Tokoh: Rd. Aria Cikondang

Tokoh: Rd. Aria Cikondang

Sebagian masyarakat Cianjur mungkin hanya mengetahui Rd. Aria Cikondang, sebagai nama sebuah jalan. Bahkan sebagian masyarakat lainnya, ada yang lebih suka menyebutnya dengan singkatan Arciko saja,

Sebagaimana telah dikemukakan terdahulu, Rd. Aria Cikondang atau Rd. Aria Dimanggala merupakan salah seorang putra Dalem Cikundul. Sesuai perintah ayahnya, Rd. Aria Cikondang pergi meninggalkan Kadaleman Cibalagung mengikuti Rd. Aria Wira Manggala yang kemudian dikenal dengan sebutan Dalem Tarikolot atau Dalem Pamoyanan beserta saudara-saudaranya yang lain. Mereka lalu bahu membahu membantu Dalem Tarikolot, membangun Nagri Pamoyanan yang lalu berkembang menjadi Nagri Cianjur.

Menurut hikayatnya, Rd. Aria Cikondang memiliki postur tubuh atletis, warna kulit sawo matang namun bersih dengan paras muka ganteng dan berambut panjang sebahu. Bertemperamen keras dan tegas serta memilki beragam ilmu ‘kadugalan’. Namun ia sangat taat beribadah dan sangat menghormati serta menyayangi saudara-saudaranya, dengan sikap senantiasa siap melindungi. Termasuk melindungi seluruh rakyat Nagri Cianjur saat itu, dari segala macam marabahaya. Apabila diibaratkan, sosoknya merupakan Panglima Nagri Cianjur yang sangat disegani.

Karena kedigjayaannya pula sehingga pihak mana pun yang berusaha menundukkan Nagri Cianjur pada saat itu, merasa kesulitan mengalahkannya. Apalagi melakukan penjajahan terhadap Nagri Cianjur. Hingga takdir menjemput ajalnya, dengan cara yang sangat mengenaskan. Untuk melumpuhkannya, tubuh dan kepala Rd. Aria Cikondang terpaksa harus dipisahkan. sebab apabila tubuh dan kepalanya masih bersatu, akan sangat kesulitan melumpuhkannya.

Makamnya yang terletak di Kecamatan Cibeber pun, sekarang ada dua. Yakni sebagian tubuhya dimakamkan pada dataran rendah, sedangkan bagian kepalanya berada pada sebuah puncak bukit. Wallahu Alam …. !

referensi: cianjurkab
Tokoh: Dalem Tarikolot

Tokoh: Dalem Tarikolot

Dalem Tarikolot adalah salah seorang putra Dalem Cikundul, yang memiliki nama sebenarnya Rd. Aria Wira Manggala. Ia merupakan Bupati pertama di Cianjur dan memperoleh gelar Rd. Aria Wiratanu II. Ia pula yang pertama kali merintis dan membuka Kota Cianjur, dengan mengambil pusat pemerintahan di daerah Pamoyanan sekarang. Hingga memperoleh pula julukan sebagai Dalem Pamoyanan.

Sesuai amanat dari ayahnya untuk mendirikan wilayah baru sebagai pusat pemerintahan, Rd. Aria Wira Manggala berangkat dari Kademangan Cibalagung dengan membawa beberapa ratus orang pilihan disertai saudara-saudaranya yakni Rd. Aria Dimanggala yang lebih dikenal Rd. Aria Cikondang serta Rd. Aria Natadimanggala yang lebih dikenal dengan julukan Aria Kidul dan saudara perempuannya yakni Nyi Mas Karanggan serta Rd. Aria Natamanggala. Daerah baru yang harus dicarinya adalah lokasi tanah yang memiliki kontur menurun kearah timur serta terletak dipinggir sungai. (sunda ; taneuh bahe ngetan sisi walungan). Dimana didaerah tersebut terdapat pemandian Badak Putih (Pangguyangan Badak Putih ; sekarang masih ada terletak dipojok kanan depan laman kantor Pegadaian Cianjur).

Hutan belantara yang pertama kali dibuka, yakni Kp. Muka (saat ini disekitar Cimenteng, Kelurahan Muka Cianjur). Setelah itu rombongan Rd. Aria Wira Manggala terus bergerak ke arah barat, hingga menemukan banyak sarang Burung Elang (sunda ; Sayang Heulang). Daerah itu pun lalu dikenal dengan sebutan Kp. Sayang Heulang, yang sekarang letaknya kira-kira disekitar Kantor Kejaksaan Negeri JI. Dr. Muwardi, By Pass Cianjur.

Saat ini nampaknya nama kampung Sayang Heulang tersebut, telah banyak dilupakan masyarakat. Padahal daerah yang sekarang telah cukup ramai itu, dahulunya terkenal sangat ‘angker’. Terutama di wewengkon tanjakan Pala, mengingat disekitar daerah itu dahulu pernah ada pohon pala yang cukup besar. Dan diatas pohon pala itu pula, dahulu pernah ada peristiwa orang gantung diri serta meninggal dunia.

Selanjutnya sambil terus membuka hutan, rombongan terus bergerak keatas menuju arah barat. Hingga sampai ke lokasi tanah yang agak tinggi dan dapat melihat kemana-mana (dalam bahasa Sunda berarti, sagala katembong). Lokasi itupun lalu diberi nama Kp. Panembong, letaknya sekarang disekitar Gedung Pemuda KNPI) Cianjur.

Dari Panembong, rombongan ini bergerak turun kearah timur. Dan menemukan banyak pohon salak serta pohon kopi. Rombongan pun beramai-ramai memetik buah-buah itu sambil bercengkerama. Hingga akhirnya memberi nama daerah itu, Kp. Salakopi. (Ietaknya sekarang, disekitar SDN Salakopi Cianjur)

Rombongan terus bergerak lagi ke arah timur dan sedikit berbelok ke kanan. Saat itu hari telah menjelang petang, dan matahari mulai terbenam diufuk barat. Rombongan pun beristirahat, untuk selanjutnya tertidur dan menginap didaerah itu. Hingga kemudian tempat mereka beristirahat tidur tersebut, saat ini bernama Kp. Pasarean. Artinya dalam Bahasa Sunda lebih kurang, tempat beristirahat atau tempat pangsarean. Namun saat ini tempat beristirahat dan tidur rombongan R. Aria Wiratanu II tersebut, telah menjadi tempat pemakaman umum Pasarean.

Keesokan harinya rombongan melanjutkan lagi perjalanannya, terus kearah kanan lalu menuju arah jalan yang agak menurun. Hingga menemukan sebuah tempat nyaman, yang banyak ditanami pohon rindang. Serta disekitar daerah tersebut, terdapat pula sebuah kali yang cukup besar dan kelak disebut Sungai Ciraden atau Sungai Cianjur. Artinya lebih kurang sungai yang dijadikan tempat mandi, oleh Raden Aria Wiratanu II beserta rombongannya.

Di daerah itu pula rombongan Rd. Aria Wiratanu II atau Dalem Tarikolot, mulai membuka hutan dan membangun pendopo serta beberapa bangunan lainnya, yang kelak akan berfungsi sebagai pusat pemerintahan. Termasuk juga membangun pemukiman untuk rombongannya.

Daerah itu berhawa sejuk hingga apabila tiba malam atau khususnya pagi hari, akan terasa sangat dingin. Karena itu pula Rd. Aria Wiratanu II tak jarang berjemur di pagi hari yang kemudian diikuti pula oleh anggota rombongannya. Kegiatan menjemur anggota badan di pagi hari dipinggir sungai tersebut, dalam bahasa sunda disebut moyan. Dan daerah itu pun akhirnya dikenal dengan sebutan pamoyanan, yang artinya lebih kurang tempat menjemur diri.

Pusat pemerintahan di wewengkon Pamoyanan dipinggir kali itu pula yang merupakan cikal bakal berdirinya pendopo, sebagai Pusat Pemerlntahan Kabupaten Canjur seperti saat ini. Sekaligus dimulainya asaI kata Canjur yakni dari Cai anjur, artinya anjur an memperoleh tempat dipinggir sungai (Cai) dari Dalem Cikundul, yang telah diketemukan Dalem Tarikolot beserta rombongannya. Termasuk tempat memperoleh gelar Rd. Aria Wiratanu lI, yang terletak disekitar Pamoyanan dan hingga saat ini dikenal dengan sebutan Kampung Gelar.

referensi: cianjurkab
Tokoh: Dalem Cikundul

Tokoh: Dalem Cikundul

Tidak sedikit masyarakat mengira bahwa Rd. Jaya­sasana atau R.A. Wiratanu I adalah Bupati Cianjur yang pertama. Padahal Rd. Jayasasana adalah seorang figur pemimpin yang diangkat oleh para pimpinan rakyat lainnya yang ada di seluruh wilayah Nagri Cianjur pada saat itu. Dan di­anugerahi gelar Raja Gagang. Peristiwa pengangkatan Rd. Jayasasana menjadi Pemimpin Cianjur tersebut, berlangsung dalam sebuah acara silaturahmi / pemilihan diantara para pimpinan rakyat itu secara tradisional. Artinya bukan melalui sebuah Surat Keputusan secara resmi dari pihak manapun. Tetapi benar-benar murni atas kehendak para peserta silaturahmi saat itu, yang terdiri dari para tokoh pimpinan masyarakat dari daerah lainnya diseluruh wilayah Cianjur. Rd. Jayasasana juga merupakan seorang figur Ulama besar yang sangat disegani, hingga memperoleh julukan Dalem Cikundul. karena keberadaannya di Kp. Majalaya Cijagang cikalongkulon, terletak di pinggir Sungai Cikundul.

Dalem Cikundul merupakan salah satu dari keturunan Prabu Siliwangi. Bermula dari Kerajaan Talaga Manggung, Majalengka. Salah seorang keturunan Prabu Siliwangi kini Prabu Pucuk Umum, memiliki putra bernama Sunan Parunggangsa. Putra keturunannya adalah Sunan Wanapri, yang lalu berputra lagi Sunan Ciburang.

Sunan Ciburang berputra Rd. Aria Wangsa Goparana, yang mulai memeluk Agama Islam. Karena menganut agama Islam itu pula membuat Sunan Ciburang selaku ayahnya kecewa. Dan untuk menghindari kemarahan ayahnya, Rd. Aria Wangsa Goparana akhirnya lebih memilih pindah ke Sagara (Sagala) Herang. Makamnya sekarang terletak di Kp. Nangka Beurit, Sagara Herang kabupaten Subang.

Salah seorang putra Rd. Aria Wangsa Goparana adalah Rd Jayasasana, yang mendapat tugas dari ayahnya serta dari salah satu Pesantren (Sultan) di Gunung Jati Cirebon untuk menyebarkan Agama Islam. Namun sebelum berkelana guna melaksanakan tugas itu, Rd. Jayasasana lelakukan khalwat terlebih dahulu untuk memohon Petunjuk Allah SWT. Kegiatan itu dilakukannya selama lebih kurang 40 (empat puluh hari), diatas sebuah batu yang cukup besar yang disebut Tutugan Batu Agung.

Ketika menjelang malam yang keempat puluh hari, alam khayalan Rd. Jayasasana telah kedatangan tiga putri jin. Masing-masing yang pertama bernama Dewi Arum Endah, kedua Dewi Arum Sari dan putri yang ketiga, Dewi Arum Wangi. Namun ternyata dari ketiga nama putri jin tersebut, sebenarnya hanya namanya saja yang tiga, sedangkan putrid jinnya hanya satu.

Putri Raja Jin Islam Sekh Jubaedi dari kerajaan Jin Ajrag tersebut, terpesona oleh paras muka dan keteguhan hati Rd. Jayasasana yang tengah menyelesaikan khalwatnya. Bahkan dari kejauhan nampak seperti memancarkan cahaya terang, hingga hampir seluruh wilayah itu menjadi terang benderang.

Syahdan kemudian, Rd. Jayasasana menikahi putri jin tersebut dan berumah tangga di alam jin, sampai mempunyai 3 orang anak. Ketika bayi-bayi itu lahir, ayahanda putri jin tersebut sempat berujar. Bahwa ketiga bayi yang baru lahir itu, tidak diperkenankan ditidurkan diatas ayunan atau diayun-ayun.

Namun entah bagaimana awalnya, larangan dari Raja Jin tersebut dilanggar. Akibatnya ketiga bayi tersebut menghilang seketika (sunda ; tilem). Bayi yang pertama bernama Rd. Suryakencana, hingga saat ini mendiami (ngageugeuh) di Gunung Gede. Lalu yang kedua bernama Raden Ajeng Endang Sukaesih, saat ini ngageugeuh di Gunung Cereme, Cirebon. Dan bayi ketiga bernama Raden Andaka Wirusajagat, ngageugeuh di Gunung Kumbang Karawang.

Setetah terjadinya peristiwa itu, Rd. Jayasasana berpamitan dan kembali ke alam manusia. Selanjutnya pergi berkelana, untuk melaksanakan amanat/tugas menyebarkan Agama Islam. Keberangkatan Rd. Jayasasana diiringi oleh sedikitnya 300 umpi rakyat Sagara Herang, yang kemudian sampai di wilayah Majalaya Cijagang, Cikalongkulon Cianjur, untuk selanjutnya bermukim di daerah itu.

Kecerdasan dan sikapnya yang arif bijaksana, membuatnya segera dikenal cukup luas oleh warga masyarakat di daerah-daerah lainnya yang ada disekitar Cianjur. Namanya terus mewangi mengharumkan parahyangan, sambil terus menyebarkan Agama Islam. Kesejahteraan warga masyarakatnya pun terus meningkat.

Hingga akhirnya Sultan Cirebon memberinya gelar R.A. Wiratanu I. Disamping mendapat julukan Dalem Cikundul dari masyarakat yang sangat mencintai dan dicintainya, pemimpin pertama diseluruh Nagri Cianjur saat itu atau Bupati pilihan rakyat dan mendapat sebutan Dalem Mandiri.

Rd.Jayasasana, menjadi Dalem mulai Tahun 1640 hingga tahun 1691.

referensi: cianjurkab
Daftar Bupati/Dalem Kabupaten Cianjur

Daftar Bupati/Dalem Kabupaten Cianjur

Tiga abad silam merupakan saat bersejarah bagi Cianjur. Karena berdasarkan sumber – sumber tertulis , sejak tahun 1614 daerah Gunung Gede dan Gunung Pangrango ada di bawah Kesultanan Mataram. Tersebutlah sekitar tanggal 12 Juli 1677, Raden Wiratanu putra R.A. Wangsa Goparana Dalem Sagara Herang mengemban tugas untuk mempertahankan daerah Cimapag dari kekuasaan kolonial Belanda yang mulai menanamkan kekuasaan di tanah nusantara. Upaya Wiratanu untuk mempertahankan daerah ini juga erat kaitannya dengan desakan Belanda / VOC saat itu yang ingin mencoba menjalin kerjasama dengan Sultan Mataram Amangkurat I.

Namun sikap patriotik Amangkurat I yang tidak mau bekerjasama dengan Belanda / VOC mengakibatkan ia harus rela meninggalkan keraton tanggal 12 Juli 1677. Kejadian ini memberi arti bahwa setelah itu Mataram terlepas dari wilayah kekuasaannya.

Pada pertengahan abad ke 17 ada perpindahan rakyat dari Sagara Herang yang mencari tempat baru ke pinggiran sungai untuk bertani dan bermukim. Babakan atau kampoung mereka dinamakan menurut nama sungai dimana pemukiman itu berada. Seiring dengan itu Raden Djajasasana putra Aria Wangsa Goparana dari Talaga keturunan Sunan Talaga, terpaksa meninggalkan Talaga karena masuk Islam, sedangkan para Sunan Talaga waktu itu masih kuat memeluk Hindu.

Sebagaimana daerah beriklim tropis, maka di wilayah Cianjur utara tumbuh subur tanaman sayuran, teh dan tanaman hias. Di wilayah Cianjur Tengah tumbuh dengan baik tanaman padi, kelapa dan buah-buahan. Sedangkan di wilayah Cianjur Selatan tumbuh tanaman palawija, perkebunan teh, karet, aren, cokelat, kelapa serta tanaman buah-buahan. Potensi lain di wilayah Cianjur Selatan antara lain obyek wisata pantai yang masih alami dan menantang investasi.

Aria Wangsa Goparana kemudian mendirikan Nagari Sagara Herang dan menyebarkan Agama Islam ke daerah sekitarnya. Sementara itu Cikundul yang sebelumnya hanyalah merupakan sub nagari menjadi Ibu Nagari tempat pemukiman rakyat Djajasasana. Beberapa tahun sebelum tahun 1680 sub nagari tempat Raden Djajasasana disebut Cianjur (Tsitsanjoer-Tjiandjoer).

Berdasarkan sumber dari Wikipedia, Kabupaten Cianjur memiliki 36 orang yang pernah menjadi Bupati/Dalem dari tahun 1677 sampai 2011. Berikut daftar nama Bupati/Dalem Kabupaten Cianjur sampai tahun 2011:

  1. R.A. Wira Tanu I (1677-1691)
  2. R.A. Wira Tanu II (1691-1707)
  3. R.A. Wira Tanu III (1707-1727)
  4. R.A. Wira Tanu Datar IV (1927-1761)
  5. R.A. Wira Tanu Datar V (1761-1776)
  6. R.A. Wira Tanu Datar VI (1776-1813)
  7. R.A.A. Prawiradiredja I (1813-1833)
  8. R. Tumenggung Wiranagara (1833-1834)
  9. R.A.A. Kusumahningrat (Dalem Pancaniti) (1834-1862)
  10. R.A.A. Prawiradiredja II (1862-1910)
  11. R. Demang Nata Kusumah (1910-1912)
  12. R.A.A. Wiaratanatakusumah (1912-1920)
  13. R.A.A. Suriadiningrat (1920-1932)
  14. R. Sunarya (1932-1934)
  15. R.A.A. Suria Nata Atmadja (1934-1943)
  16. R. Adiwikarta (1943-1945)
  17. R. Yasin Partadiredja (1945-1945)
  18. R. Iyok Mohamad Sirodj (1945-1946)
  19. R. Abas Wilagasomantri (1946-1948)
  20. R. Ateng Sanusi Natawiyoga (1948-1950)
  21. R. Ahmad Suriadikusumah (1950-1952)
  22. R. Akhyad Penna (1952-1956)
  23. R. Holland Sukmadiningrat (1956-1957)
  24. R. Muryani Nataatmadja (1957-1959)
  25. R. Asep Adung Purawidjaja (1959-1966)
  26. Letkol R. Rakhmat (1966-1966)
  27. Letkol Sarmada (1966-1969)
  28. R. Gadjali Gandawidura (1969-1970)
  29. Drs. H. Ahmad Endang (1970-1978)
  30. Ir. H. Adjat Sudrajat Sudirahdja (1978-1983)
  31. Ir. H. Arifin Yoesoef (1983-1988)
  32. Drs. H. Eddi Soekardi (1988-1996)
  33. Drs. H. Harkat Handiamihardja (1996-2001)
  34. Ir. H. Wasidi Swastomo, Msi (2001-2006)
  35. Drs. H. Tjetjep Muchtar Soleh, MM (2006-2011)
  36. Drs. H. Tjetjep Muchtar Soleh, MM (2011-2016)

Beberapa Foto Bupati/Dalem yang berhasil ditemukan diantaranya:

bagi yang memiliki informasi atau koreksi terutama foto yang lebih lengkap, kami tunggu partisipasinya.

Update: 11/06/2011

referensi: cianjurcybercity

 

KH. R. Muhammad Isa Al-Kholidi

KH. R. Muhammad Isa Al-Kholidi

KH.R. Muhammad Isa Al-Kholidi lahir di Singapura  tanggal 5 Muharam 1272/1855 M. Masyarakat lebih mengenal dengan sebutan guru Haji Isa, sesuai dengan nama jelas di sekitar mesjid agung (kaum) Cianjur yang kini telah berubah nama menjadi Jalan Siti Bodedar dan ia membangun Madrasah Gedong Asem yang terkenal ke mana-mana.

Guru Haji Isa atau yang biasa disebut  nama Isa menurut RH.Abbas Sahabuddin AM salah seorang keturunannya, adalah pemimpin  thoriqoh naqsyabadiyyah Kholidiyyah di gedong Asem Cianjur, meneruskan kiprah para pendahulunya.  Kiyai ini menuntut  ilmu dan berguru pada Sayyid Hasan, seorang keturunan Arab dari Johor Malaysia di Singapura.

Kemudian,  ia memperdalam thoriqoh naqsyabadiyyah kepada RH.Ibrahim, mertuanya dan saudara  ayahnya dalam usia 17 tahun, juga masih di Singapura, ketika usia menginjak 22 tahun, R.H. Muhammad Isa al Kholidi pergi ke Mekkah, untuk menuntut  ilmu dan menamatkan pelajaran thoriqoh naqsyabadiyyah Sayyidi Syeh Sulaeman Zuhdi seorang keturunan Turki dijabal Qubesy dan mendapat ijazah atau gelar Al Kholidi.

Sekembalinya ke Cianjur Guru Haji Isa atau yang kerap pula disebut juragan Isa, melanjutkan para pendahulunya memimpin pengajian dan penyebaran agama Islam. Disamping menjadi pimpinan thoriqoh naqsyabadiyyah saat itu, mewakili KH.R ma’mun Al Kholidi (mama Guru Waas) Menurut  Ketua DKC Cianjur, Deni Rusyandi ,  K.H.R. Muhammad Isa Al kholidi juga membangun Madrasah di atas kolam besar (Bale Kembang) di Gedong  Asem sebagai tempat mendidik  anak-anak  perempuan, sekaligus tempat peribadatan dan berbagai kegiatan keagamaan  islam lainya. Seperti antara lain penyelenggaraan tadarus membaca al-qur’an berikut tajwidnya. Serta pengajian kitab kuning berikut terjemahnya (arti dan maksudnya).seluruh kegiatan tersebut dilaksanakan seusai solat subuh.

“Beragam kegiatan mengajar dan mendidik para santri khususnya dalam hal membaca Al Quran beserta tajwid lagamnya tersebut, akhirnya membuat nama Madrasah Gedong Asem Cianjur menjadi sangat terkenal bahkan hingga keluar daerah,” imbuhnya.(**)

referensi: radarsukabumi