Filosofi Daerah yang Diakui Dunia Internasional

Kekhasan Cianjur, tidak hanya berkutat dengan tauco dan manisan. Sebab, salah satu ciri khas kota perlintasan ini juga terdapat pada sisi kerajinan, dan telah diakui ditingkat Internasional. Kerajinan apakah itu? Simak penuturannya.

Astri Dwi Andriani, Jalan Suroso

Batik Beasan, banyak masyarakat Cianjur yang belum mengetahui warisan budaya Cianjur yang satu ini. Sebuah kepanjangan dari beras yang berarti beas dalam Bahasa Sunda. Sebuah motif yang sarat dengan filosofis kehidupan.

Beas, yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan beras, adalah buah padi yang diproses. Dan Cianjur, terkenal dengan berasnya yang besar dan harum yang dikenal varietas Jawu Dwipa (Pandanwangi).

Sebelumnya, Pandanwangi memang telah dikenal di dunia Internasional dengan rasanya.

Walaupun belum ada penelitian secara khusus, kontur tanah yang bisa menghasilkan beras Pandanwangi hanya terdapat di dua tempat belahan dunia, yaitu di tanah Siberia, dan tanah Cianjur. ”Tepatnya terletak di Kecamatan Warungkondang,” singkat Camat Warungkondang Hendri Prasetiadi AP MM kepadaCianjur Ekspres.

Berdasarkan hal tersebut, maka diangkatlah tema beras atau beas untuk mempertahankan keberadaan dan ketenaran Beras Pandanwangi. Dan beas atau beasan dijadikan nama paten dan digunakan seluruh motif Batik Beasan khas Cianjur.

Menurut Iim Imamudin GS, desainer sekaligus instuktur sentra Batik Tulis Beasan, simbol dari gambar tersebut memiliki makna filosofis tersendiri. Selain dari keberadaannya yang mewakili Cianjur, Batik Beasan juga dipandang mewakili Beras Pandanwangi.

Meski demikian, untuk memperkaya motif, Iim pun rupanya tidak monoton dalam berkreasi. Banyak motif lainnya seperti kumpulan atau satuan akar pohon, batang pohon, daun, pucuk bunga, bunga dan buah Padi yang dipadukan dengan unsur budaya, kesenian, alam dan lingkungan keberadaannya seperti hamparan sawah, sungai, air, pohon–pohonan, bukit, gunung, dan awan.

“Selain motif beras yang berserakan, disini juga terdapat motif lain seperti motif unsur sawah yang berpetak-petak, tangkai padi, bunga padi, kecapi, suling, dan gendang yang dipagari. Hal tersebut mengandung filosofi kalau warisan buadaya Indonesia, khususnya di Cianjur harus dijaga dengan baik. Supaya tidak direbut oleh bangsa lain,” paparnya.

Berkat keuletan dan perjuangan berbagai pihak, akhirnya 2 Oktober 2009, diprakarsai oleh Lembaga Pengkajian Pengembangan dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat (LP3EM) Cianjur sekarang telah disahkan oleh pemerintah pusat dan dunia sebagai warisan budaya asli dari Indonesia dan diakui oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

Sebuah pencapaian yang tidak mudah. Untuk tetap mempertahankan dan mengembangkan Batik Beasan, kata Iim sejak tahun 2008, sejumlah dinas seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Dinas Pariwisata, Dinas Koperasi, dan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Cianjur, aktif mengadakan pelatihan pada warga dari tujuh kecamatan yang ada di Cianjur. Seperti Karang Tengah, Sukaluyu, Cianjur, Gekbrong, Warung Kondang, Cugenang, dan Cipanas.

“Dalam pelaksanaannya, pembinaan dan pelatihan tersebut diadakan selama tiga bulan. Dalam satu tahun biasanya diadakan dua kali. Sampai saat ini, terdapat 160 warga yang aktif membuat batik tulis beasan,” terang Iim.

Untuk lebih melestarikan Batik Beasan, LP3EM bekerja sama dengan Koperasi Batik Beasan Cianjur akan mengadakan Lomba Design Batik Beasan Cianjur dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Cianjur (HJC) yang akan digelar Juni mendatang. Lomba ini rencananya akan dibuka untuk berbagai kalangan, dari mulai TK hingga mahasiswa atau umum. (*)

referensi: cianjurexpress