Siapa Decha ?

Siapa Decha ?

Siapa tidak kenal Decha ? dikutip dari http://id.wikipedia.org/wiki/Decha (14/01/2009) Decha (lahir di Cianjur pada 15 Desember 1991) merupakan sebuah penyanyi dangdut berkebangsaan Indonesia yang berpasangan dengan Bunda Ade. Dia meraih juara pertamanya pada musim pertama dalam kompetisi StarDut. Dia kini duduk di kelas X SMA PGRI Cianjur. Dia lahir dan besar di Cianjur. Sedangkan orang tuanya berasal dari Cianjur. Dia berzodiak Sagitarius.

Rheza Purnamasari, demikian nama lengkapnya bersama Bunda Ade, ibunya, menjadi Juara I setelah juri vote lock memberikan dukungan sebanyak 141 poin kepada mereka di acara Kompetisi StarDut.

Sebagai Juara I, Decha dan Bunda Ade berhak mendapatkan piala dan hadiah uang Rp100 juta. Decha, menjelaskan uang itu akan dipergunakan untuk membantu perekonomian keluarga orang tuanya, biaya pendidikan, dan membantu fakir miskin dan anak yatim.

Decha pelantun lagu “Keenakan” ini merasa bersyukur kepada Tuhan dan berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung, secara khusus kepada Kepala Sekolah SMK 2 PGRI Cianjur, Jawa Barat, tempatnya belajar. karena menurut pengakuannya Decha belajar Vokal dari Kepala Sekolah SMK 2 PGRI Cianjur.

referensi: cianjurcybercity

Pawai, Dukung Dera Indonesia Idol

Pawai, Dukung Dera Indonesia Idol

Warga Cianjur memenuhi ruas jalan protokol di Cianjur Kota, Selasa (1/5/2012). Namun aksi mereka bukan dalam rangka memperingati Hari Buruh se-Dunia atau May Day yang jatuh tepat pada hari ini.

Sambil membawa spanduk dan poster, mereka meneriakan yel-yel. “Dukung Dera..Dukung Dera,” teriak pada peserta aksi. Ya, mereka merupakan penggemar finalis Indonesia Idol asal Cianjur Non Dera yang lolos ke babak 9 besar acara reality show di salah satu televisi swasta nasional. Masyarakat pun menamakan aksi mereka tersebut dengan nama Pawai Rakyat.

Hampir 9 kilometer mereka menyusuri ruas-ruas jalan protokol di Cianjur dimulai dari Jalan Perintis Kemerdekaan–Amalia Rubini–Mochamad Ali–Siti Jenab–Siliwangi dan berakhir di Jalan Pangeran Hidayatulloh (Lapang Prawatasari Joglo). Tanpa rasa lelah, sambil meneriakan yel-yel sepanjang perjalanan mereka meminta masyarakat memberikan dukungan kepada Non Dera.

Tidak hanya masyarakat, pejabat daerah sekelas bupati dan wakil bupati pun turun langsung memberikan dukungannya kepada Non Dera. Di babak final 10 besar, Wakil Bupati Cianjur Suranto bersama anggota DPRD Jimmi Perkasa Has pun menyempatkan diri menonton langsung Indonesia Idol di Jakarta. Sebuah dukungan yang mungkin bisa memberikan motivasi bagi dara asal Cianjur ini.

Seusai arak-arakan mendukung Non Dera, Bupati Cianjur Tjetjep Muchtar Soleh bersama isteri Yana Rosdiana berkesempatan menemui kedua orangtua Non Dera bersama para pendukungnya. Oleh panitia penyelenggara Tjetjep didaulat melepaskan seekor burung merpati sebagai simbol tersampaikannya pesan kepada seluruh dunia bahwa Cianjur memiliki talenta muda.

“Saya bangga ternyata Cianjur memiliki talenta-talenta muda dalam bidang seni. Dulu kita punya Decha yang menjadi juara dalam KDI (Kontes Dangdut Indonesia). Sekarang kita punya Non Dera, Finalis Indonesia Idol yang masuk dalam 9 besar. Saya yakin, Dera bisa menjadi juara Indonesia Idol,” kata Tjetjep disambut tepuk tangan warga Joglo, Selasa (1/5/2012).

Tjetjep mengaku sudah menginstruksikan para pegawai di seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) termasuk para camat untuk mendukung Non Dera melalui kiriman short messege service (SMS). Malahan Tjetjep juga sudah menginstruksikan apabila ada masyarakat yang ingin menyaksikan langsung penampilan Non Dera di Jakarta, jika tak gunakan bisa meminjam kendaraan Pemkab Cianjur.

“Masyarakat Cianjur itu jumlahnya lebih kurang 2,3 juta jiwa tersebar di 32 kecamatan, 354 desa dan 6 kelurahan. Pokoknya kita dukung Non Dera melalui SMS agar bisa menjadi juara Indonesia Idol,” tutur orang nomor satu di Kabupaten Cianjur ini.

referensi: inilahjabar

Cipanas Penyumbang PAD Terbesar Kab Cianjur

Cipanas Penyumbang PAD Terbesar Kab Cianjur

Keinginan masyarakat Cipanas memisahkan diri dari Kabupaten Cianjur dinilai wajar. Sebab, dalam sektor potensi pendapatan asli daerah (PAD) sektor pajak daerah, Kecamatan Cipanas merupakan penyumbang terbesar.

Dari lima wilayah kecamatan di Cianjur utara, total PAD sektor pajak daerah selama tahun 2011 mencapai Rp12,3 miliar. Kecamatan Cipanas sendiri merupakan wilayah penyumbang PAD terbesar dengan nilai mencapai Rp4,9 miliar.

Kepala Dinas Perpajakan Daerah Kabupaten Cianjur Dadan Harmilan melalui Kepala Bidang Bina Potensi Perpajakan Abdul Hanan Sukmana menyebutkan, selama tahun 2011, total potensi PAD Kabupaten Cianjur tahun 2011 tercatat sebesar Rp12,3 miliar, meliputi pajak hotel, restoran, hiburan, reklame, parkir, dan air tanah. Sebagian besarnya diperoleh dari wilayah di kawasan Cianjur utara.

“Total PAD yang diperoleh dari Kecamatan Cipanas, Pacet, Cikalongkulon, Cugenang, dan Sukaresmi mencapai Rp8,3 miliar atau sekitar 67% dari nilai potensi. Kecamatan Cipanas menjadi penyumbang terbesar yakni sebesar Rp4,9 miliar, Pacet sebesar Rp2,3 miliar, Cikalongkulon Rp522juta, Cugenang Rp344juta, dan Sukaresmi Rp184juta,” terang Hanan di ruang kerjanya, belum lama ini.

Hanan menyebutkan, pendapatan terbesar lima wilayah di Cianjur utara bukan hanya dalam sektor pajak daerah saja, tapi juga dalam sektor pajak bumi dan bangunan (PBB). Selama tahun 2011, total pemasukan PBB Kabupaten Cianjur mencapai Rp43 miliar.

“Hampir 50% atau sekitar Rp20 miliar disumbangkan lima kecamatan di wilayah utara, yakni Kecamatan Cipanas sebesar Rp8,6 miliar, Pacet Rp6,8 miliar, Cikalongkulon Rp2 miliar, Sukaresmi Rp1,7 miliar, dan Cugenang sebesar Rp1,4 miliar,” tuturnya.

Lebih lanjut Hanan menyebutkan, jika pendapatan dari lima kecamatan di wilayah Cianjur utara itu ditambah dengan sektor pajak penerangan jalan (PPJ) dan biaya perolehan hak tanah dan bangunan (BPHTB), maka persentase pendapatannya akan lebih besar. “Sektor PPJ dan BPHTB dari wilayah Cianjur utara ini memang cukup besar juga,” tukasnya.

Menyangkut realisasi PAD hingga pekan ke dua bulan April 2012, Dinas Perpajakan Daerah Kabupaten Cianjur telah berhasil menghimpun pendapatan sebesar hampir Rp14 miliar. Hanan optimistis target PAD sebesar lebih kurang Rp44 miliar selama tahun 2012 ini bisa tercapai jika melihat jangka waktu.

“Jika mengacu target berarti tinggal tersisa sekitar Rp30 miliar lagi. Baru empat bulan saja kami sudah mengumpulkan sekitar Rp14 miliar. Jadi hingga akhir tahun nanti, kami yakin target bisa terpenuhi, malah terlampaui,” pungkasnya.

referensi: inilahjabar

Slank Hibur Penggemarnya di Cianjur

Slank Hibur Penggemarnya di Cianjur

Ribuan Slanker dari berbagai wilayah di Jawa Barat, tumplek memadati Lapang Brajawijaya Markas Batalyon Infanteri Raider 300/RBK Cianjur, Senin (30/4/2012) petang mulai pukul 16.00 WIB.

Mereka antusias ingin menyaksikan langsung penampilan grup band Slank yang hadir dalam kegiatan Tour 25 Kota Xtraligi perjalanan spiritual bersama Ki Ageng Ganjur.

Grup yang digawangi Bim Bim (drummer), Kaka (vocal), Ridho (gitar), Abdi (gitar), dan Ivanka (bass) langsung menggebrak ribuan penggemarnya dengan hits mereka, Kuil Cinta. Disusul kemudian dengan tembang Mars Slank, SPK, Gara-gara Kamu, Virus, I Miss U But I Hate U, Balikin, Ku tak Bisa, Terlalu Manis, Orkes, dan ditutup dengan lagu Kamu Harus Pulang.

Sebelum tampil menyapa penggemarnya di Lapang Brajawijaya, para personel Slank ini menggelar Dialog Budaya bersama Ki Ageng Ganjur (Dr Sastro) di Pondok Pesantren Al-Ittihad Rawa Bango Kecamatan Karangtengah. Kegiatan dihadiri juga ribuan slanker yang menunggu di luar gedung.

Dialog Budaya tersebut diawali dengan tausyiah yang disampaikan Ki Ageng Ganjur mantan orang terdekat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dalam tausyiahnya. Ki Ageng menyampaikan kedatangan Slank ke setiap pondok pesantren. “Grup Slank ingin menunjukan bahwa pondok pesantren merupakan pusat kesenian, kebudayaan, dan peradaban, bukan sarang teroris. Pesantren adalah lembaga yang melakukan pendidikan dengan melakukan pendekatan budaya,” kata Ki Ageng.

Selain itu, tour 25 kota bertajuk Xtraligi ini sebagai bagian menjahit Nusantara. Artinya, Slank ingin merah putih tetap berkibar dan NKRI adalah harga mati. “Kita ingin Pancasila tetap menjadi dasar negara. Di negara ini ada dua rampok, yakni rampok undang-undang dan koruptor. Kondisi inilahg yang menjadi misi Xtraligi ke pondok-pondok pesantren,” tambahnya.

Sementara itu Kaka menyatakan Slank punya slogan perdamaian, cinta persatuan, dan saling menghormati. Slogan ini menjadi kunci kebersamaan dan ingin selalu ditiru seluruh masyarakat Indonesia.

referensi: inilahjabar

R.A Wiradatanu I, Bupati Cianjur Pertama

R.A Wiradatanu I, Bupati Cianjur Pertama

Raden Jaya Sasana atau R.A Wiradatanu I adalah Bupati Cianjur yang pertama. Raden ini  merupakan  figur pemimpin yang diangkat arip dan bijaksana. Selain menjadi pemimpin cianjur, ia juga merupakan kiyai yang menyebarkan agama Islam di wilayah Cianjur.

SILSILAH Raden Jaya Sasana sendiri, atau Dalem Cikundul tak lain merupakan salah satu dari keturunan Prabu Siliwangi. Bermula dari kerajaan Talaga Manggung, Majelangka. Salah seorang keturunan Prabu Siliwangi  yakni Prabu Pucuk Umum, memiliki putra bernama Sunan Parunggangsa. Putra keturunnya adalah sunan Wanapri, berputra lagi Sunan Ciburang. Kemudian, Sunan Ciburang berputra Rd. Aria Wangsa Goparana yang mulai memeluk Islam.

Karena memeluk Islam, membuat ayahnya kecewa. Untuk mengindari amarah orang tuanya, R.A Aria Wangsa Goparana lebih memilih pindah ke Sagara (Sagala) herang.Makamnya terletak di Kampung Nangka Beurit, Sagala Herang, Kabupaten Subang.

Selanjutnya, salah seorang putrannya, Rd Jayasana. Dia mendapatkan tugas dari ayahnya serta dari salah satu pondok pesantren (Sultan), di Gunung Jati Cirebon  untuk menyebarkan agama Islam. Sebelum berkenala melakukan tugas tersebut, dia melakukan khalwat. Dengan maksud memohon petunjuk dari Allah SWT. Kegiatan itu dilakukan selama 40 hari, di atas batu yang cukup besar yang disebut Talaga Batu Agung.

Pada saat melakukan khalwat, tepatnya saat malam yang ke 40 hari, dalam khayalan Rd. Jayasasana telah kedatangan putri jin. Masing-masing Arum Endah, kedua Dewi Arus Sari dan ketiga Dewi Arum Wangi. Namun, ternyata dari ketiga nama putri jin tersebut, sebenarnya hanya namanya saja yang tiga, sedangkan putri jinnya hanya satu.

Putri raja jin Islam, Sekh Jubaedi dari kerajaan Jin Ajrag tersebut, terpesona oleh paras muka dan keteguhan hati Rd Jayasana yang telah menyelesaikan khalawatnya. Bahkan, terlihat dari kejauan seperti memencarkan cahaya terang, hingga hampir seluruh wilayah itu menjadi terang benderang.

Sahdan kemudian, Rd Jayasana menikahi putri Jin tersebut dan berumah tangga di alam jin, sampai mempunyai keturunan sebanyak 3 orang anak, laki-laki. Mereka adalah, Rd  Suryakancana, Raden Ajeng Endang Sukaesih, dan Raden Andaka Wirusajagat. (**)

sumber: radarsukabumi

Ikan Bakar ‘Raos’ dari Cianjur

Ikan Bakar ‘Raos’ dari Cianjur

 

Nasi liwetnya gurih pulen, mengepul hangat. Gurame bakarnya harum menggoda dan sambal terasi plus lalapan segarpun sangat menantang. Jadilah kami menyantap dengan tangan sampai butiran nasi terakhir. Alunan seruling plus lagu-lagu Pasundan menjadi pelengkap yang nikmat habis!

Usai mengelilingi kota Cianjur yang tak berapa besar kami merasa lapar. Tentu saja target yang kami cari adalah Ikan Bakar. Seolah dendam kesumat karena beberapa kali kami selalu kecewa saat mampir ke resto Ikan Bakar di Jln. Setiabudi Bandung, selalu saja kehabisan nasi liwet. Ya, nasi liwet yang dimasak dalam kendil aluminium itu memang yang sedang kami rindukan

Kamipun menemukan resto yang bernama ‘Ikan Bakar Cianjur’ di Jln. Muwardi. Tidak terlalu besar, bahkan dari jalan raya terlihat sangat sederhana. Berhubung hari itu hari Jum’at maka menjelang jam makan siang resto masih belum terlalu ramai. Resto yang ditata dengan meja kayu dan bangku kayu sederhana sudah cukup lama ada di Cianjur. Apakah resto ini cabang dari resto yang bernama sama di Bandung dan di sekitarnya bahkan sampai di daerah Jawa Tengah? Wah, kami tidak terlalu ambil pusing karena sudah terbayang nasi liwet plus teri nasi yang hangat mengepul!

Karena kami sudah kepincut dengan nasi liwet dan ikan bakar kamipun memutuskan untuk memesan ikan gurame bakar. Walaupun menu disana ternyata tak hanya ikan bakar, melainkan juga ada beragam pilihan seperti ikan nila, patin, ayam hingga pepes ikan mas. Sebagai pelengkap gurame, kami memesan seporsi pencok kacang panjang, karedok dan tak ketinggalan lalapan dan sambal terasi tentunya.

Sambil menunggu makanan, kamipun berkeliling ke bagian belakang resto. Ternyata, di bagian belakang terdapat beberapa saun untuk makan lesehan. Hanya sayang kondisinya kurang terawat baik sehingga terlihat kurang bersih dan nyaman. Ada beberapa pengunjung yang memilih saung ini. Kembali ke meja kami mendapati nasi liwet sudah tersaji di meja. Ciri khas nasi liwet Cianjur ini, memakai beras yang pulen, dimasak di dalam kendil atau periuk aluminium. Masih hangat mengepul. Bagian atasnya ditutup sehelai daun pisang berisi teri Medan yang ditumis dengan irisan cabai merah dan daun bawang. Wah, saat diaduk aroma gurih harumpun menusuk-nusuk hidung!

Ikan gurame bakar yang masih mendesis panas pun, disajikan di atas piring oval. Sebenarnya ikan gurame ini bumbunya sederhana (bawang putih, garam, merica dan sedikit kecap manis), tetapi karena ikannya segar (hidup) sehingga sangat menggoda. Saat kami menyuapkan nasi liwet plus ikan gurame bakar ini rasanya memang dahsyat. Gurih, pedas dengan semburat manis, semuanya menari-nari dalam mulut. Apalagi saat dicocol dengan sambal terasi. Ikan guramenya memang terasa segar, tanpa jejak aroma anyir, juga tak ada jejak aroma tanah (yang biasanya ada di ikan air tawar). Nasi liwetnya pulen, gurih dan sangat serasi saat diaduk dengan ikan teri Medan yang gurih juga.

Asyik dengan ikan bakar, hampir saja membuat kami lupa akan hidangan lainnya yaitu seporsi pencok kacang dan karedok. Pencok kacang ini terdiri dari kacang panjang yang dipotong-potong dengan bumbu kencur, cabai merah, bawang putih, cabai rawit, serta gula dan ditaburi daun kemangi. “Wah pencok kacangnya pedas banget,” ujar salah seorang teman saya sambil terengah-engah kepedasan. Kacang penajang segar dalam pencok ini sedikit dimemarkan hingga bumbunya menyatu dalam kacang panjang. Pantas saja rasanya pedas menggigit! Karedok yang disajikan memang terlihat sangat segar. Irisan kol, kacang panjang segar, tauge, irisan terung terlihat rata terlumuri bumbu kacangnya. Aroma kencur dan bawang putihnya sangat tajam. Rasanya juga tak mengecewakan, tak terlalu peds, sedikit manis dan rasa kencur dan bawang putihnya sangat dominan.

Tak terasa suapan demi suapan yang nikmat membuat hampir semua sajian habis. Kenikmatan ini makin terasa dengan alunan musik Pasundan yang mengiringinya. Apalagi saat membayar, ternyata tak sampai Rp.100.000,00 untuk semua pesanan kami, lengkap dengan minuman jus jeruk dan es teh manis. Benar-benar nikmat habis!

Untuk seporsi pencok kacang dan karedok hanya dihargai Rp 5000,00. Seporsi nasi liwet Rp 20.000,00 dan ikan gurame bakar harganya tergantung pada berat ikan. Nah, kapan-kapan jika Anda melintasi kota Cianjur dan perut lapar, sebaiknya mampir ke restoran ini. Raos pisan ueyyy!!

Ikan Bakar Cianjur
Jl. Dr Muwardi No.143, Cianjur
Telp: 0263-263392 ( dev / Odi )

Sumber : detikfood.com

Sindang Rahayu, Cianjur

Sindang Rahayu, Cianjur

Liburan sambil bernostalgia memang sesuatu yang mengasikkan. Hmm… apalagi jika soal makanan. wah untuk yang satu itu kami sekeluarga tak pernah bosan-bosannya. Kali ini saya sekeluarga diajak oleh suami tercinta untuk bersantap di Sindang Rahayu, Cianjur. Tak disangka, perjalanan nostalgia ini dapat membawa kami sekeluarga menikmati wisata kuliner yang luar biasa!!

Dalam hal icip-mencicip makanan, pastinya kita gak pernah bosan yah? Sama seperti saya dan keluarga yang selalu wisata kuliner kalau hari libur tiba, biasanya sih kami pergi ke tempat-tempat yang memang belum pernah kami datangi. Waktu liburan tiga hari kemarin, tepatnya pada hari kemerdekaan 17 Agustus kami sekeluarga pergi ke Puncak untuk berlibur. Memang sih tidak untuk menginap, melainkan hanya untuk menikmati salah satu restoran yang berada di daerah tersebut.

Setelah hari hampir siang kami pun mulai hunting makanan yang kami lihat disepanjang jalan di Puncak memang sangat banyak sekali restoran yang tersebar di daerah puncak dan setelah kita pilih-pilih akhirnya kita coba masuk ke salah satu restaurant yang ada di daerah Cianjur namanya Sindang Rahayu. Suami saya pernah makan di restoran tersebut, tetapi pada waktu masih SMU. Lalu saat kemarin kami pergi ke daerah Puncak suami saya ingat akan restaurant tersebut dan akhirnya kami pun memutuskan untuk makan di restaurant tersebut. Memang informasi dari suami saya sangat berbeda sekali pemandangan tentang restoran tersebut berbeda sekali dibanding sekarang yang terlihat lebih asri dan nyaman sekali. Bahkan tak hanya itu, dari segi makanannyapun lebih bervariasi karena kami bisa leboh banyak mencoba makanan dengan aneka masakan.

Pada saat kami datang dan cari tempat yang memang nyaman untuk bersantap para pramusaji mulai menghidangkan makanan-makanan yang ada di restoran tersebut. Seperti ketika makan di restaurant Padang, semua makanan disajikan dipiring-piring kecil. Yang membuat saya takjub adalah makanannya beraneka ragam tidak hanya masakan Sunda saja, tapi juga ada masakan Padang dan masakan Jawa pokoknya sampai bingung mau makan yang mana? Dari ayam goreng, otak goreng balut telur, gepuk, rendang daging, kikil, bakwan udang, udang asam manis, ikan mujair goreng, paru goreng, pepes ikan mas duri lunak, tahu-tempe goreng. Tak ketinggalan aneka macam sambal dari sambal oncom, sambal dadak, sambal mentah, lalapan, sayur asem, tumis jamur, dan masih banyak lagi menu-menunya. Sampai-sampai saya lupa untuk menyebutkan menunya satu-persatu. Setelah saya coba satu persatu hidangan yang disajikan hmm… rasanya memang benar-benar ‘mak nyusss’ uennnak sekali.. hampir kalap saya ingin memakan semuanya. Pertama saya coba makan ayam kampung goreng yang masih ngebul… aduhhh, nikmat banget. Rasanya gurih dan bumbunya terasa sekali sampai ketulang-tulangnya. Suami saya ternyata tidak berubah menunya dari dahulu dia suka sekali dengan otak goreng yang dibalut dengan telur kocok, penasaran saya pun coba sedikit otak goreng tersebut dan ternyata rasanya memang benar-benar enakkk nyam nyam… dan tidak ketinggalan makannya pake sambel yang beraneka ragam dan semua rasanya juga muantabbb tidak terlalu pedas sekali jadi bikin nambah terus.

Setelah semua makanan kita coba satu persatu (walaupun tidak semua dicoba sih) tetapi sudah membuat kami tidak bisa berbicara karena kenyang dan masih menikmati rasa makanan yang masih menempel di lidah. Kami sekelurga pun berniat untuk pulang dan setelah pramusaji mengitung tagihan dari semua makanan yang kita makan alangkah terkejutnya saya ternyata sangat murah sekali, kami makan sekelurga dengan jumlah orang dewasa 7 orang dan anak-anak 3 orang kami hanya membayar Rp 159.000. Sampai-sampai suami saya tidak percaya kok murah sekali, padahal kita sudah makan begitu banyak makanan yang disajikan. Ternyata setelah saya lihat harganya ya ampun masih jauh lebih murah dibanding kalo kita makan di warung makan dekat kantor saya. Contohnya gepuk bandung yang sangat empuk harganya cuma Rp 7.000, ayam goreng kampung Rp 8.000, otak goreng balut telur Rp 6.000, sayur tumisan Rp 3.000/porsi, sayur asem yang lezat Rp. 6.000/porsi. Yah… pokoknya murah meriah dehh! ( dev / Odi )

Nama : Sri Astuti
Email : astutifahlifi@yahoo.com
Alamat : Jl. Agung Raya I/78

Sumber : detikfood.com

Tauco Cianjur

Tauco Cianjur

Satu lagi yang menjadi Khas Cianjur yakni Tauco Cianjur. Tauco yang bahannya dari kacang kedele dapat di jadikan makanan variatif seperti geco (toge+tauco), sambal, tauco atau pecel tauco. Mudah didapat di kota Cianjur dan dijadikan oleh-oleh bagi masyarakat luar kota Cianjur yang singgah di Cianjur.

Produksi tauco Cianjur kini semakin menyusut, seiring dengan berkurangnya jumlah pengusaha yang menggeluti usaha pembuatan makanan khas Cianjur ini. Beberapa tahun terakhir ini, produksi tauco Cianjur yang sempat mengalami masa kejayaan dengan go international turun drastis. Banyak pengusaha tauco yang gulung tikar atau pindah ke usaha lain. Alasan mereka, kurang bisa bersaing dengan makanan impor yang masuk ke kota santri ini. Alasan ini semakin kuat ketika sudah dibukanya jalur Tol Cipularang yang diyakini telah menurunkan omset penjualan para pengusaha tauco ini.

Memang banyak pengusaha yang bangkrut. Tapi bukan karena hal-hal tertentu, melainkan karena faktor mental yang belum teruji. Sehingga mereka memilih usaha lain, karena memandang usaha tauco tidak menjanjikan.

Dikutip dari Gatra 03/10/2002, Wiri Jati Tasma (70), salah seorang pengusaha tauco di Cianjur yang masih bertahan mengaku, ia memilih bertahan memproduksi tauco, sebab ingin mempertahankan tauco apa adanya, agar ciri khasnya tidak hilang. Karena itu, meski ditawari kredit oleh bank, Wiri menolaknya.

Ia mengaku sebagai generasi ketiga dari pembuat tauco pertama (“Cap Meong”) di Cianjur yang dilakukan secara turun temurun sejak tahun 1880. Waktu itu, kakeknya bernama Tan Ken Yan, pertama kalinya mencetuskan ide membuat tauco. Wiri mengungkapkan, banyak pengusaha sejenis yang tidak tahan menghadapi persaingan usaha, sehingga mengalami kebangkrutan.

referensi: cianjurcybercity.com

Atep?

Atep?

Atep (lahir di Cianjur, Jawa Barat, 5 Juni 1985; umur 26 tahun) adalah pemain sepak bola Indonesia. Atep merupakan pemain binaan PS UNI (anggota Persib). Atep merupakan pemain muda potensial yang berposisi sebagai gelandang serang. Tendangannya yang keras dan terarah disertai skill individu yang baik menghantarkannya menjadi pemain Timnas Indonesia di berbagai ajang Internasional.

Karier Klub

Persiba bantul

Setelah bermain untuk Persib U-18, Atep melanjutkan karier nya ke Persiba Bantul selama dua tahun. Disini ia dipanggil untuk memperkuat skuad Indonesia U-20. Atas prestasinya itu, dia dilirik oleh Persija Jakarta.

Persija Jakarta

Pada tahun 2004, Atep dikontrak oleh Persija Jakarta setelah menjalani musim yang cukup bagus dengan Persiba Bantul. Ia tidak memerlukan waktu lama untuk mendapatkan jatah bermain di tim utama. Prestasinya yang begitu gemilang di Persija Jakarta membuka kesempatan lebar untuk karier internasionalnya. Pada tahun 2005 ia terpilih masuk ke dalam skuad Timnas Indonesia di Piala AFF dan ia berhasil mencetak gol. Karena ini lah banyak klub-klub yang menginginkan dia, termasuk Persib Bandung yang mencoba mengontraknya pada musim 2007/2008. Ia bertahan di Persija Jakarta hingga akhir musim 2007/2008.

Persib Bandung

Pada musim 2008/2009, Persib Bandung akhirnya berhasil mengontrak Atep, setelah gagal mendapatkannya di musim sebelumnya. Walaupun kedatangan nya disambut begitu positif oleh para bobotoh, Ia tidak mendapat begitu banyak kesempatan untuk bermain di awal-awal musim sehingga banyak yang memperkirakan bahwa ia akan hengkang pada musim transfer di jeda kompetisi. Namun ia bertahan dan akhir nya mulai mendapatkan kesempatan bermain walaupun hanya sebagai pemain cadangan. Pada tanggal 6 Mei 2009 ketika Persib kalah 2-1 melawan Pelita Jaya, ia masuk dalam skuad utama dan Atep mencetak satu-satu nya gol yang dicetak oleh Persib dan juga merupakan gol pertamanya di Liga Super bersama Persib Bandung.

Walaupun Atep tahun ini lebih banyak menjadi pemain cadangan, digantikan oleh pemain pemain baru persib

Karier Timnas

  • 2003 PSSI U-20
  • 2006 Merdeka Games
  • 2007 AFF Tiger Cup & Piala Asia

Prestasi

  • Persib Jr. Juara Piala Suratin
  • PSSI U-20 Runner Up Piala Gubernur Kal-Tim
  • 2004 Peringkat III Divisi Utama Liga Indonesia * 2004
  • 2005 Runner Up Divisi Utama Liga Indonesia, Runner Up Copa Indonesia * 2005
  • 2007/08 Semifinal Liga Indonesia

referensi: wikipedia

KH R Abdul Halim, Kiprah Kyai Cianjur

KH R Abdul Halim, Kiprah Kyai Cianjur

Generasi Keempat Sesepuh Ponpes Tertua yang Aktif di MUI.

KH R Abdul Halim merupakan tokoh kharismatik di wilayah Kabupaten Cianjur. Pimpinan pondok pesantren Al-Muthmainah, Bojongherang, Cianjur ini merupakan generasi keempat, sebagai sesepuh pontren tertua di Cianjur

KH R Abdul Halim, lahir pada tanggal 7 April 1933 atau kini usianya 77 tahun. Kyai ini, merupakan generasi keempat  sebagai sesepuh pondok pesantren (Pontren), tertua di Cianjur. Sosoknya dikenal banyak kalangan dari mulai sipil, militer dan masyarakat umum. Karena kepribiannya arip dan bijaksana. Sehingga pada tahun 1979, mengemban amanah sebagai Ketua Umum MUI Kabupaten Cianjur, sampai dengan sekarang.

Pimpinan Ponpes Al-Muthmainah, Bojongherang, Cianjur tidak hanya dikenal masyarakat daerahnya saja. Lebih dari itu, namanya mengharum ke penjuru Indonesia bahkanke mancanegara. Kiprahnya dalam menjalankan program kerja selalu sukses dan membawa perubahan.

“Sebenarnya masa kepengurusan MUI ini sebanyak 5 tahun. Namun, karena ajengan Elim, merupakan tokoh kharismatik. Sehingga setiap musyawarah daerah (Musda), MUI, selalu terpilih lagi menahkodai MUI,” kata Ketua Paguyuban Pasundan Cianjur, Abah Ruskawan.
Terhitung, dari mulai tahun 1979 sampai tahun ini dan pemimpin MUI 5 tahun mendatang. Berarti sudah 35 tahun memimpin MUI. Jabatan tersebut, mengalahkan  presiden Sueharto yang memimpin pemerintah ini, hanya 32 tahun. Selama memimpin MUI ini, ajengan Elim, memiliki gelar Hakim Agama  Luar Biasa.

Dia diangkat oleh pemerintah menjadi Hakim Agama Luar Biasa, karena pengetahuan ilmu agama, khususnya ilmu hukum Islam sangat luhur sekali. Dengan kewenangannya mengadili orang-orang yang berperkara di Pengadilan Agama Kabupaten Cianjur. Kiyai tersebut mengadili perkara di PA layaknya para hakim definitif sesuai kewenangannya yang diberikan pemerintah.

Saat ini peranan hakim agama sangat terbatas, sehingga peranan ajengan Elim di PA sangatlah besar. Ajengan Elim, menguasai semua masalah pelik pada perkara perdata yang kerap digelar di persidangan. Saat menggelar persidangan, terasa segar. Itu sehingga, tidak membuat stres bagi mereka yang lagi bersidang.

Selanjutnya, selama perjalanan di MUI. Ketum ini, bersama-sama berbagai komponen ummat Islam, lainnya di Cianjur. Mendeklarasikan Gerakan Pembangunan Masyarakat Berakhlakur Karimah (Gerbangmarhammah), dan mendapatkan respon positif Bupati Cianjur, Wasidi Swastomo pada saat itu.

referensi: radarcianjur