PULUHAN nelayan membawa bakul yang di dalamnya terdapat ratusan ikan mungil. Di depan mereka, seorang lelaki membawa dupa yang mengepulkan asap. Dengan penuh takzim, ia berdoa. Segera saja, aroma magis tercipta di tepi Danau Jangari, genangan air yang sesungguhnya bagian dari Waduk Cirata, Kecamatan Mande, Kab. Cianjur, Minggu (11/4/2010).

Di tepi danau itu, Wakil Bupati Cianjur Dadang Sufianto secara simbolis melepas ikan-ikan mungil ke danau yang sebelumnya sudah diberi doa. Sejumlah nelayan, kemudian, menggelar prosesi serupa di tengah danau. Itulah ritus Ngayak Burayak yang merupakan bagian dari Festival Jangari.

Tatang Setiadi, sesepuh Perceka Art Centre mengatakan, ritus Ngayak Burayak merupakan inti dari penyelenggaraan Festival Jangari yang kali ini bertema “Ngalokat Cai Sangkan Suci, Ngalukat Lemah Malar Wa-luya”. Tujuannya menjaga kelestarian ekosistem danau dari pencemaran lingkungan. Apalagi, di sana, di danau itu, ribuan warga menggantungkan kehidupan dengan menjadi nelayan, tukang perahu, peternak ikan, dan sebagainya.

“Sayangnya, kita semua hanya mengeksplorasi, tanpa memedulikan kebersihan dan kenyamanan danau,” katanya. Oleh karena itu, melalui ritus Ngayak Burayak, ia coba menggugah semua komponen untuk memelihara danau.

Rangkaian Festival Jangari sudah dimulai sejak pagi, ditandai dengan acara khitanan massal yang diikuti enam puluh anak dari keluarga tidak mampu di sekitar Danau Jangari. Rangkaian berlanjut dengan pergelaran sejumlah kesenian, seperti sisingaan, tari kreasi kuda kosong, dan pelung manggung. Selain itu, dipergelarkan pula atraksi kuda renggong dari Cimala-ka, Kab. Sumedang. Berbagai lomba digelar pula, di antaranya lomba bakar ikan.

Rangkaian festival berlangsung hingga petang. Tak hanya kesenian tradisional, hiburan musik dangdut dan sejumlah grup band dari Jakarta pun ditampilkan di sana. Seluruh rangkaian acara ditutup tablig akbar dan doa yang dibawakan ulama sekaligus budayawan asal Majalengka, K.H. Maman Imanulhaq Faqih.

PEMERINTAH Provinsi Jawa Barat menyatakan siap membantu penataan objek wisata air Waduk Cirata di Jangri. Hanya, harus ada kerja sama atas dasar kebersamaan antara Pemkab Cianjur dan Pemprov Jawa Barat. Demikian disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat Herdiwan ling Suranta, Minggu (11/4/2010), saat memberikan sambutan pada acara “Festival Jangari”. Dia mengatakan, bentuk kerja sama nantinya harus diawali dengan pembuatan konsep oleh Pemprov Jabar dan Pemkab Cianjur. Mengacu kepada penyelenggaraan festival yang meriah, menurut dia, potensi wisata air di Jangari bisa dikembangkan. Selain pergelaran seni, sejumlah objek hiburan lainnya bisa dikembangkan, seperti memancing. Apalagi, jarak Jangari tak begitu jauh dari Jakarta.

Kendati demikian, ia berharap, bila kena sama jadi dilaksanakan, seyogianya pemprov dilibatkan, mulai dari konsep hingga penataan kawasan wisata. Soalnya, nanti, objek wisata tersebut akan dipromosikan ke berbagai daerah dan negara sehingga warung-warung dan lapangan parkir harus ditata rapi, Jangari sampai terlihat kumuh.

Wakil Bupati Cianjur Dadang Sufianto menyambut baik niat Pemprov Jabar yang akan membantu penataan Jangari. Pada kesempatan itu, Dadang juga mengatakan rencananya bahwa Festival Jangari akan digelar secara periodik menjadi agenda tahunan. Ia menilai, festival itu cukup potensial untuk mendorong berkembangnya wisata air di Jangari Kecamatan Mande Kabupaten Cianjur. Dia berharap, Festival Jangari bisa terus mengedepankan sajian budaya dan kearifan lokal seperti yang ditampilkan pada festival kali ini Ngayak Burayak, ngalokat cai, kuda renggong, dan jenis-jenis kesenian lainnya. Satu hal paling penting, masyarakat merespons positif penyelenggaraan Festival Ja-ngari. Dengan begitu, semua bisa bersama-sama ikut serta menjaga keasrian lingkungan diJangari. (Yusuf Ad-ji/”PR”)

referensi: PR