. Namun ia sangat taat beribadah dan sangat menghormati serta menyayangi saudara-saudaranya, dengan sikap senantiasa siap melindungi. Termasuk melindungi seluruh rakyat Nagri Cianjur saat itu, dari segala macam marabahaya. Apabila diibaratkan, sosoknya merupakan Panglima Nagri Cianjur yang sangat disegani.

Karena kedigjayaannya pula sehingga pihak mana pun yang berusaha menundukkan Nagri Cianjur pada saat itu, merasa kesulitan mengalahkannya. Apalagi melakukan penjajahan terhadap Nagri Cianjur. Hingga takdir menjemput ajalnya, dengan cara yang sangat mengenaskan. Untuk melumpuhkannya, tubuh dan kepala Rd. Aria Cikondang terpaksa harus dipisahkan. sebab apabila tubuh dan kepalanya masih bersatu, akan sangat kesulitan melumpuhkannya.

Makamnya yang terletak di Kecamatan Cibeber pun, sekarang ada dua. Yakni sebagian tubuhya dimakamkan pada dataran rendah, sedangkan bagian kepalanya berada pada sebuah puncak bukit. Wallahu Alam …. !

referensi: cianjurkab
Tokoh: Dalem Tarikolot

Tokoh: Dalem Tarikolot

Dalem Tarikolot adalah salah seorang putra Dalem Cikundul, yang memiliki nama sebenarnya Rd. Aria Wira Manggala. Ia merupakan Bupati pertama di Cianjur dan memperoleh gelar Rd. Aria Wiratanu II. Ia pula yang pertama kali merintis dan membuka Kota Cianjur, dengan mengambil pusat pemerintahan di daerah Pamoyanan sekarang. Hingga memperoleh pula julukan sebagai Dalem Pamoyanan.

Sesuai amanat dari ayahnya untuk mendirikan wilayah baru sebagai pusat pemerintahan, Rd. Aria Wira Manggala berangkat dari Kademangan Cibalagung dengan membawa beberapa ratus orang pilihan disertai saudara-saudaranya yakni Rd. Aria Dimanggala yang lebih dikenal Rd. Aria Cikondang serta Rd. Aria Natadimanggala yang lebih dikenal dengan julukan Aria Kidul dan saudara perempuannya yakni Nyi Mas Karanggan serta Rd. Aria Natamanggala. Daerah baru yang harus dicarinya adalah lokasi tanah yang memiliki kontur menurun kearah timur serta terletak dipinggir sungai. (sunda ; taneuh bahe ngetan sisi walungan). Dimana didaerah tersebut terdapat pemandian Badak Putih (Pangguyangan Badak Putih ; sekarang masih ada terletak dipojok kanan depan laman kantor Pegadaian Cianjur).

Hutan belantara yang pertama kali dibuka, yakni Kp. Muka (saat ini disekitar Cimenteng, Kelurahan Muka Cianjur). Setelah itu rombongan Rd. Aria Wira Manggala terus bergerak ke arah barat, hingga menemukan banyak sarang Burung Elang (sunda ; Sayang Heulang). Daerah itu pun lalu dikenal dengan sebutan Kp. Sayang Heulang, yang sekarang letaknya kira-kira disekitar Kantor Kejaksaan Negeri JI. Dr. Muwardi, By Pass Cianjur.

Saat ini nampaknya nama kampung Sayang Heulang tersebut, telah banyak dilupakan masyarakat. Padahal daerah yang sekarang telah cukup ramai itu, dahulunya terkenal sangat ‘angker’. Terutama di wewengkon tanjakan Pala, mengingat disekitar daerah itu dahulu pernah ada pohon pala yang cukup besar. Dan diatas pohon pala itu pula, dahulu pernah ada peristiwa orang gantung diri serta meninggal dunia.

Selanjutnya sambil terus membuka hutan, rombongan terus bergerak keatas menuju arah barat. Hingga sampai ke lokasi tanah yang agak tinggi dan dapat melihat kemana-mana (dalam bahasa Sunda berarti, sagala katembong). Lokasi itupun lalu diberi nama Kp. Panembong, letaknya sekarang disekitar Gedung Pemuda KNPI) Cianjur.

Dari Panembong, rombongan ini bergerak turun kearah timur. Dan menemukan banyak pohon salak serta pohon kopi. Rombongan pun beramai-ramai memetik buah-buah itu sambil bercengkerama. Hingga akhirnya memberi nama daerah itu, Kp. Salakopi. (Ietaknya sekarang, disekitar SDN Salakopi Cianjur)

Rombongan terus bergerak lagi ke arah timur dan sedikit berbelok ke kanan. Saat itu hari telah menjelang petang, dan matahari mulai terbenam diufuk barat. Rombongan pun beristirahat, untuk selanjutnya tertidur dan menginap didaerah itu. Hingga kemudian tempat mereka beristirahat tidur tersebut, saat ini bernama Kp. Pasarean. Artinya dalam Bahasa Sunda lebih kurang, tempat beristirahat atau tempat pangsarean. Namun saat ini tempat beristirahat dan tidur rombongan R. Aria Wiratanu II tersebut, telah menjadi tempat pemakaman umum Pasarean.

Keesokan harinya rombongan melanjutkan lagi perjalanannya, terus kearah kanan lalu menuju arah jalan yang agak menurun. Hingga menemukan sebuah tempat nyaman, yang banyak ditanami pohon rindang. Serta disekitar daerah tersebut, terdapat pula sebuah kali yang cukup besar dan kelak disebut Sungai Ciraden atau Sungai Cianjur. Artinya lebih kurang sungai yang dijadikan tempat mandi, oleh Raden Aria Wiratanu II beserta rombongannya.

Di daerah itu pula rombongan Rd. Aria Wiratanu II atau Dalem Tarikolot, mulai membuka hutan dan membangun pendopo serta beberapa bangunan lainnya, yang kelak akan berfungsi sebagai pusat pemerintahan. Termasuk juga membangun pemukiman untuk rombongannya.

Daerah itu berhawa sejuk hingga apabila tiba malam atau khususnya pagi hari, akan terasa sangat dingin. Karena itu pula Rd. Aria Wiratanu II tak jarang berjemur di pagi hari yang kemudian diikuti pula oleh anggota rombongannya. Kegiatan menjemur anggota badan di pagi hari dipinggir sungai tersebut, dalam bahasa sunda disebut moyan. Dan daerah itu pun akhirnya dikenal dengan sebutan pamoyanan, yang artinya lebih kurang tempat menjemur diri.

Pusat pemerintahan di wewengkon Pamoyanan dipinggir kali itu pula yang merupakan cikal bakal berdirinya pendopo, sebagai Pusat Pemerlntahan Kabupaten Canjur seperti saat ini. Sekaligus dimulainya asaI kata Canjur yakni dari Cai anjur, artinya anjur an memperoleh tempat dipinggir sungai (Cai) dari Dalem Cikundul, yang telah diketemukan Dalem Tarikolot beserta rombongannya. Termasuk tempat memperoleh gelar Rd. Aria Wiratanu lI, yang terletak disekitar Pamoyanan dan hingga saat ini dikenal dengan sebutan Kampung Gelar.

referensi: cianjurkab
Daftar Bupati/Dalem Kabupaten Cianjur

Daftar Bupati/Dalem Kabupaten Cianjur

Tiga abad silam merupakan saat bersejarah bagi Cianjur. Karena berdasarkan sumber – sumber tertulis , sejak tahun 1614 daerah Gunung Gede dan Gunung Pangrango ada di bawah Kesultanan Mataram. Tersebutlah sekitar tanggal 12 Juli 1677, Raden Wiratanu putra R.A. Wangsa Goparana Dalem Sagara Herang mengemban tugas untuk mempertahankan daerah Cimapag dari kekuasaan kolonial Belanda yang mulai menanamkan kekuasaan di tanah nusantara. Upaya Wiratanu untuk mempertahankan daerah ini juga erat kaitannya dengan desakan Belanda / VOC saat itu yang ingin mencoba menjalin kerjasama dengan Sultan Mataram Amangkurat I.

Namun sikap patriotik Amangkurat I yang tidak mau bekerjasama dengan Belanda / VOC mengakibatkan ia harus rela meninggalkan keraton tanggal 12 Juli 1677. Kejadian ini memberi arti bahwa setelah itu Mataram terlepas dari wilayah kekuasaannya.

Pada pertengahan abad ke 17 ada perpindahan rakyat dari Sagara Herang yang mencari tempat baru ke pinggiran sungai untuk bertani dan bermukim. Babakan atau kampoung mereka dinamakan menurut nama sungai dimana pemukiman itu berada. Seiring dengan itu Raden Djajasasana putra Aria Wangsa Goparana dari Talaga keturunan Sunan Talaga, terpaksa meninggalkan Talaga karena masuk Islam, sedangkan para Sunan Talaga waktu itu masih kuat memeluk Hindu.

Sebagaimana daerah beriklim tropis, maka di wilayah Cianjur utara tumbuh subur tanaman sayuran, teh dan tanaman hias. Di wilayah Cianjur Tengah tumbuh dengan baik tanaman padi, kelapa dan buah-buahan. Sedangkan di wilayah Cianjur Selatan tumbuh tanaman palawija, perkebunan teh, karet, aren, cokelat, kelapa serta tanaman buah-buahan. Potensi lain di wilayah Cianjur Selatan antara lain obyek wisata pantai yang masih alami dan menantang investasi.

Aria Wangsa Goparana kemudian mendirikan Nagari Sagara Herang dan menyebarkan Agama Islam ke daerah sekitarnya. Sementara itu Cikundul yang sebelumnya hanyalah merupakan sub nagari menjadi Ibu Nagari tempat pemukiman rakyat Djajasasana. Beberapa tahun sebelum tahun 1680 sub nagari tempat Raden Djajasasana disebut Cianjur (Tsitsanjoer-Tjiandjoer).

Berdasarkan sumber dari Wikipedia, Kabupaten Cianjur memiliki 36 orang yang pernah menjadi Bupati/Dalem dari tahun 1677 sampai 2011. Berikut daftar nama Bupati/Dalem Kabupaten Cianjur sampai tahun 2011:

  1. R.A. Wira Tanu I (1677-1691)
  2. R.A. Wira Tanu II (1691-1707)
  3. R.A. Wira Tanu III (1707-1727)
  4. R.A. Wira Tanu Datar IV (1927-1761)
  5. R.A. Wira Tanu Datar V (1761-1776)
  6. R.A. Wira Tanu Datar VI (1776-1813)
  7. R.A.A. Prawiradiredja I (1813-1833)
  8. R. Tumenggung Wiranagara (1833-1834)
  9. R.A.A. Kusumahningrat (Dalem Pancaniti) (1834-1862)
  10. R.A.A. Prawiradiredja II (1862-1910)
  11. R. Demang Nata Kusumah (1910-1912)
  12. R.A.A. Wiaratanatakusumah (1912-1920)
  13. R.A.A. Suriadiningrat (1920-1932)
  14. R. Sunarya (1932-1934)
  15. R.A.A. Suria Nata Atmadja (1934-1943)
  16. R. Adiwikarta (1943-1945)
  17. R. Yasin Partadiredja (1945-1945)
  18. R. Iyok Mohamad Sirodj (1945-1946)
  19. R. Abas Wilagasomantri (1946-1948)
  20. R. Ateng Sanusi Natawiyoga (1948-1950)
  21. R. Ahmad Suriadikusumah (1950-1952)
  22. R. Akhyad Penna (1952-1956)
  23. R. Holland Sukmadiningrat (1956-1957)
  24. R. Muryani Nataatmadja (1957-1959)
  25. R. Asep Adung Purawidjaja (1959-1966)
  26. Letkol R. Rakhmat (1966-1966)
  27. Letkol Sarmada (1966-1969)
  28. R. Gadjali Gandawidura (1969-1970)
  29. Drs. H. Ahmad Endang (1970-1978)
  30. Ir. H. Adjat Sudrajat Sudirahdja (1978-1983)
  31. Ir. H. Arifin Yoesoef (1983-1988)
  32. Drs. H. Eddi Soekardi (1988-1996)
  33. Drs. H. Harkat Handiamihardja (1996-2001)
  34. Ir. H. Wasidi Swastomo, Msi (2001-2006)
  35. Drs. H. Tjetjep Muchtar Soleh, MM (2006-2011)
  36. Drs. H. Tjetjep Muchtar Soleh, MM (2011-2016)

Beberapa Foto Bupati/Dalem yang berhasil ditemukan diantaranya:

bagi yang memiliki informasi atau koreksi terutama foto yang lebih lengkap, kami tunggu partisipasinya.

Update: 11/06/2011

referensi: cianjurcybercity