Pembinaan Seni Mamaos Cianjuran di Sanggar Perceka

Pembinaan Seni Mamaos Cianjuran di Sanggar Perceka

Seni Tembang Sunda Cianjuran merupakan salah satu jenis kesenian yang menjadi ikon kota Cianjur. Dikembangkan sejak 200-an tahun lalu sebagai kesenian kelas atas, konsumsi para dalem (ningrat). Namun demikian, peran seni Cianjuran kini telah bergeser seiring dengan perkembangan sosial masyarakat. Jika dahulu Cianjuran hanya dapat dinikmati secara terbatas oleh kalangan para ningrat, kini seluruh masyarakat pun dapat menikmati seni Cianjuran.

Seni tembang Cianjuran sendiri di daerah Cianjur lebih sering disebut dengan mamaos. Ratusan karya (lagu dan iringan musik) dalam genre seni ini telah diciptakan. Penikmat dan pelakunya pun kini tersebar di berbagai daerah di Jawa Barat, bahkan di beberapa negara luar.

Namun demikian, pembianan dan regenerasi seniman mamaos, terutama generasi muda, tampaknya kurang begitu mendapatkan perhatian. Khususnya di Cianjur, lembaga atau komunitas (sanggar, lingkung seni dsb.) yang melakukan pembinaan seni mamaos dapat dihitung jari.

“kaul” (partisipasi) dalam kegiatan Panglawungan Seniman Tembang Sunda Cianjuran se-Kabupaten Cianjur

Sanggar Perceka adalah salah satu tempat pembinaan seni mamaos yang cukup eksis di Cianjur. Kiprah Sanggar Perceka dalam pembinaan mamaos telah berlangsung puluhan tahun, dan melahirkan banyak generasi seniman mamaos, baik juru tembang maupun pengiring musiknya. Selain melahirkan pelaku seni mamaos, dari perintisan awal, Perceka juga ikut berperan dalam membentuk beberapa komunitas seni yang berkecimpung dalam bidang seni Cianjuran di Cianjur.

Konsistensi dan kesungguhan Sanggar Perceka sebagai lembaga pembinaan seni Cianjuran telah diakui oleh pemerintah daerah. Pada tahun 2010, anugerah kehormatan diberikan oleh pemerinta h daerah Cianjur sebagai penghargaan atas peran Sanggar Perceka dalam pembinaan dan pengembangan seni mamaos Cianjuran.

Binaan-binaan Sanggar Perceka juga memiliki potensi yang cukup baik, sehingga mampu meraih prestasi pada lomba-lomba Cianjuran tingkat kabupaten maupun provinsi. Pada lomba tembang Cianjuran tingkat kabupaten pada tahun 2010, binaan Sanggar Perceka meraih prestasi sebagai Juara 2 kategori remaja putri, juara harapan 2 kategori dewasa putra, juara 2 kategori remaja putra, dan juara 3 kategori anak-anak putri. Tahun 2011 dalam event yang sama, binaan Sanggar Perceka meraih prestasi juara 2 kategori dewasa putri, juara 1 kategori remaja putra, juara 1 kategori remaja putri, juara 2 kategori anak-anak putri.

Prestasi yang paling monumental dan membanggakan dalam upaya membawa seni Cianjuran hingga tingkat dunia diraih pada tahun 2004, yaitu pada kegiatan 14th Spring Friendship Art Festival di Pyongyang Korea Utara. Pada kesempatan itu, seni tembang Cianjuran yang dibawakan oleh Tari Pinasti (saat usia 10 tahun) mampu meraih juara 2 dan mendapatkan tropi perak tingkat dunia, dari 56 negara peserta.

Latihan rutin di Sanggar Seni Perceka bersama Pak E. Nani Supriatna

Lebih dari sekedar untuk meraih prestasi dalam sebuah lomba, pembinaan seni mamaos Cianjuran yang dilakukan oleh Sanggar Perceka adalah sebuah upaya untuk melestarikan dan menumbuhkan bibit-bibit baru seniman mamaos. Oleh karena itu, aktifitas pembinaan tak berhenti sampai di situ, namun dilakukan secara berkelanjutan dan berkesinambungan.

Kegiatan pembinaan seni Cianjuran di Sanggar Perceka berlangsung hingga saat ini dengan agenda tetap. Dilaksanakan setiap hari sabtu sore di ruang utama Sanggar Perceka, Jl. Suroso No. 58 Cianjur. Materi tentang pengetahuan dan keterampilan tembang diberikan oleh Bapak E. Nani Supriatna, tokoh sesepuh seni mamaos Cianjur yang telah dikenal dan disegani di Jawa Barat.

Tertarik untuk ikut?
Silahkan datang ke Sanggar Perceka (Balai Belajar Bersama)
Yayasan Perceka Art Centre
Jl. Suroso No. 58 Cianjur (seberang Bank Mandiri Cianjur)
kontak person: 08193227949 (Tatang Setiadi)

referensi: percekaart

Dongeng Cianjur Kalahkan Aan Merdeka Permana

Dongeng Cianjur Kalahkan Aan Merdeka Permana

Buku Asal-usulna Hayam Pelung jeung Dongeng-dongeng Cianjur Lianna karya Tatang Setiadi mengalahkan empat buku bacaan anak-anak berbahasa Sunda karya Aan Merdeka Permana dalam perebutan untuk mendapatkan Hadiah Samsudi, penghargaan untuk bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda yang diberikan Yayasan Kebudayaan Rancage setiap tahunnya. Dalam keputusan yang disiarkan Ajip Rosidi, Ketua Dewan Pembina Yayasan Rancage, pada Selasa, 31 Januari 2012, buku Tatang dinyatakan sebagai penerima Hadiah Samsudi 2012.

Buku Tatang memuat sembilan dongeng tentang Cianjur, seperti asal-usul ayam pelung, tempat mandi badak putih, dan Gunung Padang, situs megalitikum yang sangat besar di Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Menurut Ajip, dongeng-dongeng itu dapat “diceritakan dengan menarik dan lancar” oleh Tatang dan “sangat menarik buat bacaan kanak-kanak”. Buku yang ilustrasinya dibikin R. Sacadipura itu diterbitkan oleh PT Kiblat Buku Utama, Bandung.

Tatang adalah seniman kelahiran Buah Batu, Bandung, pada 24 Desember 1954. Dia lebih dikenal sebagai penari dan koreografer Sunda profesional sejak 1972, tapi minatnya juga merambah ke berbagai kesenian lain, termasuk menulis pidato dan dongeng bahasa Sunda serta menciptakan ratusan lagu Sunda. Di rumahnya di Cianjur, Jawa Barat, dia mendirikan Yayasan Perceka Art Center, tempat dia melatih berbagai jenis kesenian Sunda kepada anak-anak.

Aan Merdeka Permana, pengarang yang terkenal melalui novel Trilogi Pajajaran, menerbitkan empat buku anak sepanjang tahun lalu, yakni Sasakala Situ Buleud, Sasakala Situs Gunung Padang, Sasakala Situ Wanayasa, dan Sangkuriang jeung Gunung Tangkuban Parahu.

Namun, keempat buku itu, kata Ajip, “memperlihatkan ketidakprofesionalan, baik dalam penyusunan cerita maupun dalam penerbitannya sebagai buku sehingga kurang baik kalau sampai ke tangan kanak-kanak”.

KURNIAWAN

referensi: tempo.co

Sakura Bermekaran di Cibodas

Sakura Bermekaran di Cibodas

Yang berkembang di Kebun Raya Cibodas (KRC) adalah Prunus cerasoides D.Don (Rocaceas), berasal dari Himalaya. Istimewanya, kalau di tempat asalnya sakura biasa berbunga setahun sekali, di KRC yang selalu bersuhu sekitar 18 derajat Celsius, dapat berkembang dua kali setahun, sekitar bulan Januari-Februari dan Agustus-September.

Sejak 1971, di KRC ditanam pohon bunga sakura. Sakura memang mudah beradaptasi dengan iklim Cibodas, yang berlokasi di kaki Gunung Gede Pangrango, terletak pada ketinggian 1.300-1.425 di atas permukaan laut.

KRC didirikan lebih dari 1,5 abad lalu, tepatnya 11 April 1852, oleh Johannes Ellias Teijsmann. Dinamakan Bergtuin to Tjibodas, artinya Kebun Pegunungan Tjibodas. Telah gonta-ganti nama dan fungsi, kini KRC dengan areal seluas 125 hektare dijadikan unit pelaksana teknis Balai Konservasi Tumbuhan dari LIPI.

Dari belasan ribu koleksi yang ada, antara lain terdapat tanaman prunus penghasil sakura. Sebenarnya Indonesia yang kaya hayati memiliki sekitar 38 jenis prunus endemik. Sayang, prunus belum dikenal dan ditelaah, bahkan terancam punah karena habitatnya mengalami kebakaran hutan, penjarahan, dan sebagainya. KRC tepat untuk melestarikan dan meneliti prunus endemik itu.

Taman Sakura

Taman Sakura Cibodas 300x206 Sakura Bermekaran di Cibodas

Pada 2004 Kebun Raya Tsukuba di Jepang menghadiahkan pohon bunga sakura kepada Presiden Megawati. Sebelumnya pohon sakura di KRC ditanam tersebar dekat rumah kaca dan danau.

Sejak 16 April 2007, pada areal seluas 5.000 meter persegi, berlokasi di lembah, resmi dibangun Taman Sakura, ditanami 400 batang pohon sakura. Diharapkan kelak taman itu memiliki koleksi seluruh pohon jenis prunus endemik Indonesia.

Sekarang Taman Sakura sudah tertata indah, di dasar lembah terdapat sungai kecil, mengalir air dari pegunungan yang jernih dan dingin. Di sisi dan badan sungai dipasangi batu alam membentuk jeram-jeram dan air terjun yang sangat menarik.

Para pelancong dapat berjalan di jalan setapak, menyeberangi sungai melalui jembatan-jembatan kecil yang artistik, sambil menikmati sakura bermekaran. Sudah banyak warga Jepang, Korea, dan lainnya berdatangan melihat bunga sakura di Indonesia, yang dapat berkembang dua kali setahun.

Hanami

Sakura cibodas1 Sakura Bermekaran di Cibodas

Di Jepang, bunga sakura biasa ditanam berkelompok. Saat berbunga, semua pohon di suatu lokasi akan bermekaran secara bersamaan, daun-daun hijau rontok, tinggal terlihat sakura bergerombol indah sekali.

Sudah menjadi budaya orang Jepang senang memandangi sakura bermekaran, dikenal sebagai hanami. Mereka biasa berkumpul di bawah pohon sakura, berpesta makan, minum sambil bernyanyi, disebut enkai. Musim sakura bermekaran atau cherry blossom, bertepatan dengan tibanya musim semi, disambut seluruh warga Jepang dengan ceria, seakan mengawali kehidupan baru yang penuh harapan.

Banyak jenis pohon prunus yang termasuk dalam suku Rocaceas. Jenis Cerasoides yang tumbuh di KRC berbunga kecil dan berwarna merah muda. Bunga sakura di Jepang punya banyak varietas, bermacam warna, dan ada yang petalnya lebih dari lima helai. Pohon prunus bersifat deciduous atau daunnya berguguran disusul bunga bermekaran.

Reriungan

Memang indahnya sakura di Cibodas belum secantik di Jepang karena masih banyak daun hijau dan bunganya belum lebat. Namun, keelokan bumi Cibodas berlatarkan Gunung Gede Pangrango sungguh tiada tandingannya.

Kalau Anda belum pernah menikmati keindahan KRC, yang hanya berjarak 2,5 jam perjalanan dari Jakarta, ayo, jangan mau ketinggalan lebih lama lagi. Tahun 1977 UNESCO saja pernah menetapkan Cibodas sebagai salah satu cagar biosfer di Indonesia.

Diharapkan, Taman Sakura ini akan menjadi pusat koleksi prunus, bukan saja yang dari luar, tetapi lengkap pula dengan endemik Indonesia. Juga menjadi arena hanami dan bernostalgia bagi pelancong Jepang, serta menjadi tempat reriungan warga kita untuk menikmati lebatnya sakura bermekaran.

Indahnya!

Kebun Raya Cibodas

Didirikan pada tahun 1852 oleh Kerajaan Belanda.
Awalnya merupakan bagian dari Kebun Raya Bogor.
Berada pada ketinggian 1.425 meter diatas permukaan laut.
Luas area keseluruhan 125 hektar.
Mempunyai 10.000 koleksi tumbuhan yang berasal dari Amerika Serikat, China dan Australia.
Suhu normal 18 derajat selsius.
Curah hujan tahunan 3.380 milimeter.
Koleksi lainnya antara lain bunga kamelia, hidrangea dan azalea.

Karcis masuk :

Rp 6.000 per orang
Rp 15.500 per mobil
Telephone : (0263) 512233

referensi: Senior & LIPI (ref: potlot-adventure.com)

Wisata Air Terjun di Cibodas

Wisata Air Terjun di Cibodas

Satu dari banyak tujuan wisata alam di kawasan Puncak, Jawa Barat, ialah Kebun Raya Cibodas. Bila berangkat dari Jakarta, Kebun Raya Cibodas terletak sebelum Pasar Cipanas. Kebun Raya Cibodas bisa ditempuh melalui dua jalur, dari Simpang Tiga Paregrejen sejauh lima kilometer, dan dari Simpang Cibodas, dengan jarak kurang lebih sama.

penjual tanaman 300x168 Wisata Air Terjun di Cibodas

Taman wisata yang didirikan pada 1852 oleh Johannes Elias Teijsmann itu memanjakan pengunjung dengan berbagai pilihan. Bila ingin sekadar jalan-jalan, pengunjung bisa memutari lokasi kebun raya yang dipenuhi pohon-pohon rindang. Salah satu objek favorit ialah Araucaria Avenue, jalan setapak dari bebatuan yang dinaungi jajaran tumbuhan Araucaria.

Namun, bila ingin berwisata sambil menambah ilmu, bisa juga mampir ke Taman Lumut Cibodas. Taman Lumut Cibodas, sangat cocok dijadikan tempat belajar atau penelitian. Di dalam Taman Lumut, diperkirakan ada 216 jenis lumut dan lumut hati, yang dikumpulkan dari seluruh Indonesia.

menuju ciismun 199x300 Wisata Air Terjun di Cibodas

Selain Taman Lumut, Kebun Raya Cibodas juga menyimpan koleksi anggrek, rhododendron, kaktus, mawar, tanaman obat, dan lain-lain. Kebun Raya Cibodas, pada awalnya didirikan untuk menampung koleksi tumbuhan dataran tinggi tropis basah, seperti berbagai tumbuhan runjung dan paku-pakuan.

Satu kegiatan pelepas stres yang mengasyikkan dilakukan di Kebun Raya Cibodas adalah penjelajahan objek-objek wisata alam. Salah satu objek wisata alam yang relatif mudah dijangkau, yakni Air Terjun Ciismun, yang dituliskan Ci Ismun di papan petunjuk lokasi. Kehadiran air terjun ini bisa dibilang sebagai bonus tambahan bagi pengunjung yang menyempatkan waktu berkunjung ke Cibodas. Namun, untuk bisa menikmati keindahan air terjun setinggi 25 meter tersebut, pengunjung harus rela berjalan melintasi track (lintasan) berbatu.

air terjun ciismun 199x300 Wisata Air Terjun di Cibodas

Pepatah mengatakan, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Demikian pula, pengunjung Air Terjun Ciismun harus rela berjalan kaki selama kurang lebih 30 menit. Pengorbanan di lintasan yang terkadang menanjak itu akan terbayar lunas saat melihat keindahan Air Terjun Ciismun.

Jalur yang disediakan pengelola terbilang sangat bersahabat. Bebatuan kecil digunakan sebagai pijakan. Jadi, pengunjung hanya perlu mengikuti lintasan yang sudah ditata hingga ke lokasi air terjun.

Menapaki lintasan Ciismun juga tidak membosankan. Pemandangan kiri kanan di sepanjang jalan sangat indah. Lereng bukit yang terjal dan penuh pepohonan menjadi teman sempurna. Suara gemuruh air sungai yang kerap terdengar di sepanjang lintasan, adalah iringan musik alami yang meredam kebosanan, mengingatkan suasana sebuah pedesaan.

Berjalan santai di sepanjang lintasan juga tidak melelahkan. Jalur itu sangat bersahabat, tidak terlalu menguras tenaga. Lintasan tersebut juga aman untuk semua golongan usia, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Di antara pengunjung pada Minggu pagi di akhir Maret itu, misalnya, terlihat pasangan muda dengan anak-anak balita mereka.

keindahan panorama 300x199 Wisata Air Terjun di Cibodas

Pada jarak sekitar 500 meter dari titik awal, pengunjung bisa bernapas sejenak di tempat peristirahatan. Sambil meluruskan kaki, pengunjung bisa menikmati hangatnya teh dan kopi atau menyantap mi rebus. Dari tempat peristirahatan itu, Air Terjun Ciismun sudah terlihat.

Cibeureum

Dari jarak sekitar 100 meter, air terjun seperti butiran permata yang jatuh. Air Terjun Ciismun diapit Bukit Agropolitan dan Bukit Cibodas. Bila dipandang dari kejauhan, air terjun seperti tempat pertemuan dua bukit besar itu. Untuk bisa merasakan dinginnya air terjun, pengunjung harus melewati sungai dangkal yang penuh bebatuan.

pintu keluar 300x199 Wisata Air Terjun di Cibodas

Pada jarak lima meter tempat air terjun jatuh, hawa dingin terasa menggigit tulang. Untuk pengunjung yang berasal dari kota besar, dinginnya air terjun Ciismun bisa langsung membuat menggigil. Kenyataannya, hawa dingin tidak menyurutkan niat pengunjung mencicipi guyuran air. Beberapa pengunjung tampak mengambil posisi nyaman di bawah air terjun. Tidak malu-malu, lima pemuda bertelanjang dada mandi di air terjun. Pengunjung lainnya, cukup menikmati percikan air terjun dengan memilih duduk di atas bebatuan.

Di lokasi itu tersedia toilet untuk membersihkan diri seusai menikmati kesegaran air terjun. Bangunannya sederhana dan jumlahnya terbatas. Airnya yang jernih dan dingin, dijamin menyegarkan seluruh badan.

Di lintasan itu, bisa dijumpai bocah-bocah cilik yang menawarkan jasa angkut barang atau menemani pengunjung berjalan di lintasan.

Porter-porter cilik yang jumlahnya belasan itu sangat gigih menawarkan jasa. Mereka akan terus membujuk sampai pengunjung memberikan uang kecil sebagai upah. Tidak perlu banyak, cukup Rp 1.000 sudah bisa membuat mereka senang.

Sebut saja namanya Ujang, seorang porter cilik yang pantang menyerah menawarkan jasa antar kepada pengunjung. Sambil bercerita tentang hidupnya yang pas-pasan, Ujang mencoba mengambil hati pengunjung demi memperoleh upah.

“Uangnya buat beli buku sekolah. Ujang bisa mengantar atau membawakan barang sampai ke pintu keluar,” paparnya kepada seorang pengunjung yang berjalan santai pulang ke pintu keluar Air Terjun Ciismun.

Selain Ciismun, objek wisata air terjun lain yang bisa dikunjungi adalah Air Terjun Cibeureum. Perjalanannya lebih menantang.

Air Terjun Cibeureum terletak di kawasan Taman Nasional Gede-Pangrango, yang berbatasan dengan Kebun Raya Cibodas. Perjalanan menuju Air Terjun Cibeureum, dapat ditempuh dalam dua jam perjalanan dari pintu masuk taman nasional.

Berbeda dengan Ciismun, jalur lintasan menuju Cibeureum menanjak. Perlu tenaga yang benar-benar fit untuk mencapainya. Namun, tenaga yang terkuras selama perjalanan, tidak akan sia-sia, karena air terjun Cibeureum tidak kalah mempesona dibandingkan Ciismun. Tirai air lebih lebar, karena dinding tebing tempat jatuhnya air lebih lebar daripada Ciismun.

Air terjun Cibeureum menjadi lokasi favorit persinggahan bagi para penjelajah dalam pendakian ke Gunung Gede. [SP/Kurniadi-Elvira Anna Siahaan / www.suarapembaruan.com]

referensi: potlot-adventure.com

Jangari, Keramba Terapung Ikan Mas

Jangari, Keramba Terapung Ikan Mas

Ini merupakan keramba terapung tempat pemeliharaan ikan air tawar. Lokasinya di Waduk Jangari, Cianjur, Jawa Barat. Waduk ini memang merupakan tempat pembesaran ikan air tawar. Salah satu primadona ikan air tawar yang dipelihara disini adalah ikan mas. Ikan yang dipelihara di waduk ini memiliki kelebihan tersendiri, selain ikannya cepat besar, dagingnya juga tidak berbau lumpur.

Waduk Jangari di Cianjur dapat dicapai dari Jakarta melalui jalan Tol Jagorawi. Selepas pintu Tol Ciawi mengambil arah ke puncak. Lalu menuju kota Cianjur. diteruskan ke Waduk Jangari. Setiba di waduk, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan perahu.

Perjalanan menuju keramba terapung yang terletak di tengah waduk terasa menyenangkan. Air waduk yang tenang dan pemandangan yang indah, membuat perjalanan tidak terasa melelahkan. Setiba di tengah waduk, pemandangan keramba terapung milik petani bertebaran di mana ? mana.

Keramba Terapung Ikan Mas

Di waduk dengan kedalaman lebih dari 30 meter ini, terdapat ribuan keramba terapung tempat pemeliharaan ikan air tawar.

Di keramba terapung ini Haji Hasan melakukan pembesaran ikan mas. Disini terdapat sekitar 100 jaring, dengan ukuran masing-masing jaring 10 kali 10 meter. Jaring terapung disini dapat menampung 15 ribu hingga 30 ribu ekor bibit ikan mas.

Di jaring terapung ini hanya dilakukan proses pembesaran ikan mas. Bibitnya didatangkan dari tambak pembenihan di darat. Anak ikan mas yang dibesarkan disini mulai dari usia satu minggu. Pemeliharaan ikan mas di jaring terapung semacam ini memerlukan bibit sekitar 1 kwintal.

Ikan diberi makan berupa pelet dua kali sehari, pada pagi dan sore hari. Dari anakan ikan hingga berkembang siap panen, menghabiskan pakan sekitar 2 ton. Setelah dipelihara sekitar 3 bulan, ikan mas siap dipanen. Pemasarannya ke sekitar wilayah Jawa Barat, Jakarta dan Banten.

Para pembelinya selain pedagang pasar, juga pengelola kolam pemancingan dan restoran. Setelah melihat pemeliharaan ikan mas di jaring terapung, saya ingin merasakan kelezatan daging ikan mas yang dipelihara disini. Kebetulan, pak Haji Hasan telah menggorengkan ikan mas untuk saya cicipi. Rasa daging ikan mas ini memang lezat. Selain gurih juga tidak berbau Lumpur. Wajar saja bila ikan mas yang dibesarkan di waduk jangari ini sangat laku di pasaran.(Helmi Azahari/Ijs)

referensi: www.indosiar.com

“Ngalokat Cai” di Tepi Jangari

“Ngalokat Cai” di Tepi Jangari

PULUHAN nelayan membawa bakul yang di dalamnya terdapat ratusan ikan mungil. Di depan mereka, seorang lelaki membawa dupa yang mengepulkan asap. Dengan penuh takzim, ia berdoa. Segera saja, aroma magis tercipta di tepi Danau Jangari, genangan air yang sesungguhnya bagian dari Waduk Cirata, Kecamatan Mande, Kab. Cianjur, Minggu (11/4/2010).

Di tepi danau itu, Wakil Bupati Cianjur Dadang Sufianto secara simbolis melepas ikan-ikan mungil ke danau yang sebelumnya sudah diberi doa. Sejumlah nelayan, kemudian, menggelar prosesi serupa di tengah danau. Itulah ritus Ngayak Burayak yang merupakan bagian dari Festival Jangari.

Tatang Setiadi, sesepuh Perceka Art Centre mengatakan, ritus Ngayak Burayak merupakan inti dari penyelenggaraan Festival Jangari yang kali ini bertema “Ngalokat Cai Sangkan Suci, Ngalukat Lemah Malar Wa-luya”. Tujuannya menjaga kelestarian ekosistem danau dari pencemaran lingkungan. Apalagi, di sana, di danau itu, ribuan warga menggantungkan kehidupan dengan menjadi nelayan, tukang perahu, peternak ikan, dan sebagainya.

“Sayangnya, kita semua hanya mengeksplorasi, tanpa memedulikan kebersihan dan kenyamanan danau,” katanya. Oleh karena itu, melalui ritus Ngayak Burayak, ia coba menggugah semua komponen untuk memelihara danau.

Rangkaian Festival Jangari sudah dimulai sejak pagi, ditandai dengan acara khitanan massal yang diikuti enam puluh anak dari keluarga tidak mampu di sekitar Danau Jangari. Rangkaian berlanjut dengan pergelaran sejumlah kesenian, seperti sisingaan, tari kreasi kuda kosong, dan pelung manggung. Selain itu, dipergelarkan pula atraksi kuda renggong dari Cimala-ka, Kab. Sumedang. Berbagai lomba digelar pula, di antaranya lomba bakar ikan.

Rangkaian festival berlangsung hingga petang. Tak hanya kesenian tradisional, hiburan musik dangdut dan sejumlah grup band dari Jakarta pun ditampilkan di sana. Seluruh rangkaian acara ditutup tablig akbar dan doa yang dibawakan ulama sekaligus budayawan asal Majalengka, K.H. Maman Imanulhaq Faqih.

PEMERINTAH Provinsi Jawa Barat menyatakan siap membantu penataan objek wisata air Waduk Cirata di Jangri. Hanya, harus ada kerja sama atas dasar kebersamaan antara Pemkab Cianjur dan Pemprov Jawa Barat. Demikian disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat Herdiwan ling Suranta, Minggu (11/4/2010), saat memberikan sambutan pada acara “Festival Jangari”. Dia mengatakan, bentuk kerja sama nantinya harus diawali dengan pembuatan konsep oleh Pemprov Jabar dan Pemkab Cianjur. Mengacu kepada penyelenggaraan festival yang meriah, menurut dia, potensi wisata air di Jangari bisa dikembangkan. Selain pergelaran seni, sejumlah objek hiburan lainnya bisa dikembangkan, seperti memancing. Apalagi, jarak Jangari tak begitu jauh dari Jakarta.

Kendati demikian, ia berharap, bila kena sama jadi dilaksanakan, seyogianya pemprov dilibatkan, mulai dari konsep hingga penataan kawasan wisata. Soalnya, nanti, objek wisata tersebut akan dipromosikan ke berbagai daerah dan negara sehingga warung-warung dan lapangan parkir harus ditata rapi, Jangari sampai terlihat kumuh.

Wakil Bupati Cianjur Dadang Sufianto menyambut baik niat Pemprov Jabar yang akan membantu penataan Jangari. Pada kesempatan itu, Dadang juga mengatakan rencananya bahwa Festival Jangari akan digelar secara periodik menjadi agenda tahunan. Ia menilai, festival itu cukup potensial untuk mendorong berkembangnya wisata air di Jangari Kecamatan Mande Kabupaten Cianjur. Dia berharap, Festival Jangari bisa terus mengedepankan sajian budaya dan kearifan lokal seperti yang ditampilkan pada festival kali ini Ngayak Burayak, ngalokat cai, kuda renggong, dan jenis-jenis kesenian lainnya. Satu hal paling penting, masyarakat merespons positif penyelenggaraan Festival Ja-ngari. Dengan begitu, semua bisa bersama-sama ikut serta menjaga keasrian lingkungan diJangari. (Yusuf Ad-ji/”PR”)

referensi: PR

Ada Harta Karun di Gunung Padang?

Ada Harta Karun di Gunung Padang?

Kontroversi proses ekskavasi Situs Megalitikum Gunung Padang di Desa Karyamukti, Campaka Cianjur, sejumlah warga berspekulasi, jika di lokasi situs yang dibangun di masa prasejarah tersebut bisa saja ada bangunan dan terdapat harta karun terpendam.

Pasalnya, pada pengeboran pertama oleh para akhi geologi dan budaya Kementerian Pendidikan Nasional, diketahui jika di bawah pundak ke empat situs terdapat ruangan yang kedap suara. Hal itu seperti dilakukan para budayawan yang menolak pengeboran tanpa ada izin warga sekitar dan masyarakat Cianjur beberapa waktu lalu.

”Coba anda dengarkan suara pada lubang sisa pengeboran, jika dimasukan benda padat seperti batu maka ada suara menggema dari dalam lubang, seperti ada sebuah ruangan di dalamnya,” kata Eko Wiwid aktivis lingkungan yang mengkritisi soal ekskavasi situs tersebut kepada wartawan, Rabu, (23/5).

Menurutnya, pengeboran yang sporadis tanpa mengindahkan aturan dan tata cara adat istiadat akan sangat berbahaya. Pasalnya, di lokasi situs masih dianggap rawan bencana.
“Kalau seperti ini sangat berbahaya bisa saja jadi longsor, karena dibongkar paksa,” terangnya.

Ekskavasi lanjutan juga disesalkan sejumlah pengamat sosial dan politik Cianjur Ujang Yusup. Menurutnya, dengan mau turunya Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB) Andi Arief diduga ada hal menarik dari keberadaan situs Gunung Padang, tidak hanya sebatas melakukan penelitian untuk mitigasi bencana di sekitar situs.

”Ya bisa saja ada hal menarik seperti ada dugaan harta karun di bawah situs berundak, karena anehnya Andi Arief, yang jelas-jelas sebagai Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana mau-maunya terjun langsung dan menjelaskan tentang rencana ekskavasi situs. Yang aneh lagi ibu negara Ani Yudhoyono akan segera mengunjungi lokasi dan telah mendapat restu dari Presiden SBY,” terang Yusup.

Sekadar diketahui, telah dibentuk Tim Terpadu Penelitian Mandiri Gunung Padang. Tim terpadu yang terdiri dari arkeolog, sejarawan, filolog, geolog, dan sejumlah ahli ini terdiri dari 30 orang dengan berbagai latar belakang. Andi Arief bersama rektor UI Gumilar Sumantri dan ahli lainnya duduk sebagai tim pengarah. Sedangkan untuk tim teknis, dikomandoi oleh Arkeolog UI Ali Akbar dan Danny Hilman untuk urusan geologi.

Sementara itu, jika menengok berbagai literatur keberadaan situs Megalitik Gunung Padang sebenarnya sudah ditemukan sejak lama. Meski baru buming ketika muncul isu ada piramida besar di situs itu. Situs ini ditemukan pertama kali oleh warga Belanda bernama NJ Krom pada 1914. Namun, Pemkab Cianjur baru melakukan konservasi pada 1979.

Setelah ditemukan NJ Krom pada 1914, pemerintah Belanda sebenarnya sempat mencatat situs megalitikum ini. Namun, Belanda hanya mencatat tanpa ada tindak lanjutnya. Pada tahun 1979 ada tiga perwakilan warga setempat yang melaporkan temuan tersebut dan selanjutnya dikonservasi oleh pemerintah.

Kini, situs megalitikum ini menjadi perbincangan hangat di kalangan arkeolog, karena diduga menyimpan misteri piramida di bawahnya. Situs megalitik Gunung Padang berupa struktur punden berundak yang tersusun rapi dari batuan andesit. Lokasi situs berada di perbukitan yang dikelilingi gunung-gunung.

Menaiki puncak gunung, pengunjung diberikan dua pilihan rute tangga untuk mendakinya. Tangga pertama merupakan tangga asli dan satu kesatuan dari konstruksi punden berundak. Kontur pendakian akan sedikit menguras tenaga karena tingkat kecuramannya. Jumlah anak tangga yang harus dilalui adalah 378.

Di rute ini pengunjung akan melihat susunan anak tangga berukuran 1,5 meter dan tinggi sekitar 25 sampai 30 centimer. Susunan batu terlihat melintang dan diapit oleh batuan lainnya di kiri kanan anak tangga. Diduga susunan kiri kanan anak tangga sebagai penahan longsoran bila sewaktu-waktu terjadi aktivitas pergerakan tanah di kawasan tersebut.

Secara letak, gunung ini dikelilingi gunung dan perbukitan. Di bagian utara terlihat hamparan kemegahan Gunung Gede. Di bagian barat terdapat Gunung Karuhun dan Pasir Emped. Selatan terdapat Gunung Malati, di timur terdapar Gunung Pasir Malang. Bila mencapai puncak, terdapat lima teras yang terhampar di puncaknya.

Arkeolog UI, Ali Akbar, yang turut serta meneliti situs ini menuturkan pihaknya belum bisa memprediksi usia batuan yang ada di situs ini. Namun dia menduga situs ini sudah ada sejak zaman pra sejarah.(*/nag)

referensi: radarcianjur

Manisan Cianjur

Manisan Cianjur

Kalau dengar kata Cianjur, orang pasti mengkaitkannya dengan beras, tauco, dan juga manisan buahnya. Salah satu kabupaten di Jawa Barat ini memang cukup terkenal sebagai sentra kuliner sejak lama. Salah satunya yang cukup banyak diminati adalah manisan. Yuk, simak serunya belanja manisan Cianjur!

Siapa orang yang tidak kenal dengan manisan buah? Hampir semua orang pernah mencicipi manisan buah. Jenis manisan buah pun bermacam-macam, ada yang manisan salak, jambu, mangga, cermai, pala, pepaya dan juga kedondong. Selain itu, rasanya juga beragam ada yang manis saja tapi ada pula yang pedas manis.

Kalau berjalan-jalan di kota Cianjur, hampir di setiap sudut kota ada saja penjual manisan buah dan sayur. Biasanya manisan-manisan ini ditaruh di toples beling berukuran besar, dan biasanya lagi dijual per kilo. Manisan buah ini dibuat selalu baru oleh penjualnya. Yah, meskipun ada saja penjual yang nakal yang menyajikan manisan-manisan ini tidak segar lagi.

Manisan buah paling enak disantap saat siang hari, ketika cuaca tengah terik. Dan biasanya disajikan dalam keadaan dingin. Simpan manisan buah ini dalam lemari pendingin. Dan keluarkan ketika akan disantap. Manisan buah ini juga cocok dijadikan oleh-oleh untuk keluarga dan kerabat di akhir pekan ini.

referensi: detikfood

Kripik Sayuran Khas SMKN 1 Pacet Cianjur

Kripik Sayuran Khas SMKN 1 Pacet Cianjur

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tak hanya hebat dalam mengotak-atik mesin dan membuat bermacam-macam kendaraan tapi juga jago berwirausaha. Siswa SMK Negeri 1 Pacet, Cianjur, Jawa Barat sukses menjalankan bisnis aneka keripik dari daun daunan sisa hasil panen.

Para siswa selain mendapatkan bekal teori juga langsung mempraktekkan pengetahuan dan teknologi pengolahan hasil pertanian, dari mulai produksi hingga proses pemasarannya. Kemampuan para siswa SMK ini antara lain membuat beraneka macam kripik dari daun-daunan dan manisan sayuran serta buah-buahan. Modal awal diberikan oleh sekolah. Keripik daun wortel menjadi salah satu yang paling favorit.

Menurut guru kewirausahaan SMK Negeri 1 Pacet, Cianjur, Nandang Jauharudin, para pendidik akan merasa bangga jika para alumninya bisa menjadi wirausaha yang berhasil dan tidak kesulitan mencari pekerjaan. (Vin)

referensi: liputan6.com

Basa Sunda: Titi Mangsa

Basa Sunda: Titi Mangsa

Lamun ayeuna mah jigana titi mangsana tos teu puguh da cuacana oge tos robih pisan atawa anu disebat populer na mah “global warming” tea, ngan ari ceuk budak baheula kolot ayeuna dina sataun urang sunda mah ngagaduhan titi mangsa, nyaeta:

Kasa (kahiji)

Mangsa kahiji mimitina ti tanggal 21 Juni nepi ka 31 Juli, lilana 41 poé. Cicirénna: angindatangna ti kalér wétan, loba tatangkalannu murag dauna,sato-sato laleutik kayaning jangkrik jeung sajabana endogna malegar, kaayaan hawa ti berang karasana kacida panasna ari ti peuting tiris, lauk di walungan henteu laliar, kaayaan taneuh panas, béntang wuluku aya di beulah wétan, kalangkangna nepi ka kidul. Mangsa ieu mah lain waktu keur tatanén sabab usum halodo.

Karo (kadua)

Mangsa kadua mimitina tina tanggal 1 Agustus nepi ka tanggal 23 Agustus, lilana 23 poe. Perlambangna: beutule rengko tanah beulah. Cicirenna: Angin datangna ti kidul kaler nuju ka kulon, ti beurang tetep panas ti peuting tiris, taneuh gararing nepi ka beulah, solokan, walungan, jeung sumur caina orot, kadang-kadang aya anu saraat, tatangkalan barijil daun anyar (pucukan) saperti tangkal karet, atawa jeruk, isuk-isuk bentang wuluku aya di wetan, tatangkalan bungbuahan mimiti karembangan. Nu pepelakan palawija ngurangan, kajaba nu umurna pondok saperti bonteng, jaat, atawa oyong. Patani mimiti miara solokan pikeun kapentingan sawahna.

Katiga (katilu)

Katiga (katilu). Mangsa katilu mimitina ti tanggal 24 Agustus nepi ka tanggal 16 September, lilana 24 poe. Perlambangna: akar-akar mimiti barijil. Cicirenna: angin datangna ti kaler, hawa mimiti tiis tapi karasana seger, tatangkalan daraunan, palawija sedeng dipanen (diala hasilna), di sawah rata-rata nyurup caina tapi tempo-tempo geus aya anu tebar pare. Mangsa ieu waktuna pamupukan pepelakan anu umurna panjang saperti kalapa, kadu, rambutan, peuteuy, cai, jeung sabangsana.

Kapat (kaopat)

Kapat (kaopat). Mangsa kaopat mimitina ti tanggal 17 September nepi ka tanggal 11 Oktober, lilana 25 poe. Perlambangna: gumading resmi (gumbira). Cicirenna: Angin datangna ti kulon niupna muter nimbulkeun hujan atawa datangna hujan, mimiti kadenge sora gugur, sasatoan anu sukunaopat baleger (birahi), manuk-manuk nyarieun sayang rek ngendog, lauk di walungan tina liang-liang leuwi kalaluar (liar), tangkal randu baruahan tempo-tempo geus aya anu kolot buahna, gadung mimiti nyareng, patani sibuk panen palawija jeung ngagarap sawahna.

Kalima

Mangsa kalima mimitina ti tanggal 12 Oktober nepi ka tanggal 7 Nopémber, lilana 27 poé. Perlambangna: pancuran sumawir ing jagat (usum hujan). Cicirénna: Angin niupna tarik, datangna ti kalér kulon bareng jeung hujan, ari hujan datangna soré-soré atawa isuk-isuk, tatangkalan loba anu raruntuh kaanginan, siraru mimiti kalaluar tina hunyurna, oge bongborosan mimiti jadi, tangkal asem mimiti bijil daun anyar, patani giat ngurus huma, sabangsa oray jeung ulam mimiti kalaluar, ogé laleur halaliber. Tebar paré jero bulan Nopémber. Sawah mimiti ditanduran, sabagian patani sibuk ngatur ngagarap sawahna, ogé tebar. Béntang wuluku katémbongna pasosoré. Mangsa ieu waktuna ngagarap sawah.

Kanem (kagenep)

Mangsa kagenep mimitina ti tanggal 18 Nopémber nepi ka tanggal 20 Désémber, lilana 43 poé. Perlambangna: nikmating rasa (ngarasakeun kanikmatan). Cicirénna: Angin niupna tarik, datangna ti kulon, hujan loba, buah rambutan, kadu, dukuh, manggah geus arasak. Béntang wuluku katémbong pasosoré, sawah anu cukup caina waktuna dirambét munggaran, malah di pagunungan mah masih aya kénéh nu keur ngagarap sawahna, sabangsa kutu kuya getok, peupeundeuyan keur arendogan.

Kapitu (katujuh)

Mangsa katujuh mimitina ti tanggal 21 Désémber nepi ka tanggal 1 Pébruari, lilana 43 poé. Perlambangna: guci pecah ing lautan (guci beulah di laut). Cicirénna: Hujan loba nepi ka timbul banjir, di sawah pagunungan bisa ditanduran, angin datangna ti kulon sarta teu tetep, hawa tiis, cai di sawah ngarepér saperti ngagolak, hiji tanda yén taneuh masih panas, sabangsa manuk teu pati disarada, kini-kini, kuang-kuang, getok jeung peupeundeuyan aranakan, béntang wuluku katémbongna pasosoré. Biasana dina mangsa ieu usum panyakit. Di sawah pagunungan masih aya nu keur talandur; jagong jeung kacang di huma meujeuhna diala hasilna.

Kawalu (kadalapan)

Mangsa kadalapan mimitina ti tanggal 2 Pébruari nepi ka tanggal 28 Pebruari, lilana 27 poé. Perlambangna: puspo anjrah (jeroning kayung seungit sajeroning haté). Cicirénna: angin datangna ti kalér kulon niupna muter, hujan mimiti rada ngurangan, sabangsa bangbung, légé, kutu kuya hihiberan ka ditu ka dieu, kuuk kalaluar, ucing balalegér. Dina mangsa ieu waktuna pepelakan umur panjang. Paré di huma mimiti bareukah.

Kasongo (kasalapan)

Mangsa kasalapan mimitina ti tanggal 1 Maret nepi ka tanggal 25 Maret, lilana 25 poé. Perlambangna: wedaling wacono (timbul babasaan). Cicirénna: angin datangna ti kidul, témpo-témpo isuk-isuk sarta ngaruksak kana paré nu keur beukah, hujan beuki kurang tapi sora gugur loba, tongeret kasir disarada. Loba panyakit panas, koreng, atawa nyeribeuteung. Paré huma geus konéng sarta aya nu keur dipanén, nya kitu deui di sawah sawaréh geus mimiti dipanén.

Kadasa (kasapuluh)

Mangsa kasapuluh mimitina ti tanggal 26 Maret nepi ka tanggal 17 April, lilana 23 poé. Perlambangna: gedong ukeb jeroning kalbu (gedong jero haté). Cicirénna: angin datangna ti wétan kidul, sasatoan keur rareuneuh, sabangsa manuk récét disarada, sawaréhna nyarieun sayang. Di pagunungan paréna geus arasak sarta sawaréh paranén, anu subur ku cai mah sawahna keur digarap, sarta mimiti tebar.

Desta (kasawelas)

Mangsa kasawelas mimitina ti tanggal 18 April nepi ka tanggal 10 Mei, lilana 23 poé. Perlambangna: pamungkas sinorowedi (patani sibuk panén). Cicirénna: angin datangna ti kidul wétan, hawa panas, jeung taneuh panas, hama kungkang mimiti ngaruksak pepelakan di sawah atawa di huma, tatangkalan mimiti daunna marurag. Mangsa ieu masih waktuna pepelakan palawija umur pondok. Di sawah sibuk tatandur atawa aya ogé anu malawija saperti melak bako,jagong, jeung sabangsana.

Sada (kaduawelas)

Mangsa kaduawelas mimitina ti tanggal 11 Mei nepi ka tanggal 21 Juni, lilana 41 poé. Perlambangna: tirta syaking saseno (cai ninggalkeun tempatna). Cicirénna: angin datangna ti wétan, hawa ti beurang panas, ari ti peuting tiis (tiris) teu pati kaluar kesang dangdaunan lalayu teu tahan panas, loba panyakit malaria, jalan ngebul, ari watek jelema babari napsu, datang hama paré. Mangsa ieu waktuna tebar nyadon atawa melak palawija.

referensi: cianjurcybercity