Dilakukan Sendiri-sendiri untuk Kepentingan Sendiri

Ngabungbang merupakan ritual yang dilakukan untuk meminta keselamatan, baik pribadi, keluarga juga lingkungan sekitar. Ritual ini identik dengan kegiatan penyucian diri menggunakan air dari tujuh mata air dan dilakukan tepat bulan purnama penuh. Namun, FMPSM serta HW Project mengubah tradisi tersebut tanpa mengurangi maknanya. Berikut penusurannya.

Laporan : ZULFAH ROBBANIA, Cianjur

ASAP dupa serta nyala obor menjadi pembuka ritual ngabungbang. Dua hal tersebut juga mengiringi langkah para apresiator mulai dari masyarakat hingga seniman dan budayawan. Mereka mendaki tiap tangga Situs Gunung Padang, Cianjur, menuju teras satu yang menjadi panggung doa bersama malam itu.

Bulan purnama belum muncul sempurna, karena tertutup awan tipis. Nampaknya hal tersebut tak menjadi penghalang untuk dilaksanakannya ritual yang bertujuan untuk meminta keselamatan.
Dibuka lewat puisi, kemudian tari, musik hingga monolog, ritual ngabungbang tak kehilangan makna. Rangkaian tampilan karya para seniman serta budayawan ini mampu membawa penonton larut dalam doa, sebagaimana inti dari ritual ini.

“Terlepas dari berbagai kontroversi Gunung Padang, melalui kegiatan malam ini kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk seimbang. Bulan purnama adalah titik di mana bumi dalam kondisi tidak stabil, lewat doa, kita berupaya untuk menstabilkannya. Namun, ada sedikit perubahan dalam ritual biasanya, kita mengganti tujuh mata air untuk menyucikan diri dengan tujuh seniman dan budayawan lewat karya yang ditampilkan, tanpa mengurangi makna,” terang Hilda Winar, Koordinator HW Project.

Dengan penuh harap Hilda mengungkapkan, melalui kegiatan ini kestabilan ataupun keseimbangan yang didapatkan akan turut serta membawa perubahan dalam diri menjadi lebih baik.

Melihat sekilas cerita penduduk setempat, ritual ngabungbang meski dilakukan tiap tahun, namun diakui tidak pernah dilakukan secara bersama-sama. Ritual tersebut hanya dilakukan sendiri-sendiri, untuk kepentingan sendiri juga.

“Ini bisa dikatakan pertama kali. Soalnya, baik masyarakat di sini maupun di luar Gunung Padang, tidak pernah melakukan acara ngabungbang secara beramai-ramai. Mudah-mudahan bisa terus dilakukan ke depannya. Karena inti dari acara ini adalah doa bersama, sehingga sedikit banyak akan meruntuhkan anggapan bahwa Gunung Padang adalah tempat pemujaan,” pungkasnya.(**)

referensi: radarcianjur