Pantai Jayanti, Cidaun

Pantai Jayanti, Cidaun

Pantai Jayanti  Terletak di kecamatan Cidaun. Jarak dari Kota Cianjur 139 Km. Pantai ini berdampingan dengan Cagar Alam Bojonglarang dan pelabuhan nelayan. Pantai ini masih alami dengan ombak yang indah.

Keberadaan Pantai Jayanti memang belum sepopuler Pangandaran, Ciamis, atau Pelabuhanratu, Sukabumi. Tapi panorama alamnya, tak kalah dengan dua obyek wisata tersebut. Pantai Jayanti yang baru ditata tahun 80-an dan dikenal sebagai obyek wisata sepuluh tahun kemudian, memang belum mampu menandingi kepopuleran Pangandaran dan Pelabuhanratu yang sudah berkembang puluhan tahun lebih dulu.

travel.okezone :

Selatan Kabupaten Cianjur berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Secara ukuran, Cianjur memiliki bibir pantai sepanjang 75 KM yang membentang dari Kecamatan Agrabinta yang berbatasan denganSukabumi ke Kecamatan Cidaun yang berbatasan dengan Kabupaten Garut.

Salah satu pantai yang cukup terkenal di Cianjur Selatan adalah Pantai Jayanti, di Kecamatan Cidaun. Pada dasarnya Jayanti merupakan sebuah dermaga tempat bersandarnya para nelayan Cidaun. Namun tidak jarang ada para pelancong yang ingin mngunjungi pantai tersebut.

Wisatawan datang ke Jayanti pada saat libur lebaran. Wisatawan yang datang kebanyakan wisatawan domestik dari Kabupaten Garut, Kabupaten Cianjur, seta Kota Bandung dan sekitarnya.

Di Pantai Jayanti, wisatawan bisa merasakan sensasi bakar ikan layur langsung di pinggir pantai. Ikan-ikan segar hasil tangkapan nelayan bisa langsung dibeli di pasar ikan Jayanti. Untuk peralatan masaknya bisa membawa sendiri atau beli di Jayanti.

Ombak di Pantai Jayanti terbilang cukup besar. Oleh karena itu, pantai ini tidak bisa menjadi tempat berenang. Hamparan pasir pantai yang disapu ombak hanya bisa dinikmati untuk sekadar foto-foto saja.

Kawasan ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, terdiri dari pasir-pasir pantai. Tempatnya kurang begitu nyaman untuk menjadi tempat istirahat di siang hari, karena udaranya yang panas, dan tanpa pohon peneduh.

Jika Anda ingin bersantai melihat pemandangan laut, Anda bisa mencoba bagian kedua dari Pantai Jayanti. Bagian yang satu ini terdiri dari batu-batu karang.

Angin dari pantai terhalangi oleh batuan karang yang menjulang. Anda bisa beristirahat di bawah batuan karang tersebut. Dan asiknya, di sana cukup teduh oleh pepohonan.

Untuk pergi Ke Jayanti Anda bisa menggunakan jalur Cianjur Kota-Sindang Barang-Jayanti, Bandung-Naringgul-Jayanti. Atau Jika Anda berasal dari Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis, Anda bisa menggunakan jalur Trans Jabar Selatan yang saat ini kondisinya cukup baik.

suarakarya-online :

Pantai Jayanti yang baru ditata tahun 80-an dan dikenal sebagai obyek wisata sepuluh tahun kemudian, memang belum mampu menandingi kepopuleran Pangandaran dan Pelabuhanratu yang sudah berkembang puluhan tahun lebih dulu.

Jayanti memang masih terbebas dari polusi apa pun, apalagi polusi udara atau pencemaran air. Pemukiman penduduk saja belum terlalu banyak. Kecuali barangkali adanya bau anyir ikan, dan ini sebetulnya aroma khas sebuah objek wisata yang sekaligus merupakan sebuah pelabuhan nelayan.

Di sana terdapat bangunan Tempat Pelelangan Ikan (TPI), serta di depannya terdapat kios-kios pengecer ikan dan kios jajanan lain serta warung nasi yang dapat menyediakan ikan bakar sesuai pesanan.

Kondisi pantainya sendiri terbangun atas pasir laut di sebelah kanan dan batu-batu karang di sebelah kiri. Ombak samudera bergulung-gulung, lalu berdebur menerpa batu-batu karang.

Beberapa puluh meter dari pantai terdapat pelataran parkir cukup luas. Hanya beberapa puluh meter pula terdapat beberapa penginapan milik swasta. Tarifnya relatif murah, rata-rata Rp 75 ribu per malam.

Pantai Jayanti bisa ditempuh dari Kota Cianjur dan Bandung melalui dua ruas jalan, yakni ruas jalan Kota Cianjur-Sindangbarang-Cidaun dan Bandung-Ciwidey-Naringgul-Cidaun.

Tapi untuk menuju Jayanti melalui ruas jalan Bandung-Naringgul-Cidaun yang berkelok-kelok dan naik-turun, lebih baik menggunakan kendaraan pribadi karena angkutan umum dari bandung hanya sampai di Balegede. Kecuali pengunjung mencarter angkutan umum bisa sampai ke Pantai Jayanti.

Karena itu wisatawan yang datang ke Jayanti umumnya menempuh perjalanan dari Kota Cianjur. Di Kota Tauco ini, tepatnya di Terminal Pasirhayam, cukup tersedia angkutan umum berupa bus dan Elf yang langsung menuju Cidaun dengan waktu tempuh sekitar 4 jam. Dari sini, sejauh 8 km, naik ojek sampai Jayanti.

Sumber Air Panas di Istana Cipanas

Sumber Air Panas di Istana Cipanas

 

Istana Cipanas terletak di Desa Cipanas, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, tepatnya di kaki Gunung Gede, Jawa Barat, pada ketinggian 1.100 meter dpl. Pada masa kepresidenan Republik Indonesia, Istana Cipanas digunakan sebagai tempat peristirahatan.

”Seperti halnya Camp David yang digunakan sebagai tempat peristirahatan presiden Amerika Serikat,” terang Prof Dr Taufik Abdullah, sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Sebagai tempat peristirahatan, acap kali Presiden Soekarno menggunakan Istana Cipanas sebagai tempat merenung saat akan mengambil suatu keputusan.

Saat awal berdirinya, Istana Cipanas merupakan miliki pribadi seorang tuan tanah Belanda yang didirikan pada 1740.

Kompleks Istana yang berdiri di areal seluas 26 hektare ini kemudian menjadi tempat peristirahatan Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff.

Kompleks Istana ini lebih banyak berupa hamparan kebun tanaman yang terdiri dari tanaman hias serta kebun sayur yang ditata mirip hutan kecil. Sebab luas bangunannya sendiri hanya 7.760 meter persegi.

Cipanas merupakan kata yang berasa dari bahasa Sunda, yaitu ci atau cai yang berarti air dan panas yang berasal dari kata sifat panas.

Daerah Cipanas merupakan tempat yang memiliki sumber air panas yang mengandung belerang. Dan kebetulan, sumber air panas tersebut terletak di kawasan Istana Cipanas.

Konon, airnya sangat panas sehingga kalau hendak digunakan untuk mandi, sebaiknya dicampur dengan air dingin.

Istana ini terdiri dari sebuah bangunan induk, enam buah paviliun, sebuah gedung khusus, dan dua buah banguan lainnya, yaitu penampungan sumber air panas dan sebuah masjid.

Bangunan induk disebut sebagai Gedung Induk Istana Kepresidenan Cipanas. Pada masa kemerdekaan, gedung ini digunakan sebagai tempat peristirahatan presiden dan wakil presiden beserta keluarganya.

Gedung induk terdiri dari ruang tamu, ruang tidur, ruang kerja, ruang rias, ruang makan, serta serambi belakang.

Ruang tamu didesain menggunakan lantai kayu. Pada salah satu lorong utama Gedung Induk, dipajang sebuah lukisan karya Soejono DS yang dibuat pada 1958, yang dikenal dengan nama Jalan Seribu Pandang. Lukisan ini sendiri memiliki nama asli Jalan Menuju Kaliurang.

Istana Cipanas memunyai enam paviliun, yaitu Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, dan Abimayu. Selain itu, ada Paviliun Tumaritis I dan Paviliun Tumaritis II yang letaknya terpisah dengan enam paviliun lainnya.

Bangunan lain yang terdapat di wilayah Istana Cipanas adalah Gedung Bentol. Gedung Bentol merupakan karya arsitek anak bangsa, RM Soedarsono dan F Silaban.

Gedung ini berada di belakang Gedung Induk, lebih tinggi dibandingkan bangunan-bangunan lainnya karena berdiri di lereng gunung.

Berbeda dengan istana lainnya, Istana Cipanas yang sejuk memberi pengalaman unik tersendiri. Sambil menikmati pemandangan di kaki Gunung Gede dan menikmati air panas, Istana Cipanas menjadi tempat yang nyaman untuk dikunjungi, sekaligus mampu memupuk rasa cinta terhadap hasil budaya dan sejarah bangsa.
(dari berbagai sumber/din/L-4)

referensi: koran-jakarta

Wisata Waduk Jangari Cirata

Wisata Waduk Jangari Cirata

Wilayah Kabupaten Cianjur sangat luas. Objek wisata pun juga cukup banyak. Salah satunya Waduk Jangari Cirata. Waduk ini  terbentuk dari genangan air seluas 62 kilometer persegi akibat pembangunan waduk yang membendung Sungai Citarum. Genangan waduk tersebut tersebar di tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Cianjur, Purwakarta dan Kabupaten Bandung.

Genangan air terluas terdapat di Kabupaten Cianjur, yang kemudian dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata rekreasi berbasis air. Saat ini objek wisata tirta yang paling berkembang dan ramai dikunjungi wisatawan lokal di kawasan Waduk Cirata adalah Jangari dan Calingcing di Kabupaten Cianjur.

Padahal selain kedua tempat tersebut, masih banyak daya tarik potensial lainnya yang belum dikembangkan, seperti bendungan dan teknologinya, wisata agro, dan ekowisata hutan. Lokasi yang strategis maupun daya tarik yang cukup beragam tadi nampaknya belum cukup untuk menjadikan objek wisata ini dikunjungi wisatawan non lokal, terlebih mancanegara. Kawasan Waduk Cirata dengan luas 43.777,6 hektar terdiri dari 37.577,6 hektar wilayah daratan dan 6.200 hektar wilayah perairan.

Fungsi utama waduk sebagai pembangkit tenaga listrik, ternyata menimbulkan berbagai kegiatan ikutan yang berkembang di kawasan Cirata, termasuk pariwisata. Dengan memanfaatkan kondisi alam dan lingkungan air yang terbentuk di kawasan ini, potensi daya tarik wisata tersebut berkembang dan menarik wisatawan untuk berkunjung ke beberapa lokasi di kawasan Waduk Cirata.

Objek wisata Jangari yang terletak di Desa Bobojong, Kecamatan Mande yang berjarak lebih 17 kilometer dari pusat kota Cianjur, memiliki luas sekitar 15 hektar. Sedangkan Calingcing berlokasi di Desa Sindangjaya, Kecamatan Ciranjang, sekitar 20 kilometer dari kota Cianjur, dengan luas sekitar 5 hektar. Kedua lokasi tersebut sangat strategis karena berada pada titik pertemuan dua lintasan pintu masuk menuju wilayah pengembangan pariwisata Cirata yaitu dari arah Cianjur (Jakarta dan Bogor) serta Ciranjang (dari Bandung) yang memiliki potensi pasar wisatawan yang sangat besar. Untuk menuju ke Jangari terdapat rute angkutan umum dari pusat kota Cianjur. Aksesibilitas ke Calingcing tidak sebaik Jangari. Lokasi Calingcing lebih jauh dari pusat kota Cianjur dan belum ada angkutan umum menuju lokasi tersebut.

Di lokasi Jangari dan Calingcing wisatawan dapat menikmati rekreasi alam terbuka, dengan berbagai aktivitas yang dapat dilakukan seperti melihat-lihat pemandangan genangan air waduk, berperahu, memancing atau hanya sekedar berjalan-jalan dan duduk–duduk bersama teman atau keluarga sambil menikmati makanan yang mereka bawa. Kegiatan berperahu mengelilingi waduk Cirata dikenai tarif sekitar Rp30.000, untuk berperahu selama 2-3 jam. Atraksi yang dapat dinikmati oleh pengunjung pada saat berperahu mengelilingi waduk adalah melihat jaring terapung dan budidaya ikan sambil menikmati hidangan berupa ikan bakar/goreng yang disediakan oleh salah satu rumah makan terapung yang terdapat di lokasi tersebut.
Namun saat ini, populasi jaring terapung yang cukup banyak terkesan hampir menutupi permukaan waduk, sehingga dapat mengurangi kenyamanan wisatawan/pengunjung pada saat melakukan pesiar, karena menghalangi pemandangan keseluruhan.

Fasilitas penunjang yang tersedia di lokasi Jangari diantaranya pelataran parkir yang cukup luas, namun sayangnya belum tertata dengan baik. Hal tersebut terlihat pada saat hari libur dengan jumlah pengunjung yang banyak, ruang parkir menjadi tidak teratur dan terkesan semrawut. Fasilitas lainnya yaitu toilet umum -namun kondisinya kurang bersih, demikian juga dengan kondsi lingkungan keseluruhan. Saung-saung yang terletak di sepanjang jalan di dekat pusat keramaian Jangari dapat disewa oleh pengunjung untuk duduk-duduk dan beristirahat.

Untuk memenuhi kebutuhan wisatawan juga tersedia kios-kios dan warung-warung makanan yang menjual berbagai makanan dan minuman serta barang-barang dagangan lainnya. Selain warung, pedagang kaki lima terlihat cukup banyak menggelar dagangannya. Letak kios dan warung-warung tersebut saat ini belum tertata dengan baik, dan kurang menjaga kebersihan sekitarnya. Sebagian besar kios-kios tersebut terletak di tepi sempadan genangan, sehingga menghalangi pemandangan langsung ke bentangan waduk.

Untuk menambah daya tarik wisata di Jangari pada setiap hari libur/besar pihak pengelola menyediakan atraksi-atraksi kesenian tradisional maupun modern yang digemari oleh para pengunjung seperti jaipongan atau musik dangdut. Saat ini pengelolaan objek dan daya tarik wisata Jangari dan Calingcing dilaksanakan oleh Pemda Cianjur, mengingat kedua lokasi tersebut berada pada wilayah administrasi Kabupaten Cianjur. Objek wisata Calingcing tidak seramai dan belum berkembang seperti Jangari. Selain lokasinya lebih jauh dari jalan raya Cianjur, tempat ini juga tidak dilalui kendaraan umum. Fasilitas yang tersedia di Calingcingpun tidak selengkap dan sebanyak yang terdapat di Jangari, meskipun harga tiket masuk yang dikenakan ke pengunjung sama, yaitu Rp500 per orang.

Selain Jangari dan Calingcing, lokasi lainnya relatif belum berkembang dan dikunjungi wisatawan. Padahal lokasi dimana dam site Cirata berada potensial untuk dikembangkan sebagai objek wisata pendidikan dan penelitian berbasis teknologi. Pihak pengelola waduk Cirata (BPWC) bahkan telah memiliki rencana pengembangan kawasan ini untuk menjadi resor wisata, namun pembangunannya terhambat masalah sumber daya.

Karakteristik Pengunjung. Potensi daya tarik yang dimiliki kawasan Waduk Cirata secara keseluruhan sebenarnya sangat beragam. Selain daya tarik wisata tirta yang menjadi objek wisata rekreasi paling berkembang saat ini, bendungan dengan teknologi pembangkit listrik di dalam perut bumi merupakan objek wisata pendidikan dan penelitian yang belum tergali. Demikian juga dengan potensi wisata agro selain perikanan jaring terapung, wisata alam hutan, maupun wisata budaya dan kesenian yang belum banyak dilirik.

Mengingat lokasi dan aksesibilitasnya yang sangat baik, objek wisata di kawasan ini sangat potensial untuk menarik wisatawan dari luar Cianjur. Keberadaan kawasan wisata Puncak, maupun jalur regional Jakarta-Cianjur-Bandung merupakan sumber wisnus maupun wisman yang potensial. Demikian juga dengan perkembangan jalur Purwakarta-Padalarang. Luasnya kawasan dengan daya tarik yang beragam dan tersebar di kawasan Waduk Cirata menyebabkan pengembangan kepariwisataan perlu didistribusikan dengan tema-tema dan sasaran pasar yang berbeda-beda. Peningkatan kualitas produk mencakup kualitas daya tarik dan fasilitas penunjang di kawasan ini perlu dilakukan, sehingga diharapkan dapat menarik pangsa pasar wisatawan lain dari golongan menengah atas.(rp16)

sumber: radarcianjur