Mamaos, Tembang Sunda Cianjuran

Mamaos, Tembang Sunda Cianjuran

Mamaos adalah seni budaya yang menggambarkan kehalusan budi dan rasa menjadi perekat persaudaraan dan kekeluargaan dalam tata pergaulan hidup. Mamaos dapat pula diartikan dengan membaca, yaitu membaca (merenungkan) segala ciptaan Tuhan, membaca (merenungkan) hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, antara mahluk dengan mahluk ciptaan Allah Yang Maha Pencipta Seni mamaos tembang sunda Cianjuran lahir hasil cipta, rasa dan karsa Bupati Cianjur R. Aria Adipati kusumahningrat yang dikenal dengan sebutan Dalem Pancaniti. Ia menjadi pupuhu (pemimpin) tatar Cianjur sekitar tahun 1834-1862.

Dengan kehalusan rasa seni Dalem Pancaniti,kesenian tersebut menjadi inspirasi lahirnya suatu karya seni yang sekarang disebut Seni Mamaos Tembang Sunda Cianjuran.

Dalam tahap penyempurnaan hasil ciptaannya Dalem Pancaniti dibantu oleh seniman kabupaten yaitu: Rd. Natawiredja, Bapak Aem dan Maing Buleng. Para seniman tersebut mendapat izin dari Dalem Pancaniti untuk menyebarkan lagu-lagu hasil ciptaan Dalem Pancaniti.Syair Mamos yang pertama kali diciptakan oleh Dalem Pancaniti berjudul Layar Putri yang isinya: Sada gugur di kapitu Sada gelap ngadadasaran Sada laut lilintungan Kamana ngaitkeun ngincir Ka kaler katojo bulan Kamana ngaitkeun pikir Sugan paler kasabulan

Setelah Dalem Pancaniti wafat tahun 1816, Bupati Cianjur dilanjutkan oleh anaknya yaitu R. A. A. Prawiradiredja II (1816-1910), seni Mamaos ini mulai mencapat tahap penyempurnaan dengan diiringi dentingan kecapi dan suara suling.

Sekarang ini Tembang Sunda Cianjuran sudah terkenal bukan saja di Nusantara akan tetapi hingga pelosok mancanegara. Untuk melestarikan kesenian tradisional, diadakan pasanggiri tembang sunda cianjuran, baik lokal maupun regional / nasional (Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta).Seni Mamaos ini terdiri dari alat kecapi indung (kecapi besar dan kecapi rincik / kecapi kecil) serta sebuah suling yang mengiringi penembang atau juru. Pada umumnya syair-syair Mamaos ini lebih banyak mengungkapkan puji-pujian akan kebesaran Tuhan dengan segala hasil ciptaanNya.

referensi: cerminsejarah.blogspot.com, mamaoscianjuran.co.cc (image)

Ngaos, Tradisi Mengaji Dalam Masyarakat Cianjur

Ngaos, Tradisi Mengaji Dalam Masyarakat Cianjur

Cianjur sudah lama dikenal sebagai salah satu kota santri. Dan salah satu tradisi yang sangat melekat dalam diri masyarakat Cianjur adalah budaya Ngaos. Ngaos adalah tradisi masyarakat yang mewarnai suasana dan nuansa Cianjur dengan masyarakat yang lekat dengan keberagamaan. Citra sebagai masyarakat agamis ini seperti yang telah dikemukakan terdahulu adalah sebagai langkah dari Djajasasana putra R. A. Goparana yang memeluk agama Islam pada tahun 1677 dimana pada saat itu beliau bersama dengan ulama dan santri pada saat itu gencar menyebarkan syariat Islam. Itulah sebabnya mengapa Cianjur mendapat julukan sebagai kota gudang kyai dan gudang santri.

Pondok-pondok pesantren yang tumbuh dan berkembang di tatar Cianjur sedikit atau banyak telah berkontribusi dalam perjuangna sejarah kemerdekaan negeri ini. Disanalah bergolak jiwa semangat berjihad. Banyak pejuang-pejuang meminta restud ari kyai-kyai sebelum berangkat ke medan pertempuran. Menurut mereka itu, mereka baru merasa lengkap dan percaya diri apabila telah mendapat restu dari kyai.Sekilas, tradisi mengaji di kalangan masyarakat Cianjurini tidak jauh berbeda dengan daerah-daerah lain di Jawa Barat seperti Garut, Tasikmalaya, Banten, Cirebon dan lain sebagainya yang juga dikenal sebagai gudangnya santri.

Memang pada dasarnya tidak ada perbedaan yang mencolok, sebab Islam sendiri mengajarkan umatnya untuk senantiasa mengaji dan menghayati serta memahami Al uran yang merupakan jalan hidup yang lurus.Begitu pula dengan kalangan masyarakat Cianjur, meskipun sekarang terlihat adanya penurunan dalam melestarikan budaya Ngaos tetap tidak akan pernah hilang dalam sanubari masyarakat Cianjur, khususnya masyarakat (dalam arti ini pesantren) yang terletak di daerah-daerah pinggiran Cianjur sebab begitu kuatnya mereka memegang tradisi ini.Umumnya tradisi Ngaos di Cianjur memang lebih dikenal dalam kegiantan kepesantrenan. Sepeti Ngaos nyorangan, Ngaos bandungan, Ngaos tarabasan. Yang kesemuanya memiliki arti yang berbeda akan tetapi dengan tujuan yang sama. Misalnya ngaos nyorangan adalah bentuk mengaji secara mandiri yang dilakukan oleh seorang santri dalam memahai isi kandungan Al Quran.

Ngaos bandungan adalah suatu bentuk mengaji dimana saat santri seang membaca isi Al quran dengan didampingi seorang ustadz yang sewaktu-waktu membetulkan bacaan santri apabila sang santri salah dalam bacaannya serta memberi tafsiran apabila memang diperlukan. Bngaos tarabasan adalah cara membaca Al Quran secara bersama-sama dengan maksud untuk bersama-sama menghapal isi Al Quran.

referensi: cerminsejarah.blogspot.com