Basa Sunda: Kamekaran Mamaos

Basa Sunda: Kamekaran Mamaos

Kiwari kecap Mamaos masih keneh aya anu nganggo maneuh, sok sanaos digentos ku kecap Tembang Sunda Cianjuran. Utamina ku aranjeuna anu hoyong ngodok ka jerona nyungsi harti anu utamina, seja neuleuman falsafah udaganana.

Tokoh Mamaos renung sirungan diunggal tempat, teu bae di Pasundan malah parantos dugi ka Eropah. Wartosna mah di nagara deungeun sapertos Belanda, tos aya pakumpulan Mamaos. Tangtosna oge di Pasundan, teu sirikna diunggal kabupaten aya. Malah seueur pakumpulan-pakumpulan Tembang Sunda, mekar turnuwuh dugi ka kiwari.

Ieu sadaya ku urang katingal dina pintgnan boh TV Pamarentah oge TV swasta. Tembang Sunda Cianjuran mangrupa kareueus balarea. Tokoh-tokoh sapertos Mang Uking Sukri, Mang Maman Rukman, Mang Engkgs, Mang Ebar parantos teu bireuk kanggo urang sadaya. Tuh nya kitu angkatan beh dieu sapertos kersana Bapa Aping S Wiratmadja, kersana Drs. Enip Suhanda, DR. Dadang Sulaeman (Alm), Euis Komariah, Ecep Suryana sareng seueur-seueur deui.

Angkatan ngorana sapertos Drs. Barman S, Tarman S, Ade, Dede, Imas Permas, Ida Widawati, Enah Sukaenah, Mamah Dasimah, Didin Bajuri, Drs. Asep Kosasih, Adang, Yayah R, Neneng Dinar. Kiwari tangtos langkung seueur deui, ku ayana SMK (Kapungkur Kokar). Seueur para sarjana Beni lulusan S.T.S.I Bandung beuki rempeg bae teu matak hariwang. Mekar……mekar…..terus mekar, Budaya Sunda hususna Mamao,s anu kiwari disebut Tembang Sunda Cianjuran.

Kacindekan

Tembang Sunda anu kiwari sumebar teu tiasa leupas ti kecap Mamaos. Anu ieu kecap teh jolna ti Dayeuh Cianjur anu lalakonna panjang pisan. Diawitan ti R.A Jayasasana anu diluluguan ku R.A Candramanggala sareng R.A Cakradiparna, R.A Wasitaredja (Dalem Seni), R.A.A Kusumah Ningrat, R.A.A Prawiradiredja, R. Ece Madjid, diwuwuh ku Seniman/Budayawan sapandeurieunana.

Mugia sing terus narutus ka incu buyut masing jadi Budaya Bangsa atawa Budaya Niagara, kawas baheula Basa Sunda jadi Basa Nagara.

Amin…. !

referensi: cianjurkab
Mamaos, Tembang Sunda Cianjuran

Mamaos, Tembang Sunda Cianjuran

Mamaos adalah seni budaya yang menggambarkan kehalusan budi dan rasa menjadi perekat persaudaraan dan kekeluargaan dalam tata pergaulan hidup. Mamaos dapat pula diartikan dengan membaca, yaitu membaca (merenungkan) segala ciptaan Tuhan, membaca (merenungkan) hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, antara mahluk dengan mahluk ciptaan Allah Yang Maha Pencipta Seni mamaos tembang sunda Cianjuran lahir hasil cipta, rasa dan karsa Bupati Cianjur R. Aria Adipati kusumahningrat yang dikenal dengan sebutan Dalem Pancaniti. Ia menjadi pupuhu (pemimpin) tatar Cianjur sekitar tahun 1834-1862.

Dengan kehalusan rasa seni Dalem Pancaniti,kesenian tersebut menjadi inspirasi lahirnya suatu karya seni yang sekarang disebut Seni Mamaos Tembang Sunda Cianjuran.

Dalam tahap penyempurnaan hasil ciptaannya Dalem Pancaniti dibantu oleh seniman kabupaten yaitu: Rd. Natawiredja, Bapak Aem dan Maing Buleng. Para seniman tersebut mendapat izin dari Dalem Pancaniti untuk menyebarkan lagu-lagu hasil ciptaan Dalem Pancaniti.Syair Mamos yang pertama kali diciptakan oleh Dalem Pancaniti berjudul Layar Putri yang isinya: Sada gugur di kapitu Sada gelap ngadadasaran Sada laut lilintungan Kamana ngaitkeun ngincir Ka kaler katojo bulan Kamana ngaitkeun pikir Sugan paler kasabulan

Setelah Dalem Pancaniti wafat tahun 1816, Bupati Cianjur dilanjutkan oleh anaknya yaitu R. A. A. Prawiradiredja II (1816-1910), seni Mamaos ini mulai mencapat tahap penyempurnaan dengan diiringi dentingan kecapi dan suara suling.

Sekarang ini Tembang Sunda Cianjuran sudah terkenal bukan saja di Nusantara akan tetapi hingga pelosok mancanegara. Untuk melestarikan kesenian tradisional, diadakan pasanggiri tembang sunda cianjuran, baik lokal maupun regional / nasional (Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta).Seni Mamaos ini terdiri dari alat kecapi indung (kecapi besar dan kecapi rincik / kecapi kecil) serta sebuah suling yang mengiringi penembang atau juru. Pada umumnya syair-syair Mamaos ini lebih banyak mengungkapkan puji-pujian akan kebesaran Tuhan dengan segala hasil ciptaanNya.

referensi: cerminsejarah.blogspot.com, mamaoscianjuran.co.cc (image)

Ngaos, Tradisi Mengaji Dalam Masyarakat Cianjur

Ngaos, Tradisi Mengaji Dalam Masyarakat Cianjur

Cianjur sudah lama dikenal sebagai salah satu kota santri. Dan salah satu tradisi yang sangat melekat dalam diri masyarakat Cianjur adalah budaya Ngaos. Ngaos adalah tradisi masyarakat yang mewarnai suasana dan nuansa Cianjur dengan masyarakat yang lekat dengan keberagamaan. Citra sebagai masyarakat agamis ini seperti yang telah dikemukakan terdahulu adalah sebagai langkah dari Djajasasana putra R. A. Goparana yang memeluk agama Islam pada tahun 1677 dimana pada saat itu beliau bersama dengan ulama dan santri pada saat itu gencar menyebarkan syariat Islam. Itulah sebabnya mengapa Cianjur mendapat julukan sebagai kota gudang kyai dan gudang santri.

Pondok-pondok pesantren yang tumbuh dan berkembang di tatar Cianjur sedikit atau banyak telah berkontribusi dalam perjuangna sejarah kemerdekaan negeri ini. Disanalah bergolak jiwa semangat berjihad. Banyak pejuang-pejuang meminta restud ari kyai-kyai sebelum berangkat ke medan pertempuran. Menurut mereka itu, mereka baru merasa lengkap dan percaya diri apabila telah mendapat restu dari kyai.Sekilas, tradisi mengaji di kalangan masyarakat Cianjurini tidak jauh berbeda dengan daerah-daerah lain di Jawa Barat seperti Garut, Tasikmalaya, Banten, Cirebon dan lain sebagainya yang juga dikenal sebagai gudangnya santri.

Memang pada dasarnya tidak ada perbedaan yang mencolok, sebab Islam sendiri mengajarkan umatnya untuk senantiasa mengaji dan menghayati serta memahami Al uran yang merupakan jalan hidup yang lurus.Begitu pula dengan kalangan masyarakat Cianjur, meskipun sekarang terlihat adanya penurunan dalam melestarikan budaya Ngaos tetap tidak akan pernah hilang dalam sanubari masyarakat Cianjur, khususnya masyarakat (dalam arti ini pesantren) yang terletak di daerah-daerah pinggiran Cianjur sebab begitu kuatnya mereka memegang tradisi ini.Umumnya tradisi Ngaos di Cianjur memang lebih dikenal dalam kegiantan kepesantrenan. Sepeti Ngaos nyorangan, Ngaos bandungan, Ngaos tarabasan. Yang kesemuanya memiliki arti yang berbeda akan tetapi dengan tujuan yang sama. Misalnya ngaos nyorangan adalah bentuk mengaji secara mandiri yang dilakukan oleh seorang santri dalam memahai isi kandungan Al Quran.

Ngaos bandungan adalah suatu bentuk mengaji dimana saat santri seang membaca isi Al quran dengan didampingi seorang ustadz yang sewaktu-waktu membetulkan bacaan santri apabila sang santri salah dalam bacaannya serta memberi tafsiran apabila memang diperlukan. Bngaos tarabasan adalah cara membaca Al Quran secara bersama-sama dengan maksud untuk bersama-sama menghapal isi Al Quran.

referensi: cerminsejarah.blogspot.com

Filosofi Cianjur

Filosofi Cianjur

Cianjur memiliki filosofi yang sangat bagus, yakni ngaos, mamaos dan maenpo yang mengingatkan pada kita semua tentang 3 (tiga) aspek keparipurnaan hidup.

Ngaos adalah tradisi mengaji yang mewarnai suasana dan nuansa Cianjur dengan masyarakat yang dilekati dengan keberagamaan. Citra sebagai daerah agamis ini konon sudah terintis sejak Cianjur lahir sekitar tahun 1677 dimana wilayah Cianjur ini dibangun oleh para ulama dan santri tempo dulu yang gencar mengembangkan syiar Islam. Itulah sebabnya Cianjur juga sempat mendapat julukan gudang santri dan kyai. Bila di tengok sekilas sejarah perjuangan di tatar Cianjur jauh sebelum masa perang kemerdekaan, bahwa kekuatan-kekuatan perjuangan kemerdekaan pada masa itu tumbuh dan bergolak pula di pondok-pondok pesantren. Banyak pejuang-pejuang yang meminta restu para kyai sebelum berangkat ke medan perang. Mereka baru merasakan lengkap dan percaya diri berangkat ke medan juang setelah mendapat restu para kyai.

Mamaos adalah seni budaya yang menggambarkan kehalusan budi dan rasa menjadi perekat persaudaraan dan kekeluargaan dalam tata pergaulan hidup. Seni mamaos tembang sunda Cianjuran lahir dari hasil cipta, rasa dan karsa Bupati Cianjur R. Aria Adipati Kusumahningrat yang dikenal dengan sebutan Dalem Pancaniti. Ia menjadi pupuhu (pemimpin) tatar Cianjur sekitar tahun 1834-1862. Seni mamaos ini terdiri dari alat kecapi indung (Kecapi besar dan Kecapi rincik (kecapi kecil) serta sebuah suling yang mengiringi panembanan atau juru. Pada umumnya syair mamaos ini lebih banyak mengungkapkan puji-pujian akan kebesaran Tuhan dengan segala hasil ciptaan-Nya.

Sedangkan Maen Po adalah seni bela diri pencak silat yang menggambarkan keterampilan dan ketangguhan. Pencipta dan penyebar maen po ini adalah R. Djadjaperbata atau dikenal dengan nama R. H. Ibrahim, aliran ini mempunyai ciri permainan rasa yaitu sensitivitas atau kepekaan yang mampu membaca segala gerak lawan ketika anggota badan saling bersentuhan. Dalam maenpo dikenal ilmu Liliwatan (penghindaran) dan Peupeuhan (pukulan).

Apabila filosofi tersebut diresapi, pada hakekatnya merupakan symbol rasa keber-agama-an, kebudayaan dan kerja keras. Dengan keber-agama-an sasaran yang ingin dicapai adalah terciptanya keimanan dan ketaqwaan masyarakat melalui pembangunan akhlak yang mulia. Dengan kebudayaan, masyarakat cianjur ingin mempertahankan keberadaannya sebagai masyarakat yang berbudaya, memiliki adab, tatakrama dan sopan santun dalam tata pergaulan hidup. Dengan kerja keras sebagai implementasi dari filosofi maenpo, masyarakat Cianjur selalu menunjukan semangat keberdayaan yang tinggi dalam meningkatkan mutu kehidupan. Liliwatan, tidak semata-mata permainan beladiri dalam pencak silat, tetapi juga ditafsirkan sebagai sikap untuk menghindarkan diri dari perbuatan yang maksiat. Sedangkan peupeuhan atau pukulan ditafsirkan sebagai kekuatan di dalam menghadapi berbagai tantangan dalam hidup.

referensi: wikipedia, cianjurcybercity.com