Istana Cipanas terletak di Desa Cipanas, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, tepatnya di kaki Gunung Gede, Jawa Barat, pada ketinggian 1.100 meter dpl. Pada masa kepresidenan Republik Indonesia, Istana Cipanas digunakan sebagai tempat peristirahatan.

”Seperti halnya Camp David yang digunakan sebagai tempat peristirahatan presiden Amerika Serikat,” terang Prof Dr Taufik Abdullah, sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Sebagai tempat peristirahatan, acap kali Presiden Soekarno menggunakan Istana Cipanas sebagai tempat merenung saat akan mengambil suatu keputusan.

Saat awal berdirinya, Istana Cipanas merupakan miliki pribadi seorang tuan tanah Belanda yang didirikan pada 1740.

Kompleks Istana yang berdiri di areal seluas 26 hektare ini kemudian menjadi tempat peristirahatan Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff.

Kompleks Istana ini lebih banyak berupa hamparan kebun tanaman yang terdiri dari tanaman hias serta kebun sayur yang ditata mirip hutan kecil. Sebab luas bangunannya sendiri hanya 7.760 meter persegi.

Cipanas merupakan kata yang berasa dari bahasa Sunda, yaitu ci atau cai yang berarti air dan panas yang berasal dari kata sifat panas.

Daerah Cipanas merupakan tempat yang memiliki sumber air panas yang mengandung belerang. Dan kebetulan, sumber air panas tersebut terletak di kawasan Istana Cipanas.

Konon, airnya sangat panas sehingga kalau hendak digunakan untuk mandi, sebaiknya dicampur dengan air dingin.

Istana ini terdiri dari sebuah bangunan induk, enam buah paviliun, sebuah gedung khusus, dan dua buah banguan lainnya, yaitu penampungan sumber air panas dan sebuah masjid.

Bangunan induk disebut sebagai Gedung Induk Istana Kepresidenan Cipanas. Pada masa kemerdekaan, gedung ini digunakan sebagai tempat peristirahatan presiden dan wakil presiden beserta keluarganya.

Gedung induk terdiri dari ruang tamu, ruang tidur, ruang kerja, ruang rias, ruang makan, serta serambi belakang.

Ruang tamu didesain menggunakan lantai kayu. Pada salah satu lorong utama Gedung Induk, dipajang sebuah lukisan karya Soejono DS yang dibuat pada 1958, yang dikenal dengan nama Jalan Seribu Pandang. Lukisan ini sendiri memiliki nama asli Jalan Menuju Kaliurang.

Istana Cipanas memunyai enam paviliun, yaitu Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, dan Abimayu. Selain itu, ada Paviliun Tumaritis I dan Paviliun Tumaritis II yang letaknya terpisah dengan enam paviliun lainnya.

Bangunan lain yang terdapat di wilayah Istana Cipanas adalah Gedung Bentol. Gedung Bentol merupakan karya arsitek anak bangsa, RM Soedarsono dan F Silaban.

Gedung ini berada di belakang Gedung Induk, lebih tinggi dibandingkan bangunan-bangunan lainnya karena berdiri di lereng gunung.

Berbeda dengan istana lainnya, Istana Cipanas yang sejuk memberi pengalaman unik tersendiri. Sambil menikmati pemandangan di kaki Gunung Gede dan menikmati air panas, Istana Cipanas menjadi tempat yang nyaman untuk dikunjungi, sekaligus mampu memupuk rasa cinta terhadap hasil budaya dan sejarah bangsa.
(dari berbagai sumber/din/L-4)

referensi: koran-jakarta