Papajar, kalimat itu mungkin sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Cianjur. Papajar merupakan suatu tradisi yang kerap dilakukan sebagian masyarakat Cianjur menjelang bulan suci Ramadan dengan cara makan bersama. Biasanya, kegiatan itu dilakukan di objek-objek wisata.

Tidak diketahui persis darimana asal mula tradisi papajar ini muncul. Namun yang jelas, beberapa informasi yang berhasil dikumpulkan menyebutkan, papajar berasal dari kata fajar yang berarti sinar. Jika dikaitkan dengan makna bulan Ramadan, papajar berarti menyambut sinar yang akan segera terbit. Sama maknanya dengan Puasa,yang pada pelaksanaannya diawali sebelum terbitnya fajar, dan diakhiri dengan terbenamnya matahari.

Papajar memang kerap dinantikan sebagian masyarakat Cianjur. Saking melekatnya tradisi ini, beberapa masyarakat mengaku kurang afdal melaksanakan Puasa tanpa terlebih dahulu melaksanakan Papajar.

Denny Rusyandi, budayawan yang aktif di Lembaga Kesenian Cianjur (LKC) mengaku tidak mengetahui persis tradisi papajar itu dimulai. Namun demikian, ia menyakini papajar itu berkaitan erat dengan makna bulan Puasa.

“Puasa kan diawali dengan terbitnya fajar dan diakhiri terbenamnya matahari. Tidak jauh berbeda dengan tradisi papajar dimana makna ini mengandung arti menjemput fajar,” sebutnya.

Lebih jauh Denny mengatakan, arti penting makna papajar itu sendiri ialah silaturahmi, baik antara sesama keluarga, maupun dengan rekan satu profesi. Ajang papajar dapat juga dijadikan alat untuk lebih mendekatkan diri antar sesama.

Denny pun tidak menampik jika tradisi papajar belakang ini sangat berbeda dengan zaman dahulu. Konon, kata dia, dahulu masyarakat lebih condong melakukan papajar dengan bertafakur dan memanjatkan doa secara bersama-sama di suatu lapangan terbuka. Akan tetapi kini masyarakat lebih memilih tempat-tempat rekreasi.

“Memang saat ini sangat jauh berbeda pelaksanaannya dengan zaman dulu. Namun begitu, kita tidak bisa memaksakan kehendak mereka mau melakukan papajar seperti apa. Mungkin perkembangan zaman pula yang ikut mengubah tradisi ini,” ucapnya.

Denny pun tidak memungkiri, apabila tradisi papajar ini bisa dikemas sedemikian rupa, maka bukan tidak mungkin bisa menjadi nilai jual wisata di Kabupaten Cianjur. Sebab tak sedikit masyarakat yang berasal dari luar Cianjur kerap mengernyitkan dahi tatkala mendengar kalimat papajar.

“Mungkin di daerah lain juga ada tradisi sebelum melaksanakan puasa. Namun jika papajar bisa dikemas sedemikian rupa, bukan tidak mungkin akan menambah khazanah budaya dan tradisi Kabupaten Cianjur. Ujung-ujungnya akan mendongkrak nilai jual pariwisata Kabupaten Cianjur,” pungkasnya.

referensi: inilahjabar