Pembinaan Seni Mamaos Cianjuran di Sanggar Perceka

Pembinaan Seni Mamaos Cianjuran di Sanggar Perceka

Seni Tembang Sunda Cianjuran merupakan salah satu jenis kesenian yang menjadi ikon kota Cianjur. Dikembangkan sejak 200-an tahun lalu sebagai kesenian kelas atas, konsumsi para dalem (ningrat). Namun demikian, peran seni Cianjuran kini telah bergeser seiring dengan perkembangan sosial masyarakat. Jika dahulu Cianjuran hanya dapat dinikmati secara terbatas oleh kalangan para ningrat, kini seluruh masyarakat pun dapat menikmati seni Cianjuran.

Seni tembang Cianjuran sendiri di daerah Cianjur lebih sering disebut dengan mamaos. Ratusan karya (lagu dan iringan musik) dalam genre seni ini telah diciptakan. Penikmat dan pelakunya pun kini tersebar di berbagai daerah di Jawa Barat, bahkan di beberapa negara luar.

Namun demikian, pembianan dan regenerasi seniman mamaos, terutama generasi muda, tampaknya kurang begitu mendapatkan perhatian. Khususnya di Cianjur, lembaga atau komunitas (sanggar, lingkung seni dsb.) yang melakukan pembinaan seni mamaos dapat dihitung jari.

“kaul” (partisipasi) dalam kegiatan Panglawungan Seniman Tembang Sunda Cianjuran se-Kabupaten Cianjur

Sanggar Perceka adalah salah satu tempat pembinaan seni mamaos yang cukup eksis di Cianjur. Kiprah Sanggar Perceka dalam pembinaan mamaos telah berlangsung puluhan tahun, dan melahirkan banyak generasi seniman mamaos, baik juru tembang maupun pengiring musiknya. Selain melahirkan pelaku seni mamaos, dari perintisan awal, Perceka juga ikut berperan dalam membentuk beberapa komunitas seni yang berkecimpung dalam bidang seni Cianjuran di Cianjur.

Konsistensi dan kesungguhan Sanggar Perceka sebagai lembaga pembinaan seni Cianjuran telah diakui oleh pemerintah daerah. Pada tahun 2010, anugerah kehormatan diberikan oleh pemerinta h daerah Cianjur sebagai penghargaan atas peran Sanggar Perceka dalam pembinaan dan pengembangan seni mamaos Cianjuran.

Binaan-binaan Sanggar Perceka juga memiliki potensi yang cukup baik, sehingga mampu meraih prestasi pada lomba-lomba Cianjuran tingkat kabupaten maupun provinsi. Pada lomba tembang Cianjuran tingkat kabupaten pada tahun 2010, binaan Sanggar Perceka meraih prestasi sebagai Juara 2 kategori remaja putri, juara harapan 2 kategori dewasa putra, juara 2 kategori remaja putra, dan juara 3 kategori anak-anak putri. Tahun 2011 dalam event yang sama, binaan Sanggar Perceka meraih prestasi juara 2 kategori dewasa putri, juara 1 kategori remaja putra, juara 1 kategori remaja putri, juara 2 kategori anak-anak putri.

Prestasi yang paling monumental dan membanggakan dalam upaya membawa seni Cianjuran hingga tingkat dunia diraih pada tahun 2004, yaitu pada kegiatan 14th Spring Friendship Art Festival di Pyongyang Korea Utara. Pada kesempatan itu, seni tembang Cianjuran yang dibawakan oleh Tari Pinasti (saat usia 10 tahun) mampu meraih juara 2 dan mendapatkan tropi perak tingkat dunia, dari 56 negara peserta.

Latihan rutin di Sanggar Seni Perceka bersama Pak E. Nani Supriatna

Lebih dari sekedar untuk meraih prestasi dalam sebuah lomba, pembinaan seni mamaos Cianjuran yang dilakukan oleh Sanggar Perceka adalah sebuah upaya untuk melestarikan dan menumbuhkan bibit-bibit baru seniman mamaos. Oleh karena itu, aktifitas pembinaan tak berhenti sampai di situ, namun dilakukan secara berkelanjutan dan berkesinambungan.

Kegiatan pembinaan seni Cianjuran di Sanggar Perceka berlangsung hingga saat ini dengan agenda tetap. Dilaksanakan setiap hari sabtu sore di ruang utama Sanggar Perceka, Jl. Suroso No. 58 Cianjur. Materi tentang pengetahuan dan keterampilan tembang diberikan oleh Bapak E. Nani Supriatna, tokoh sesepuh seni mamaos Cianjur yang telah dikenal dan disegani di Jawa Barat.

Tertarik untuk ikut?
Silahkan datang ke Sanggar Perceka (Balai Belajar Bersama)
Yayasan Perceka Art Centre
Jl. Suroso No. 58 Cianjur (seberang Bank Mandiri Cianjur)
kontak person: 08193227949 (Tatang Setiadi)

referensi: percekaart

Ada Harta Karun di Gunung Padang?

Ada Harta Karun di Gunung Padang?

Kontroversi proses ekskavasi Situs Megalitikum Gunung Padang di Desa Karyamukti, Campaka Cianjur, sejumlah warga berspekulasi, jika di lokasi situs yang dibangun di masa prasejarah tersebut bisa saja ada bangunan dan terdapat harta karun terpendam.

Pasalnya, pada pengeboran pertama oleh para akhi geologi dan budaya Kementerian Pendidikan Nasional, diketahui jika di bawah pundak ke empat situs terdapat ruangan yang kedap suara. Hal itu seperti dilakukan para budayawan yang menolak pengeboran tanpa ada izin warga sekitar dan masyarakat Cianjur beberapa waktu lalu.

”Coba anda dengarkan suara pada lubang sisa pengeboran, jika dimasukan benda padat seperti batu maka ada suara menggema dari dalam lubang, seperti ada sebuah ruangan di dalamnya,” kata Eko Wiwid aktivis lingkungan yang mengkritisi soal ekskavasi situs tersebut kepada wartawan, Rabu, (23/5).

Menurutnya, pengeboran yang sporadis tanpa mengindahkan aturan dan tata cara adat istiadat akan sangat berbahaya. Pasalnya, di lokasi situs masih dianggap rawan bencana.
“Kalau seperti ini sangat berbahaya bisa saja jadi longsor, karena dibongkar paksa,” terangnya.

Ekskavasi lanjutan juga disesalkan sejumlah pengamat sosial dan politik Cianjur Ujang Yusup. Menurutnya, dengan mau turunya Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB) Andi Arief diduga ada hal menarik dari keberadaan situs Gunung Padang, tidak hanya sebatas melakukan penelitian untuk mitigasi bencana di sekitar situs.

”Ya bisa saja ada hal menarik seperti ada dugaan harta karun di bawah situs berundak, karena anehnya Andi Arief, yang jelas-jelas sebagai Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana mau-maunya terjun langsung dan menjelaskan tentang rencana ekskavasi situs. Yang aneh lagi ibu negara Ani Yudhoyono akan segera mengunjungi lokasi dan telah mendapat restu dari Presiden SBY,” terang Yusup.

Sekadar diketahui, telah dibentuk Tim Terpadu Penelitian Mandiri Gunung Padang. Tim terpadu yang terdiri dari arkeolog, sejarawan, filolog, geolog, dan sejumlah ahli ini terdiri dari 30 orang dengan berbagai latar belakang. Andi Arief bersama rektor UI Gumilar Sumantri dan ahli lainnya duduk sebagai tim pengarah. Sedangkan untuk tim teknis, dikomandoi oleh Arkeolog UI Ali Akbar dan Danny Hilman untuk urusan geologi.

Sementara itu, jika menengok berbagai literatur keberadaan situs Megalitik Gunung Padang sebenarnya sudah ditemukan sejak lama. Meski baru buming ketika muncul isu ada piramida besar di situs itu. Situs ini ditemukan pertama kali oleh warga Belanda bernama NJ Krom pada 1914. Namun, Pemkab Cianjur baru melakukan konservasi pada 1979.

Setelah ditemukan NJ Krom pada 1914, pemerintah Belanda sebenarnya sempat mencatat situs megalitikum ini. Namun, Belanda hanya mencatat tanpa ada tindak lanjutnya. Pada tahun 1979 ada tiga perwakilan warga setempat yang melaporkan temuan tersebut dan selanjutnya dikonservasi oleh pemerintah.

Kini, situs megalitikum ini menjadi perbincangan hangat di kalangan arkeolog, karena diduga menyimpan misteri piramida di bawahnya. Situs megalitik Gunung Padang berupa struktur punden berundak yang tersusun rapi dari batuan andesit. Lokasi situs berada di perbukitan yang dikelilingi gunung-gunung.

Menaiki puncak gunung, pengunjung diberikan dua pilihan rute tangga untuk mendakinya. Tangga pertama merupakan tangga asli dan satu kesatuan dari konstruksi punden berundak. Kontur pendakian akan sedikit menguras tenaga karena tingkat kecuramannya. Jumlah anak tangga yang harus dilalui adalah 378.

Di rute ini pengunjung akan melihat susunan anak tangga berukuran 1,5 meter dan tinggi sekitar 25 sampai 30 centimer. Susunan batu terlihat melintang dan diapit oleh batuan lainnya di kiri kanan anak tangga. Diduga susunan kiri kanan anak tangga sebagai penahan longsoran bila sewaktu-waktu terjadi aktivitas pergerakan tanah di kawasan tersebut.

Secara letak, gunung ini dikelilingi gunung dan perbukitan. Di bagian utara terlihat hamparan kemegahan Gunung Gede. Di bagian barat terdapat Gunung Karuhun dan Pasir Emped. Selatan terdapat Gunung Malati, di timur terdapar Gunung Pasir Malang. Bila mencapai puncak, terdapat lima teras yang terhampar di puncaknya.

Arkeolog UI, Ali Akbar, yang turut serta meneliti situs ini menuturkan pihaknya belum bisa memprediksi usia batuan yang ada di situs ini. Namun dia menduga situs ini sudah ada sejak zaman pra sejarah.(*/nag)

referensi: radarcianjur

Kripik Sayuran Khas SMKN 1 Pacet Cianjur

Kripik Sayuran Khas SMKN 1 Pacet Cianjur

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tak hanya hebat dalam mengotak-atik mesin dan membuat bermacam-macam kendaraan tapi juga jago berwirausaha. Siswa SMK Negeri 1 Pacet, Cianjur, Jawa Barat sukses menjalankan bisnis aneka keripik dari daun daunan sisa hasil panen.

Para siswa selain mendapatkan bekal teori juga langsung mempraktekkan pengetahuan dan teknologi pengolahan hasil pertanian, dari mulai produksi hingga proses pemasarannya. Kemampuan para siswa SMK ini antara lain membuat beraneka macam kripik dari daun-daunan dan manisan sayuran serta buah-buahan. Modal awal diberikan oleh sekolah. Keripik daun wortel menjadi salah satu yang paling favorit.

Menurut guru kewirausahaan SMK Negeri 1 Pacet, Cianjur, Nandang Jauharudin, para pendidik akan merasa bangga jika para alumninya bisa menjadi wirausaha yang berhasil dan tidak kesulitan mencari pekerjaan. (Vin)

referensi: liputan6.com

Manisan Cianjur dan Upaya Menghargai Nenek Moyang

Manisan Cianjur dan Upaya Menghargai Nenek Moyang

Di telinga orang luar Cianjur, nama salah satu kabupaten di Jawa Barat ini tidaklah begitu asing. Mendengar nama Cianjur, orang akan mengaitkannya dengan banyak hal. Ada beras pandanwangi, ayam pelung, tauco, tembang Sunda Cianjuran, kesenian kuda kosong, dan tak lupa adalah manisan buah dan sayurnya.

Tembang lama berjudul Semalam di Cianjur yang dipopulerkan oleh almarhum Alvian juga mau menggambarkan betapa Cianjur bisa menjadi tempat yang sangat berkesan bagi siapa pun.

Eneng Saadah (39), warga Kampung Cimadu, Desa/Kecamatan Gekbrong, Kabupaten Cianjur, mengatakan, Cianjur adalah tempat lahir yang patut dikenang. Manisan sayur asli Cianjurlah yang membuat tempat kelahiran itu patut dikenang. Bagi Eneng Saadah, pembuatan manisan sayur merupakan warisan nenek moyangnya.

Seingatnya, nenek Saadah sudah membuat manisan itu sejak Saadah kecil. Sang nenek juga mengatakan, beberapa generasi di atasnya juga sudah mulai membuat manisan sayur.

Manisan sayur memang belum punya nama seterkenal manisan buah. Namun, manisan sayur ini ternyata masih mendapat tempat ketika bisnis manisan dari Cianjur memasuki masa suram. Sayuran yang bisa dipakai untuk manisan antara lain wortel, pepaya, labu, buncis, mentimun, dan buah singkong.

Saadah yang menjadi penerus pembuatan manisan itu memang tak melulu berbicara soal bisnis saat memproduksi manisan yang dijual antara Rp 23.000 hingga Rp 27.000 per kilogram. Produksi manisan memang harus mendatangkan pemasukan, tetapi itu bukan yang terutama bagi Saadah. “Yang jelas, saya ingin menghargai nenek moyang terhadap apa yang pernah mereka buat. Kami merasa masih terikat secara batin dengan nenek moyang kami setiap kali membuat manisan sayur ini,” katanya.

Tergerus zaman

Sebagai salah satu wujud penghargaan itu, Saadah masih tetap menggunakan tempat masak dari tembaga yang sudah digunakan oleh generasi pendahulunya sejak tahun 1900. Ia memang tak setiap hari menggunakan tempat masak dari tembaga itu karena kondisinya mulai rusak dan belum sempat dibetulkan.

Alat masak dari tembaga itu sudah beberapa kali diperbaiki, dan biayanya pun sudah lebih dari cukup untuk membeli barang yang sama. Namun, nilai uang perbaikan itu dirasa tak seberapa dibandingkan dengan ikatan batin yang kini tetap terasa.

Cianjur memang terkenal karena banyak hal. Seiring berjalannya waktu, eksistensi Cianjur perlu dipertanyakan. Beras pandanwangi banyak ditemui yang tidak asli Cianjur. Tauco dan manisan mengalami nasib sama. Kesenian kuda kosong tak lagi dipertontonkan.

Meredupnya eksistensi Cianjur itu tak harus disikapi dengan menyalahkan siapa pun. Namun, justru harus disikapi dengan sadar bahwa arus zaman terus menggerus entitas budaya kita, bukan hanya di Cianjur. (agustinus handoko)

referensi : kompas.com

Dahlan: Soal Kualitas Tanah, Cianjur Istimewa

Dahlan: Soal Kualitas Tanah, Cianjur Istimewa

Menteri Badan Usaha Milik Negera (BUMN) Dahlan Iskan mengakui jika kualitas tanah di Kabupaten Cianjur merupakan satu di antara yang teristimewa di Indonesia. Satu di antara contohnya adalah keberadaan varietas padi Pandanwangi.

“Sektor agro (pertanian) di Kabupaten Cianjur itu sangat potensial karena ditunjang dengan kondisi tanahnya yang saya kira termasuk salah satu teristimewa di Indonesia. Kalau masalah bibit, daerah lain juga punya, termasuk masalah pupuk, daerah lainpun ada. Tapi jika berbicara masalah kondisi tanah, Kabupaten Cianjur salah satu daerah teristimewa di Indonesia,” kata Dahlan seusai mengikuti kegiatan senam massal di Lapang Prawatasari Joglo dalam kunjungan kerjanya di Cianjur, Jumat (4/5/2012).

Dahlan mengakui kualitas padi Pandanwangi yang merupakan varietas unggulan khas Kabupaten Cianjur. Varietas itu, lanjut Dahlan, hanya bisa ditanam khusus di daerah Cianjur. Itupun hanya dibeberapa lokasi saja.

“Daerah lain sebetulnya bisa menanam padi Pandanwangi. Tapi tetap rasa dan kualitasnya tidak akan sama jika ditanam di daerah aslinya di Cianjur. Ini menandakan bahwa kualitas tanah sendiri menunjukan kualitas sebuah varietas pertanian,” tukasnya.

Meskipun demikian, Dahlan mengharapkan agar masyarakat sendiri tidak terlalu bergantung kepada pemerintah. Artinya, masyarakat harus berdayaguna sehingga akan memunculkan kreativitas. Misalnya saja dalam konteks perlindungan varietas.

“Jika semuanya bergantung pada pemerintah, belum tentu juga akan baik, karena prosedur pemerintah itu cenderung mengikuti aturan. Apalagi saya melihat masyarakat saat ini sudah pintar-pintar, bahkan kepintarannya bisa melebihi pejabat pemerintah,” tutur Dahlan.

Secara kualitas, lanjutnya, dalam sektor holtikultura pun Kabupaten Cianjur sangat memenuhi syarat untuk di ekspor. Namun hanya karena saat ini kebutuhan dalam negeri sendiri masih sangat tinggi, tentunya pasokan mendahulukan kebutuhan dalam negeri. “Sayur mayur asal Cianjur saya jamin sudah memenuhi syarat berkualitas ekspor. Tapi kebutuhan dalam negeri sendiri sangat besar. Untuk mengimbanginya, sekarang ada pengendalian impor holtikultura. Peraturannya akan segera dikeluarkan pemerintah mengenai pengendalian impor holtikultura ini,” tegas Dahlan.

Selain menyapa masyarakat Cianjur dengan menggelar senam massal, sebelumnya pada Kamis (3/5/2012) malam, Dahlan berkesempatan berdialog dengan masyarakat petani di Kampung Padakati Desa Tegallega Kecamatan Warungkondang.

Satu yang menjadi fokus keluhan dalam dialog itu adalah berkaitan dengan corporate social responsibility (CSR) dari perusahan-perusahaan, utamannya program CSR dari perusahaan BUMN dalam meningkatkan kesejahteraan para petani. Selama ini, petani masih merasakan belum maksimalnya program CSR fokus pada sektor pertanian.

Dokumentasi Ngawangkong Bareng Dahlan Iskan

referensi: inilahjabar

Pawai, Dukung Dera Indonesia Idol

Pawai, Dukung Dera Indonesia Idol

Warga Cianjur memenuhi ruas jalan protokol di Cianjur Kota, Selasa (1/5/2012). Namun aksi mereka bukan dalam rangka memperingati Hari Buruh se-Dunia atau May Day yang jatuh tepat pada hari ini.

Sambil membawa spanduk dan poster, mereka meneriakan yel-yel. “Dukung Dera..Dukung Dera,” teriak pada peserta aksi. Ya, mereka merupakan penggemar finalis Indonesia Idol asal Cianjur Non Dera yang lolos ke babak 9 besar acara reality show di salah satu televisi swasta nasional. Masyarakat pun menamakan aksi mereka tersebut dengan nama Pawai Rakyat.

Hampir 9 kilometer mereka menyusuri ruas-ruas jalan protokol di Cianjur dimulai dari Jalan Perintis Kemerdekaan–Amalia Rubini–Mochamad Ali–Siti Jenab–Siliwangi dan berakhir di Jalan Pangeran Hidayatulloh (Lapang Prawatasari Joglo). Tanpa rasa lelah, sambil meneriakan yel-yel sepanjang perjalanan mereka meminta masyarakat memberikan dukungan kepada Non Dera.

Tidak hanya masyarakat, pejabat daerah sekelas bupati dan wakil bupati pun turun langsung memberikan dukungannya kepada Non Dera. Di babak final 10 besar, Wakil Bupati Cianjur Suranto bersama anggota DPRD Jimmi Perkasa Has pun menyempatkan diri menonton langsung Indonesia Idol di Jakarta. Sebuah dukungan yang mungkin bisa memberikan motivasi bagi dara asal Cianjur ini.

Seusai arak-arakan mendukung Non Dera, Bupati Cianjur Tjetjep Muchtar Soleh bersama isteri Yana Rosdiana berkesempatan menemui kedua orangtua Non Dera bersama para pendukungnya. Oleh panitia penyelenggara Tjetjep didaulat melepaskan seekor burung merpati sebagai simbol tersampaikannya pesan kepada seluruh dunia bahwa Cianjur memiliki talenta muda.

“Saya bangga ternyata Cianjur memiliki talenta-talenta muda dalam bidang seni. Dulu kita punya Decha yang menjadi juara dalam KDI (Kontes Dangdut Indonesia). Sekarang kita punya Non Dera, Finalis Indonesia Idol yang masuk dalam 9 besar. Saya yakin, Dera bisa menjadi juara Indonesia Idol,” kata Tjetjep disambut tepuk tangan warga Joglo, Selasa (1/5/2012).

Tjetjep mengaku sudah menginstruksikan para pegawai di seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) termasuk para camat untuk mendukung Non Dera melalui kiriman short messege service (SMS). Malahan Tjetjep juga sudah menginstruksikan apabila ada masyarakat yang ingin menyaksikan langsung penampilan Non Dera di Jakarta, jika tak gunakan bisa meminjam kendaraan Pemkab Cianjur.

“Masyarakat Cianjur itu jumlahnya lebih kurang 2,3 juta jiwa tersebar di 32 kecamatan, 354 desa dan 6 kelurahan. Pokoknya kita dukung Non Dera melalui SMS agar bisa menjadi juara Indonesia Idol,” tutur orang nomor satu di Kabupaten Cianjur ini.

referensi: inilahjabar