Ngaguar Batik Beasan Cianjur

Ngaguar Batik Beasan Cianjur

Filosofi Daerah yang Diakui Dunia Internasional

Kekhasan Cianjur, tidak hanya berkutat dengan tauco dan manisan. Sebab, salah satu ciri khas kota perlintasan ini juga terdapat pada sisi kerajinan, dan telah diakui ditingkat Internasional. Kerajinan apakah itu? Simak penuturannya.

Astri Dwi Andriani, Jalan Suroso

Batik Beasan, banyak masyarakat Cianjur yang belum mengetahui warisan budaya Cianjur yang satu ini. Sebuah kepanjangan dari beras yang berarti beas dalam Bahasa Sunda. Sebuah motif yang sarat dengan filosofis kehidupan.

Beas, yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan beras, adalah buah padi yang diproses. Dan Cianjur, terkenal dengan berasnya yang besar dan harum yang dikenal varietas Jawu Dwipa (Pandanwangi).

Sebelumnya, Pandanwangi memang telah dikenal di dunia Internasional dengan rasanya.

Walaupun belum ada penelitian secara khusus, kontur tanah yang bisa menghasilkan beras Pandanwangi hanya terdapat di dua tempat belahan dunia, yaitu di tanah Siberia, dan tanah Cianjur. ”Tepatnya terletak di Kecamatan Warungkondang,” singkat Camat Warungkondang Hendri Prasetiadi AP MM kepadaCianjur Ekspres.

Berdasarkan hal tersebut, maka diangkatlah tema beras atau beas untuk mempertahankan keberadaan dan ketenaran Beras Pandanwangi. Dan beas atau beasan dijadikan nama paten dan digunakan seluruh motif Batik Beasan khas Cianjur.

Menurut Iim Imamudin GS, desainer sekaligus instuktur sentra Batik Tulis Beasan, simbol dari gambar tersebut memiliki makna filosofis tersendiri. Selain dari keberadaannya yang mewakili Cianjur, Batik Beasan juga dipandang mewakili Beras Pandanwangi.

Meski demikian, untuk memperkaya motif, Iim pun rupanya tidak monoton dalam berkreasi. Banyak motif lainnya seperti kumpulan atau satuan akar pohon, batang pohon, daun, pucuk bunga, bunga dan buah Padi yang dipadukan dengan unsur budaya, kesenian, alam dan lingkungan keberadaannya seperti hamparan sawah, sungai, air, pohon–pohonan, bukit, gunung, dan awan.

“Selain motif beras yang berserakan, disini juga terdapat motif lain seperti motif unsur sawah yang berpetak-petak, tangkai padi, bunga padi, kecapi, suling, dan gendang yang dipagari. Hal tersebut mengandung filosofi kalau warisan buadaya Indonesia, khususnya di Cianjur harus dijaga dengan baik. Supaya tidak direbut oleh bangsa lain,” paparnya.

Berkat keuletan dan perjuangan berbagai pihak, akhirnya 2 Oktober 2009, diprakarsai oleh Lembaga Pengkajian Pengembangan dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat (LP3EM) Cianjur sekarang telah disahkan oleh pemerintah pusat dan dunia sebagai warisan budaya asli dari Indonesia dan diakui oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

Sebuah pencapaian yang tidak mudah. Untuk tetap mempertahankan dan mengembangkan Batik Beasan, kata Iim sejak tahun 2008, sejumlah dinas seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Dinas Pariwisata, Dinas Koperasi, dan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Cianjur, aktif mengadakan pelatihan pada warga dari tujuh kecamatan yang ada di Cianjur. Seperti Karang Tengah, Sukaluyu, Cianjur, Gekbrong, Warung Kondang, Cugenang, dan Cipanas.

“Dalam pelaksanaannya, pembinaan dan pelatihan tersebut diadakan selama tiga bulan. Dalam satu tahun biasanya diadakan dua kali. Sampai saat ini, terdapat 160 warga yang aktif membuat batik tulis beasan,” terang Iim.

Untuk lebih melestarikan Batik Beasan, LP3EM bekerja sama dengan Koperasi Batik Beasan Cianjur akan mengadakan Lomba Design Batik Beasan Cianjur dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Cianjur (HJC) yang akan digelar Juni mendatang. Lomba ini rencananya akan dibuka untuk berbagai kalangan, dari mulai TK hingga mahasiswa atau umum. (*)

referensi: cianjurexpress
Radio Tjandra 100.6 FM Cianjur

Radio Tjandra 100.6 FM Cianjur

Latar belakang pendirian Radio Tjandra Buana Suara adalah salah satu bentuk kepedulian dari salah satu generasi penerus Bangsa, untuk memberikan hiburan dan informasi serta pendidikan melalui media radio yang akan mewarnai masyarakat Cianjur dengan menyajikan produk acara untuk segmetasi menengah kebawah, dan tidak menutup kemungkinan peran serta dari pendengar menengah ke atas, dimana ini adalah salah satu yang dianggap penting mengingat kondisi geografis serta Culture di Kabupaten Cianjur yang sebagian besar penduduknya berpenghasilan dari pertanian.

Radio Tjandra sendiri asalnya merupakan salah satu cabang dari radio yang ada di Bandung namun seiring dengan perkembangan peraturan pemerintah pada saat itu yang dampaknya dengan diharuskannya untuk me-merjerkan radio menjadi beberapa bagian di Kota – Kota besar, sehingga radio Tjandra Cianjur mengambil langkah yang konsekuen untuk tetap memberdayakan dan tetap eksis memberikan hiburan bagi masyarakat Cianjur dan sekitarnya, Pada tanggal 07 April 1971 berdirilah radio Tjandra Cianjur yang masih menggunakan Freqwensi Short Wave ( SW ). Para Pendirinya adalah: Tuan Sjape’I RO, Raden Ojot Soewandi, dan Tuan R H Sutisna Soewandi.

VISI

RADIO TJANDRA SEBAGAI MEDIA NOMOR SATU DI KABUPATEN CIANJUR UNTUK MENGEDEPANKAN DAN MEMELIHARA BUDAYA LOKAL SEBAGAI ASET BUDAYA BANGSA DAN SEKALIGUS MAMPU MEMBERIKAN HIBURAN DAN INFORMASI SERTA PENDIDIKAN UNTUK MASYARAKAT KABUPATEN CIANJUR.

MISI

  • SEBAGAI WADAH MUSIK INDONESIA DAN KESENIAN SUNDA.
  • MENJADI KEBANGGAAN MASYARAKAT KABUPATEN CIANJUR.
  • MENJADI MEDIA TERDEPAN UNTUK MEMBERIKAN DAN MENYEBAR LUASKAN INFORMASI DAN HIBURAN KEPADA MASYARAKAT CIANJUR.
  • MENGADAKAN ACARA – ACARA UNTUK MENGGALI BUDAYA LOKAL. MENINGKATKAN PERILAKU PENYIAR UNTUK LEBIH MENGETAHUI DAN MENGHARGAI BUDAYA.
  • PENINGKATAN INCOME PER KAPITA ATAU PENDAPATAN UNTUK PERUSAHAAN.

COMPANY PROFILE

  • Company : PT RADIO TJANDRA BUANA SUARA
  • Station ID : 100,6 Tjandra FM Your Favourite Station
  • Anggota PRSSNI : 064-1/ 1972
  • Adress : Ir H. Juanda KM 3 , Warung Batu Cianjur / PO BOX 141 Cianjur 43251
  • Telepon : (0263) 261756, (Hunting) 262795, 265756
  • Fax : (0263) 272267
  • Mobile : 0812 147 1006
  • Email : tjandra1006fm@yahoo.com
  • Dirut / Pen. Jawab : H. SUTISNA SOEWANDI

STATION PROFILE

POSITIONING STATEMENT : “100,6 Tjandra Fm Your Favourite Station“

FORMAT SIARAN

  • Info & News : 27 %
  • Religius : 6 %
  • Sport : 4 %
  • Music & Entertainment : 40 %
  • Acara Layanan Masyarakat : 3 %
  • Commercial : 20 %

MUSIC FORMAT

  • Dangdut : 40,2 %
  • Pop Indonesia & Barat : 28 %
  • Tradisional Sunda : 21,8 %
  • Musik Keagamaan : 10 %

ON AIR

05.00 – 01.00 WIB

PRIME TIME

06.00 – 10.00 WIB / 15.00 – 19.00 WIB

REGULAR TIME

10.00 – 15.00 WIB

19.00 – 01.00 WIB

COVERAGE AREA

Sukabumi, Purwakarta, Cipanas, Puncak, Padalarang, Bandung, Kadupandak, Tanggeung, Cibinong, Sukanagara, Pagelaran, Campaka.

LISTENERS PROFILE

  • SES : A, B, C, D, E ( Multi Segment )
  • Sex : 43,97 % Male – 56,03 % Female
  • Age : 15 – 50 tahun
  • Occopt. : Wiraswasta, karyawan, Ibu Rumah Tangga, Pelajar, Mahasiswa, dan masyarakat umum.
  • Education : SD, SLTP, SMU, Akademi / Perguruan Tinggi.
  • Characteristics : Keluarga harmonis dan dinamis
Video: KARINDING Pasirhayam

Video: KARINDING Pasirhayam

KARINDING Pasirhayam

Lokasina di Cianjur kampung Pasirhayam
anu maena Panji Sundanese sareung Rhama Sundanese
kameramen Nurul Hamzah
Host na : wel Rocker Sunda Moderat

KARINDING PASIRHAYAM CIANJUR ( SAKAHAYANG ASAL DISADA HIDEUNG BODAS )

PANJI Sundanese & Paris Putra Sunda

referensi: youtube
Video: Tari Cahaya Gentur

Video: Tari Cahaya Gentur

Tari Cahaya Gentur

Menceritakan kehidupan di pesantren gentur tempo dulu, para santri apabila mau belajar mengaji menggunakan alat penerangan dengan lentera. Garapan ini disajikan dalam Apresiasi seni pinunjul FLS2N 2011 di gedung Dewan Kesenian Cianjur tgl 1-5 Oktober 2011 dengan penata tari dan busana ( Pandi Surono S.Sn dan Fitri Nurfaida S.Sn), mewakili dari keluarga besar SMPN1 Cianjur. Tari ini membawa misi promosi juga untuk kemajuan kerajinan tangan Lampu gentur, agar lebih dikenal di Masyarakat dan diminati juga dicintainya.

referensi: youtube
Basa Sunda: Kamekaran Mamaos

Basa Sunda: Kamekaran Mamaos

Kiwari kecap Mamaos masih keneh aya anu nganggo maneuh, sok sanaos digentos ku kecap Tembang Sunda Cianjuran. Utamina ku aranjeuna anu hoyong ngodok ka jerona nyungsi harti anu utamina, seja neuleuman falsafah udaganana.

Tokoh Mamaos renung sirungan diunggal tempat, teu bae di Pasundan malah parantos dugi ka Eropah. Wartosna mah di nagara deungeun sapertos Belanda, tos aya pakumpulan Mamaos. Tangtosna oge di Pasundan, teu sirikna diunggal kabupaten aya. Malah seueur pakumpulan-pakumpulan Tembang Sunda, mekar turnuwuh dugi ka kiwari.

Ieu sadaya ku urang katingal dina pintgnan boh TV Pamarentah oge TV swasta. Tembang Sunda Cianjuran mangrupa kareueus balarea. Tokoh-tokoh sapertos Mang Uking Sukri, Mang Maman Rukman, Mang Engkgs, Mang Ebar parantos teu bireuk kanggo urang sadaya. Tuh nya kitu angkatan beh dieu sapertos kersana Bapa Aping S Wiratmadja, kersana Drs. Enip Suhanda, DR. Dadang Sulaeman (Alm), Euis Komariah, Ecep Suryana sareng seueur-seueur deui.

Angkatan ngorana sapertos Drs. Barman S, Tarman S, Ade, Dede, Imas Permas, Ida Widawati, Enah Sukaenah, Mamah Dasimah, Didin Bajuri, Drs. Asep Kosasih, Adang, Yayah R, Neneng Dinar. Kiwari tangtos langkung seueur deui, ku ayana SMK (Kapungkur Kokar). Seueur para sarjana Beni lulusan S.T.S.I Bandung beuki rempeg bae teu matak hariwang. Mekar……mekar…..terus mekar, Budaya Sunda hususna Mamao,s anu kiwari disebut Tembang Sunda Cianjuran.

Kacindekan

Tembang Sunda anu kiwari sumebar teu tiasa leupas ti kecap Mamaos. Anu ieu kecap teh jolna ti Dayeuh Cianjur anu lalakonna panjang pisan. Diawitan ti R.A Jayasasana anu diluluguan ku R.A Candramanggala sareng R.A Cakradiparna, R.A Wasitaredja (Dalem Seni), R.A.A Kusumah Ningrat, R.A.A Prawiradiredja, R. Ece Madjid, diwuwuh ku Seniman/Budayawan sapandeurieunana.

Mugia sing terus narutus ka incu buyut masing jadi Budaya Bangsa atawa Budaya Niagara, kawas baheula Basa Sunda jadi Basa Nagara.

Amin…. !

referensi: cianjurkab
BCNY House

BCNY House

BCNY House adalah singkatan dari “Barudak Cianjur Nongkrong Yuk…” dari namanya saja sudah tahu bahwa BCNY house adalah tempat nongkrong komunitas Cianjur.

Di BCNY House Cianjur tersedia fasilitas-fasilitas yang lengkap mulai dari pujasera dengan berbagai macam pilihan makanan disetiap counter yang pastinya maknyus, drink station dengan berbagai macam menu minuman, kolam renang indoor, GOR serbaguna (tennis,bulu tangkis, gedung perkawinan/ulang tahun), lapang futsal indoor (karet/beton) dan lapang basket outdoor makin melengkapi fasilitas nongkrong komunitas Cianjur dengan tema nongkrong sambil berolahraga.

Fasilitas

  • Terdapat 2 lapang badminton indoor di BCNY House. lapang terbuat dari parkit yang nyaman.
  • BCNY House pujasera menyediakan beraneka ragam pilihan jenis masakan nusantara, BCNY fried chicken : best fried chicken in town, chicken burger, beef burger, cheese burger, chicken pop corn & strips, french fries, spagethi, nasi goreng ala BCNY dan counter counter lainnya : spatula, kedai betawi, jesel, creaps, batagor, pempek palembang, pedo euy, pondok yamien, mie ayam, ayam tulang lunak, ilvick seafood, zhi zha.
  • Lapang futsal indoor terdiri dari dua lapang yaitu lapang karet dan lapang beton yang menjadi tempat kumpul team2 futsal lovers cianjur.
  • Gedung serbaguna BCNY House dapat menampung 1000 pengunjung, sering digunakan untuk pernikahan, acara partai, konser musik, gathering, ulang tahun
  • Swimming pool BCNY House adalah kolam semi indoor yang terdiri dari kolam anak dan dewasa. dan waterpark yang sedang dalam tahap pembangunan. pada kolam anak terdapat permainan sliding dan bak tumpah
  • Tennis indoor BCNY House terdiri dari 1 lapang tenis dengan fasilitas ballboy.

Kontak

Alamat: Jl.Arif R Hakim No. 52 Cianjur
Telp: (0263) 273 446
Email: lnb_cianjur@yahoo.com
Facebook: wwww.facebook.com/bcnyhouse
Twitter: @bcnyhouse

Map


Lihat BCNY House di peta yang lebih besar

referensi: bcnyhouse

Tokoh: Rd. Aria Cikondang

Tokoh: Rd. Aria Cikondang

Sebagian masyarakat Cianjur mungkin hanya mengetahui Rd. Aria Cikondang, sebagai nama sebuah jalan. Bahkan sebagian masyarakat lainnya, ada yang lebih suka menyebutnya dengan singkatan Arciko saja,

Sebagaimana telah dikemukakan terdahulu, Rd. Aria Cikondang atau Rd. Aria Dimanggala merupakan salah seorang putra Dalem Cikundul. Sesuai perintah ayahnya, Rd. Aria Cikondang pergi meninggalkan Kadaleman Cibalagung mengikuti Rd. Aria Wira Manggala yang kemudian dikenal dengan sebutan Dalem Tarikolot atau Dalem Pamoyanan beserta saudara-saudaranya yang lain. Mereka lalu bahu membahu membantu Dalem Tarikolot, membangun Nagri Pamoyanan yang lalu berkembang menjadi Nagri Cianjur.

Menurut hikayatnya, Rd. Aria Cikondang memiliki postur tubuh atletis, warna kulit sawo matang namun bersih dengan paras muka ganteng dan berambut panjang sebahu. Bertemperamen keras dan tegas serta memilki beragam ilmu ‘kadugalan’. Namun ia sangat taat beribadah dan sangat menghormati serta menyayangi saudara-saudaranya, dengan sikap senantiasa siap melindungi. Termasuk melindungi seluruh rakyat Nagri Cianjur saat itu, dari segala macam marabahaya. Apabila diibaratkan, sosoknya merupakan Panglima Nagri Cianjur yang sangat disegani.

Karena kedigjayaannya pula sehingga pihak mana pun yang berusaha menundukkan Nagri Cianjur pada saat itu, merasa kesulitan mengalahkannya. Apalagi melakukan penjajahan terhadap Nagri Cianjur. Hingga takdir menjemput ajalnya, dengan cara yang sangat mengenaskan. Untuk melumpuhkannya, tubuh dan kepala Rd. Aria Cikondang terpaksa harus dipisahkan. sebab apabila tubuh dan kepalanya masih bersatu, akan sangat kesulitan melumpuhkannya.

Makamnya yang terletak di Kecamatan Cibeber pun, sekarang ada dua. Yakni sebagian tubuhya dimakamkan pada dataran rendah, sedangkan bagian kepalanya berada pada sebuah puncak bukit. Wallahu Alam …. !

referensi: cianjurkab
The Jhon’s Cianjur Aquatic Resort

The Jhon’s Cianjur Aquatic Resort

The Jhon adalah Cianjur Aquatic Resort (Wisata Perairan), retret tropis indah di Cianjur. Nikmati liburan yang nyaman di tengah-tengah taman banyak, air, dan hutan. Terletak di tengah kota Cianjur.

The Jhon Cianjur Aquatic Resort dikandung sebagai istana air, taman lansekap dan laguna atau sungai sekitarnya. Menawarkan kenyamanan dan layanan dari kelas sebuah hotel dicampur dengan ketenangan relaksasi dari sebuah resor Montain terpencil. Pengalaman total relaksasi dan olahraga di Adventure Jhon, yang dirancang dengan 30-vila eksotis alam di tengah taman tropis.

Fasilitas Resort

The Jhon itu Cianjur Aquatic Resort, lokasi yang sempurna untuk liburan keluarga yang megah. Kita lebih seluas 10 hektar area dan berbagai macam olahraga air, termasuk Tabung Rafting. Jangan lupa laguna mengesankan kita renang dengan gubuk sendiri di mana Anda dapat memesan mocktail bagus & menyegarkan atau makanan ringan sepanjang hari! Restoran, Memancing Kolam, Kolam Renang dan lebih dari 10 activitys tersedia menunggu Anda. Akhir kata, aktivitas harian gratis yang di-host oleh staf kami terlatih.

Di The Jhon’s Cianjur Aquatic Resort, para pengunjung dari segala usia akan menemukan banyak cara untuk tetap sibuk atau bersantai. Tetap dengan rezim kebugaran Anda pada kegiatan kami. Dan anak-anak dapat bermain dan membuat teman baru di tanah kanak-kanak.

  • Pusat Bisnis dengan PC, scanner internet, koneksi dan printer
  • Televisi satelit Saluran
  • Mobil Parkir
  • Harian keranjang buah
  • Pertemuan dan Konferensi fasilitas
  • Sepeda gunung dengan ATV
  • Kolam Renang
  • Olahraga air fasilitas
  • Taman Bermain Anak
  • Kolam Renang dengan Waterbom Cascading dan jacuzzi
  • Guest Relation Meja
  • Di kamar teh dan kopi membuat fasilitas
  • Spa & Massage
  • Tempat Pernikahan & Pre-Wedding
Beberapa layanan dan fasilitas di atas mungkin tidak tersedia secara 24-jam atau tanpa permintaan terlebih dahulu. Biaya pada fasilitas tertentu / jasa mungkin berlaku.  

The Jhon’s Cianjur Aquatic Resort

Kp. Tangkil Ds. Babakan Karet – Cianjur
Jawa Barat – Indonesia – 43251
Telp. (+62-263)264 444
Fax. (+62-263)273 000
Email : thejhons@thejhons.com

Map


View The Jhon’s Cianjur Aquatic Resort in a larger map

referensi: thejhons.com
Tradisi Mapag Cawene

Tradisi Mapag Cawene

Tradisi Mapag Cawene khas Kerajaan Jampang Manggung Cianjur kembali digelar di Pondok Pesantren Bina Akhlak di Kampung Sukawargi Desa Babakan Karet Kecamatan Cianjur Kabupaten Cianjur, Minggu (17/6).Tradisi berumur ratusan tahun yang sempat tertunda selama 75 tahun kembali digelar, K.H. Djalaluddin Isa Putra (50) sesepuh pontren Bina Akhlak yang juga keturunan raja Jampang Manggung pada syukuran pernikahan putra laki-laki tertuanya yang sebelumnya sudah melangsungkan pernikahan dengan seorang gadis hari Jumat (15/6) di Cilaku Cianjur.

“Tradisi Mapag Cawene artinya menyambut anak gadis yang sudah dinikahi oleh keturunan Jampang Manggung di rumah keluarganya, dalam bahasa Jawa biasa disebut Ngunduh Mantu. Terakhir kali upacara ini digelar pada pernikahan ayah saya tujuh puluh lima tahun lalu, dan sekarang akan saya hidupkan kembali supaya anak-anak saya dan warga Cianjur teu pareumeun obor, “ kata K.H. Djalaluddin Isa Putra yang akrab dipanggil Eyang Junan saat dijumpai disela-sela acara.

Menurutnya, tradisi Mapag Cawene digelar bagi keturunan raja Jampang Manggung saat anaknya meminang seorang gadis yang dibawa ke rumah orang tuanya.”Sejatinya sebelum acara digelar pengantin pria diharuskan mandi dengan air yang bersumber dari tujuh mata air, sedangkan pengantin wanita diharuskan mandi terlebih dahulu dengan air yang berasal dari dua muara sungai,” tuturnya.

Namun karena keterbatasan, jelasnya, tradisi mandi tersebut ditiadakan karena sulitnya memperoleh sumber-sumber air. Meski begitu, sebagian besar masih tetap digelar seperti pemberian pusaka raja Jampang Manggung berupa senjata Tosa yang sudah berumur ratusan tahun,pemberian bibit kelapa (kitri) dan kitab suci Al Quran.

Dia memaparkan, tradisi Mapag Cawene dimulai dengan penjemputan pengantin wanita dipintu gerbang masuk ke rumah mempelai pria, sebelum masuk diadakan upacara “ Seserahan” dari seorang juru tembang wanita atas nama keluarga mempelai wanita kepada keluarga mempelai pria yang diwakili oleh seorang juru tembang pria dengan diiringi dentingan kecapi. Saat dipertemukan mempelai pria menuangkan air dalam gayung batok kelapa kedalam kendi yang dipegang mempelai wanita, “ Ini memiliki symbol agar keduanya saling mengisi dan menjaga kehidupan yang disimbolkan air, rukun dan damai laksana tenangnya air, “ papar ayah 15 anak dan kakek 5 cucu ini.

Dia menambahkan, setibanya dipanggung, kedua mempelai diberi wejangan oleh orang tua pengantin pria. Acara ini dinamakan Wasiat Sang Hyang, nama yang masih dipertahankan sesuai tradisi Jampang Manggung sebelum tersentuh budaya Islam. “Saya sendiri kemudian menyerahkan sebilah Tosa senjata pusaka berbentuk pisau belati milik Prabu Kujang Pilawa raja Jampang Manggung ke I berumur empat abad kepada mempelai pria. Kemudian dilanjutkan dengan penyerahkan kitab suci Al Qur an dan kitri,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, pemberian pusaka raja Jampang Manggung memiliki arti agar anaknya meneruskan tradisi kerajaan Jampang Manggung, tapi tidak migusti (mempertuhankan) pusaka karena hukumnya musyrik, namun niatnya harus untuk mupusti (melestarikan), sedangkan pemberian kitab suci Al Quran agar kedua mempelai tetap berpedoman kepada agama Islam dalam mengarungi rumah tangga. “Pemberian Al Quran ini setelah raja terakhir Jampang Manggung yakni masuk Islam pada abad 15 masehi yakni Prabu Rangga Wulung yang kemudian berganti nama menjadi Syeh Abdul Jalil, “ tambahnya.

Pihaknya bertekad akan menghidupkan kembali tradisi Jampang Manggung termasuk menjaga keutuhan puluhan pusaka berbagai macam senjata tajam seperti Tosa, gobang,keris rampasan dari raja Daha (Kediri) yang pernah menyerang Jampang Manggung , badik dari India pemberian Raja Asoka yang mengungsi ke wilayah Jampang Manggung, dan lainnya.“Mudah-mudahan tradisi lainnya dapat dihidupkan kembali agar dikenal lebih banyak masyarakat dan dapat dilestarikan,” harapnya. Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian Cianjur (DKC), D. Andri Kartanagara, berharap agar pelestarian tradisi tua warisan Jampang Manggung didukung berbagai pihak , “ Saat ini Tradisi Jampang Mangung tidak saja menjadi milik keluarga Eyang Junan namun sudah milik warga Jawa Barat pada umumnya, dan sudah sepatutnya mendapat dukungan berbagai pihak agar bisa dikenal luas dan dilestarikan,“ pungkasnya. (den)

referensi: radarcianjur
Tokoh: Dalem Tarikolot

Tokoh: Dalem Tarikolot

Dalem Tarikolot adalah salah seorang putra Dalem Cikundul, yang memiliki nama sebenarnya Rd. Aria Wira Manggala. Ia merupakan Bupati pertama di Cianjur dan memperoleh gelar Rd. Aria Wiratanu II. Ia pula yang pertama kali merintis dan membuka Kota Cianjur, dengan mengambil pusat pemerintahan di daerah Pamoyanan sekarang. Hingga memperoleh pula julukan sebagai Dalem Pamoyanan.

Sesuai amanat dari ayahnya untuk mendirikan wilayah baru sebagai pusat pemerintahan, Rd. Aria Wira Manggala berangkat dari Kademangan Cibalagung dengan membawa beberapa ratus orang pilihan disertai saudara-saudaranya yakni Rd. Aria Dimanggala yang lebih dikenal Rd. Aria Cikondang serta Rd. Aria Natadimanggala yang lebih dikenal dengan julukan Aria Kidul dan saudara perempuannya yakni Nyi Mas Karanggan serta Rd. Aria Natamanggala. Daerah baru yang harus dicarinya adalah lokasi tanah yang memiliki kontur menurun kearah timur serta terletak dipinggir sungai. (sunda ; taneuh bahe ngetan sisi walungan). Dimana didaerah tersebut terdapat pemandian Badak Putih (Pangguyangan Badak Putih ; sekarang masih ada terletak dipojok kanan depan laman kantor Pegadaian Cianjur).

Hutan belantara yang pertama kali dibuka, yakni Kp. Muka (saat ini disekitar Cimenteng, Kelurahan Muka Cianjur). Setelah itu rombongan Rd. Aria Wira Manggala terus bergerak ke arah barat, hingga menemukan banyak sarang Burung Elang (sunda ; Sayang Heulang). Daerah itu pun lalu dikenal dengan sebutan Kp. Sayang Heulang, yang sekarang letaknya kira-kira disekitar Kantor Kejaksaan Negeri JI. Dr. Muwardi, By Pass Cianjur.

Saat ini nampaknya nama kampung Sayang Heulang tersebut, telah banyak dilupakan masyarakat. Padahal daerah yang sekarang telah cukup ramai itu, dahulunya terkenal sangat ‘angker’. Terutama di wewengkon tanjakan Pala, mengingat disekitar daerah itu dahulu pernah ada pohon pala yang cukup besar. Dan diatas pohon pala itu pula, dahulu pernah ada peristiwa orang gantung diri serta meninggal dunia.

Selanjutnya sambil terus membuka hutan, rombongan terus bergerak keatas menuju arah barat. Hingga sampai ke lokasi tanah yang agak tinggi dan dapat melihat kemana-mana (dalam bahasa Sunda berarti, sagala katembong). Lokasi itupun lalu diberi nama Kp. Panembong, letaknya sekarang disekitar Gedung Pemuda KNPI) Cianjur.

Dari Panembong, rombongan ini bergerak turun kearah timur. Dan menemukan banyak pohon salak serta pohon kopi. Rombongan pun beramai-ramai memetik buah-buah itu sambil bercengkerama. Hingga akhirnya memberi nama daerah itu, Kp. Salakopi. (Ietaknya sekarang, disekitar SDN Salakopi Cianjur)

Rombongan terus bergerak lagi ke arah timur dan sedikit berbelok ke kanan. Saat itu hari telah menjelang petang, dan matahari mulai terbenam diufuk barat. Rombongan pun beristirahat, untuk selanjutnya tertidur dan menginap didaerah itu. Hingga kemudian tempat mereka beristirahat tidur tersebut, saat ini bernama Kp. Pasarean. Artinya dalam Bahasa Sunda lebih kurang, tempat beristirahat atau tempat pangsarean. Namun saat ini tempat beristirahat dan tidur rombongan R. Aria Wiratanu II tersebut, telah menjadi tempat pemakaman umum Pasarean.

Keesokan harinya rombongan melanjutkan lagi perjalanannya, terus kearah kanan lalu menuju arah jalan yang agak menurun. Hingga menemukan sebuah tempat nyaman, yang banyak ditanami pohon rindang. Serta disekitar daerah tersebut, terdapat pula sebuah kali yang cukup besar dan kelak disebut Sungai Ciraden atau Sungai Cianjur. Artinya lebih kurang sungai yang dijadikan tempat mandi, oleh Raden Aria Wiratanu II beserta rombongannya.

Di daerah itu pula rombongan Rd. Aria Wiratanu II atau Dalem Tarikolot, mulai membuka hutan dan membangun pendopo serta beberapa bangunan lainnya, yang kelak akan berfungsi sebagai pusat pemerintahan. Termasuk juga membangun pemukiman untuk rombongannya.

Daerah itu berhawa sejuk hingga apabila tiba malam atau khususnya pagi hari, akan terasa sangat dingin. Karena itu pula Rd. Aria Wiratanu II tak jarang berjemur di pagi hari yang kemudian diikuti pula oleh anggota rombongannya. Kegiatan menjemur anggota badan di pagi hari dipinggir sungai tersebut, dalam bahasa sunda disebut moyan. Dan daerah itu pun akhirnya dikenal dengan sebutan pamoyanan, yang artinya lebih kurang tempat menjemur diri.

Pusat pemerintahan di wewengkon Pamoyanan dipinggir kali itu pula yang merupakan cikal bakal berdirinya pendopo, sebagai Pusat Pemerlntahan Kabupaten Canjur seperti saat ini. Sekaligus dimulainya asaI kata Canjur yakni dari Cai anjur, artinya anjur an memperoleh tempat dipinggir sungai (Cai) dari Dalem Cikundul, yang telah diketemukan Dalem Tarikolot beserta rombongannya. Termasuk tempat memperoleh gelar Rd. Aria Wiratanu lI, yang terletak disekitar Pamoyanan dan hingga saat ini dikenal dengan sebutan Kampung Gelar.

referensi: cianjurkab