Jangari, Keramba Terapung Ikan Mas

Jangari, Keramba Terapung Ikan Mas

Ini merupakan keramba terapung tempat pemeliharaan ikan air tawar. Lokasinya di Waduk Jangari, Cianjur, Jawa Barat. Waduk ini memang merupakan tempat pembesaran ikan air tawar. Salah satu primadona ikan air tawar yang dipelihara disini adalah ikan mas. Ikan yang dipelihara di waduk ini memiliki kelebihan tersendiri, selain ikannya cepat besar, dagingnya juga tidak berbau lumpur.

Waduk Jangari di Cianjur dapat dicapai dari Jakarta melalui jalan Tol Jagorawi. Selepas pintu Tol Ciawi mengambil arah ke puncak. Lalu menuju kota Cianjur. diteruskan ke Waduk Jangari. Setiba di waduk, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan perahu.

Perjalanan menuju keramba terapung yang terletak di tengah waduk terasa menyenangkan. Air waduk yang tenang dan pemandangan yang indah, membuat perjalanan tidak terasa melelahkan. Setiba di tengah waduk, pemandangan keramba terapung milik petani bertebaran di mana ? mana.

Keramba Terapung Ikan Mas

Di waduk dengan kedalaman lebih dari 30 meter ini, terdapat ribuan keramba terapung tempat pemeliharaan ikan air tawar.

Di keramba terapung ini Haji Hasan melakukan pembesaran ikan mas. Disini terdapat sekitar 100 jaring, dengan ukuran masing-masing jaring 10 kali 10 meter. Jaring terapung disini dapat menampung 15 ribu hingga 30 ribu ekor bibit ikan mas.

Di jaring terapung ini hanya dilakukan proses pembesaran ikan mas. Bibitnya didatangkan dari tambak pembenihan di darat. Anak ikan mas yang dibesarkan disini mulai dari usia satu minggu. Pemeliharaan ikan mas di jaring terapung semacam ini memerlukan bibit sekitar 1 kwintal.

Ikan diberi makan berupa pelet dua kali sehari, pada pagi dan sore hari. Dari anakan ikan hingga berkembang siap panen, menghabiskan pakan sekitar 2 ton. Setelah dipelihara sekitar 3 bulan, ikan mas siap dipanen. Pemasarannya ke sekitar wilayah Jawa Barat, Jakarta dan Banten.

Para pembelinya selain pedagang pasar, juga pengelola kolam pemancingan dan restoran. Setelah melihat pemeliharaan ikan mas di jaring terapung, saya ingin merasakan kelezatan daging ikan mas yang dipelihara disini. Kebetulan, pak Haji Hasan telah menggorengkan ikan mas untuk saya cicipi. Rasa daging ikan mas ini memang lezat. Selain gurih juga tidak berbau Lumpur. Wajar saja bila ikan mas yang dibesarkan di waduk jangari ini sangat laku di pasaran.(Helmi Azahari/Ijs)

referensi: www.indosiar.com

“Ngalokat Cai” di Tepi Jangari

“Ngalokat Cai” di Tepi Jangari

PULUHAN nelayan membawa bakul yang di dalamnya terdapat ratusan ikan mungil. Di depan mereka, seorang lelaki membawa dupa yang mengepulkan asap. Dengan penuh takzim, ia berdoa. Segera saja, aroma magis tercipta di tepi Danau Jangari, genangan air yang sesungguhnya bagian dari Waduk Cirata, Kecamatan Mande, Kab. Cianjur, Minggu (11/4/2010).

Di tepi danau itu, Wakil Bupati Cianjur Dadang Sufianto secara simbolis melepas ikan-ikan mungil ke danau yang sebelumnya sudah diberi doa. Sejumlah nelayan, kemudian, menggelar prosesi serupa di tengah danau. Itulah ritus Ngayak Burayak yang merupakan bagian dari Festival Jangari.

Tatang Setiadi, sesepuh Perceka Art Centre mengatakan, ritus Ngayak Burayak merupakan inti dari penyelenggaraan Festival Jangari yang kali ini bertema “Ngalokat Cai Sangkan Suci, Ngalukat Lemah Malar Wa-luya”. Tujuannya menjaga kelestarian ekosistem danau dari pencemaran lingkungan. Apalagi, di sana, di danau itu, ribuan warga menggantungkan kehidupan dengan menjadi nelayan, tukang perahu, peternak ikan, dan sebagainya.

“Sayangnya, kita semua hanya mengeksplorasi, tanpa memedulikan kebersihan dan kenyamanan danau,” katanya. Oleh karena itu, melalui ritus Ngayak Burayak, ia coba menggugah semua komponen untuk memelihara danau.

Rangkaian Festival Jangari sudah dimulai sejak pagi, ditandai dengan acara khitanan massal yang diikuti enam puluh anak dari keluarga tidak mampu di sekitar Danau Jangari. Rangkaian berlanjut dengan pergelaran sejumlah kesenian, seperti sisingaan, tari kreasi kuda kosong, dan pelung manggung. Selain itu, dipergelarkan pula atraksi kuda renggong dari Cimala-ka, Kab. Sumedang. Berbagai lomba digelar pula, di antaranya lomba bakar ikan.

Rangkaian festival berlangsung hingga petang. Tak hanya kesenian tradisional, hiburan musik dangdut dan sejumlah grup band dari Jakarta pun ditampilkan di sana. Seluruh rangkaian acara ditutup tablig akbar dan doa yang dibawakan ulama sekaligus budayawan asal Majalengka, K.H. Maman Imanulhaq Faqih.

PEMERINTAH Provinsi Jawa Barat menyatakan siap membantu penataan objek wisata air Waduk Cirata di Jangri. Hanya, harus ada kerja sama atas dasar kebersamaan antara Pemkab Cianjur dan Pemprov Jawa Barat. Demikian disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat Herdiwan ling Suranta, Minggu (11/4/2010), saat memberikan sambutan pada acara “Festival Jangari”. Dia mengatakan, bentuk kerja sama nantinya harus diawali dengan pembuatan konsep oleh Pemprov Jabar dan Pemkab Cianjur. Mengacu kepada penyelenggaraan festival yang meriah, menurut dia, potensi wisata air di Jangari bisa dikembangkan. Selain pergelaran seni, sejumlah objek hiburan lainnya bisa dikembangkan, seperti memancing. Apalagi, jarak Jangari tak begitu jauh dari Jakarta.

Kendati demikian, ia berharap, bila kena sama jadi dilaksanakan, seyogianya pemprov dilibatkan, mulai dari konsep hingga penataan kawasan wisata. Soalnya, nanti, objek wisata tersebut akan dipromosikan ke berbagai daerah dan negara sehingga warung-warung dan lapangan parkir harus ditata rapi, Jangari sampai terlihat kumuh.

Wakil Bupati Cianjur Dadang Sufianto menyambut baik niat Pemprov Jabar yang akan membantu penataan Jangari. Pada kesempatan itu, Dadang juga mengatakan rencananya bahwa Festival Jangari akan digelar secara periodik menjadi agenda tahunan. Ia menilai, festival itu cukup potensial untuk mendorong berkembangnya wisata air di Jangari Kecamatan Mande Kabupaten Cianjur. Dia berharap, Festival Jangari bisa terus mengedepankan sajian budaya dan kearifan lokal seperti yang ditampilkan pada festival kali ini Ngayak Burayak, ngalokat cai, kuda renggong, dan jenis-jenis kesenian lainnya. Satu hal paling penting, masyarakat merespons positif penyelenggaraan Festival Ja-ngari. Dengan begitu, semua bisa bersama-sama ikut serta menjaga keasrian lingkungan diJangari. (Yusuf Ad-ji/”PR”)

referensi: PR

Manisan Cianjur

Manisan Cianjur

Kalau dengar kata Cianjur, orang pasti mengkaitkannya dengan beras, tauco, dan juga manisan buahnya. Salah satu kabupaten di Jawa Barat ini memang cukup terkenal sebagai sentra kuliner sejak lama. Salah satunya yang cukup banyak diminati adalah manisan. Yuk, simak serunya belanja manisan Cianjur!

Siapa orang yang tidak kenal dengan manisan buah? Hampir semua orang pernah mencicipi manisan buah. Jenis manisan buah pun bermacam-macam, ada yang manisan salak, jambu, mangga, cermai, pala, pepaya dan juga kedondong. Selain itu, rasanya juga beragam ada yang manis saja tapi ada pula yang pedas manis.

Kalau berjalan-jalan di kota Cianjur, hampir di setiap sudut kota ada saja penjual manisan buah dan sayur. Biasanya manisan-manisan ini ditaruh di toples beling berukuran besar, dan biasanya lagi dijual per kilo. Manisan buah ini dibuat selalu baru oleh penjualnya. Yah, meskipun ada saja penjual yang nakal yang menyajikan manisan-manisan ini tidak segar lagi.

Manisan buah paling enak disantap saat siang hari, ketika cuaca tengah terik. Dan biasanya disajikan dalam keadaan dingin. Simpan manisan buah ini dalam lemari pendingin. Dan keluarkan ketika akan disantap. Manisan buah ini juga cocok dijadikan oleh-oleh untuk keluarga dan kerabat di akhir pekan ini.

referensi: detikfood

Budaya “Pawai Kuda Kosong”

Budaya “Pawai Kuda Kosong”

Pawai “kuda kosong” yang sejak dulu digelar pada setiap upacara kenegaraan Cianjur, punya maksud untuk mengenang sejarah perjuangan para Bupati Cianjur tempo dulu. Saat Cianjur dijabat Bupati R.A. Wira Tanu seorang Dalem Pamoyanan R.A.A. Wiratanudatar II, bupati diwajibkan menyerahkan upeti hasil palawija kepada Sunan Mataram di Jawa Tengah.

Dalem Pamoyanan R.A.A. Wiratanudatar II yang dianggap sakti mandragunalah yang rutin ditugaskan untuk menyerahkan upeti tadi. Jenis upeti adalah sebutir beras, lada, dan sebutir cabai. Sambil menyerahkan tiga butir hasil palawija itu, Kangjeng Dalem Pamoyanan selalu menyatakan bahwa rakyat Cianjur miskin hasil pertaniannya. Biar miskin, rakyat Cianjur punya keberanian besar dalam perjuangan bangsa, sama seperti pedasnya rasa cabai dan lada.

Karena pandai diplomasi, Kangjeng Sunan Mataram memberikan hadiah seekor kuda kepada Dalem Pamoyanan. Seekor kuda jantan diberikan untuk sarana angkutan pulang dari Mataram ke Cianjur. Penghargaan besar Sunan Mataram terhadap Kangjeng Dalem Pamoyanan membuat kebanggan tersendiri bagi rahayat Cianjur waktu itu.

Jiwa pemberani rakyat Cianjur seperti yang pernah disampaikan Kangjeng Dalem Pamoyanan kepada Sunan Mataram membuahkan kenyataan. Sekira 50 tahun setelah peristiwa seba itu, ribuan rakyat Cianjur ramai-ramai mengadakan perlawanan perang gerilya terhadap penjajah Belanda. Dengan kepemimpinan Dalem Cianjur Rd. Alith Prawatasari, barisan perjuang di setiap desa gencar melawan musuh, sampai-sampai Pasukan Belanda sempat ngacir ke Batavia (sekarang Jakarta).

“Untuk mengenang perjuangan Kangjeng Dalem Pamoyanan yang pandai diplomasi itu, setiap diadakan upacara kenegaraan di Cianjur selalu digelar upacara ‘kuda kosong’. Maksud seni warisan leluhur itu untuk mengenang perjuangan pendahulu kepada masyarakat Cianjur sekarang,” kata Alith Baginda, S.H. Ketua II Dewan Kesenian Cianjur (DKC) yang juga menjabat Kasi Kebudayaan di Dinas Pendidikan Kab. Cianjur.

Ditinjau dari pelestarian budaya, Alith kurang setuju bila kesenian “kuda kosong” yang menimbulkan perjuangan itu dihilangkan begitu saja di bumi Cianjur. Bila disorot ada adegan-adegan yang memang dianggap menyimpang dari
akidah keislaman, adegan itulah yang harus ditiadakan. Namun, banyak adegan yang bagus dari sisi seni budaya, harus tetap dilestarikan.

Alith dan rekan-rekan seniman Cianjur sering mengadakan pendekatan dengan semua pihak agar aneka seni tradisional Cianjur yang dulu pernah berjaya agar dihidupkan kembali. Termasuk seni “kuda kosong” yang sempat dilarang
digelar itu. Harapannya agar semua seni budaya warisan leluhur yang telah hilang itu tetap berkembang di Cianjur.

Tak sedikit seni budaya Cianjur hilang dan terancam mati. Seperti seni bangkong reang di Kec. Pagelaran, seni tanjidor di Kec. Cilakong, goong renteng di Kec. Agrabinta, seni rudat di Kec. Kadupandak, dan seni reak di Kec. Cibeber. Bahkan, seni tembang cianjuran sebagai warisan budaya ciptaan Kangjeng Raden Aria Adipati Kusumaningrat atau Dalem Pancaniti Bupati Cianjur (1834-1861) benar-benar hampir terancam kepunahan.

“Saya setuju sekali bila adegan-adegan mistik seperti menyediakan sesajen di pendopo dan persembahan kuda untuk ditunggangi Eyang Suryakencana yang kawin dengan jin ditidakan. Yang penting seni budaya ‘kuda kosong’-nya tetap
berjalan,” pinta Alith.

referensi: cianjurcybercity

Seni Tradisional Cadut, Calung Dangdut

Seni Tradisional Cadut, Calung Dangdut

SENI calung dan dangdut (cadut) yang satu ini berdiri tahun 1998. Saat ini masih diketuai ketua karang taruna Kampung Cageundang, Desa Sukamaju, mang Adun. Seni ini merupakan kesenian yang harus dilestarikan dan banyak dukungan seiring beragam seni, budaya, adat dan suku di negeri ini. Seperti apa keberadaannya?

BELUM lama ini wartawan ini mendatangi grup sanggar seni calung dangdut (cadut) di Kampung Cagenang RT 01/ 04 Desa Sukamaju, tepatnya jalan raya Sukabumi perapatan Nagrak-Cageundang, Cianjur. Ternyata seni ini menyimpan sejarah. Bagi pembaca Radar Cianjur yang pernah menyaksikan tampil grup ini dan punya kenangan tersendiri, setidaknya akan terkenang masa lalu itu.

Namun sayangnya seni opera humor ini sudah terlupakan oleh masyarakat, terutama oleh kaum muda di jaman sekarang ini. Karena anak muda sekarang sudah tertarik oleh budaya-budaya luar sehingga kurang peduli bahkan nyaris lenyap.

Saat itu, di sanggar seni yang namanya “galatik” tampak sedang berlatih seni opera humor. Saat perbincangannya, ketua karang taruna Kampung Cageundang, mang Adun menuturkan, di tanah air tercinta ini cukup sangat kaya akan suku budaya, baik suku Jawa, Batak, Madura, Betawi dan masih banyak lagi yang lainnya.

“Salah satunya adalah suku Sunda. Seni inilah yang harus dilestarikan dan dibudayakan. Kami sangat gembira jika ada perhatian dari terkait terutama Pemkab Cianjur, karena grup kami juga punya sejarah,” ungkapnya.

Mereka tampak serius berlatih, meski tidak menggunakan stelan seragam khusus. Karena sifatnya latihan. Namun seni ini jelas merupakan warisan nenek moyang. Adun menuturkan kembali, apabila tampil tak perlu banyak personil, cukup lima orang saja tapi ada juga yang tujuh orang termasuk badutnya.

“Boleh coba nanti ketika kami manggung, dengan iringan seni musik calung sunda tentu sangat menarik,” ujarnya, seraya menyebut jika tampil dijamin akan mengocok perut, karena banyak bobodoran, belum lagi badut sulap komedi dan opera humor yang dikemas secara unik, penuh tawa sangat menghibur,” tuturnya.

Dalam latihan tampak memperagakan konsep drama pada anak didiknya. Apa yang dilakukan ini tiada lain untuk mempersiapkan diri apabila nanti ada panggilan manggung. Baik ketika pesta ultah, pernikahan, kegiatan masyarakat sunda atau siapa saja.

“Harapan kami kedepan semoga dengan keberadaannya grup ini sebagai seniman opera humor masih yang diterima masyarakat, khususnya masyarakat Sunda Cianjur, terlebih pemerintahan setempat,” tutup Adun.(**)

sumber: radarcianjur

Sumber Air Panas di Istana Cipanas

Sumber Air Panas di Istana Cipanas

 

Istana Cipanas terletak di Desa Cipanas, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, tepatnya di kaki Gunung Gede, Jawa Barat, pada ketinggian 1.100 meter dpl. Pada masa kepresidenan Republik Indonesia, Istana Cipanas digunakan sebagai tempat peristirahatan.

”Seperti halnya Camp David yang digunakan sebagai tempat peristirahatan presiden Amerika Serikat,” terang Prof Dr Taufik Abdullah, sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Sebagai tempat peristirahatan, acap kali Presiden Soekarno menggunakan Istana Cipanas sebagai tempat merenung saat akan mengambil suatu keputusan.

Saat awal berdirinya, Istana Cipanas merupakan miliki pribadi seorang tuan tanah Belanda yang didirikan pada 1740.

Kompleks Istana yang berdiri di areal seluas 26 hektare ini kemudian menjadi tempat peristirahatan Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff.

Kompleks Istana ini lebih banyak berupa hamparan kebun tanaman yang terdiri dari tanaman hias serta kebun sayur yang ditata mirip hutan kecil. Sebab luas bangunannya sendiri hanya 7.760 meter persegi.

Cipanas merupakan kata yang berasa dari bahasa Sunda, yaitu ci atau cai yang berarti air dan panas yang berasal dari kata sifat panas.

Daerah Cipanas merupakan tempat yang memiliki sumber air panas yang mengandung belerang. Dan kebetulan, sumber air panas tersebut terletak di kawasan Istana Cipanas.

Konon, airnya sangat panas sehingga kalau hendak digunakan untuk mandi, sebaiknya dicampur dengan air dingin.

Istana ini terdiri dari sebuah bangunan induk, enam buah paviliun, sebuah gedung khusus, dan dua buah banguan lainnya, yaitu penampungan sumber air panas dan sebuah masjid.

Bangunan induk disebut sebagai Gedung Induk Istana Kepresidenan Cipanas. Pada masa kemerdekaan, gedung ini digunakan sebagai tempat peristirahatan presiden dan wakil presiden beserta keluarganya.

Gedung induk terdiri dari ruang tamu, ruang tidur, ruang kerja, ruang rias, ruang makan, serta serambi belakang.

Ruang tamu didesain menggunakan lantai kayu. Pada salah satu lorong utama Gedung Induk, dipajang sebuah lukisan karya Soejono DS yang dibuat pada 1958, yang dikenal dengan nama Jalan Seribu Pandang. Lukisan ini sendiri memiliki nama asli Jalan Menuju Kaliurang.

Istana Cipanas memunyai enam paviliun, yaitu Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, dan Abimayu. Selain itu, ada Paviliun Tumaritis I dan Paviliun Tumaritis II yang letaknya terpisah dengan enam paviliun lainnya.

Bangunan lain yang terdapat di wilayah Istana Cipanas adalah Gedung Bentol. Gedung Bentol merupakan karya arsitek anak bangsa, RM Soedarsono dan F Silaban.

Gedung ini berada di belakang Gedung Induk, lebih tinggi dibandingkan bangunan-bangunan lainnya karena berdiri di lereng gunung.

Berbeda dengan istana lainnya, Istana Cipanas yang sejuk memberi pengalaman unik tersendiri. Sambil menikmati pemandangan di kaki Gunung Gede dan menikmati air panas, Istana Cipanas menjadi tempat yang nyaman untuk dikunjungi, sekaligus mampu memupuk rasa cinta terhadap hasil budaya dan sejarah bangsa.
(dari berbagai sumber/din/L-4)

referensi: koran-jakarta