Sate Maranggi

Sate Maranggi

Bagi sebagian masyarakat Cianjur, sate maranggi merupakan makanan favorit yang nikmat disantap setiap saat. Di Cianjur, terdapat sejumlah pedagang maranggi yang sudah mendapatkan tempat di lidah masyarakat.

Maranggi memang tak hanya lezat disantap dengan nasi putih atau nasi uduk, tapi bisa juga disantap dengan ketan bakar, dan dilengkapi dengan sambal oncom atau sambal kacang.

Sate maranggi adalah sate sapi yang dibumbui dengan kecap manis dan disajikan dengan sambal oncom dan uli bakar sebagai pelengkapnya. Yuk, mencoba hidangan khas asal Cianjur ini.

Ingin mencoba membuat sendiri ? tentunya bukan hal yang sulit, berikut informasinya:

Bahan-bahan/bumbu-bumbu :

  • 400 gram daging has dalam, dipotong 2x2x1 cm
  • 100 gram lemak sapi, dipotong 2x2x1 cm
  • 1 sendok teh minyak goreng
  • 2 sendok makan kecap manis
  • 24 buah tusuk sate

Bumbu Halus:

  • 1 sendok makan ketumbar
  • 1 sendok teh garam
  • 40 gram gula merah, disisir halus

Sambal Oncom:

Bahan:

  • 100 gram oncom, dihaluskan
  • 500 ml air

Bumbu Halus:

  • 2 butir bawang merah
  • 2 buah cabai rawit merah
  • 1 buah cabai merah keriting
  • 2 1/4 sendok teh gula pasir
  • 3/4 sendok teh garam
  • 2 cm kencur
  • 1 cm jahe

Pelengkap:

  • uli bakar

Cara Pengolahan :

  1. Rendam daging dan lemak sapi dalam campuran bumbu halus, minyak goreng, dan kecap manis. Remas-remas sampai rata. Diamkan 1 jam dalam lemari es.
  2. Tusuk-tusuk daging dan lemak secara bergantian ditusuk sate. Bakar sampai matang sambil dioles sisa bumbu rendaman.
  3. Sambal oncom: rebus air dan bumbu halus sampai mendidih. Tambahkan oncom. Masak sampai matang.
  4. Sajikan sate dengan sambal oncom dan pelengkapnya.

referensi: cianjurcybercity, sajiansedap

Manisan Cianjur

Manisan Cianjur

Kalau dengar kata Cianjur, orang pasti mengkaitkannya dengan beras, tauco, dan juga manisan buahnya. Salah satu kabupaten di Jawa Barat ini memang cukup terkenal sebagai sentra kuliner sejak lama. Salah satunya yang cukup banyak diminati adalah manisan. Yuk, simak serunya belanja manisan Cianjur!

Siapa orang yang tidak kenal dengan manisan buah? Hampir semua orang pernah mencicipi manisan buah. Jenis manisan buah pun bermacam-macam, ada yang manisan salak, jambu, mangga, cermai, pala, pepaya dan juga kedondong. Selain itu, rasanya juga beragam ada yang manis saja tapi ada pula yang pedas manis.

Kalau berjalan-jalan di kota Cianjur, hampir di setiap sudut kota ada saja penjual manisan buah dan sayur. Biasanya manisan-manisan ini ditaruh di toples beling berukuran besar, dan biasanya lagi dijual per kilo. Manisan buah ini dibuat selalu baru oleh penjualnya. Yah, meskipun ada saja penjual yang nakal yang menyajikan manisan-manisan ini tidak segar lagi.

Manisan buah paling enak disantap saat siang hari, ketika cuaca tengah terik. Dan biasanya disajikan dalam keadaan dingin. Simpan manisan buah ini dalam lemari pendingin. Dan keluarkan ketika akan disantap. Manisan buah ini juga cocok dijadikan oleh-oleh untuk keluarga dan kerabat di akhir pekan ini.

referensi: detikfood

Kripik Sayuran Khas SMKN 1 Pacet Cianjur

Kripik Sayuran Khas SMKN 1 Pacet Cianjur

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tak hanya hebat dalam mengotak-atik mesin dan membuat bermacam-macam kendaraan tapi juga jago berwirausaha. Siswa SMK Negeri 1 Pacet, Cianjur, Jawa Barat sukses menjalankan bisnis aneka keripik dari daun daunan sisa hasil panen.

Para siswa selain mendapatkan bekal teori juga langsung mempraktekkan pengetahuan dan teknologi pengolahan hasil pertanian, dari mulai produksi hingga proses pemasarannya. Kemampuan para siswa SMK ini antara lain membuat beraneka macam kripik dari daun-daunan dan manisan sayuran serta buah-buahan. Modal awal diberikan oleh sekolah. Keripik daun wortel menjadi salah satu yang paling favorit.

Menurut guru kewirausahaan SMK Negeri 1 Pacet, Cianjur, Nandang Jauharudin, para pendidik akan merasa bangga jika para alumninya bisa menjadi wirausaha yang berhasil dan tidak kesulitan mencari pekerjaan. (Vin)

referensi: liputan6.com

Manisan Cianjur dan Upaya Menghargai Nenek Moyang

Manisan Cianjur dan Upaya Menghargai Nenek Moyang

Di telinga orang luar Cianjur, nama salah satu kabupaten di Jawa Barat ini tidaklah begitu asing. Mendengar nama Cianjur, orang akan mengaitkannya dengan banyak hal. Ada beras pandanwangi, ayam pelung, tauco, tembang Sunda Cianjuran, kesenian kuda kosong, dan tak lupa adalah manisan buah dan sayurnya.

Tembang lama berjudul Semalam di Cianjur yang dipopulerkan oleh almarhum Alvian juga mau menggambarkan betapa Cianjur bisa menjadi tempat yang sangat berkesan bagi siapa pun.

Eneng Saadah (39), warga Kampung Cimadu, Desa/Kecamatan Gekbrong, Kabupaten Cianjur, mengatakan, Cianjur adalah tempat lahir yang patut dikenang. Manisan sayur asli Cianjurlah yang membuat tempat kelahiran itu patut dikenang. Bagi Eneng Saadah, pembuatan manisan sayur merupakan warisan nenek moyangnya.

Seingatnya, nenek Saadah sudah membuat manisan itu sejak Saadah kecil. Sang nenek juga mengatakan, beberapa generasi di atasnya juga sudah mulai membuat manisan sayur.

Manisan sayur memang belum punya nama seterkenal manisan buah. Namun, manisan sayur ini ternyata masih mendapat tempat ketika bisnis manisan dari Cianjur memasuki masa suram. Sayuran yang bisa dipakai untuk manisan antara lain wortel, pepaya, labu, buncis, mentimun, dan buah singkong.

Saadah yang menjadi penerus pembuatan manisan itu memang tak melulu berbicara soal bisnis saat memproduksi manisan yang dijual antara Rp 23.000 hingga Rp 27.000 per kilogram. Produksi manisan memang harus mendatangkan pemasukan, tetapi itu bukan yang terutama bagi Saadah. “Yang jelas, saya ingin menghargai nenek moyang terhadap apa yang pernah mereka buat. Kami merasa masih terikat secara batin dengan nenek moyang kami setiap kali membuat manisan sayur ini,” katanya.

Tergerus zaman

Sebagai salah satu wujud penghargaan itu, Saadah masih tetap menggunakan tempat masak dari tembaga yang sudah digunakan oleh generasi pendahulunya sejak tahun 1900. Ia memang tak setiap hari menggunakan tempat masak dari tembaga itu karena kondisinya mulai rusak dan belum sempat dibetulkan.

Alat masak dari tembaga itu sudah beberapa kali diperbaiki, dan biayanya pun sudah lebih dari cukup untuk membeli barang yang sama. Namun, nilai uang perbaikan itu dirasa tak seberapa dibandingkan dengan ikatan batin yang kini tetap terasa.

Cianjur memang terkenal karena banyak hal. Seiring berjalannya waktu, eksistensi Cianjur perlu dipertanyakan. Beras pandanwangi banyak ditemui yang tidak asli Cianjur. Tauco dan manisan mengalami nasib sama. Kesenian kuda kosong tak lagi dipertontonkan.

Meredupnya eksistensi Cianjur itu tak harus disikapi dengan menyalahkan siapa pun. Namun, justru harus disikapi dengan sadar bahwa arus zaman terus menggerus entitas budaya kita, bukan hanya di Cianjur. (agustinus handoko)

referensi : kompas.com

Ikan Bakar ‘Raos’ dari Cianjur

Ikan Bakar ‘Raos’ dari Cianjur

 

Nasi liwetnya gurih pulen, mengepul hangat. Gurame bakarnya harum menggoda dan sambal terasi plus lalapan segarpun sangat menantang. Jadilah kami menyantap dengan tangan sampai butiran nasi terakhir. Alunan seruling plus lagu-lagu Pasundan menjadi pelengkap yang nikmat habis!

Usai mengelilingi kota Cianjur yang tak berapa besar kami merasa lapar. Tentu saja target yang kami cari adalah Ikan Bakar. Seolah dendam kesumat karena beberapa kali kami selalu kecewa saat mampir ke resto Ikan Bakar di Jln. Setiabudi Bandung, selalu saja kehabisan nasi liwet. Ya, nasi liwet yang dimasak dalam kendil aluminium itu memang yang sedang kami rindukan

Kamipun menemukan resto yang bernama ‘Ikan Bakar Cianjur’ di Jln. Muwardi. Tidak terlalu besar, bahkan dari jalan raya terlihat sangat sederhana. Berhubung hari itu hari Jum’at maka menjelang jam makan siang resto masih belum terlalu ramai. Resto yang ditata dengan meja kayu dan bangku kayu sederhana sudah cukup lama ada di Cianjur. Apakah resto ini cabang dari resto yang bernama sama di Bandung dan di sekitarnya bahkan sampai di daerah Jawa Tengah? Wah, kami tidak terlalu ambil pusing karena sudah terbayang nasi liwet plus teri nasi yang hangat mengepul!

Karena kami sudah kepincut dengan nasi liwet dan ikan bakar kamipun memutuskan untuk memesan ikan gurame bakar. Walaupun menu disana ternyata tak hanya ikan bakar, melainkan juga ada beragam pilihan seperti ikan nila, patin, ayam hingga pepes ikan mas. Sebagai pelengkap gurame, kami memesan seporsi pencok kacang panjang, karedok dan tak ketinggalan lalapan dan sambal terasi tentunya.

Sambil menunggu makanan, kamipun berkeliling ke bagian belakang resto. Ternyata, di bagian belakang terdapat beberapa saun untuk makan lesehan. Hanya sayang kondisinya kurang terawat baik sehingga terlihat kurang bersih dan nyaman. Ada beberapa pengunjung yang memilih saung ini. Kembali ke meja kami mendapati nasi liwet sudah tersaji di meja. Ciri khas nasi liwet Cianjur ini, memakai beras yang pulen, dimasak di dalam kendil atau periuk aluminium. Masih hangat mengepul. Bagian atasnya ditutup sehelai daun pisang berisi teri Medan yang ditumis dengan irisan cabai merah dan daun bawang. Wah, saat diaduk aroma gurih harumpun menusuk-nusuk hidung!

Ikan gurame bakar yang masih mendesis panas pun, disajikan di atas piring oval. Sebenarnya ikan gurame ini bumbunya sederhana (bawang putih, garam, merica dan sedikit kecap manis), tetapi karena ikannya segar (hidup) sehingga sangat menggoda. Saat kami menyuapkan nasi liwet plus ikan gurame bakar ini rasanya memang dahsyat. Gurih, pedas dengan semburat manis, semuanya menari-nari dalam mulut. Apalagi saat dicocol dengan sambal terasi. Ikan guramenya memang terasa segar, tanpa jejak aroma anyir, juga tak ada jejak aroma tanah (yang biasanya ada di ikan air tawar). Nasi liwetnya pulen, gurih dan sangat serasi saat diaduk dengan ikan teri Medan yang gurih juga.

Asyik dengan ikan bakar, hampir saja membuat kami lupa akan hidangan lainnya yaitu seporsi pencok kacang dan karedok. Pencok kacang ini terdiri dari kacang panjang yang dipotong-potong dengan bumbu kencur, cabai merah, bawang putih, cabai rawit, serta gula dan ditaburi daun kemangi. “Wah pencok kacangnya pedas banget,” ujar salah seorang teman saya sambil terengah-engah kepedasan. Kacang penajang segar dalam pencok ini sedikit dimemarkan hingga bumbunya menyatu dalam kacang panjang. Pantas saja rasanya pedas menggigit! Karedok yang disajikan memang terlihat sangat segar. Irisan kol, kacang panjang segar, tauge, irisan terung terlihat rata terlumuri bumbu kacangnya. Aroma kencur dan bawang putihnya sangat tajam. Rasanya juga tak mengecewakan, tak terlalu peds, sedikit manis dan rasa kencur dan bawang putihnya sangat dominan.

Tak terasa suapan demi suapan yang nikmat membuat hampir semua sajian habis. Kenikmatan ini makin terasa dengan alunan musik Pasundan yang mengiringinya. Apalagi saat membayar, ternyata tak sampai Rp.100.000,00 untuk semua pesanan kami, lengkap dengan minuman jus jeruk dan es teh manis. Benar-benar nikmat habis!

Untuk seporsi pencok kacang dan karedok hanya dihargai Rp 5000,00. Seporsi nasi liwet Rp 20.000,00 dan ikan gurame bakar harganya tergantung pada berat ikan. Nah, kapan-kapan jika Anda melintasi kota Cianjur dan perut lapar, sebaiknya mampir ke restoran ini. Raos pisan ueyyy!!

Ikan Bakar Cianjur
Jl. Dr Muwardi No.143, Cianjur
Telp: 0263-263392 ( dev / Odi )

Sumber : detikfood.com

Sindang Rahayu, Cianjur

Sindang Rahayu, Cianjur

Liburan sambil bernostalgia memang sesuatu yang mengasikkan. Hmm… apalagi jika soal makanan. wah untuk yang satu itu kami sekeluarga tak pernah bosan-bosannya. Kali ini saya sekeluarga diajak oleh suami tercinta untuk bersantap di Sindang Rahayu, Cianjur. Tak disangka, perjalanan nostalgia ini dapat membawa kami sekeluarga menikmati wisata kuliner yang luar biasa!!

Dalam hal icip-mencicip makanan, pastinya kita gak pernah bosan yah? Sama seperti saya dan keluarga yang selalu wisata kuliner kalau hari libur tiba, biasanya sih kami pergi ke tempat-tempat yang memang belum pernah kami datangi. Waktu liburan tiga hari kemarin, tepatnya pada hari kemerdekaan 17 Agustus kami sekeluarga pergi ke Puncak untuk berlibur. Memang sih tidak untuk menginap, melainkan hanya untuk menikmati salah satu restoran yang berada di daerah tersebut.

Setelah hari hampir siang kami pun mulai hunting makanan yang kami lihat disepanjang jalan di Puncak memang sangat banyak sekali restoran yang tersebar di daerah puncak dan setelah kita pilih-pilih akhirnya kita coba masuk ke salah satu restaurant yang ada di daerah Cianjur namanya Sindang Rahayu. Suami saya pernah makan di restoran tersebut, tetapi pada waktu masih SMU. Lalu saat kemarin kami pergi ke daerah Puncak suami saya ingat akan restaurant tersebut dan akhirnya kami pun memutuskan untuk makan di restaurant tersebut. Memang informasi dari suami saya sangat berbeda sekali pemandangan tentang restoran tersebut berbeda sekali dibanding sekarang yang terlihat lebih asri dan nyaman sekali. Bahkan tak hanya itu, dari segi makanannyapun lebih bervariasi karena kami bisa leboh banyak mencoba makanan dengan aneka masakan.

Pada saat kami datang dan cari tempat yang memang nyaman untuk bersantap para pramusaji mulai menghidangkan makanan-makanan yang ada di restoran tersebut. Seperti ketika makan di restaurant Padang, semua makanan disajikan dipiring-piring kecil. Yang membuat saya takjub adalah makanannya beraneka ragam tidak hanya masakan Sunda saja, tapi juga ada masakan Padang dan masakan Jawa pokoknya sampai bingung mau makan yang mana? Dari ayam goreng, otak goreng balut telur, gepuk, rendang daging, kikil, bakwan udang, udang asam manis, ikan mujair goreng, paru goreng, pepes ikan mas duri lunak, tahu-tempe goreng. Tak ketinggalan aneka macam sambal dari sambal oncom, sambal dadak, sambal mentah, lalapan, sayur asem, tumis jamur, dan masih banyak lagi menu-menunya. Sampai-sampai saya lupa untuk menyebutkan menunya satu-persatu. Setelah saya coba satu persatu hidangan yang disajikan hmm… rasanya memang benar-benar ‘mak nyusss’ uennnak sekali.. hampir kalap saya ingin memakan semuanya. Pertama saya coba makan ayam kampung goreng yang masih ngebul… aduhhh, nikmat banget. Rasanya gurih dan bumbunya terasa sekali sampai ketulang-tulangnya. Suami saya ternyata tidak berubah menunya dari dahulu dia suka sekali dengan otak goreng yang dibalut dengan telur kocok, penasaran saya pun coba sedikit otak goreng tersebut dan ternyata rasanya memang benar-benar enakkk nyam nyam… dan tidak ketinggalan makannya pake sambel yang beraneka ragam dan semua rasanya juga muantabbb tidak terlalu pedas sekali jadi bikin nambah terus.

Setelah semua makanan kita coba satu persatu (walaupun tidak semua dicoba sih) tetapi sudah membuat kami tidak bisa berbicara karena kenyang dan masih menikmati rasa makanan yang masih menempel di lidah. Kami sekelurga pun berniat untuk pulang dan setelah pramusaji mengitung tagihan dari semua makanan yang kita makan alangkah terkejutnya saya ternyata sangat murah sekali, kami makan sekelurga dengan jumlah orang dewasa 7 orang dan anak-anak 3 orang kami hanya membayar Rp 159.000. Sampai-sampai suami saya tidak percaya kok murah sekali, padahal kita sudah makan begitu banyak makanan yang disajikan. Ternyata setelah saya lihat harganya ya ampun masih jauh lebih murah dibanding kalo kita makan di warung makan dekat kantor saya. Contohnya gepuk bandung yang sangat empuk harganya cuma Rp 7.000, ayam goreng kampung Rp 8.000, otak goreng balut telur Rp 6.000, sayur tumisan Rp 3.000/porsi, sayur asem yang lezat Rp. 6.000/porsi. Yah… pokoknya murah meriah dehh! ( dev / Odi )

Nama : Sri Astuti
Email : astutifahlifi@yahoo.com
Alamat : Jl. Agung Raya I/78

Sumber : detikfood.com