Gunung Padang di Cianjur Ditetapkan sebagai Situs Nasional

Gunung Padang di Cianjur Ditetapkan sebagai Situs Nasional

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia menetapkan situs Gunung Padang sebagai kawasan situs nasional. Hal itu dikatakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cianjur, Tedi Artiawan.

“Setelah pertemuan kemarin di hotel di Cipanas, selain menetapkan kawasan situs nasional, Dirjen Cagar Budaya Kemendikbud juga menetapkan luasan situs Gunung Padang sekitar 29 hektare,” ujar Tedi kepada Tribun di Cianjur, Rabu (25/6/2014).

Dengan luasan itu, lanjut Tedi. pengelolaannya situs yang berada di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur itu akan diambil alih pemerintah pusat. Pemerintah pun akan membuat badan pengelola situs seperti yang ada di Candi Borobudur.

“Badan pengelola ini nanti akan melibatkan masyarakat sekitar. Karena tujuan dirjen, di samping ada peran serta pemerintah, masyarakat diberdayakan untuk kesejahteraan. Karena yang bersentuhan paling dekat adalah masyarakat sekitar,” ujarnya.

Tedi menyebut, balai pengelolaan itu akan dibentuk setelah penataan terhadap kawasan situs Gunung Padang selesai dilakukan.

Penataan itu di antaranya melakukan eskavasi dan restorasi. Itu mengapa saat ini yang masih menjadi perhatian adalah ekowisata berbasis budaya sebelum dijadikan daerah tujuan wisata.

“Adanya penetapan ini pada prinsipnya tidak menghambat penelitian. Siapa saja asal memenuhi prinsip dan izin yang diberlakukan bisa melakukan penelitian. Misalnya dari polisi dan pemerintah tergantung skala penelitiannya. Kalau tingkatnya besar tentu ke pusat, kalau skala kecil cukup pemda dan polres,” kata Tedi.

Hal senada dikatakan, Ketua Arkeologi Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM), Ali Akbar. Menurutnya, hasil riset Gunung Padang tidak hanya bermanfaat bagi peneliti atau lembaga penelitian saja melainkan juga bermanfaat bagi masyarakat luas.

“Hal ini sejalan dengan semangat arkeologi publik, yakni peninggalan arkeologi harus bermanfaat untuk publik,” kata Ali kepada Tribun melalui pesan BlackBerry, Selasa (24/6/2014).(cis)

sumber: http://regional.kompas.com/

Kesenian Ngarak Posong Sanggar HIBAR Cianjur

Kesenian Ngarak Posong Sanggar HIBAR Cianjur

Ngarak Posong di Kabupaten Cianjur merupakan kesenian yang terus dilesarikan dan dikembangkan. Kesenian Ngarak Posong belum lama ini ditampilkan pada Hari Ulang Tahun Karang Taruna ke 52 tahun tingkat Kecamatan Cibeber di lapangan olah raga Cibeber. Seperti apa kesenian ini.

Laporan : DENI ABDUL KHOLIK, Cianjur

Kesenian Ngarak Posong dilestarikan dan dikembangkan warga Kampung Balengbang Desa Sukaraharja Kecamatan Cibeber Kabupaten Cianjur. Sebelum dikemangkan kesenian Ngarak Posong, awalnya di kampung tersebut merupakan tempat budidaya belut. Sebagian warga sekitar bermata pencaharian dari budidaya belut.

Hasil budidaya belut diolah menjadi makanan, dari mulai belut goreng manis, asin, dan krispi belut. Untuk pemasarannya sudah merambah ke berbagai daerah d Jawa Barat dan Nasional. Bahkan sudah mengekspor ke Singapura. Selanjutnya, warga yang merasakan kesejahteraan dari budi daya belut, lalu berpikir untuk melestarikan Ngarak Posong. Posong sendiri merupakan alat untuk menangkap belut yang terbuat dari kayu.

“Waktu itu, kami berpikir mencari penghasilan untuk keluarga dari budidaya belut, sementara belut sendiri khas orang sunda. Karena itu, warga disini membuat kesenian Ngarak Posong,” kata penggagas sekaligus Ketua Sanggar Hibar (Hiburan Barudak), Ngarak Posong, Kampung Balengbang Desa Sukaraharja Kecamatan Cibeber, Cianjur, E Supardi, kemarin.

Menurutnya, setelah selesai dideklarasikan dua tahun lalu, lalu dirinya merekrut warga sekitar untuk dilatih menampilkan seni Ngarak Posong. Pormasi Ngarak Posong sendiri terdiri dari laki-laki dan perempuan. Dalam tradisi ini menampilkan posong ukuran besar dan belut ukuran besar juga. Penampilan ngarak posong ini diiringi musik kesenian, khas orang sunda. “Ini yang dilestarikan kami. Artinya posong dan kesenian musik, seperti kecapi, gong, suling, merupakan kesenian orang sunda yang kami terus lestarikan,” tuturnya.

Dia menjelaskan, Ngarak Posong memiliki filosopi yang bermakna, dan menjadikan manusia khususnya warga muslim berpikir untuk menjadi orang benar. “Filosopi Ngarak Posong ini mengarah kepada peningkatan keimanan kepada Yang Maha Kuasa,” tuturnya. (**)

referensi: radarcianjur
Hari Jadi Cianjur

Hari Jadi Cianjur

Tiga abad silam merupakan saat bersejarah bagi Cianjur. Karena berdasarkan sumber – sumber tertulis , sejak tahun 1614 daerah Gunung Gede dan Gunung Pangrango ada di bawah Kesultanan Mataram. Tersebutlah sekitar tanggal 12 Juli 1677, Raden Wiratanu putra R.A. Wangsa Goparana Dalem Sagara Herang mengemban tugas untuk mempertahankan daerah Cimapag dari kekuasaan kolonial Belanda yang mulai menanamkan kuku-kunya di tanah nusantara.Upaya Wiratanu untuk mempertahankan daerah ini juga erat kaitannya dengan desakan Belanda / VOC saat itu yang ingin mencoba menjalin kerjasama dengan Sultan Mataram Amangkurat I.

Namun sikap patriotik Amangkurat I yang tidak mau bekerjasama dengan Belanda / VOC mengakibatkan ia harus rela meninggalkan keraton tanggal 12 Juli 1677. Kejadian ini memberi arti bahwa setelah itu Mataram terlepas dari wilayah kekuasaannya.

Pada pertengahan abad ke 17 ada perpindahan rakyat dari Sagara Herang yang mencari tempat baru di pinggir sungai untuk bertani dan bermukim. Babakan atau kampoung mereka dinamakan menurut menurut nama sungai dimana pemukiman itu berada. Seiring dengan itu Raden Djajasasana putra Aria Wangsa Goparana dari Talaga keturunan Sunan Talaga, terpaksa meninggalkan Talaga karena masuk Agama Islam, sedangkan para Sunan Talaga waktu itu masih kuat memeluk agama Hindu.

Sebagaimana daerah beriklim tropis, maka di wilayah Cianjur utara tumbuh subur tanaman sayuran, teh dan tanaman hias. Di wilayah Cianjur Tengah tumbuh dengan baik tanaman padi, kelapa dan buah-buahan. Sedangkan di wilayah Cianjur Selatan tumbuh tanaman palawija, perkebunan teh, karet, aren, cokelat, kelapa serta tanaman buah-buahan. Potensi lain di wilayah Cianjur Selatan antara lain obyek wisata pantai yang masih alami dan menantang investasi.

Aria Wangsa Goparana kemudian mendirikan Nagari Sagara Herang dan menyebarkan Agama Islam ke daerah sekitarnya. Sementara itu Cikundul yang sebelumnya hanyalah merupakan sub nagari menjadi Ibu Nagari tempat pemukiman rakyat Djajasasana. Beberapa tahun sebelum tahun 1680 sub nagari tempat Raden Djajasasana disebut Cianjur (Tsitsanjoer-Tjiandjoer).

Dalem / Bupati Cianjur dari masa ke masa

  • 1. R.A. Wira Tanu I (1677-1691)
  • 2. R.A. Wira Tanu II (1691-1707)
  • 3. R.A. Wira Tanu III (1707-1727)
  • 4. R.A. Wira Tanu Datar IV (1927-1761)
  • 5. R.A. Wira Tanu Datar V (1761-1776)
  • 6. R.A. Wira Tanu Datar VI (1776-1813)
  • 7. R.A.A. Prawiradiredja I (1813-1833)
  • 8. R. Tumenggung Wiranagara (1833-1834)
  • 9. R.A.A. Kusumahningrat (Dalem Pancaniti) (1834-1862)
  • 10. R.A.A. Prawiradiredja II (1862-1910)
  • 11. R. Demang Nata Kusumah (1910-1912)
  • 12. R.A.A. Wiaratanatakusumah (1912-1920)
  • 13. R.A.A. Suriadiningrat (1920-1932)
  • 14. R. Sunarya (1932-1934)
  • 15. R.A.A. Suria Nata Atmadja (1934-1943)
  • 16. R. Adiwikarta (1943-1945)
  • 17. R. Yasin Partadiredja (1945-1945)
  • 18. R. Iyok Mohamad Sirodj (1945-1946)
  • 19. R. Abas Wilagasomantri (1946-1948)
  • 20. R. Ateng Sanusi Natawiyoga (1948-1950)
  • 21. R. Ahmad Suriadikusumah (1950-1952)
  • 22. R. Akhyad Penna (1952-1956)
  • 23. R. Holland Sukmadiningrat (1956-1957)
  • 24. R. Muryani Nataatmadja (1957-1959)
  • 25. R. Asep Adung Purawidjaja (1959-1966)
  • 26. Letkol R. Rakhmat (1966-1966)
  • 27. Letkol Sarmada (1966-1969)
  • 28. R. Gadjali Gandawidura (1969-1970)
  • 29. Drs. H. Ahmad Endang (1970-1978)
  • 30. Ir. H. Adjat Sudrajat Sudirahdja (1978-1983)
  • 31. Ir. H. Arifin Yoesoef (1983-1988)
  • 32. Drs. H. Eddi Soekardi (1988-1996)
  • 33. Drs. H. Harkat Handiamihardja (1996-2001)
  • 34. Ir. H. Wasidi Swastomo, Msi (2001-2006)
  • 35. Drs. H. Tjetjep Muchtar Soleh, MM (2006-2011)
  • 36. Drs. H. Tjetjep Muchtar Soleh, MM (2011-2016)

Wakil Bupati Cianjur dari masa ke masa

  • 1. Drs. H.A. Zaenal Asyikin (1996 – 2001)
  • 2. H. Dadang Rachmat, S.E., M.Si (2001 – 2006)
  • 3. DR. H. Dadang Sufianto, Drs, M.M (2006 – 2011)
  • 4. Dr. H. Suranto. M.M (2011 – 2016)
referensi: cianjurkab
Cianjur di Google Maps

Cianjur di Google Maps

Bagi komunitas cianjur yang telah lama mengikuti perkembangan dari Google Maps atau bahkan memanfaatkan Google Maps sebagai panduan mencari alamat, kini Google Map telah memberikan informasi lebih detil.

Nama Jalan kini telah dapat kita peroleh dengan lengkap, seperti yang ditampilkan diilustrasi. Sehingga bagi warga Cianjur yang belum hapal nama jalan khususnya di daerah kota bisa dengan mudah memperoleh informasi melalui Google Maps ini.

Untuk lebih detilnya bisa langsung mengunjungi URL ini.

Selain itu, dengan Google Maps kita bisa memperoleh informasi yang cukup lengkap nama-nama desa atau kecamatan sampai ke Cianjur Selatan. Sehungga kita dengan mudah bisa mengetahui setiap nama lokasi yang kita lewati ketika jalan-jalan ke Pantai Jayanti Cidaun.

Beberapa situspun ikut memanfaatkan Google Maps ini yang memungkinkan kita untuk menandai sebuah lokasi, misalnya kita ingin menandai lokasi sekolah, pertokoan bahkan ingin menandai lokasi rumah kita sendiri. Misalnya yang difasilitasi oleh WikiMapia

referensi: cianjurcybercity, google maps
Sajarah Cianjur

Sajarah Cianjur

(dicutat tina wiki) Sajarah Cianjur mangrupakeun carita sajarah nu bisa dijujut dumasar kana sababaraha sumber, sabagean diantarana mangrupakeun carita nu mangrupakeun hasil tina panalungtikan sajarah, sabagean deui mangrupakeun carita rahayat nu sumebar di wewengkon Cianjur jeung wewengkon lianna di Tatar Sunda, ngeunaan asal muasal jeung kamekaran Cianjur baheula, nepikeun ka kiwari.

Jujutan sajarah

Taun 1529
Talaga direbut ku Cirebon ti nagara Pajajaran, dina raraga nyebarkeun agama Islam. Ti harita rahayat Talaga loba nu ngagem agama Islam, tapi raja-rajana mah ngagem kénéh agama karuhunna, nya éta agama Hindu. Anapon raja-rajana téh nya éta:

  • Prabu Siliwangi
  • Mundingsari
  • Mundingsari Leutik
  • Pucuk Umum
  • Sunan Parunggangsa
  • Sunan Wanapri
  • Sunan Ciburang

Sunan Ciburang kagungan putra Aria Wangsa Goparana. Aria Wangsa Goparana téh nunagawitan lebet islam diantara kulawargana. Ku sabab teu disatujuan ku nu jadi kolot, kapaksa Aria Wangsa Goparana ninggalkeun karaton Talaga tuluy angkat ka Sagarahérang. Di dieu Aria Wangsa Goparana ngadegkeun nagari (sansk = Desa, Bld = negorij).

Ku sabab Talaga direbut ku Cirebon ti taun 1529, rahayat Talaga disebut ogé rahayat Cirebon. Ku kituna, daérah Sagarahérang rahayatna disebut rahayat Cirebon. Aria Wangsa Goparana tilar dunya dina tungtung abad ka ka-17, dimakamkeun di kampung Nangkabeurit, kacamatan Sagarahérang, kabupatén Purwakarta. Turunanana nya éta:

  • Djayasasana
  • Wiradwangsa
  • Candramanggala
  • Santaan Kumbang
  • Yudanagara
  • Nawig Candradirana
  • Santaan Yudanagara, jeung
  • Nyi Murti.

Aria Wangsa Goparana satuluyna nurunkeun katurunan nu mibanda gelar Wira Tanu jeung Wira Tanu Datar sarta rundayanana. Anakna nu ka-hiji, Djayasasana, sanggeusna sawawa ninggalkeun Sagarahérang ka Cijagang. Taya katerangan nu leuwih écés perkara pindahna Djayasasana. Tapi aya sababaraha data nu bisa dipaké pikeun ngira-ngira waktu pindahna Djayasasana, diantarana:

“Suatu cerita rakyat, yang diolah oleh Walbeehm, mengatakan bahwa atas perintah seorang raja dari Mataram batas sebelah barat harus dijaga terhadap banten (demikian juga Van Rees), yang menempatkannya pada masa Tegalwangi. Cerita lain dari Holle, mengatakan bahwa ketika sensus oleh Puspawangsa ternyata ada 1100 cacah dibawah pimpinan Wira Tanu, 200 diantaranya diperintahkan oleh Mataram pergi ke Cianjur untuk menjaga batas, dibawah pimpinan dari Cirebon.”

Katerangan di luhur dipairan ku de Haan kalayan alesan yén Cianjur harita mah can aya, aya dina sajarah sotéh taun 1678, nya éta dina surat bupati sumedang ka VOC (D.20 Januari 1678)[3]. Pamanggih de Haan kurang leuwih jiga kieu:

“Pemberian tahu yang pertama kali tentang Cianjur adalah D.20 Januari 1678 dalam surat bupati Sumedang: Mereka dari Cirebon telah menduduki pegunungan Cimapag dan pegunungan Cianjur…….”

Satuluyna de Haan nétélakeun:

“(………..adalah tidak mungkin bahwa disini yang dimaksud adalah didirikannya Cianjur, dimana tidak perlu dipikirkan sebagai kolonialisasi dari Ibu Kotanya, Cirebon.)”

Atra di dieu yén pamanggih de Haan museur kana dipakéna ngaran Cianjur. Ceuk pamanggih de Haan mah dipakéna ngaran Cianjur téh gurunggusuh teuing harita mah. Cianjur can aya dina sajarah. Tapi sok sanajan ngaran Cianjur can dipaké, lain hartina yén dina kanyataan Cianjur téh acan ngadeg. Bisa waé cianjur téh geus aya, ngan nu kacatet data sajarah beunang Walanda mah dina D.20 Januari 1678.

Nu perlu diperhatikeun ogé, yén de Haan teu méré pairan ngeunaan sensus nu dilaksanakeun ku Puspawangsa. Kunaon ieu sénsus téh dianggap penting? Ku sabab ku ayana sénsus Puspawangsa ka masarakat nu dipingpin ku Djayasasana, ngabuktikeun yén rahayat Djayasasana geus aya jeung matuh di; sebut waé daérah “X”, nalika dilaksanakeun sénsus. Jeung ieu sénsus téh diayakeun kurang leuwih taun 1655 di daérah “X”. Sakumaha de Haan nétélakeun:

“Ini mengingatkan perhitungan Puspawangsa tadi telah berlangsung setelah ada periode tenteram yang cukup di bawah Sunan Tegal Wangi:…………….terjadi pada masa Wiradadaha I.”

Dina katerangan di luhur, dé Haan ogé ngahaminan ayana kolonisasi rahayat Djayasasana, samalah numutkeun de Haan, meureun kolonisasi nu dimaksud téh lain ti Cirebon. Sunan Tegal Wangi nyepeng kakawasaan ti 1645-1677 jeung Wiradadaha I taun 1614 – 1674. Atuh saupama kitu mah sénsus Puspawangsa téh mémang lumangsung di daérah “X” dina taun + 1655.

Bisa dicindekkeun yén Djayasasana geus matuh di daérah “X” ti saméméh taun dilaksanakeunna sénsus taun 1655. hasil sénsus Puspawangsa nuduhkeun aya 1100 urang atawa + 300 umpi, mangrupa hiji kumpulan masarakat anu dina basa walanda disebutna volkgemeenschap kalayan Djayasasana minangka pingpinanana. Saréngséna diitung ku Puspawangsa, 200 rahayat Djayasasana diparéntah ku Mataram ngajagaan wates kulon. Senapatina Djayasasana. Ti harita Djayasasana disebut Wira Tanu, nu mibanda harti senapati. Rahayat (cacah)-na disebut ogé cacah Wira Tanu.

“Daérah “X” aya di antara Cisadané jeung Citarum, nu ku Jan Pieterszoon Coen mah asup yurisdiksi Batavia, sok sanajan anggapanna ngan sapihak. Ku kituna, daérah “X” jadi bagian pikeun nahan serangan ka Batavia. Daérah “X” téh asup kénéh kana wengkuan kakawasaan Mataram, ngan kusabab tempatna pangjauhna ti Puseur Dayeuh Mataram, kakawasaan Mataram téh ngan karasa hawar-hawar. Katurug-turug nalika daérah “X” dina taun 1652 dipasrahkeun hak pakaina ka VOC, antukna kakawasaan Mataram beuki nyirorot baé. Préténsi Mataram ka daérah “X” nyirorot pisan nepika level 0 nalika taun 1677, ku sabab dumasar kana kontrak Mataram jeung VOC tanggal 25 Februari 1677.

Terus kumaha atuh jeung rahayat Wira Tanu anu tadi kasabit-sabit salila kurang leuwih 30 taun nya éta antara taun 1655 – 1584? Ku lantaran kakawasaan Mataram nyirorot, Pasualan-pasualan sosial saperti bencana alam, wabah kasakit, jeung utamana perang téh teu karandapan nepika rahayat Wira Tanu bisa mekar. Jumlah rahayatna nambahan + jadi 2000 urang. Wira Tanu disebut ogé Dalem (wld = regent) dumasar kana jumlah masarakat nu dipingpinna. Éta hal ditétélakeun dina D. 24 Januari 1680, jadi saméméhna ogé Wira Tanu téh geus mingpin “regentschap” (satuan wilayah satingkat pedaleman atawa kabupatén).

Eusi D. 24 Januari 1680 nya éta saperti kieu:

“………medebrengende een brieffje of javaanse lontor door gemelte javanen te lande van den regent Aria Wira Tanoe uyt de negorye Tsitanjor,……..” anu pihartieunana kira-kira saperti kieu:

(……….mawa surat lontar Jawa ku urang Jawa ti regent Aria Wira Tanu ti negorij Cianjur).

Aya sababaraha catetan penting tina katerangan di luhur:

  1. Nu dimaksud negorij téh nya éta tempat mukim, ku kituna regenschap téh salasahiji negorij. Jadi regentschap téh mangrupa negorij, sedeng negorij téh can tangtu regentschap. Begorij bisa mangrupa babakan atawa kampung. Ku kituna saupama aya negorij di jero negorij urang sebut waé sub-negorij atawa “onder negorij.”
  2. Tina poin nu ka-hiji bisa dicindekkeun yén “negorye Tsitsanjor” mibanda harti “regentschap” Cianjur. Teu mungkin sub negorij Cianjur kusabab:
  3. Wira Tanu nganjrekna di Cikundul (sub-negorij), lain di Cianjur.
  4. Sub negorij mah Cianjur mah dipingpinna ku “Kingwey” (Ki ngabehi) Santaparana anu gugur dina perang ngalawan Banten (D.24 Januari 1980)

Perlu ditandeskeun, yén mangsa harita kakawasaan wira Tanu diangkat sacara sosial ku masarakatna, jadi moal aya bungkeuleukan surat kaputusana, upamana ti piha VOC atawa Mataram. Kakawasaan Wira Tanu harita ngawengku +14 Negorij nu biasa disebut umbul atawa cutak. Ku kituna, turunan Wira Tanu nu ka hiji (Wira Tanu II) satuluyna jadi ahli waris dalem anu ka-dua, tapi anu mimiti dina mangsa kakawasaan VOC sacara de facto jeung de jure Walanda taun 1691 – 1707.

Rundayan Aria Wira Tanu
Dalem Aria Wira Tanu tilar dunya antara taun 1681 – 1706, boga turunan 10 urang, nya éta:

  • Dalem Anom (Aria Natamanggala) gelar dalem di dieu teu ngandung harti “Regent”, ukur ngaran hungkul;
  • Dalem Aria Martayuda (Dalem Sarampad);
  • Dalem Aria Tirta (di Karawang);
  • Dalem Aria Wiramanggala (Dalem Cikondang);
  • Dalem Aria Wiramanggala, “Regent” ka-hiji nu dikukuhkeun ku Walanda (VOC), disebut ogé dalem Tarikolot;
  • Dalem Aria Suradiwangsa (Dalem Panembong);
  • Nyai Mas Kaluntar (Makamna di Dukuh Caringin)
  • Nyai Mas Karangan (Makamna di Bayabang)
  • Nyai Mas Djenggot (Makamna teu kapaluruh)
  • Nyai Mas Bogem (Makamna teu kapaluruh)

Nurutkeun carita rahayat Cianjur mah, aya kénéh turunan Wira Tanu (I) ti garwa nu lain manusa tapi “Jin Islam”, nya éta:

  • Radén Suriakancana, nu ngahiang di Gunung Gedé[4]
  • Nyai Mas Indang Kancana alias Indang Sukaesih alias Nyai Mas Kara nu ngahiang di Gunung Ceremai
  • Radén Andaka Wirusajagad (anu numutkeun naskah Dalem Pancaniti lain putera, tapi puteri nu ngaranna Nyai Indang Radja Mantri), nu ngahiang di Gunung Karawang.
  • Puterana nu ka-lima, Aria Wiramanggala (Aria Wira Tanu II) nganjrek di Tarikolot Cikalong (R. 4 April 1686) jeung di Cibalagung (R. 6 Mei 1686), anu sok disebut Pasir Wira Tanu. Pangaresep Wira Tanu II téh nya éta tatanén.

Aria Wira Tanu II mindahkeun Puseur Dayeuh Cianjur ti Cikalong ka Pamoyanan

Taun 1691
Aria Wira Tanu II ninggalkeun Cikalong. Pindahna téh ka daérah saparat susukan Cianjur, néangan jeung muka lahan pikeun rahayatna. Ieu tempat téh dingaranan kampung Pamoyanan, anu kaasup kana sub-negorij Cianjur. Ku Wira Tanu II kampung Pamoyanan téh dijieun Puseur Dayeuh Cianjur. Kunaon bet dipindahkeun? Aya sababaraha kamungkinan,

Ayana patemon jeung Adolf Winckler anu dina éta patemon Aria Wira Tanu II ngusulkeun sangkan 2 urang lurah jeung 43 cacah dipulangkeun deui ka Wira Tanu II nu dicokot ku Angga Laksana, Umbul Cilaku. Angga Laksana ngawidian. Ku sabab kitu, Aria Wira Tanu hayang ngandeg mandiri, kusabab di Cikalong ayawali pamaréntahanti Cirebon (Aria Sacakusumah), Aria Wira Tanu II ngarasa kurang bébas; Kadatangan Bartel van der Valck, juru ukur VOC anu geus ngukur-ngukur wates wilayah padaleman, atawa; Ayana wangsit saperti diterangkeun tina naskah Kusumaningrat (Dalem Pancaniti) anu kacindekkan eusina kurang leuwih saperti kieu:

Nalika Wira Tanu (II) tatanén di bukit (anu nepika ayeuna dingaranan Pasir Wira Tanu), kadatangan Jin Puteri anu geus rémpo unjukan ka Wira Tanu (II) “Béjakeun ka lanceuk Andika, Dalem Natamanggala (Dalem Anom) , lamun hayang karaharjaan jeung kadigjayaan, sakuduna manéhna ngadegkeun karajaan di belah kidul-kulon ti Cibalagung, deukeut walungan Cianjur, éta mangrupa tempat nu hadé pikeun ngadegkeun karajaan. Di dinya aya pangupakan Badak Putih jeung hadé pisan, saupama éta pangupakan téh diperenahkeun di tengah-tengah Padaleman (Imah)”. Saréngséna kitu, tuluy jin téh ngaleungit. Teu lila torojol lanceukna datang, laju dicaritakeun ku Aria Wira Tanu II ka Dalem Anom naon anu cikénéh karandapan. Satuluyna Dalem Anom nyarita “ Kuring taya niat pikeun indit ti dieu: di dieu kuring ngarasa bagja. “ satuluyna Wira Tanu II ménta widi ka lanceukna pikeun néangan tempat di deukeut susukan Cianjur, geusan ngadegkeun karajaan. Lanceukna nyatujuan. Antukna Wira Tanu II pindah ka Pamoyanan anu satuluyna jadi Puseur dayeuh “Regenschap” Cianjur.

Nu jadi patalékan téh naha bener kadatangan jin saperti anu dicaritakeun di luhur, atawa nu dimaksud jin téh Bartel van der Valck?

Dalem Aria Wira Tanu Datar III mindahkeun puseur dayeuh ti Pamoyanan ka Kampung Cianjur

Taun 1707
Dalem Aria Wira Tanu II tilar dunya (R. 12 April 1707), digantikeun ku putra sulungna Astramanggala anu diangkat jadi “Regent” ku VOC kalayan gelar Wira Tanu III atawa Dalem Dicondre. Sanggeusna diangkat, Wira Tanu III pindah ti kampung Pamoyanan ka kampung Cianjur, anu kaayaanana mangsa haritra leuwih maju tinimbang Pamoyanan. Sok sanajan jarak dua kampung éta diwilang deukeut, tapi kahalang kénéh ku leuweung jeung walungan. Ku kituna, nu ngadegkeun kota Cianjur téh lain Wira Tanu II, tapi Wira Tanu III. Konsekuensi séjénna yén kota Cianjur téh dijieun Puseur dayeuh taun 1707. perlu diperhatikeun ogé yén Wira Tanu III lain ngadegkeun cianjur minangka Padaleman atawa Sub-negorij, kusabab dina katerangan saméméhna sub-négorij téh geus ngadeg ti saméméh taun 1680 kénéh, tapi Aria Wira Tanu III ngan saukur mindahkeun puseur dayeuh ti Pamoyanan ka kampung Cianjur. Ieu hal téh lumangsung nalika VOC geus ngajajah Cianjur sacara ‘de facto’ jeung ‘de jure’. Nu matak Aria Wira Tanu III mah diangkat ku VOC, sedengkeun Aria Wira Tanu II mah ukur dikukuhkeun hungkul.

Wira Tanu III punjul dina ngalegaan kultur kopi jeung ngalegaan kabupatén jeung kawijakan. Aya sababaraha catetan nalika jaman kakawasaan Aria wira Tanu III.

Wira Tanu III sering ngajukeun préténsi ka Walanda ngeunaan wates wilayah nu sabenerna kaasup wilayah kabupatian anu séjén.

Rahayat Cianjur ngawangun gapura gedé sarupa béntang pikeun kahormatan Wira Tanu III. Belanda ngarasa kasieunan ku éta hal.

Wira Tanu III kungsi ngajukeun gelar “Pangéran Aria Depatty Amancoerat Indator” (Pangeran Aria Dipati Amangkurat Di Datar), nu ngandung harti yén Wira Tanu III nyaruakeun dirina jeung Amangkurat I. Ngan gelar anu dimaksud teu dicumponan ku VOC. Anu dikabulkeun téh ngan “Datar”-na hungkul, nepi ka gelarna jadi Aria Wira Tanu Datar. Kusabab ditarimana éta gelar téh sanggeusna Wira Tanu III tilar dunya, anu maké éta gelar téh ti Wira Tanu Datar IV nepika Wira Tanu Datar VI.

Wira Tanu III ménta ka VOC supaya Citarum dijadikeun wates Cianjur. Ieu hal téh ngandung harti, yén satengahna Bandung jeung Karawang, sarta saparapat ti Parakanmuncang bakal asup ka wewengkon Cianjur.

Wira Tanu III keukeuh sangkan wates Cianjur jeung Kampung Baru, Karawang, Bandung jeung Parakanmuncang ditangtukeun. Ieu hal téh bakal ngabalukarkeun daérah tatangga bakal ngurangan. Dina taun 1724 sabagian wilayah Kampung Baru jeung Sagara Kidul asup ka Cianjur; Jampang mah geus ti heula asup ka Cianjur (1715)

Wira Tanu III tilar dunya dina taun 1726 alatan dicondre, kusabab kitu Wira Tanu III sok disebut Dalem Dicondre.[5]

Kakawasaan Wira Tanu di Cianjur nya éta nepika Wira Tanu Datar VI atawa Dalem Enoh anu jadi Wira Tanu Datar pamungkas anu jadi bupati di Cianjur.

Tina sababaraha katerangan di luhur, tétéla réa patalina carita rahayat jeung pamanggih ahli sajarah téh. Sok sanajan teu bisa dipastikeun, tapi carita rahayat diperlukeun pikeun babandingan dina nyieun kacindekkan sajarah.

Sajarah Cianjur identik jeung Babad Cikundul, ieu hal dilantarankeun nganjrek jeung dimakamkeunana Aria Wira Tanu I nya éta di Cikundul. Kusabab kitu sering Anu satuluyna ngalahirkeun carita-carita rahayat téh urang Cikundul anu sacara geografis deukeut wewengkonna. Saperti carita populer ngeunaan putera ka-hiji Aria Wira Tanu I tina puteri jin nya éta Éyang Suriakancana anu nepika ayeuna dipupusti urang Cianjur, nepika unggal 17 Agustus sok aya pawai Kuda Kosong anu ceuk béja mah cenah nu numpakanna téh nya éta rohna éyang Suriakancana anu ngageugeuh Gunung gedé jeung Gunung mananggél.

Wawacan, mangrupa salasahiji tradisi tinulis ménak Sunda, kaasup di Cianjur. Salasahijina nyaéta [[[Kusumaningrat]] (Dalem Pancaniti) anu nulis wawacan ngeunaan Babad Cikundul.

Nara sumberna Ujang Ahmad, umur 70 taun.

Sistim arsip nu dipaké harita ku Walanda nu disebut “Dagregister” atawa sok disingget “D” nu hartina catetan poéan. Ieu catetan téh dikokolakeun ku VOC dina bénténgna di Batavia. Ieu sistim arsip téh mibanda kahéngkéran, kusabab sistem nulisna harita lain dilakonan ku cara kelompok, tapi campur, anu balukarna hiji Dagregister bisa ngawengku sababaraha kajadian anu waktuna béda.

Sumber ti nu ku urang Cianjur biasa disebut Éyang Suriakancana anu ngageugeuh Gunung Gedé jeung Mananggél. Sok diayakeun acara ritual pikeun ngahormat Éyang Suryakancana unggal 17 Agustus nu disebut ‘Kuda kosong’

Aya sababaraha versi saéstuna mah dicondrena Wira Tanu III téh, samalah aya nu matalikeun jeung kultur kopi jeung aya ogé anu matalikeun jeung pasualan wanoja ti Cikembar nu geus boga beubeureuh.

Rujukan

  • Koswara, Dedi Spk. 1987. Naskah Sunda Kuno di Kabupaten Cianjur. Proyek Penelitian IKIP Bandung. Bandung: IKIP Bandung.
  • Suryaningrat, Bayu. 1982. Mengenal Kabupaten Daerah Tingkat II Cianjur. Cianjur: Pemda Cianjur.
  • Moriyama, Mikihiro. 2005. Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19’ . Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
  • Ekadjati, Edi S.Tinjauan Geneologi dan Pancakaki Urang Sunda. makalah
    Garna, Judistira K. Orang Sunda dari masa ke masa. Makalah.

referensi: wisatacianjur