Pameran Pembangunan HJC Ke 335

Pameran Pembangunan HJC Ke 335

Tampilkan Potensi untuk Pembangunan Cianjur

PAMERAN pembangunan Hari Jadi Cianjur (HJC), rutin dilaksanakan setiap tahun. Pameran HJC ke 335 tahun ini diikuti sekitar 87 stand. Adapun ditampilkan ciri khas yang dimiliki peserta stand. Seperti apa pameran ini? Berikut hasil pantauanya.

Laporan : DENI ABDUL KHOLIK, Cianjur

LAPANGAN Prawatasari Joglo Cianjur, tidak biasanya ramai dikunjungi. Selama kurang lebih dua minggu terhitung dari Jumat, 6 hingga 16 Juli 2012 akan diramaikan berbagai event pameran.

Pameran setiap tahun dilaksanakan menjelang Hari Jadi Cianjur yant tahun ini untuk ke 335. Sejak dibuka Menteri Perdagangan Menteri Pedagangan RI, Gita Wiryawandari dan Bupati Cianjur Tjetjep Muchtar Soleh acara pameran berjalan menarik.

Terlihat stand baik dari pemerintahan, lembaga pendidikan, BUMD, BUMN dan swasta menempati stand-stand yang disiapkan panitia. Mereka menampilkan ciri khas yang dimiliki peserta stand.

Ciri khas sendiri, dari mulai potensi, kasil karya di desa, kerajinan UKM, dan investor yang melakukan investasi di Cianjur serta lainnya. Sedangkan pameran ini mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat.

Salah satu stand yang terbilang menarik yaitu stand PNPM-MP Kabupaten Cianjur dari 29 Unit Pelaksana Kegiatan (UPK), bergabung dengan ruang Belajar Masyarakat (RBM) dan Satker dari kantor BPMD-KPD turut berpartisipasi.
Stand ini diisi lebih dari 300 prodak KUKM berupa makanan yang didanai PNPM-MP, atau diolah oleh binaan kelompok, termasuk kerajinan tas, golok, dan lainnya.

Menurut Faskab Ujang Aliyudin, kehadiran stand PNPM-MP Kabupaten Cianjur tiada lain ingin menyemarakan serta menunjukan bahwa PNPM-MP betul-betul telah, sedang dan akan terus membanguan Cianjur, baik bidang fisik maupun peningkatan perekonomian masyarakat Cianjur.

“Kita hadir untuk berpartisipasi, lebih dari itu kita pelaku PNPM MP Cianjur agar lebih diketahui masyarakat luas, bahkan mereka yang tidak tahu apa PNPM MP dapat melihat atau bertanya langsung ke stand kami ini,” kata Ujang diamini beberapa ketua UPK, kemarin.

Dalam mengisi stand tersebut, lanjut Ujang merupakan perpaduan antara BPMD sebagai satker, RBM juga asosiasi UPK bersatu menjadi sebuah kekuatan untuk menjadi mitra Pemkab Cianjur, terlebih tiga komponen ini dapat merealisasikan masing-masing tugasnya, demi pembangunan Cianjur.

“Bahwa PNPM tidak hanya diketahui pelaku saja, tetapi harus diketahui dan dipahami khalayak banyak, dan kita berusaha kegiatan pameran ini benar-benar mendorong untuk Cianjur bisa berintegrasi tahun 2013,” ujarnya, seraya mengucapkan terimakasih kepada Bupati Cianjur yang telah respon bahkan menyatakan mendukung dengan tertulis kepada PNPM-MPyang ditindaklanjuti Satker, sehingga PNPM-MP tetap eksis dan berada di tengah-tengah dinas-dinas yang ada di Kabupaten Cianjur.(**)

referensi: radarcianjur
Melihat Malam Ritual Ngabungbang di Gunung Padang

Melihat Malam Ritual Ngabungbang di Gunung Padang

Dilakukan Sendiri-sendiri untuk Kepentingan Sendiri

Ngabungbang merupakan ritual yang dilakukan untuk meminta keselamatan, baik pribadi, keluarga juga lingkungan sekitar. Ritual ini identik dengan kegiatan penyucian diri menggunakan air dari tujuh mata air dan dilakukan tepat bulan purnama penuh. Namun, FMPSM serta HW Project mengubah tradisi tersebut tanpa mengurangi maknanya. Berikut penusurannya.

Laporan : ZULFAH ROBBANIA, Cianjur

ASAP dupa serta nyala obor menjadi pembuka ritual ngabungbang. Dua hal tersebut juga mengiringi langkah para apresiator mulai dari masyarakat hingga seniman dan budayawan. Mereka mendaki tiap tangga Situs Gunung Padang, Cianjur, menuju teras satu yang menjadi panggung doa bersama malam itu.

Bulan purnama belum muncul sempurna, karena tertutup awan tipis. Nampaknya hal tersebut tak menjadi penghalang untuk dilaksanakannya ritual yang bertujuan untuk meminta keselamatan.
Dibuka lewat puisi, kemudian tari, musik hingga monolog, ritual ngabungbang tak kehilangan makna. Rangkaian tampilan karya para seniman serta budayawan ini mampu membawa penonton larut dalam doa, sebagaimana inti dari ritual ini.

“Terlepas dari berbagai kontroversi Gunung Padang, melalui kegiatan malam ini kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk seimbang. Bulan purnama adalah titik di mana bumi dalam kondisi tidak stabil, lewat doa, kita berupaya untuk menstabilkannya. Namun, ada sedikit perubahan dalam ritual biasanya, kita mengganti tujuh mata air untuk menyucikan diri dengan tujuh seniman dan budayawan lewat karya yang ditampilkan, tanpa mengurangi makna,” terang Hilda Winar, Koordinator HW Project.

Dengan penuh harap Hilda mengungkapkan, melalui kegiatan ini kestabilan ataupun keseimbangan yang didapatkan akan turut serta membawa perubahan dalam diri menjadi lebih baik.

Melihat sekilas cerita penduduk setempat, ritual ngabungbang meski dilakukan tiap tahun, namun diakui tidak pernah dilakukan secara bersama-sama. Ritual tersebut hanya dilakukan sendiri-sendiri, untuk kepentingan sendiri juga.

“Ini bisa dikatakan pertama kali. Soalnya, baik masyarakat di sini maupun di luar Gunung Padang, tidak pernah melakukan acara ngabungbang secara beramai-ramai. Mudah-mudahan bisa terus dilakukan ke depannya. Karena inti dari acara ini adalah doa bersama, sehingga sedikit banyak akan meruntuhkan anggapan bahwa Gunung Padang adalah tempat pemujaan,” pungkasnya.(**)

referensi: radarcianjur
Misteri Gerbang Menhir Bergaris Gunung Padang

Misteri Gerbang Menhir Bergaris Gunung Padang

Di tiap teras, ada dua menhir berjajar, memiliki tiga garis horizontal

Tim ekskavasi Gunung Padang di Cianjur yang terdiri dari 15 orang di bawah koordinator arkeolog Ali Akbar hari ini berhasil menemukan beberapa batu tegak (menhir) yang diduga mengarah ke pintu masuk ke situs megalitikum ini.

“Pada batuan sekarang ditemukan seperti ada garis tegas horizontal yang berjumlah tiga garis, meskipun sudah roboh namun ini menjadi salah satu kunci utama teka teki,” kata Ali pada VIVAnews, Sabtu 23 Juni 2012.

Ia menambahkan ada kelainan pada temuan-temuan di jarak yang berbeda ini. Temuan sebelumnya batu bergaris ini berada di kedalaman tebing, sekitar 40 meter sejajar dengan teras ke tiga, yang di sekelilingnya masih ditutupi belukar.

Kuat dugaan menhir-menhir ini mengarah ke rongga yang berada di perut situs megalitik Gunung Padang, karena di teras bawahnya, yang berjarak 50 meter dari lokasi, yang sejajar dengan teras ke lima, ditemukan pula menhir berciri sama. Dua batu dengan tinggi satu meter lebih dan diameter sekitar 40 Cm ini berdiri sejajar dengan jarak sekitar dua meter. Ada garis yang sama di kedua batuan ini seperti batu bergaris yang ditemukan di teras di atasnya.

Batu berdiri ini diperkirakan sebagai pintu masuk dengan susunan tangga yang berada di bawahnya. Penemuan anak tangga pada punden berundak yang lebih kecil sisi timur gunung padang diperkuat lagi dengan temuan sumber mata air.

“Kami menemukan sumber mata air yang berjarak sekitar 200 meter ke bawah. Letaknya sejajar dengan tangga. Ini memperkuat bagian ini menjadi kesatuan dari struktur dan konstruksi Gunung Padang. Mata air mempertegas alur religi masyarakat purba terdahulu yang mengarah pada pemujaan di Gunung Padang,” kata arkeolog Universitas Indonesia itu.

Tim terus fokus mencari titik dan upaya membuka rongga yang diduga sebagai pintu masuk ke dalam perut Gunung Padang. Dari hasil pemindaian geolistrik dan georadar, kisah Pak Dadi, sang juru pelihara situs yang sempat masuk ke sebuah rongga mirip goa, terkonfirmasi.

“Saat ini kondisi tanah di sekitar gunung padang dalam kondisi labil. Selain itu, pelapukan bebatuan yang menjadi konstruksi Gunung Padang menjadi pertimbangan. Ini yang menghambat tim untuk melakukan ekskavasi. Beberapa temuan georadar dan kisah Pak Dadi sudah tertimbun longsoran hingga kedalaman antara empat sampai lima meter,” kata Ali.

Namun tim tetap melakukan pencarian. Tim arkeologi bekerja menyebar secara berkelompok. Tiap tim terdiri antar 3-5 orang. Mereka melakukan ekskavasi di berbagai titik berbeda dengan menggunakan, cangkul, kuas sikat dan berbagai alat lainnya.

referensi: vivanews
Ngaguar Batik Beasan Cianjur

Ngaguar Batik Beasan Cianjur

Filosofi Daerah yang Diakui Dunia Internasional

Kekhasan Cianjur, tidak hanya berkutat dengan tauco dan manisan. Sebab, salah satu ciri khas kota perlintasan ini juga terdapat pada sisi kerajinan, dan telah diakui ditingkat Internasional. Kerajinan apakah itu? Simak penuturannya.

Astri Dwi Andriani, Jalan Suroso

Batik Beasan, banyak masyarakat Cianjur yang belum mengetahui warisan budaya Cianjur yang satu ini. Sebuah kepanjangan dari beras yang berarti beas dalam Bahasa Sunda. Sebuah motif yang sarat dengan filosofis kehidupan.

Beas, yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan beras, adalah buah padi yang diproses. Dan Cianjur, terkenal dengan berasnya yang besar dan harum yang dikenal varietas Jawu Dwipa (Pandanwangi).

Sebelumnya, Pandanwangi memang telah dikenal di dunia Internasional dengan rasanya.

Walaupun belum ada penelitian secara khusus, kontur tanah yang bisa menghasilkan beras Pandanwangi hanya terdapat di dua tempat belahan dunia, yaitu di tanah Siberia, dan tanah Cianjur. ”Tepatnya terletak di Kecamatan Warungkondang,” singkat Camat Warungkondang Hendri Prasetiadi AP MM kepadaCianjur Ekspres.

Berdasarkan hal tersebut, maka diangkatlah tema beras atau beas untuk mempertahankan keberadaan dan ketenaran Beras Pandanwangi. Dan beas atau beasan dijadikan nama paten dan digunakan seluruh motif Batik Beasan khas Cianjur.

Menurut Iim Imamudin GS, desainer sekaligus instuktur sentra Batik Tulis Beasan, simbol dari gambar tersebut memiliki makna filosofis tersendiri. Selain dari keberadaannya yang mewakili Cianjur, Batik Beasan juga dipandang mewakili Beras Pandanwangi.

Meski demikian, untuk memperkaya motif, Iim pun rupanya tidak monoton dalam berkreasi. Banyak motif lainnya seperti kumpulan atau satuan akar pohon, batang pohon, daun, pucuk bunga, bunga dan buah Padi yang dipadukan dengan unsur budaya, kesenian, alam dan lingkungan keberadaannya seperti hamparan sawah, sungai, air, pohon–pohonan, bukit, gunung, dan awan.

“Selain motif beras yang berserakan, disini juga terdapat motif lain seperti motif unsur sawah yang berpetak-petak, tangkai padi, bunga padi, kecapi, suling, dan gendang yang dipagari. Hal tersebut mengandung filosofi kalau warisan buadaya Indonesia, khususnya di Cianjur harus dijaga dengan baik. Supaya tidak direbut oleh bangsa lain,” paparnya.

Berkat keuletan dan perjuangan berbagai pihak, akhirnya 2 Oktober 2009, diprakarsai oleh Lembaga Pengkajian Pengembangan dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat (LP3EM) Cianjur sekarang telah disahkan oleh pemerintah pusat dan dunia sebagai warisan budaya asli dari Indonesia dan diakui oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

Sebuah pencapaian yang tidak mudah. Untuk tetap mempertahankan dan mengembangkan Batik Beasan, kata Iim sejak tahun 2008, sejumlah dinas seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Dinas Pariwisata, Dinas Koperasi, dan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Cianjur, aktif mengadakan pelatihan pada warga dari tujuh kecamatan yang ada di Cianjur. Seperti Karang Tengah, Sukaluyu, Cianjur, Gekbrong, Warung Kondang, Cugenang, dan Cipanas.

“Dalam pelaksanaannya, pembinaan dan pelatihan tersebut diadakan selama tiga bulan. Dalam satu tahun biasanya diadakan dua kali. Sampai saat ini, terdapat 160 warga yang aktif membuat batik tulis beasan,” terang Iim.

Untuk lebih melestarikan Batik Beasan, LP3EM bekerja sama dengan Koperasi Batik Beasan Cianjur akan mengadakan Lomba Design Batik Beasan Cianjur dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Cianjur (HJC) yang akan digelar Juni mendatang. Lomba ini rencananya akan dibuka untuk berbagai kalangan, dari mulai TK hingga mahasiswa atau umum. (*)

referensi: cianjurexpress
Dishubkominfo Cianjur Gelar Program KPU Dan USO

Dishubkominfo Cianjur Gelar Program KPU Dan USO

Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Cianjur, Jawa Barat, Rabu, menggelar sosialisasi dan publikasi program Kewajiban Pelayanan Universal (KPU) dan Universal Service Obligation (USO).

Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Cianjur, Aban Subandi menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan sosialisasi program pemerintah yang berkaitan dengan aplikasi internet, khususnya yang dilaksanakan Kementerian Kominfo.

“Program yang kami lakukan merupakan pelaksanaan dari program pusat, dalam rangka penyediaan jasa akses telekomunikasi dan informatika,” katanya.

Dia menambahkan, ada tiga prinsip dalam penyediaan KPU dan USO, yaitu menyediakan jasa, terjangkau dan berkesinambungan, melalui Balai Penyedia dan Pengelola Pembiayaan Telekomunikasi dan Informatika (BP3TI).

“Kementerian Komunikasi dan Informatika akan menyediakan M-PLIK (Mobil-Pusat Layanan Internet Kecamatan). M-PLIK merupakan program KPU dan USO berupa penyediaan infrastruktur dan layanan internet yang bersifat bergerak (mobil internet) di kecamatan seluruh Indonesia,” paparnya.

Dia menjelaskan, M-PLIK merupakan kendaraan roda empat yang dimodifikasi khusus dan setiap unitnya memiliki perangkat satelit VSAT, 6 unit laptop dan notebook, 1 unit server, Sistem Operasi dan OS sertaa aplikasi, router, switch hub 8 port, wireless acces point, UPS dan genset.

Selain itu dilengkapi LCD TV dan Home Theatre, Global Positioning System (GPS) dan rambu penunjuk lokasi fasilitas M-PLIK. Lokasi operasional M-PLIK adalah tempat publik yang strategis, berada atau dekat dengan aktivitas masyarakat seperti sekolah, perpustakaan, kantor desa, puskesmas dan kantor pemerintahan.

Selain program M-PLIK, tambah dia, terdapat program Desa Berdering USO, yang merupakan program pengadaan perangkat telekomunikasi dan informasi berupa pesawat telpon (FWT) dan satelit (VSAT) serta program USO-PLIK (Universal Service Obligation-Pusat Layanan Internet Kecamatan).

“Program Pinter ini merupakan proyek pengadaan layanan internet di berbagai kecamatan dan ditempatkan di lokasi yang strategis sehingga mudah diakses. Kemudian juga terdapat program WIFI USO yang merupakan jasa pembangunan hotspot WIFI disetiap kabupaten untuk memberikan akses internet gratis dengan sistem registrasi,” katanya. ***3***

Fikri

referensi: antarajawabarat
Kabupaten Cianjur Juara Umum FLS2N

Kabupaten Cianjur Juara Umum FLS2N

Kontingen asal Kabupaten Cianjur juara umum pada kegiatan festival dan lomba seni siswa nasional (FLS2N) SMA tingkat provinsi Jawa Barat, yang digelar di Villa Green Hill Ciherang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur.

Perlombaan yang dilaksanakan selama 3 hari tersebut, diikuti 405 peserta dari berbagai SMA dan SMK dari 26 kota/kabupaten se-Jawa Barat. Dengan memperlombakan 8 mata lomba yakni, baca alquran,puisi, menulis puisi, tari kreasi, baca puisi, menyanyi solo putri/a, drama, dan kreasi.

Ketua Panitia Penyelenggara Oma Spd, menjelaskan, kegiatan FLS2N ini merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tahun dan diikuti oleh 26 Kabupaten/Kota yang ada di Jawa Barat.

“Kegiatan FLS2N ini memperlombakan beberapa mata lomba, dengan tujuan untuk menjaring  peserta yang akan diikutsertakan dalam ajang serupa pada tingkat nasional,” jelasnya.

Dikatakannya, melalui kegiatan ini diharapkan  kemampuan siswa dalam kegiatan seni dan budaya dapat lebih berkembang dan yang lebih penting mampu memberikan hasil yang maksimal dalam FLS2N tingkat nasional.

“Mudah-mudahan pada saatnya nanti, siswa dapat lebih mengembangkan kemampuannya serta dapat meraih juara umum di tingkat nasional,” harapnya.
Sementara itu, untuk juara kedua diraih peserta perwakilan dari Kabupaten Garut disusul juara ketiga diraih peserta perwakila asal Kabupaten Ciamis.(des)

referensi: radarcianjur