Di telinga orang luar Cianjur, nama salah satu kabupaten di Jawa Barat ini tidaklah begitu asing. Mendengar nama Cianjur, orang akan mengaitkannya dengan banyak hal. Ada beras pandanwangi, ayam pelung, tauco, tembang Sunda Cianjuran, kesenian kuda kosong, dan tak lupa adalah manisan buah dan sayurnya.

Tembang lama berjudul Semalam di Cianjur yang dipopulerkan oleh almarhum Alvian juga mau menggambarkan betapa Cianjur bisa menjadi tempat yang sangat berkesan bagi siapa pun.

Eneng Saadah (39), warga Kampung Cimadu, Desa/Kecamatan Gekbrong, Kabupaten Cianjur, mengatakan, Cianjur adalah tempat lahir yang patut dikenang. Manisan sayur asli Cianjurlah yang membuat tempat kelahiran itu patut dikenang. Bagi Eneng Saadah, pembuatan manisan sayur merupakan warisan nenek moyangnya.

Seingatnya, nenek Saadah sudah membuat manisan itu sejak Saadah kecil. Sang nenek juga mengatakan, beberapa generasi di atasnya juga sudah mulai membuat manisan sayur.

Manisan sayur memang belum punya nama seterkenal manisan buah. Namun, manisan sayur ini ternyata masih mendapat tempat ketika bisnis manisan dari Cianjur memasuki masa suram. Sayuran yang bisa dipakai untuk manisan antara lain wortel, pepaya, labu, buncis, mentimun, dan buah singkong.

Saadah yang menjadi penerus pembuatan manisan itu memang tak melulu berbicara soal bisnis saat memproduksi manisan yang dijual antara Rp 23.000 hingga Rp 27.000 per kilogram. Produksi manisan memang harus mendatangkan pemasukan, tetapi itu bukan yang terutama bagi Saadah. “Yang jelas, saya ingin menghargai nenek moyang terhadap apa yang pernah mereka buat. Kami merasa masih terikat secara batin dengan nenek moyang kami setiap kali membuat manisan sayur ini,” katanya.

Tergerus zaman

Sebagai salah satu wujud penghargaan itu, Saadah masih tetap menggunakan tempat masak dari tembaga yang sudah digunakan oleh generasi pendahulunya sejak tahun 1900. Ia memang tak setiap hari menggunakan tempat masak dari tembaga itu karena kondisinya mulai rusak dan belum sempat dibetulkan.

Alat masak dari tembaga itu sudah beberapa kali diperbaiki, dan biayanya pun sudah lebih dari cukup untuk membeli barang yang sama. Namun, nilai uang perbaikan itu dirasa tak seberapa dibandingkan dengan ikatan batin yang kini tetap terasa.

Cianjur memang terkenal karena banyak hal. Seiring berjalannya waktu, eksistensi Cianjur perlu dipertanyakan. Beras pandanwangi banyak ditemui yang tidak asli Cianjur. Tauco dan manisan mengalami nasib sama. Kesenian kuda kosong tak lagi dipertontonkan.

Meredupnya eksistensi Cianjur itu tak harus disikapi dengan menyalahkan siapa pun. Namun, justru harus disikapi dengan sadar bahwa arus zaman terus menggerus entitas budaya kita, bukan hanya di Cianjur. (agustinus handoko)

referensi : kompas.com