SENI calung dan dangdut (cadut) yang satu ini berdiri tahun 1998. Saat ini masih diketuai ketua karang taruna Kampung Cageundang, Desa Sukamaju, mang Adun. Seni ini merupakan kesenian yang harus dilestarikan dan banyak dukungan seiring beragam seni, budaya, adat dan suku di negeri ini. Seperti apa keberadaannya?

BELUM lama ini wartawan ini mendatangi grup sanggar seni calung dangdut (cadut) di Kampung Cagenang RT 01/ 04 Desa Sukamaju, tepatnya jalan raya Sukabumi perapatan Nagrak-Cageundang, Cianjur. Ternyata seni ini menyimpan sejarah. Bagi pembaca Radar Cianjur yang pernah menyaksikan tampil grup ini dan punya kenangan tersendiri, setidaknya akan terkenang masa lalu itu.

Namun sayangnya seni opera humor ini sudah terlupakan oleh masyarakat, terutama oleh kaum muda di jaman sekarang ini. Karena anak muda sekarang sudah tertarik oleh budaya-budaya luar sehingga kurang peduli bahkan nyaris lenyap.

Saat itu, di sanggar seni yang namanya “galatik” tampak sedang berlatih seni opera humor. Saat perbincangannya, ketua karang taruna Kampung Cageundang, mang Adun menuturkan, di tanah air tercinta ini cukup sangat kaya akan suku budaya, baik suku Jawa, Batak, Madura, Betawi dan masih banyak lagi yang lainnya.

“Salah satunya adalah suku Sunda. Seni inilah yang harus dilestarikan dan dibudayakan. Kami sangat gembira jika ada perhatian dari terkait terutama Pemkab Cianjur, karena grup kami juga punya sejarah,” ungkapnya.

Mereka tampak serius berlatih, meski tidak menggunakan stelan seragam khusus. Karena sifatnya latihan. Namun seni ini jelas merupakan warisan nenek moyang. Adun menuturkan kembali, apabila tampil tak perlu banyak personil, cukup lima orang saja tapi ada juga yang tujuh orang termasuk badutnya.

“Boleh coba nanti ketika kami manggung, dengan iringan seni musik calung sunda tentu sangat menarik,” ujarnya, seraya menyebut jika tampil dijamin akan mengocok perut, karena banyak bobodoran, belum lagi badut sulap komedi dan opera humor yang dikemas secara unik, penuh tawa sangat menghibur,” tuturnya.

Dalam latihan tampak memperagakan konsep drama pada anak didiknya. Apa yang dilakukan ini tiada lain untuk mempersiapkan diri apabila nanti ada panggilan manggung. Baik ketika pesta ultah, pernikahan, kegiatan masyarakat sunda atau siapa saja.

“Harapan kami kedepan semoga dengan keberadaannya grup ini sebagai seniman opera humor masih yang diterima masyarakat, khususnya masyarakat Sunda Cianjur, terlebih pemerintahan setempat,” tutup Adun.(**)

sumber: radarcianjur