Gedung Ampera Cianjur

Gedung Ampera Cianjur

HIRUK Pikuk warga dan lalu lintas kendaraan di Jalan Suroso seperti tak pernah sepi. Angkot, delman, serta becak tampak diparkir menunggu penumpang. Ada beberapa bangunan tepat di pusat kota itu.

Pasar Induk Cianjur yang disesaki warga menjadi pemandangan sehari-hari. Ke atas sedikit terlihat bangunan Mapolres Cianjur, bank dan beberapa toko.

Tepat di depan Pasar Induk bangunan tua berdiri kokoh. Warga menyebut bangunan itu dengan sebutan Ampera atau studio radio siaran pemerintah daerah (RSPD). Merasa penasaran dengan cerita bangunan ini, wartawan koran ini pun langsung masuk ke salah satu bangunan disebelahnya.

Di dalam kantor yang saat ini digunakan sekretariat Lembaga Kebudayaan Cianjur (LKC) itu, Radar berhasil menemui salah seorang pengurus yang mengetahui seluk beluk gedung tersebut.

Idris Ganda Kusuma (58) menceritakan keberadaan bangunan tersebut sejak berdiri hingga menjadi bangunan bersejarah. Bangunan itu, kata dia asalnya bangunan sekolah yang dikelola warga negara asing (WNA) China bernama ‘Teng Cai’.

Bertepatan peristiwa G 30 SPKI tahun 1966, gejolak politik di Indonesia memanas panas. Gerakan Pemuda dan Pelajar yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) mengambil alih bangunan itu. “Saat itu, semua bangunan yang diduduki china diambil alih salah satunya bangunan ini,” kata pria yang akrab disapa Kang Tom Tom.

Saat itu gedung diambil alih sekitar bulan Januari 1966, dan tidak terjadi anarkis. Pasalnya, satu hari sebelumnya, pengurus KAPPI telah melayangkan surat agar gedung itu dikosongkan. “Ratusan pemuda dan pelajar pun langsung meminta kunci pintu kepada pengelola, setelah itu pintu ditutup kembali,” ceritanya.

Selanjutnya, KAPPI pun melakukan pertemuan guna menempati gedung tersebut. “Saat itu Koordinator KAPPI Ahmad Paris dan kawan-kawan, sepakat untuk mengisi satu ruangan untuk satu perwakilan sekolah, saya sendiri dari SMAN 1 Cianjur mengisi salah satunya,” ucapnya sambil menunjukkan ruangan-ruangan yang saat ini masih utuh itu.(**)

referensi: radarcianjur

Sumber Air Panas di Istana Cipanas

Sumber Air Panas di Istana Cipanas

 

Istana Cipanas terletak di Desa Cipanas, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, tepatnya di kaki Gunung Gede, Jawa Barat, pada ketinggian 1.100 meter dpl. Pada masa kepresidenan Republik Indonesia, Istana Cipanas digunakan sebagai tempat peristirahatan.

”Seperti halnya Camp David yang digunakan sebagai tempat peristirahatan presiden Amerika Serikat,” terang Prof Dr Taufik Abdullah, sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Sebagai tempat peristirahatan, acap kali Presiden Soekarno menggunakan Istana Cipanas sebagai tempat merenung saat akan mengambil suatu keputusan.

Saat awal berdirinya, Istana Cipanas merupakan miliki pribadi seorang tuan tanah Belanda yang didirikan pada 1740.

Kompleks Istana yang berdiri di areal seluas 26 hektare ini kemudian menjadi tempat peristirahatan Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff.

Kompleks Istana ini lebih banyak berupa hamparan kebun tanaman yang terdiri dari tanaman hias serta kebun sayur yang ditata mirip hutan kecil. Sebab luas bangunannya sendiri hanya 7.760 meter persegi.

Cipanas merupakan kata yang berasa dari bahasa Sunda, yaitu ci atau cai yang berarti air dan panas yang berasal dari kata sifat panas.

Daerah Cipanas merupakan tempat yang memiliki sumber air panas yang mengandung belerang. Dan kebetulan, sumber air panas tersebut terletak di kawasan Istana Cipanas.

Konon, airnya sangat panas sehingga kalau hendak digunakan untuk mandi, sebaiknya dicampur dengan air dingin.

Istana ini terdiri dari sebuah bangunan induk, enam buah paviliun, sebuah gedung khusus, dan dua buah banguan lainnya, yaitu penampungan sumber air panas dan sebuah masjid.

Bangunan induk disebut sebagai Gedung Induk Istana Kepresidenan Cipanas. Pada masa kemerdekaan, gedung ini digunakan sebagai tempat peristirahatan presiden dan wakil presiden beserta keluarganya.

Gedung induk terdiri dari ruang tamu, ruang tidur, ruang kerja, ruang rias, ruang makan, serta serambi belakang.

Ruang tamu didesain menggunakan lantai kayu. Pada salah satu lorong utama Gedung Induk, dipajang sebuah lukisan karya Soejono DS yang dibuat pada 1958, yang dikenal dengan nama Jalan Seribu Pandang. Lukisan ini sendiri memiliki nama asli Jalan Menuju Kaliurang.

Istana Cipanas memunyai enam paviliun, yaitu Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, dan Abimayu. Selain itu, ada Paviliun Tumaritis I dan Paviliun Tumaritis II yang letaknya terpisah dengan enam paviliun lainnya.

Bangunan lain yang terdapat di wilayah Istana Cipanas adalah Gedung Bentol. Gedung Bentol merupakan karya arsitek anak bangsa, RM Soedarsono dan F Silaban.

Gedung ini berada di belakang Gedung Induk, lebih tinggi dibandingkan bangunan-bangunan lainnya karena berdiri di lereng gunung.

Berbeda dengan istana lainnya, Istana Cipanas yang sejuk memberi pengalaman unik tersendiri. Sambil menikmati pemandangan di kaki Gunung Gede dan menikmati air panas, Istana Cipanas menjadi tempat yang nyaman untuk dikunjungi, sekaligus mampu memupuk rasa cinta terhadap hasil budaya dan sejarah bangsa.
(dari berbagai sumber/din/L-4)

referensi: koran-jakarta

Wisata Waduk Jangari Cirata

Wisata Waduk Jangari Cirata

Wilayah Kabupaten Cianjur sangat luas. Objek wisata pun juga cukup banyak. Salah satunya Waduk Jangari Cirata. Waduk ini  terbentuk dari genangan air seluas 62 kilometer persegi akibat pembangunan waduk yang membendung Sungai Citarum. Genangan waduk tersebut tersebar di tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Cianjur, Purwakarta dan Kabupaten Bandung.

Genangan air terluas terdapat di Kabupaten Cianjur, yang kemudian dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata rekreasi berbasis air. Saat ini objek wisata tirta yang paling berkembang dan ramai dikunjungi wisatawan lokal di kawasan Waduk Cirata adalah Jangari dan Calingcing di Kabupaten Cianjur.

Padahal selain kedua tempat tersebut, masih banyak daya tarik potensial lainnya yang belum dikembangkan, seperti bendungan dan teknologinya, wisata agro, dan ekowisata hutan. Lokasi yang strategis maupun daya tarik yang cukup beragam tadi nampaknya belum cukup untuk menjadikan objek wisata ini dikunjungi wisatawan non lokal, terlebih mancanegara. Kawasan Waduk Cirata dengan luas 43.777,6 hektar terdiri dari 37.577,6 hektar wilayah daratan dan 6.200 hektar wilayah perairan.

Fungsi utama waduk sebagai pembangkit tenaga listrik, ternyata menimbulkan berbagai kegiatan ikutan yang berkembang di kawasan Cirata, termasuk pariwisata. Dengan memanfaatkan kondisi alam dan lingkungan air yang terbentuk di kawasan ini, potensi daya tarik wisata tersebut berkembang dan menarik wisatawan untuk berkunjung ke beberapa lokasi di kawasan Waduk Cirata.

Objek wisata Jangari yang terletak di Desa Bobojong, Kecamatan Mande yang berjarak lebih 17 kilometer dari pusat kota Cianjur, memiliki luas sekitar 15 hektar. Sedangkan Calingcing berlokasi di Desa Sindangjaya, Kecamatan Ciranjang, sekitar 20 kilometer dari kota Cianjur, dengan luas sekitar 5 hektar. Kedua lokasi tersebut sangat strategis karena berada pada titik pertemuan dua lintasan pintu masuk menuju wilayah pengembangan pariwisata Cirata yaitu dari arah Cianjur (Jakarta dan Bogor) serta Ciranjang (dari Bandung) yang memiliki potensi pasar wisatawan yang sangat besar. Untuk menuju ke Jangari terdapat rute angkutan umum dari pusat kota Cianjur. Aksesibilitas ke Calingcing tidak sebaik Jangari. Lokasi Calingcing lebih jauh dari pusat kota Cianjur dan belum ada angkutan umum menuju lokasi tersebut.

Di lokasi Jangari dan Calingcing wisatawan dapat menikmati rekreasi alam terbuka, dengan berbagai aktivitas yang dapat dilakukan seperti melihat-lihat pemandangan genangan air waduk, berperahu, memancing atau hanya sekedar berjalan-jalan dan duduk–duduk bersama teman atau keluarga sambil menikmati makanan yang mereka bawa. Kegiatan berperahu mengelilingi waduk Cirata dikenai tarif sekitar Rp30.000, untuk berperahu selama 2-3 jam. Atraksi yang dapat dinikmati oleh pengunjung pada saat berperahu mengelilingi waduk adalah melihat jaring terapung dan budidaya ikan sambil menikmati hidangan berupa ikan bakar/goreng yang disediakan oleh salah satu rumah makan terapung yang terdapat di lokasi tersebut.
Namun saat ini, populasi jaring terapung yang cukup banyak terkesan hampir menutupi permukaan waduk, sehingga dapat mengurangi kenyamanan wisatawan/pengunjung pada saat melakukan pesiar, karena menghalangi pemandangan keseluruhan.

Fasilitas penunjang yang tersedia di lokasi Jangari diantaranya pelataran parkir yang cukup luas, namun sayangnya belum tertata dengan baik. Hal tersebut terlihat pada saat hari libur dengan jumlah pengunjung yang banyak, ruang parkir menjadi tidak teratur dan terkesan semrawut. Fasilitas lainnya yaitu toilet umum -namun kondisinya kurang bersih, demikian juga dengan kondsi lingkungan keseluruhan. Saung-saung yang terletak di sepanjang jalan di dekat pusat keramaian Jangari dapat disewa oleh pengunjung untuk duduk-duduk dan beristirahat.

Untuk memenuhi kebutuhan wisatawan juga tersedia kios-kios dan warung-warung makanan yang menjual berbagai makanan dan minuman serta barang-barang dagangan lainnya. Selain warung, pedagang kaki lima terlihat cukup banyak menggelar dagangannya. Letak kios dan warung-warung tersebut saat ini belum tertata dengan baik, dan kurang menjaga kebersihan sekitarnya. Sebagian besar kios-kios tersebut terletak di tepi sempadan genangan, sehingga menghalangi pemandangan langsung ke bentangan waduk.

Untuk menambah daya tarik wisata di Jangari pada setiap hari libur/besar pihak pengelola menyediakan atraksi-atraksi kesenian tradisional maupun modern yang digemari oleh para pengunjung seperti jaipongan atau musik dangdut. Saat ini pengelolaan objek dan daya tarik wisata Jangari dan Calingcing dilaksanakan oleh Pemda Cianjur, mengingat kedua lokasi tersebut berada pada wilayah administrasi Kabupaten Cianjur. Objek wisata Calingcing tidak seramai dan belum berkembang seperti Jangari. Selain lokasinya lebih jauh dari jalan raya Cianjur, tempat ini juga tidak dilalui kendaraan umum. Fasilitas yang tersedia di Calingcingpun tidak selengkap dan sebanyak yang terdapat di Jangari, meskipun harga tiket masuk yang dikenakan ke pengunjung sama, yaitu Rp500 per orang.

Selain Jangari dan Calingcing, lokasi lainnya relatif belum berkembang dan dikunjungi wisatawan. Padahal lokasi dimana dam site Cirata berada potensial untuk dikembangkan sebagai objek wisata pendidikan dan penelitian berbasis teknologi. Pihak pengelola waduk Cirata (BPWC) bahkan telah memiliki rencana pengembangan kawasan ini untuk menjadi resor wisata, namun pembangunannya terhambat masalah sumber daya.

Karakteristik Pengunjung. Potensi daya tarik yang dimiliki kawasan Waduk Cirata secara keseluruhan sebenarnya sangat beragam. Selain daya tarik wisata tirta yang menjadi objek wisata rekreasi paling berkembang saat ini, bendungan dengan teknologi pembangkit listrik di dalam perut bumi merupakan objek wisata pendidikan dan penelitian yang belum tergali. Demikian juga dengan potensi wisata agro selain perikanan jaring terapung, wisata alam hutan, maupun wisata budaya dan kesenian yang belum banyak dilirik.

Mengingat lokasi dan aksesibilitasnya yang sangat baik, objek wisata di kawasan ini sangat potensial untuk menarik wisatawan dari luar Cianjur. Keberadaan kawasan wisata Puncak, maupun jalur regional Jakarta-Cianjur-Bandung merupakan sumber wisnus maupun wisman yang potensial. Demikian juga dengan perkembangan jalur Purwakarta-Padalarang. Luasnya kawasan dengan daya tarik yang beragam dan tersebar di kawasan Waduk Cirata menyebabkan pengembangan kepariwisataan perlu didistribusikan dengan tema-tema dan sasaran pasar yang berbeda-beda. Peningkatan kualitas produk mencakup kualitas daya tarik dan fasilitas penunjang di kawasan ini perlu dilakukan, sehingga diharapkan dapat menarik pangsa pasar wisatawan lain dari golongan menengah atas.(rp16)

sumber: radarcianjur

Kain Sutera Unggulan Cianjur

Kain Sutera Unggulan Cianjur

UNTUK menemukan tempat pembuatan kain sutera cukup sulit. Karena di Cianjur baru ada satu pengrajin kain sutra yang terbilang sudah memproduksi secara simultan.Wartawan koran ini pun mencoba mendatangi pengrajin kain Sutra di Kampung Sarongge, RT 02/06, Desa Ciputri Kecamatan, Pacet, Cianjur.

Para pengrajin melalui Kelompok Usaha Bersama (KUB), Aurarista. Dan diperkuat melalui Koperasi Jalasutera Indonesia (Kojasindo), telah merintis untuk membuat kain sutera dari bahan dasar.Berkat keuletan kelompok tersebut, sehingga dari tahun ke tahun berhasil dan berkembang maju. Sutera merupakan bahan pakaian yang sangat indah dan istimewa di dunia.

Bahannya bertekstur halus, berkilau, lembut. Tetapi tidak licin. Jika digunakan dalam cuaca panas, kain sutera akan terasa dingin di kulit. Begitu sebaliknya, jika digunakan di cuaca yang dingin, akan terasa panas.Sedangkan cara pembuatanya mulai pembuatan rumah untuk pemeliharaan ulat menjadi kokon. Setelah ada rumah, lalu ulat tersebut diberi makan oleh murbei. Sampai menjadi kokon tersebut, lalu kokon itu menjadi menetas.

Sebelum menetas dan menjadi kepompong atau kupu-kupu. Lalu kokon tersebut dibawa dan dimasukan ke dalam wadah, baik bisa melalui karung atau wajan. Setelah itu, disiapkan air mendidih dengan kecepatan disesuaikan.Selanjutnya, kokon diangkat, dan dapat dirajut menjadi benang. “Ketika dirajut, lalu dimasukan ke alat atau mesin prosesing,” Kata Ketua Silk Solution Center (SSC) atau Lembaga Pengembangan Sutera Alam Cianjur, Harry M Sastrakusumah.Menurutnya, sedikitnya untuk menjadikan kokon menjadi kain sutera.

Ada tiga proses yang harus ditempuh. Proses tersebut untuk menghasilkan kain sutera yang baik. “Ini penting dilakukan untuk menghasilkan yang baik,” imbuhnya.(**)

sumber: radarcianjur

Papajar, Tradisi Warga Cianjur Jelang Ramadan

Papajar, Tradisi Warga Cianjur Jelang Ramadan

Papajar, kalimat itu mungkin sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Cianjur. Papajar merupakan suatu tradisi yang kerap dilakukan sebagian masyarakat Cianjur menjelang bulan suci Ramadan dengan cara makan bersama. Biasanya, kegiatan itu dilakukan di objek-objek wisata.

Tidak diketahui persis darimana asal mula tradisi papajar ini muncul. Namun yang jelas, beberapa informasi yang berhasil dikumpulkan menyebutkan, papajar berasal dari kata fajar yang berarti sinar. Jika dikaitkan dengan makna bulan Ramadan, papajar berarti menyambut sinar yang akan segera terbit. Sama maknanya dengan Puasa,yang pada pelaksanaannya diawali sebelum terbitnya fajar, dan diakhiri dengan terbenamnya matahari.

Papajar memang kerap dinantikan sebagian masyarakat Cianjur. Saking melekatnya tradisi ini, beberapa masyarakat mengaku kurang afdal melaksanakan Puasa tanpa terlebih dahulu melaksanakan Papajar.

Denny Rusyandi, budayawan yang aktif di Lembaga Kesenian Cianjur (LKC) mengaku tidak mengetahui persis tradisi papajar itu dimulai. Namun demikian, ia menyakini papajar itu berkaitan erat dengan makna bulan Puasa.

“Puasa kan diawali dengan terbitnya fajar dan diakhiri terbenamnya matahari. Tidak jauh berbeda dengan tradisi papajar dimana makna ini mengandung arti menjemput fajar,” sebutnya.

Lebih jauh Denny mengatakan, arti penting makna papajar itu sendiri ialah silaturahmi, baik antara sesama keluarga, maupun dengan rekan satu profesi. Ajang papajar dapat juga dijadikan alat untuk lebih mendekatkan diri antar sesama.

Denny pun tidak menampik jika tradisi papajar belakang ini sangat berbeda dengan zaman dahulu. Konon, kata dia, dahulu masyarakat lebih condong melakukan papajar dengan bertafakur dan memanjatkan doa secara bersama-sama di suatu lapangan terbuka. Akan tetapi kini masyarakat lebih memilih tempat-tempat rekreasi.

“Memang saat ini sangat jauh berbeda pelaksanaannya dengan zaman dulu. Namun begitu, kita tidak bisa memaksakan kehendak mereka mau melakukan papajar seperti apa. Mungkin perkembangan zaman pula yang ikut mengubah tradisi ini,” ucapnya.

Denny pun tidak memungkiri, apabila tradisi papajar ini bisa dikemas sedemikian rupa, maka bukan tidak mungkin bisa menjadi nilai jual wisata di Kabupaten Cianjur. Sebab tak sedikit masyarakat yang berasal dari luar Cianjur kerap mengernyitkan dahi tatkala mendengar kalimat papajar.

“Mungkin di daerah lain juga ada tradisi sebelum melaksanakan puasa. Namun jika papajar bisa dikemas sedemikian rupa, bukan tidak mungkin akan menambah khazanah budaya dan tradisi Kabupaten Cianjur. Ujung-ujungnya akan mendongkrak nilai jual pariwisata Kabupaten Cianjur,” pungkasnya.

referensi: inilahjabar

Pandan Putri, Varietas Padi Baru Unggulan Cianjur

Pandan Putri, Varietas Padi Baru Unggulan Cianjur

Keturunan Pandan Wangi yang Hanya Tumbuh di Lima Kecamatan Varietas Pandan Putri merupakan keturunan dari varietas Pandan Wangi. Sedangkan Pandan Wangi sendiri merupakan varietas kebanggaaan Kabupaten Cianjur. Seperti apa turunan dari Pandan Putri ini?

PADI Pandan Putri merupakan keturunan dari Pandan Wangi. Dua jenis beras itu merupakan kebanggaan masyarakat Cianjur, karena memiliki ciri khas tersendiri. Yaitu baunya harum, rasanya nasinya sangat pulen dan penampilan nasinya sangat putih.

Kombinasi dari keragaman sifat khas tersebut, kemudian membuat Pandan Putri banyak dicari orang dan harganya menjadi sangat mahal. “Tetapi agak disayangkan pula, beras itu memiliki kekurangan. Yaitu umur panennya masih sangat panjang, sekitar enam bulan dan tidak mudah beradaptasi dengan berbagai kondisi berbagai lahan,” kata Komisaris Utama PT Sinar Alam Pasundan (SIAP), H.M. Aksa Sanjaya, kepada Radar Cianjur, kemarin.

Menurutnya, tidak semua wilayah di Kabupaten Cianjur cocok untuk ditanami Pandan Putri. Hanya di lima kecamatan yang bisa menghasilkan. Yaitu Kecamatan Warungkondang, Cibeber, Cilaku, Cugenang dan Cianjur Kota. Itulah yang menyebabkan Pandan Putri sulit ditemukan di pasaran. Dengan berdasar kepada kondisi tersebut, pemulia tanaman dari pusat aplikasi teknologi Isotop dan radiasi (PATIR), Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), melakukan mutasi radiasi terhadap Pandan Wangi dengan menggunakan teknik radiasi.

Kemudian, percobaan menggunakan mutasi radiasi dengan teknik penyinaran radiasi Gama (Iradiasi). Sebagaimana karakteristiknya radiasi gamma bisa menyebabkan perubahan sifat keturunan, apabila ditembakan pada bebijian tanaman. Interaksi antara sinar gama dengan kromosom, bisa menyebabkan struktur kromsom rusak putus atau berpindah pasangan perubahan yang terjadi dapat mempengaruhi sifat tanaman yang diradiasi. Sifat baru yang muncul bisa beragam, bisa lebih bagus atau sebaliknya.

Pengamatan dilakukan, terhadap perkembangan tanaman, dari sejak proses penyemaian, masa pertumbuhan, hingga waktu panen. “Pada saat inilah akan terlihat perubahan yang terjadi pada tanaman dan hanya terhadap sikap yang baik yang dilakukan, pengamatan selanjutnya hingga diperoleh sifat tanaman yang diinginkan,” tuturnya.

Sebagai sebuah varietas unggulan hasil rekayasa nuklir, Pandan Putri diharapkan mampu meningkatkan kekuatan pada sektor pertanian.

Terlebih, varietas ini bisa ditanam di manapun, tidak seperti varietas pendahulunya, Pandan Wangi yang hanya bisa tumbuh di wilayah tertentu.

Ketua DPC Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Cianjur Ibrahim Naswari mengharapkan, hadirnya varietas padi Pandan Putri bisa merancang perekonomian di Cianjur. Sehingga, indeks daya beli yang selama ini masih berada pada level 57, dengan sendirinya bisa terangkat.

“Investasi dalam sektor pertanian, diharapkan bisa mengejar angka kontribusi yang akan berimbas pada peningkatan kesejahteraan petani dan masyarakat,” kata Ibrahim saat dihubungi INILAH.COM, Jumat (3/6/2011).

Varietas padi Pandan Putri cenderung memiliki kelebihan dibanding Pandan Wangi. “Hadirnya varietas padi Pandan Putri diharapkan bisa menjadi alternatif, karena dari segi usia, produktivitas, maupun lahannya sendiri, lebih efektif,” sebutnya.

Ibrahim pun mengharapkan Pandan Putri bisa diproteksi sebagai upaya antisipasi menjaga varietas asal Kabupaten Cianjur.

“Tapi yang harus digarisbawahi, meskipun bisa ditanam di lahan manapun, tapi tidak boleh ditanam di luar wilayah Kabupaten Cianjur. Ini sebagai bentuk proteksi,” tandasnya.

Hasil uji lapangan di 20 titik, varietas padi pandan putri mengalami peningkatan 10-20%, terlebih usia panennya hanya sekitar 120 hari.

referensi: radarcianjur, inilahjabar

Mengenal Batik Beasan Cianjur

Mengenal Batik Beasan Cianjur

Batik Khas Cianjur? Banyak warga yang belum mengetahui akan Warisan Budaya Cianjur yang satu ini. Batik Beasan sudah dipatenkan pada 2 Oktober 2009. Satu situs dengan URL http://batik.dicianjur.com menyajikan berbagai informasi mengenai Batik Beasan. Diperlukan kontribusi dari pemerintah daerah dan semua elemen masyarakat supaya Warisan Budaya ini bisa tetap dilestarikan, dikembangkan dan menjadi aset budaya yang tak ternilai.

Berikut informasi selengkapnya mengenai Batik Beasan:

“BEAS” yang dalam bahasa Indonesia dikenak dengan sebutan “BERAS”, adalah buah padi yang diproses, Hingga saat ini belum ada jenis padi varietas Jawu Dwipa (Pandanwangi) yang menyamai dan menghasilkan kualitas Beras Cianjur yang terkenal tersebut, dibelahan wilayah Indonesia manapun, Hal ini belum ada penelitian secara khusus yang bias menjelaskan fenomena tersebut.

Atas dasar tersebut kami menganggap hal terbaik untuk mempertahankan keberadaan akan ketenarannya maka menjadikan nama “BEASAN” untuk seluruh motif/desain Batik Khas Cianjur, yang mempunyai Corak dan Pola dasar yang menunjukan ciri – ciri  sebagai berikut :

  • Gambar atau Motif Batik “Beasan” :
    • Kumpulan dan atau satuan Akar Pohon, Batang Pohon, Daun, Pucuk Bunga, Bunga dan Buah Padi.
    • Kumpulan dan atau satuan Akar Pohon, Batang Pohon, Daun, Pucuk Bunga, Bunga dan Buah Padi yang dipadukan dengan unsur budaya, kesenian, alam dan lingkungan keberadaannya (hamparan sawah, sungai, air, pohon  – pohonan, bukit, gunung, dan awan.
    • Pola/Bentuk/Motif gambar “Beasan” dalam seluruh arah baik Simetris, aSimetris, Vertikal, dan Horizontal.
    • Tambahan/Penambahan/Saweran pada setiap Gambar/Motif “Beasan”, dalam Batik Solo dan Jogja disebut “tik” (Titik) sedangkan pada Batik “Beasan” berbentuk satuan Pulir/Biji Padi, Gabah, Bunga Padi.

referensi:

  • batik.dicianjur.com
Cinderamata Cianjur

Cinderamata Cianjur

Beberapa cinderamata yang merupakan hasil dari kerajinan budaya Cianjur antara lain:

Sanggar Bambu

Aneka kerajinan dibuat dari bambu oleh pengrajin di Kota Cianjur seperti tudung saji, nampan, lampu duduk sangat artistik dan unik. Sanggar bambu ini mendapat penghargaan upakarti tahun 1992.

Lentera Gentur

Lentera Gentur dibuat dari kuningan dan bahan kaca berwarna dengan desain yang artistik merupakan salah satu kerajinan rakyat Cianjur yang sudah terkenal, berlokasi di Kecamatan Warungkondang.

Keramik

Kerajinan keramik berlokasi di Kecamatan Ciranjang pada satu sentra produksi dan satu unit usaha oleh lima orang pengrajin. Ruangan rumah akan bertambah anggun dan artistik bila kerajinan ini dipasang secara serasi.

Miniatur Kecapi

Kerajinan Miniatur Kecapi terbuat dari logam atau kayu yang dibuat sesuai dengan aslinya.Alat musik ini biasa digunakan untuk mengiringi tembang Cianjuran termasuk berbagai jenis lagu sunda lainnya.

Sangkar Burung

Sangkar Burung, satu kerajinan yang bernilai ekonomis produktif berlokasi di Kecamatan Karangtengah. Kerajinan Sangkar Burung telah mendapat penghargaan Nasional Upakarti tahun 1994.

referensi: cianjurkab.go.id

Istana Presiden Cipanas

Istana Presiden Cipanas

Istana Cipanas yang merupakan Istana Kepresidenan, terletak di kaki Gunung Gede, Jawa Barat. Tepatnya lebih kurang 103 km dari Jakarta ke arah Bandung melalui Puncak. Istana ini terletak di Desa Cipanas, kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur. Luas areal kompleks istana ini lebih kurang 26 hektar, namun sampai saat ini hanya 7.760 m2 yang digunakan untuk bangunan. Selebihnya dipenuhi dengan tanaman dan kebun tanaman hias yang asri, kebun sayur dan tanaman lain yang ditata seperti hutan kecil.

Kata “Cipanas” berasal dari bahasa Sunda, yaitu ci atau cai yang berarti “air” dan panas yang berarti “panas”. Daerah ini dinamakan Cipanas karena di tempat ini terdapat sumber air panas, yang mengandung belerang, dan yang kebetulan berada di dalam kompleks istana Cipanas.

Sebenarnya bangunan induk istana ini pada awalnya adalah milik pribadi seorang tuan tanah Belanda yang dibangun pada tahun 1740. Sejak masa pemerintahan Gubernur Jenderal Gustaaf Willem baron van Imhoff, bangunan ini dijadikan sebagai tempat peristirahan Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Beberapa bangunan yang terdapat di dalam kompleks ini antara lain Paviliun Yudistira, Paviliun Bima dan Paviliun Arjuna yang dibangun secara bertahap pada 1916. Penamaan ini dilakukan setelah Indonesia Merdeka, oleh Presiden Sukarno. Di bagian belakang agak ke utara terdapat “Gedung Bentol”, yang dibangun pada 1954 sedangkan dua bangunan terbaru yang dibangun pada 1983 adalah Paviliun Nakula dan Paviliun Sadewa.

Sebuah peristiwa penting yang pernah terjadi di istana ini setelah kemerdekaan adalah berlangsungnya sidang kabinet yang dipimpin oleh Presiden Soekarno pada 13 Desember 1965, yang menetapkan perubahan nilai uang dari Rp 1.000,- menjadi Rp 1,-.

Sedangkan pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, gedung ini hanya digunakan sebagai tempat persinggahan pembesar-pembesar Jepang dalam perjalanan mereka dari Jakarta ke Bandung ataupun sebaliknya.

Gedung ini ditetapkan sebagai Istana Kepresidenan dan digunakan sebagai tempat peristirahatan bagi Presiden atau Wakil Presiden beserta keluarga setelah kemerdekaan, seperti halnya Camp David Amerika Serikat.

Setiap ruangan di Istana ini dilengkapi dengan perabot yang terbuat dari kayu. Di Istana ini tersimpa berbagai koleksi ukiran Jepara dan lukisan dari maestro seni lukis Indonesia seperti Basuki Abdullah, Dullah Sujoyono, dan Lee Man Fong.

Pada 24 November 2011, Istana Cipanas dipakai untuk acara resepsi pernikahan antara Edhie Baskoro Yudhoyono dan Siti Ruby Aliya Rajasa dengan nuansa Palembang. Sejumlah menteri-menteri Kabinet Indonesia Bersatu II hadir dalam proses pernikahan tersebut.

referensi: wikipedia

Masjid Agung Cianjur

Masjid Agung Cianjur

Masjid Agung Cianjur ini terletak di pusat Kota Cianjur yang dibangun pertama kali pada tahun 1810. Sayangnya penduduk yang merintis pembangunan Mesjid ini tidak tercatat dalam sejarah sebagaimana sejarah Mesjid-Mesjid Agung di daerah lainnya.

Mesjid ini dibangun diatas tanah wakaf milik Ny. Raden Bodedar binti Kangjeng Dalem Sabirudin, yang merupakan Bupati Cianjur yang ke-4.Luas Mesjid ini pada mulanya 400 m. Lalu berkembang menjadi 2500 m. Serta mengalami beberapa kali perbaikan.

Yang paling intensif adalah sejak tahun 1997 sampai tahun 2000 yang menelan biaya kurang lebih Rp. 10 milyar. Desain modern dan klasik menjadi ciri khas mesjid ini yang dapat menampung sekitar 4000 jemaah.

Disinilah biasanya salah satu tradisi masyarakat Cianjur yaitu Ngaos dilaksanakan. Terutama ketika peringatan hari-hari besar Islam seperti Ramadhan, Nuzulul Quran, Isra Miraj dll. Mesjid ini akan ramai oleh gelombang lautan manusia yang dengan antusias mendatangi mesjid.